kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Bab 13


__ADS_3

Amelia baru saja sampai di huniannya yang akan ia tinggali mulai saat ini. Ia berdiri di tengah-tengah ruangan. Mata cokelatnya mengedarkan pandangan menatap setiap sudut apartemen Bastian yang terbilang sangat kecil. Karena luas apartemen ini hampir sama dengan luas kamarnya. Sedangkan tempat yang saat ini ia pijak sekarang harus dibagi-bagi menjadi beberapa ruangan.


Ia hanya bisa menghembuskan napas dengan berat. Apakah ia akan nyaman tinggal ditempat seperti ini? Karena ia sudah bisa dengan kemewahan yang orang tuanya berikan ditambah tempat ini juga tidak ada pelayannya. Pantas saja Papanya menyuruhnya untuk tinggal disana.


Amelia menatap setiap ruangan apartemen yang bisa dibilang cukup bersih untuk ukuran tempat tinggal laki-laki. Bastian ternyata seorang perokok aktif terlihat ada bungkusan rokok tergeletak diatas meja dengan banyak puntung rokok yang dikumpulkan di wadah kecil.


Bastian terlihat masa bodoh dengan perempuan itu yang sedang menatap sekitar. "Kamarnya hanya ada satu dan tempat tidurnya juga demikian. Jika kau keberatan berbagi kamar maka tidur saja di sofa," ucapnya dingin sambil berlalu kekamar.

__ADS_1


Amelia yang mendengar itu hanya bisa menarik napas dengan berat. Memangnya apa yang akan diharapkan dengan pernikahan ini. Sebuah perhatian, kasih sayang. Seharusnya ia sadar akan hal itu tidak akan pernah ia dapatkan dari pernikahan ini. karena ia sadar laki-laki yang menikahinya saat ini tidak mencintainya begitupun dengan dirinya. Mungkin ia harus mempersiapkan mentalnya lagi karena akan menyandang setatus janda di usianya yang muda. Karena itulah papanya menikahkannya hanya mencari sebuah status saja. Karena kejadian malam itu terlanjur tersebar luas tanpa bisa Papanya tangani akbiat canggihnya teknologi sekarang.


Setelah pernikahan ini berakhir mungkin ia sudah tidak percaya akan namanya cinta lagi. Karena ia sudah dua kali disakiti oleh pria dalam hidupnya pertama Papa yang ia sayangi dan kedua seseorang yang spesial dalam hidupnya.


Karena telah begitu jahat dan tega dengan dirinya. Padahal ia baru melakukan satu kesalahan dalam hidupnya tapi sudah diperlukan seperti itu oleh mereka semua. Amelia yang mengingat itu hanya menghembuskan napas dengan berat ia merasa lelah dengan semua ini.


Amelia hanya termenung sambil menatap jendela entah kenapa semenjak Papanya menikah lagi. Ia merasa jauh dengan Papanya. Amelia juga tidak begitu dekat dengan Mama tirinya padahal sudah 4 tahun mama Restu tinggal dengannya. Terkadang ia bisa melihat tatapan mata Mama Restu yang penuh kebencian pada dirinya, tapi selama ini Mama Restu selalu baik dengannya apalagi kakak tirinya Julius Adam dia sudah seperti kakak kandungnya yang selalu ada untuknya. Mangkanya ia selalu buang jauh-jauh pikiran jelek tentang Mama tirinya itu. Memang terkadang ia kurang nyaman dengan keberadaan Mama Restu mungkin itu penyebab ia tidak begitu dekat dengan Mama tirinya.

__ADS_1


"Bas, apa boleh aku membeli perlengkapan melukis?" Tanya Amelia saat ia melihat Bastian yang berjalan keluar dari kamar.


Bastian yang mendengar itu menoleh, "Lakukan, apa yang ingin kau lakukan. Asal jangan mengganggu diriku," ucap Bastian yang langsung berlalu pergi meninggalkannya sendirian di apartemen ini.


Amelia yang mendengar itu tersenyum. Inilah alasan ia mau tinggal dengan Bastian ia ingin sekali melukis tanpa harus dimarahi oleh Papanya. Masa bodo dengan laki-laki itu mau kemana. Amelia pun langsung menghubungi sahabatnya untuk minta dijemput dari tempat ini.


Ia tidak ingin kejadian waktu itu terjadi lagi, saat Papanya mengetahui dirinya melukis. Papanya itu marah besar dan langsung membakar semua perlengkapan lukisan yang ia beli termasuk hasil lukisannya. Tanpa pernah tahu kenapa Papanya melakukan itu semua. Setau Amelia bakat ini boleh diturunkan oleh mendiang Mamanya yang sudah meninggal. Tapi kenapa Papanya melarangnya sampai seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2