
Kelopak Mata berbentuk Mono-kelopak itu bergerak perlahan. Hembusan angin sore menerpa rambut hitam mengoyakkan nya tak tentu arah. Laki-laki itu membuka matanya dengan sempurna. Ia meringis saat merasakan perih di bagian leher ketika mencoba untuk terbangun. Tangannya meraba area sekitar leher, sepertinya ia mendapatkan luka bakar akibat stun Gun itu.
Bastian beranjak dari tempatnya berbaring. Ia menatap mobil kesayangannya yang sudah rusak parah. Ia menghela napas.
Tangannya merogoh kantong celana mengeluarkan sebungkus rokok, berikut korek api yang tanpa jeda di petiknya hingga terbakarnya ujung tembakau itu. Laki-laki itu menghisap rokok nya dalam-dalam sambil matanya menatap sekitar, ia menghembuskan asap rokok melalui mulutnya. Sepertinya ia salah memilih jalan mungkin jalan ini sudah tidak terpakai lagi karena tidak ada kendaraan yang lewat.
Bastian mengambil ponsel di dalam saku lalu mencari nomor yang dapat menunjukkan di mana Amelia berada.
Cukup lama Bastian menunggu panggilan itu terangkat. "Halo ada apa? pasti kau sedang urgent lagi kan?" Ucap orang di seberang sana saat panggilannya sudah diangkat.
Bastian berdecak karena tebakan laki-laki di seberang sana memang benar. "Coba kau cari koordinat, lokasi alat pelacak yang biasa aku pakai. Aku minta secepatnya."
"Oke, nanti aku kirimkan lokasinya. Kali ini ada apa lagi?"
"Nanti saja aku jelaskan. Cepetan kau cari dimana lokasi alat pelacak itu berada,"
"Ia… ia…." Sambungan telepon diputus begitu saja oleh Rangga.
Bastian menatap layar ponselnya yang sudah mati lalu memasukkan kembali. Bastian kembali menyesap rokok dalam-dalam sebelum akhirnya membuang sebatang rokok yang masih panjang dan menginjaknya.
Saat ia menundukkan wajahnya tidak sengaja ia melihat ponsel Amelia yang tergeletak di aspal, ia pun mengambil ponsel itu lalu membolak-balikkan ponsel milik Amelia yang terlihat sangat feminim karena casing ponsel itu bergambar kupu-kupu silikon dengan gliter di dalamnya.
Bastian memasukan ponsel milik Amelia yang sudah retak layarnya kedalam kantong celana. Ia melangkahkan kaki, mendekati mobil yang sudah parah kondisinya. Ia selalu menghela napas setiap melihat kondisi mobil keluaran Jerman itu.
Bastian melajukan kendaraannya menuju apartemen. Bastian kilas balik mengingat kejadian yang terjadi tadi. Sepertinya orang-orang yang mengejar mobilnya itu adalah orang-orang yang bekerja pada perusahaan penyedia jasa keamanan yang cukup terkenal tapi siapa yang menyuruh orang-orang itu?
Ting…
__ADS_1
Suara pesan terdengar dengan segera ia melihatnya. Ternyata Rangga sudah mendapatkan informasi dimana Amelia berada. Bastian menaruh kembali ponsel itu setelah tahu dimana lokasi Amelia berada.
Sepertinya kejadian ini harus segera ia laporkan kepada Randi Saguna. Bastian tidak mau jika nanti ia disalahkan karena tidak melaporkan tentang kejadian yang telah terjadi.
****
Di apartemen
Bastian sudah memberi tahu tentang kejadian tadi kepada Randi Saguna. Tentu saja ia habis-habisan dimarahi oleh laki-laki paruh baya itu. Tetapi Bastian menyakinkannya bahwa ia mampu membawa pulang Amelia dengan keadaan selamat.
Bastian baru saja selesai mandi tanpa berlama-lama ia melakukan persiapan untuk menuju lokasi dimana Amelia berada. Bastian berdiri didepan kaca yang memantulkan dirinya yang sudah rapi memakai outfit serba hitam. Ia juga mengenakan topi hitam yang melekat di kepalanya.
Bastian melangkah keluar menuju mobil yang biasa ia pakai untuk melakukan misinya dengan tangan menenteng sebuah tas senjata laras panjang. Bastian juga tidak lupa membawa alat peredam suara tembakan dan teropong inframerah.
Pantulan langit bertabur bintang menyapanya saat mobil yang dikendarai keluar dari gedung pencakar langit, berjalan menjauhi hutan beton. Hampir empat jam Bastian berkendara, akhirnya mobil yang ditumpanginya sampai ditempat tujuan, lalu dengan segera ia mematikan mesin mobilnya itu. Suara jangkrik terdengar merdu mengeluarkan melody ciri khasnya ditambah suara hewan malam yang saling bersahut-sahutan saat Bastian menurunkan kaca jendela mobil. Mata hazelnya menatap sekeliling hutan belantara yang minim cahaya dengan banyak pepohonan rindang.
Bastian pun keluar dengan menenteng tas senjata laras panjang. Bastian mengendap dengan langkah hati-hati ia tidak ingin keberadaannya diketahui. Bastian bisa melihat penjagaan yang lumayan ketat ada sekitar 10 penjaga yang mondar mandir dengan senapan Laras panjang di tubuhnya. Bastian melangkah dengan pasti Ia mencari posisi yang pas untuk berburu malam ini.
Ia bersumpah akan membalas perlakuan orang-orang itu, karena telah berani melukainya. Sepertinya mereka akan menyesal karena tidak membunuhnya saat itu.
Sementara Bastian sedang mencari posisi yang tepat, ditempat Amelia berada ia sedang menangis sejadi-jadinya dengan mulut ditutup lakban ia didudukan di sebuah kursi dengan benda yang sangat ia takuti melingkar di pergelangan tangan dan kakinya.
Keringat dingin mengalir menjadi satu dengan air mata yang sejak tadi keluar. Degup jantungnya sudah tidak terkendali lagi, gelisah dan takut sudah menjadi satu. Pupil matanya membulat sempurna saat melihat siapa orang yang ada di hadapannya.
Orang itu menarik satu sudut bibirnya ia merasa puas karena sudah memberikan pelajaran yang berharga. "Kau takut sayang." Orang itu membelai wajah Amelia dengan penuh kelembutan. "Apa kejadian ini mengingatkan mu kembali pada masa itu?" Bibir bergincu merah itu berbisik dengan penuh kelembutan.
Amelia hanya bisa meronta-ronta dengan suara yang tertahan. Kenapa wanita itu tega melakukan itu padanya? Apa kesalahannya?
__ADS_1
"Aku terlalu sayang padamu Amelia. Kau jangan salah paham padaku. Aku melakukan ini bukan karena membenci dirimu, tapi aku hanya memberikan pelajaran yang berharga padamu. Agar kau lebih bijak lagi di setiap kata-kata yang kau ucapkan. Agar kau tidak menyakiti perasaan orang lain. Papamu terlalu memanjakan dirimu membuat kau menjadi kurang ajar," Ujar wanita itu dengan memegang dagu Amelia lalu menghempaskan nya setelah ia selesai berbicara.
Di luar pondok kayu seorang penjaga menemukan temannya sudah tergeletak dengan lubang di dahinya, "Kode black, kode black, ada —-." Ucapnya terhenti ketika timah panas melesat tepat di dahinya penjaga itupun tumbang dengan mata yang terbuka tidak berselang lama rembesan darah keluar dari luka yang dihasilkan timah panas itu.
Keributan di luar terjadi saat peringatan itu terdengar dari sambungan earpiece yang terpasang pada semua telinga penjaga. Semuanya pun menjadi siap siaga mata elang mereka mengedar mencari dimana persembunyian sniper itu.
Beberapa penjaga melontarkan tembakan asal ke arah hutan yang terlihat gelap gulita. Berharap satu peluru mengenai sasaran.
Sedangkan ditempat Bastian berada ia sedang bersembunyi di balik batang kayu yang sangat besar. Saat mendapatkan tembakan balasan.
Seorang ketua tim berjalan tergopoh-gopoh memasuki rumah pondok kayu itu lalu membuka bingkai pintu yang terbuat dari bilik kayu. "Maaf Nyonya sebaiknya kita pergi dari sini karena penjaga Nona Amelia sudah datang. Sebaiknya Nyonya pergi dari sini saya takut terjadi sesuatu pada Nyonya," Pungkasnya.
Wanita yang terlihat anggun itu memicingkan matanya lalu terkekeh saat mendengar laporan itu. Ia belum puas mendidik anak bau kencur itu. Tapi sudah di ganggu saja.
Wanita itupun mau tidak mau beranjak meninggalkan Amelia. "Padamkan lampu ruangan ini dan siapkan mobil. Perintahkan untuk mundur semua, karena aku sudah puas," titahnya sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
"Baik." Penjaga itu melakukan apa yang diperintahkan.
Mereka pun keluar meninggalkan Amelia dengan keadaan ruangan yang sudah gelap gulita. Amelia yang ditinggalkan dengan ruangan gelap itu semakin menjadi kepanikan nya, tubuhnya bergetar hebat ia terus meronta dalam ikatan tali. Napasnya sudah tidak beraturan, debaran jantung semakin cepat dengan peluh keringat terus keluar sampai pada akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri.
Bastian meneropong dari tempat persembunyiannya. Ia menjukitkan alisnya merasa bingung saat melihat para penjaga ditarik mundur.
"Sebentar ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja mereka meninggalkan rumah pondok kayu itu tanpa Amelia?" Bastian bergumam seorang diri karena tiba-tiba saja beberapa mobil berjalan menjauh meninggalkan pondok kayu itu.
Bastian langsung berjalan dengan cepat saat melihat rumah itu tidak berpenjaga lagi. Sejujurnya ia takut dengan kondisi Amelia saat ini.
"Oooh … ****." Umpat Bastian saat membuka bingkai pintu.
__ADS_1
Ia pun mengeluarkan ponselnya untuk menyalakan senter lalu mengedarkan ponsel tersebut untuk melihat keberadaan Amelia. Ia langsung berlari saat melihat Amelia yang sudah tergolek dengan mata yang terpejam. Dengan segera Bastian membuka ikatan tali itu dengan sekali hentakan Bastian membopong tubuh Amelia saat semu tali sudah terbuka. Bastian melangkah dengan terburu-buru menuju mobil yang ia bawa.