
"Aku ingin mengantarmu pulang" Rai menahan tangan Olivia saat di sekolah
"Tidak bisa Rai, kakakku ada di depan"
"Kali ini saja, aku akan bicarakan ini padanya"
"Jangan Rai aku tidak mau kakakku marah"
"Kenapa kau sangat takut jika kakakmu tahu hubungan kita? aku seperti selingkuh dengan pacar orang lain"
"Bukan begitu, aku akan bicara pelan pelan padanya"
"Kau sepertinya takut kakakmu cemburu, kenapa dia tidak mencari pacar dari pada terus mengawasimu? atau jangan jangan benar kakakmu mencintaimu? "
"Jangan bicara sembarangan Rai, dia kakakku sudah sewajarnya dia mencintai adiknya bukan? jika kau masih begini sebaiknya kita akhiri saja semuanya" tegas Olivia yang tidak Terima dengan perkataan Rai
"Tidak.. tidak.. aku minta maaf, aku hanya cemburu pada kakakmu yang terlalu posesif, maafkan aku" Rai menggenggam kedua tangan Olivia
"Rai tolong mengerti aku, kakak satu satunya orang yang selalu memperhatikanku karena kesibukan kedua orang tuaku, harusnya kau tidak boleh cemburu padanya lagi pula dia kakak kandungku"
"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi"
"Baiklah, jemput aku nanti malam setelah kakak pergi bersama temannya" ucap Olivia
"Kau hubungi aku saja nanti" Olivia mengangguk lalu pergi
"Bagaimana aku tidak cemburu kakakmu begitu memperlakukanmu dengan mesra, kau bahkan memeluknya di depan umum tapi aku tidak pernah" gumam Rai menatap punggung Olivia yang perlahan menjauh
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Aku lapar... " ucap Olivia seraya menoleh ke arah seru kakaknya yang sedang mengemudi
"Kita Makan setelah membeli gaun, ada cafe dekat sana bagaimana? "
"Hmm... boleh"
Sesampainya disana Olivia memilih gaun di bantu seorang wanita, wanita itu kerap kali mencuri curi pandang pada Kenzo yang selalu mengikuti langkah Olivia
"Sayang jadi kau pilih yang mana? " tanya Kenzo seraya merangkul bahu Olivia, Olivia menoleh wajahnya menunjukan kebingungan
"Berpura-puralah sebentar kau tidak tahu wanita itu menatap seolah ingin menelanjangiku" bisik Kenzo lalu mencium pipi Olivia, Olivia terkekeh lalu memeluk pinggang Kenzo
"Sayang, kau nakal sekali" Olivia benar-benar mencubit perut kakaknya yang sembarangan menciumnya
Melihat kemesraan keduanya pelayan tersebut menundukkan kepalanya, Olivia mendapatkan apa yang dia inginkan lalu Kenzo membayarnya
"Ada yang lain? " tanya Kenzo
"Tidak ada, kakak aku benar benar sudah kelaparan" rengek Olivia
"Baiklah, ayo kita makan" Kenzo dan Olivia keluar dari butik tersebut
"Hei apa kau tahu mereka? aku tidak habis pikir mereka saling memeluk dan mencium di hadapan umum tanpa rasa malu" ucap pelayan yang tadi melayani Olivia
"Apa yang kau bicarakan? mereka saudara kandung" jawab seorang wanita yang berdiri di meja kasir
"Apa? aku tidak percaya, mereka bahkan saling memanggil sayang dan mencium"
__ADS_1
"Mereka memang sering bergurau, mereka anak tuan Tristan apa kau tidak tahu? ibunya pelanggan setia kita"
"Benarkah? lalu kenapa mereka bersikap seperti itu di hadapanku? " gumamnya seraya menggaruk kepalanya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Livia" pekik Lola saat dia melihat Olivia di cafe yang sama
"Jangan berteriak malu di lihat orang" ucap Olivia
"Hai kak.. semakin hari semakin tampan saja" cicit Lola, Kenzo hanya menanggapi dengan senyum
"Duduklah dan berhenti memandangi kakakku seperti itu nanti dia muntah" gurau Olivia
"Pelit sekali" Lola mencebikkan bibirnya seraya menarik kursi di samping Olivia
"Aku iri sekali padamu, di keliling pria tampan setiap hari" Lola menyanggah dagunya dengan tangan yang di letakkan di atas meja pandangannya tidak pernah lepas dari Kenzo
"Pria tampan yang mengelilingi Olivia? " tanya Kenzo, tanpa sadar Lola mengangguk dan mengatakan hal yang membuat raut wajah Kenzo sedikit berubah
"Iya.. di sekolah Olivia selalu bersama dengan Rai dan di rumah dia selalu ada bersama kakak" Olivia menendang kaki Lola dari bawah meja
"Jangan dengarkan dia" sergah Olivia
"Aku hanya bergurau" Jawab Lola dengan cepat seraya tertawa garing
"Jangan dulu berpacaran sebelum kau lulus sekolah SMA" ucap Kenzo dengan din
"Iya aku ingat" lirih Olivia
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Apa yang kau lakukan? menyelinap ke kamarku? " tegur Kenzo
"Ti.. tidak.. aku.. aku.. "
"Apa yang kau cari? " tanya Kenzo
"Aku ingin meminjam pulpen" jawab Olivia
"Ambil saja di dalam, Aku pergi dulu"
"Oh iya.. Ayah dan ibu pergi mungkin besok baru kembali" lanjut Kenzo
"Ya.. pergilah, mereka tidak pernah berpamitan padaku hanya padamu saja" ucap Olivia
"Kau cemburu? padahal kau anak bungsu tapi sepertinya ayah dan ibu lebih menyayangiku" ledek Kenzo
"Terserah kau saja, sana pergi aku muak melihatmu"
"Haha kau merajuk? " goda Kenzo
"Tidak sama sekali, sana pergi" Olivia mendorong punggung Kenzo agar segera pergi
Setelah mobil Kenzo pergi meninggalkan halaman rumah Olivia bergegas mengganti pakaiannya lalu menelpon Rai untuk menjemputnya
"Nona saya mohon jangan pergi tuan muda sudah berpesan agar anda tetap di rumah"
__ADS_1
"Sus tolonglah sekali ini saja aku seperti burung dalam sangkar, aku pastikan tidak akan membawamu dalam masalah"
" Tapi nona.. " belum selesai Suster bicara Olivia pergi begitu saja karena mobil Rai sudah terparkir di halaman depan
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Makan malam di rumah Rai begitu hening Olivia terlihat gugup, Rai menggenggam tangannya dari bawah meja
"Jadi kamu anak dari Tristan? " tanya Luis
"I... iya paman, saya anak kedua" jawab Olivia
"Bagaimana keadaan kedua orang tuamu? " sebenarnya Luis ingin tahu keadaan Hanin
"Mereka baik hanya saja sering tidak di rumah karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di luar"
"Apa ibumu bekerja? "
"Tidak.. ibu hanya ikut ayah saja"
"Jadi hanya kau dan kakakmu yang ada di rumah? "
"Iya... dan ada dua pelayan di rumah"
"Sering sering main kesini" ucap Luis tersenyum simpul
Setelah selesai makan malam akhirnya Olivia pulang diantar Rai, Olivia sengaja pulang cepat sebelum kakaknya datang
"Terimakasih untuk hari ini" ucap Rai
"Sama sama, kalau begitu aku masuk dulu" Saat Olivia berbalik Rai kembali menarik tangannya
Mereka saling memandang tangan Rai melingkar di pinggang ramping Olivia, Wajah mereka semakin dekat sampai akhirnya keduanya berciuman
Tangan Olivia melingkar di leher Rai keduanya saling membelit, tiba-tiba dari arah belakang Tangan Olivia di tarik begitu saja membuat mereka terkejut
"Kakak" gumam Olivia membulatkan matanya
"Bedebah" Kenzo mendaratkan bogem mentah di wajah Rai
"Kau ingin meracuni otak adikku? dasar sial" Kenzo hendak melayangkan pukulan namun Olivia menghalangi tubuh Rai dengan merentangkan tangannya
"Kau.. " terlihat wajah Kenzo begitu marah sampai Olivia sulit menelan salivanya
"Hentikan ini kak, aku berhak menentukan hidupku sendiri aku bukan anak kecil lagi, jangan mengekangku "
"Aku ingin menjalani hidupku sendiri jangan mencampuri urusanku lagi" lanjut Olivia
"Kak Olivia berhak bahagia, aku janji tidak akan menyakitinya" ucap Rai dia menurunkan tangan Olivia dari hadapannya
"Aku tidak akan membiarkan pria manapun mendekati adikku" Kenzo menggertakkan giginya
"Atas dasar apa? kau ingin memilikinya sendiri? dia bukan barang milikmu dia mempunyai hak untuk hidup bebas kenapa kau selalu mengekang di bawah tekanan mu? aku semakin yakin kau mencintai adikmu sendiri" rahang Kenzo mengeras mendengar perkataan Rai
"Dia milikku selamanya akan menjadi milikku, aku akan memberikan apapun kecuali kebebasan" Kenzo sudah di kuasai amarah, matanya memerah dengan otot otot menegang
"Pergilah.. ini bukan saat yang tepat untuk bicara dengannya" Olivia mendorong tubuh Rai agar masuk kedalam mobil
__ADS_1
"Aku mohon pergilah, aku mengenal bagaimana sifatnya" Olivia memohon agar Rai pergi, dia tahu bagaimana tabiat kakaknya jika sudah merasa terganggu
"Masuk" setelah Rai masuk ke mobil, Olivia di seret oleh Kenzo masuk kedalam rumah