
Hanin pergi dari sana menuju toilet, disana Hanin menangis merasakan sakit yang luar biasa dia berpegangan pada dinding lalu duduk di atas kloset
Wajahnya pucat dengan keringat dingin bercucuran Hanin benar-benar merasa kesakitan memegangi kepalanya, darah segar perlahan mengalir dari hidungnya dan menetes di lantai dengan cepat Hanin Mengusapnya dengan tisu toilet
"Sayang kau dimana? " Hanin menjawab telepon dari Tristan
"Tolong kesini, aku di toilet" lirih Hanin
"Tunggu aku kesana sekarang"
Tristan berlari menuju toilet dan membuka pintunya satu persatu, Hanin memejamkan matanya seraya terus membersihkan darah dari hidungnya
"Sayang.. kau baik baik saja? " Tristan segera membantunya berdiri
"Sakit sekali.. aku merasa tubuhku sakit" lirih Hanin
"Obatnya.. apa kau belum meminumnya? " Hanin menggeleng
Tristan membawa Hanin keluar dan mendudukkannya di sebuah kursi di taman, Tristan kembali setelah mengambil obat obat Hanin
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Bagaimana apa Olivia sudah di temukan?Rai menghentikan langkah Cassandra saat hendak pulang sekolah
" Dia sudah di temukan, ayah bilang dia berada di rumah sakit" jawab Cassandra
"Syukurlah.. aku tenang mendengarnya, mau pulang bersama? " Rai mengulurkan tangannya pada Cassandra
"Tidak perlu.. aku naik taksi saja"
"Ayolah.. kita bisa pulang bersama" bujuk Rai
"Arah kita berbeda kak, aku bisa pulang sendiri" ucap Cassandra tidak berhenti berjalan
Rai mengikuti Cassandra dan itu membuat Cassandra mengembangkan senyumnya, namun suara langkah kaki Rai semakin tidak terdengar
Cassandra menoleh ke belakang ternyata Rai sedang menjawab telepon, Cassandra berbelok dan bersembunyi tepat di belakang Rai di sebuah tiang besar
"Hallo.Olivia kemana saja kau? " tanya Rai
"Apa bibi? iya.. aku kesana sekarang" Sepertinya Hanin yang menelpon Rai
Rai pergi begitu saja tidak mencarinya lebih dulu bahkan mungkin lupa bahwa tadi ada Cassandra di sana, Cassandra tersenyum miris keluar dari tempat persembunyiannya
"Dia selalu seperti ini" Rai selalu perhatian pada Cassandra membuatnya berharap lebih namun tetap saja Olivia yang menjadi nomor satu untuknya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Sesampainya Rai di ruangan dimana Olivia di rawat kenzo berdiri dari duduknya saat melihat kehadiran Rai, Hanin menahan tangan anaknya dan menyuruhnya kembali duduk
"Untuk apa kau datang kemari? " Kenzo benar-benar tidak suka dengan kehadiran Rai
"Masuklah.. ibu yang mengundangnya, dokter menyarankan agar menghadirkan seseorang yang selalu Olivia panggil dalam tidurnya" ucap Hanin
"Olivia selalu memanggil namaku? " tanya Rai
"Benar.. cobalah bicara padanya, aku harap dia mau merespon" ucap Hanin
"Ayo keluar biarkan dia bicara dengan Olivia" lanjut Hanin
"Tidak.. aku tidak akan pergi kemana pun" Kenzo duduk melipat tangannya di dada
"Keluarlah, ini untuk kebaikan Olivia" Hanin menarik tangan Kenzo untuk pergi
__ADS_1
Ketika semua orang keluar Rai duduk di kursi di samping tempat Olivia berbaring, Di genggamnya tangan Olivia juga dia mengelus kepala Olivia
"Olivia.. " Rai mencoba memanggil Olivia pelan
"Rai.. aku takut.. tolong aku Rai" Racau Olivia menggenggam erat tangan Rai
"Tenanglah.. aku disini, tidak akan ada yang menyakitimu lagi" Perlahan Olivia membuka matanya
Olivia duduk menatap Rai yang beralih duduk di tepi ranjang, tubuh Olivia bergetar dia menundukkan kepalanya
"Aku tahu kau melewati masa masa yang sulit, menangislah sepuasnya" Rai meraih tubuh Olivia
Olivia menangis tersedu di pelukan Rai membuat Rai juga menitikkan air mata, Rai mendongak memijat sudut matanya yang berair, tangis Olivia yang pilu membuat hati Rai sakit
Kenzo melihat itu dari pintu yang di lengkapi kaca dia mengepalkan tangannya hendak masuk namun Hanin menahannya, setidaknya Olivia memiliki emosi ketika bertemu dengan Rai
"Diamlah Kenzo, ini demi kebaikan Olivia" Hanin memegangi bahu Kenzo
"Apa yang terjadi padamu? " Olivia sama sekali tidak bicara hanya tangisnya yang pecah terdengar di ruangan itu
Rai mengusap punggung Olivia dia mengerti Olivia sedang sangat terluka, jiwanya lelah namun tidak ada tempatnya untuk mengutarakan kelu kesahnya
Tangis Olivia mulai mereda dan sedikit menjauh dari tubuh Rai, Rai menangkup wajah Olivia menghapus air matanya dengan ibu jarinya
"Katakan sesuatu.. jangan membuatku khawatir" ucap Rai lembut
"Apa yang terjadi padamu? setidaknya kau cerita sedikit padaku agar bisa membuatmu sedikit tenang"
Rai berdiri saat mereka masuk Olivia menarik tangan Rai dan bersembunyi di belakangnya, Hanin merasa aneh kenapa Olivia bersembunyi dari keluarganya
"Ada apa sayang? " tanya Hanin
"Bibi.. Olivia ingin mengatakan sesuatu"
"Kau takut pada Kenzo? " Tanya Hanin
"Sepertinya Kenzo melakukan sesuatu hingga membuat Olivia ketakutan" ucap Rai
"Omong kosong apa yang kau katakan? " Kenzo tersulut emosi
Kenzo yang sudah emosi sejak tadi menarik baju Rai dan memukulnya hingga terjadi perkelahian diantara mereka, kedua orang tuanya melerai namun mereka kembali berkelahi
Melihat Rai kalah telak Olivia mencabut selang infusnya dan berlari menghalang Rai dengan tubuhnya, Tangan Kenzo menggantung di udara ketika hampir mengenai wajah Olivia
"Kau melindunginya? apa kau ingin pergi dengannya? kau seorang istri yang sedang mengandung ingin pergi dengan pria lain? Apa kau tidak punya malu, memiliki perasaan pada pria lain setelah menjadi istriku? wanita macam apa kau ini? apa kau mengira hubungan kalian akan berhasil? aku jamin orang tuanya tidak akan merestui "
Bruuukk
Tubuh Hanin terjatuh begitu saja membuat semua orang terkejut, Tristan segera mengangkat istrinya dan membawanya untuk segera di tangani dokter
"Pergi dari sini atau aku akan membawamu langsung menuju kamar mayat" ucap Kenzo, Rai berdiri tertatih namun bukan untuk pergi dia membawa Olivia kembali ke tempat tidurnya
"Aku akan kembali nanti, jangan takut" ucap Rai seraya mengusap kepala Olivia lalu pergi
"Kau senang di perhatikan pria lain di depan mataku? murahan sekali" Kenzo menekan kedua pipi Olivia dengan satu tangannya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Keadaannya memburuk tuan jika tidak segera di tangani takutnya kita akan kehilangan nyonya"
Tristan segera menelpon seseorang untuk menyiapkan pengobatan khusus di luar negeri, sebelum pergi dia menemui anak anaknya untuk membantunya meyakinkan Hanin
"Kemarilah.. ayah ingin memberi tahu kalian sesuatu" Kenzo mendekati ayahnya yang duduk di samping Olivia
__ADS_1
"Kalian tahu ibu kalian sakit akhir akhir ini dan.. dia mengidap leukimia, dia tidak ingin pergi sebelum memastikan anak anaknya baik baik saja"
"Ayah ingin kalian meyakinkan ibu dia tidak mau pergi karena khawatir dengan kalian terutama dia mengkhawatirkanmu Olivia, keselamatan ibumu ada di tangan kalian.. ayah mohon bantu ayah, selamatkan hidup ibumu" terlihat jelas kesedihan di wajah Tristan
Olivia menggenggam tangan Tristan dan mengangguk seolah menjadi jawaban, mereka kini pergi menuju ruangan Hanin dengan Olivia yang di dorong dengan kursi roda oleh Tristan
Ketika mereka masuk Hanin tersenyum seolah tidak terjadi apa apa padanya, Kenzo berlari memeluk ibunya yang amat dia cintai
"Kalian kenapa? " tanya Hanin saat keduanya menggenggam tangannya di kedua sisi tempat tidurnya
"Apa kau memberitahu mereka? " Tristan terdiam, Hanin sudah tahu jawabannya
"Pergilah dengan ayah, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu" Kenzo mengecup tangan Hanin berkali-kali
"Bagaimana ibu bisa pergi dengan tenang, ibu tidak ingin meninggalkan kalian dengan keadaan kalian yang seperti ini" lirih Hanin
"Ibu akan pergi jika kalian saling menyayangi dan kembali seperti kalian yang dulu, anak anak ibu yang ceria saling menjaga dan saling mencintai"
"Bahkan jika ibu meninggalkan dunia ini ibu akan pergi dengan tenang" lanjut Hanin
"Ibu.. aku tidak ingin ibu berkata seperti itu lagi" Kenzo benar-benar merasa takut sang ibu pergi meninggalkannya
"Kenzo berjanjilah kau akan menjaga Olivia, lupakan dendammu karena ibu tahu kau pria yang baik dan jauh di lubuk hatimu kau menyayangi Olivia"
"Dari semua kejadian yang menimpa hidup ibu itu bukan kesalahan Olivia, kita tidak bisa memilih harus di lahirkan dari siapa dan dengan keadaan seperti apa cobalah mengerti nak"
"Sebentar lagi kau akan memiliki anak, bukankah anakmu juga tidak meminta di lahirkan dengan keadaan seperti ini? kalian harus saling mencintai agar anak anak kalian kelak hidup bahagia tidak kurang kasih sayang dan hal yang seperti kalian tidak terjadi lagi padanya" lanjut Hanin
"Olivia.. maafkan Kenzo, dia bersalah padamu namun ibu sangat mengerti Kenzo, sifatnya sama seperti ayahnya dia berjiwa pendendam tapi jauh di lubuk hatinya dia sangat menyayangi kamu.. percayalah kalian bisa menjadi lebih baik ketika mulai saling menerima satu sama lain"
"Jika kalian berjanji ibu akan ikut dengan ayah pergi, tapi sampai matipun ibu tidak akan rela melihat anak anak ibu seperti ini" hanya Hanin yang bicara sementara keduanya tertunduk
"Ibu aku berjanji akan berubah, aku tidak akan melukai Olivia lagi dan akan menjaganya.. aku sudah berjanji" Kenzo dengan cepat menjawab ibunya
"Demi nyawa ibu? " Kenzo terdiam ketika dia di minta bersumpah untuk nyawa ibunya
"Bagaimana ibu bisa pergi dengan tenang jika kalian hanya mengucapkan janji tanpa membuktikannya" lirih Hanin
"Apapun demi ibu aku akan melakukan apapun, aku bersumpah demi nyawa ibu akan selalu menjaga dan mencintai Olivia sepanjang hidupku" dengan lantang Kenzo mengatakan itu
"Bagaimana denganmu? " Hanin menatap Olivia yang tertunduk dengan lamunannya
"Olivia.. "
"Bagaimana ini.. kenapa suaraku tidak bisa keluar" Olivia benar-benar tidak bisa mengeluarkan suaranya
"Apa kau tidak bersedia? " Olivia dengan cepat menggeleng dan mengangguk membuat Hanin mengernyitkan dahinya
Suster datang untuk memeriksa Hanin seketika Olivia berdiri mengambil pulpen dan kertas yang di pegang oleh suster, Olivia mulai menulis sesuatu dan sepertinya sangat panjang
"Aku memaafkan Kenzo dan aku berjanji demi nyawa ibu aku akan hidup dengan baik bersamanya selama dia memperlakukanku dengan baik pula, tidak boleh memaksa, memukul dan tidak memiliki wanita lain, aku berjanji tidak akan pergi selama dia menjaga sumpahnya.. Maaf ibu aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengeluarkan suaraku" tulisnya
"Itu pun jika kau berhenti memikirkan pria lain" ucap Kenzo dengan sinis
Hanin tersenyum dengan air mata mengalir dia bahagia meskipun dia tidak tahu apakah sumpah mereka sungguh sungguh atau hanya permainan di hadapannya saja
"Ibu tidak akan hidup ketika kalian berbohong pada ibu" ucap Hanin dengan cepat Olivia menggeleng dan mengacungkan dia jari telunjuk dan jari Tengah sebagai janji
"Ibu jangan bicara seperti itu, aku akan menepati janjiku" ucap Kenzo
"Aku bisa tenang sekarang bahkan jika aku mati hari ini" ucap Hanin dengan senyum mengembang
"Kau tidak akan mati.. kita akan hidup bahagia dan semakin bahagia" Tristan memeluk Hanin begitupun anak anaknya, mereka berpelukan membuat suster merasa tidak dianggap berada disana
__ADS_1