kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Bab 20


__ADS_3

Bastian menghentikan mobilnya ketika Lampu traffic light menyala merah. Ia hanya mampu menghembuskan napas lelah. Sekali lagi matanya melirik Amelia yang masih betah menangis. Sungguh bila cupingnya bisa berteriak ia akan berteriak sekencang mungkin, memarahi orang yang duduk disampingnya saat ini. Ia sudah bosan mendengar tangisan wanita itu tanpa tau sebab apa ia menangis.


"Kau bisa diam tidak! Kenapa kau selalu menangis bila bersamaku? Sungguh kau menyusahkan sekali," Akhirnya apa yang sejak tadi ia tahan keluar juga dari mulutnya.


Amelia menggelengkan kepalanya sambil mengusap air mata yang terus mengalir. matanya sudah sembab karena sejak tadi ia tidak bisa menghentikan tangisannya sampai hidungnya memerah, "Hiks … hiks … A–ku, a–ku nggak bisa hiks…." Dalam tangisnya Amelia mencoba berbicara meski ia hanya bisa tergugu.


Lagi-lagi Bastian menghembuskan napas panjang. Tangannya terangkat memijat pangkal tengah hidung yang tiba-tiba saja berdenyut sakit akibat tak henti-hentinya ia mendengar suara tangis Amelia yang semakin menjadi. Sungguh coba apalagi yang Tuhan berikan untuknya, ingin rasanya Bastian menurunkan wanita menyusahkan itu disini jika tidak mengingat nominal yang sudah ia terima di rekeningnya. Pria paruh baya itu benar-benar menepati janjinya. Tadi pas ia sedang makan di restoran cepat saji ponselnya berdenting menunjukkan pesan transferan yang masuk ke ATM nya. Bastian hanya mampu menggelengkan kepalanya saat ia menghitung angka nol yang terdapat di pesan tersebut. Yang Bastian tidak habis pikir kenapa laki-laki itu mempercayakan anaknya pada dirinya orang yang baru dikenal?


Bastian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang saat lampu berubah warna. Ia bersungut kesal pada Amelia yang tidak bisa menghentikan tangisannya, "Please … stop crying! Aku pusing mendengarnya. Jika berhenti akan aku belikan es krim, oke. Jadi stop menangis," Serunya seperti sedang bernegosiasi dengan balita.

__ADS_1


Amelia hanya mampu mengangguk dengan tangis yang coba ia tahan. Jemarinya mengambil lembaran tisu yang ada didalam tas selempang yang ia kenakan. Amelia menghembuskan lalu menarik napas berulang kali mencoba menenangkan diri ia tahu laki-laki yang ada di sampingnya saat ini sedang menahan amarahnya karena Amelia bisa melihat bagaimana Bastian mencengkram setir mobil dengan sangat kencang hingga urat tangga nya menonjol keluar.


Keheningan terjadi saat suara tangis Amelia sudah tak terdengar lagi. Amelia menghembuskan napas kasar sepertinya ia butuh tempat untuk mengeluarkan semua unek-unek yang ia rasakan saat ini, "Aku melihat pacarku jalan dengan wanita lain di dalam sana. Dia meninggalkan aku begitu saja saat tahu aku tidak virgin lagi. Apakah itu terdengar masuk akal menurutmu? Apakah dia seperti itu hanya beralasan saja karena memang ia ingin menyudahi hubungan ini? Tapi kenapa dia semudah itu melupakan aku dan sekarang dia sudah menggandeng wanita lain. Apakah semudah itu melupakan orang yang kita cintai?" Amelia mengakhiri ucapannya dengan menghembuskan napas panjang beserta punggung yang sudah bersandar ke jok mobil lalu kelopak matanya yang sengaja ia tutup menahan air mata yang ingin merangsek keluar lagi.


Bastian melirik sekilas ke arah Amelia saat ia mendengar suaranya secara tiba-tiba. Bastian hanya diam tidak bergeming setiap ocehan yang Amelia ucapkan hingga wanita itu berhenti berbicara, "Lepaskanlah dia," ucap Bastian secara tiba-tiba. Amelia menoleh manik matanya menatap orang yang ada di sampingnya dengan pandangan nanar. "Jika laki-laki itu sudah tidak ingin meneruskan hubungan itu denganmu lepaskan dia. Karena akan lebih sakit jika dia bersamamu tapi hatinya sudah bersama orang lain. Stop untuk menangis dan memikirkannya karena itu akan menyakitkan," Tetapi apa yang laki-laki itu ucapkan barusan ada benarnya. Ia hanya terdiam tanpa mau membalas ucapan Bastian dan menarik napas dalam-dalam sambil pandangannya menoleh ke arah jendela yang memperlihatkan kendaraan yang berlalu lalang siang ini.


Akhirnya mobil merah cabe itu berhenti di sebuah kedai es krim gelato pelataran nya begitu sangat luas memudahkannya mencari tempat untuk memarkirkan kendaraannya.


"Maksudnya?" 

__ADS_1


"Kau ingin kemana? Biar aku yang akan mengantarkan mu," Amelia menggelengkan kepalanya, "Papaku pasti akan melarangnya. Apa kau tidak merasa ada yang mengikuti kita. Pasti Papa menyuruh orang untuk mengikuti kemanapun kita pergi,"


Bastian berdecak, "Tidak ada yang mengikuti kita. Sudahlah kita sudah sampai. Berhentilah menangis jika tidak mau aku tinggal," Bastian keluar begitu saja meninggalkan Amelia yang masih terdiam di dalam mobilnya.


"Ya ampun laki-laki itu sepertinya tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik setiap kata yang ia ucapkan begitu dingin dan menyebalkan,"


Amelia turun dari dalam mobil dengan senyum yang mengembang dari bibirnya. Entah kenapa makanan beku itu selalu bisa membuat hatinya senang. Ia sudah membayangkan rasa manis, asam dan dingin saat ia memakan es krim rasa stroberi kesukaannya itu. Eeeemmm ... hanya membayangkannya saja membuat air liurnya memenuhi rongga mulutnya.


Ia membuka pintu kedai es krim itu kakinya melangkah masuk dengan manik mata menatap sekeliling ia membulatkan matanya dengan sempurna saat melihat siapa yang ada di dalam kedai es krim itu. Orang yang selalu julit dengan dirinya dan Papanya jika ada kejadian yang menimpa keluarga Saguna, "Astaga, bagaimana bisa bertemu dengan Tante sihir itu di sini," gumamnya dengan menghembuskan napas dengan berat.

__ADS_1


Hari ini ia benar-benar sial sekali karena di kota yang selalu ini ia bisa bertemu dengannya. Bisa tidak ya, ia berpura-pura tidak mengenalnya dan menghiraukan keberadaannya itu.


__ADS_2