kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Bab 21


__ADS_3

Kaki jenjangnya melangkah mendekati Bastian yang sedang berdiri di depan etalase kaca yang memperlihatkan es krim yang di tawarkan oleh kedai itu.



"Kau ingin makan es krim rasa apa?" Bastian bertanya saat ia melihat Amelia sudah berada di sisinya.


Amelia terdiam sambil menaruh telunjuknya di bawah dagu. Pilihannya terlalu banyak hingga ia bingung harus memilih rasa apa. Semua varian rasa mengiurkan dimatanya membuat kelenjar air liurnya mengalir deras dari bawah lidah sampai-sampai ia harus menelan salivanya.


Memang es krim selalu membuat moodnya menjadi bagus. Padahal ia baru melihatnya saja, belum memakannya. Tetapi ia sudah sebahagia ini melihat es krim berjajar rapih dibalik kaca itu.


Ia terdiam cukup lama. Hingga terdengar suara decakan dari Bastian, "Ini hanya sebuah es krim Amelia kenapa kau lama sekali memilihnya. Cepatlah, masih ada orang lain yang ingin memesannya juga," ujarnya kesal. Amelia buru-buru menujukan salah satu es krim itu secara asal karena ia sama sekali belum menentukan pilihannya.


Ada apa dengan laki-laki itu kenapa dia selalu marah-marah dan membentaknya melebihi wanita yang sedang PMS saja. Rasanya ia ingin menangis kemabali, selama ini tidak ada orang yang memperlakukan dirinya sepeti ini. Di mansion ia selalu diperlakukan bagaikan tuan putri dan sekarang ia benar-benar seperti sedang di anak tirikan.


Amelia hanya bisa memanyunkan bibirnya terlihat sebal. Sesekali matanya melirik orang yang sedang memperhatikannya saat ini dari bangku pengunjung. Ia menarik lalu menghembuskan napasnya dengan pelan.

__ADS_1


Saat ia melihat Tantenya itu menghampiri dirinya mungkin karena ucapan Bastian tadi yang memanggil namanya. Suara ketukan itu terdengar semakin dekat dengan dirinya. Amelia hanya bisa menghembuskan napasnya pelan saat sadar Tantenya itu sudah berada disampingnya.


"Ya ampun, keponakan Tante, Amelia Clarissa Saguna, yang sangat cantik. Dunia ini seakan sempit seperti daun kelor, ya. Tante nggak nyangka bisa bertemu denganmu disini. Ada apa dengan matamu itu? Papamu sunguh jahat pada Tante, masa keponakan Tante yang paling cantik ini, menikah tidak diberi tahu." Wanita yang menyebutkan dirinya Tante itu terdiam untuk sesaat menampilkan sebuah senyuman yang menurut Amelia menyebalkan dan wanita yang sudah matang umurnya itu mencondongkan badannya lalu tangannya terangkat disamping telinga Amelia, "Kau sungguh nakal Amelia, sia-sia saja Papamu menjaga mu seperti sebongkah berlian tapi pada kenyataannya ia tetap kecolongan. Berlian itu terjatuh kedalam comberan yang sangat pekat. Tidak ada yang mau mengambilnya karena jijik " Amelia menarik kedua sudut bibirnya menampilkan senyum yang dipaksakan. Kedua tangannya mengepal dengan kencang menahan amarah yang saat ini ia rasakan. Matanya mendelik menatap orang yang ada disampingnya saat ini. Amelia menggeser posisi untuk dapat melihat dengan jelas wajah yang tidak muda lagi usianya tapi tetap cantik.


Amelia tetap bersikap tenang menyimpan amarahnya dengan baik. Ia mengembangkan senyumannya, "Maaf Tante Tania, Kalau itu tanyakan saja pada Papa langsung. Berlian tetaplah berlian, meskipun sudah kotor dan menjijikkan masih ada yang mau memilikinya karena itu tidak akan mengurangi harga jualnya," Amelia menghentikan ucapannya iris matanya melirik Bastian yang sudah memegang dua buah cap es krim rasa Gelato tiramisu dan karamel dikedua tangannya. "Perkenalkan ini adalah suamiku," Amelia menarik lengan Bastian untuk lebih dekat dengannya, "Tidak buruk bukan malah dia sangat tampan," ucapnya dengan tersenyum sangat manis didepan Tante Amelia yang bernama Tania Saguna.


Bastian hanya terdiam dengan apa yang Amelia lakukan saat ini. Ia tahu pasti, dua orang yang ada dihadapannya ini tidak akur. Bastian bisa merasakan kilatan mata penuh kebencian dari keduanya meski bibir mereka menampakkan sebuah senyuman dari wajah keduanya.


"Pasti ia terpaksa menikah denganmu aku tahu kakakku itu seperti apa? Beruntungnya Mama tirimu, pasti dia yang paling senang dengan pernikahanmu karena dia bisa leluasa mengendalikan Papamu itu dan istana Saguna yang sangat mewah,"


Amelia yang mendengar itu mencengkeram lengan Bastian tanpa sadar. Sepertinya ia harus segera pergi dari sini. Amelia tidak ingin kehilangan kewarasannya karena meladeni setiap ocehan Tantenya itu.


Tania Saguna adalah adik tiri satu-satunya dari Randi Saguna. Karena pembagian harta warisan yang menurutnya tidak adil dari Papanya yang bernama Wijaya Saguna permusuhan kakak beradik itu tidak dapat dihindarkan.


Wijaya Saguna pemilik dari PT. Saguna Indobara yang bergerak di bidang sektor batu bara atau yang dikenal dengan emas hitam ini memang mendatang keuntungan berlimpah. Banyak beroperasi di Kalimantan.

__ADS_1


PT. Saguna Indobara menambang hingga 400 ribu ton batu bara per bulan dengan omzetnya sekitar Rp 40 miliar per bulan. Wijaya Saguna mempercayakan usahanya itu kepada anak laki-lakinya.


PT. Saguna Indobara memiliki anak perusahan yang bernama PT. Saguna Konsu Tbk. merupakan kontraktor spesialis yang menyediakan jasa pertambangan komprehensif kepada pemilik tambang dan perusahaan itu diberikan kepada Tania Saguna.


Karena Randi Saguna memiliki jiwa bisnis yang kuat ia mendirikan lagi sebuah perusahaan investasi bernama Randi Corpora Grup ia membuka lahan perkebunan tebu dan pabrik gula yang terintegrasi. Itu sebabnya ia menjadi pengusaha terkaya nomor 2 di Asia. Belum lagi bisnis properti yang Randi Saguna geluti menambah daftar kekayaannya.


Amelia terus menarik lengan Bastian hingga ia berhenti disamping mobil Mercedes. Amelia melepaskan genggamannya begitu saja. Ke dua tangannya mere_mas-re_mas udara yang ada dihadapannya membayangkan wajah Tante sihir itu ada dihadapannya. Ingin rasanya ia memberi cakaran di wajah yang menyebalkan itu. Amelia benar-benar sangat kesal.


Amelia menurunkan kembali tangannya. Ia menghembuskan lalu menarik napas dalam-dalam ia mencoba lebih tenang dan sabar, "Ya ampun, ada ya. Tante begitu sama keponakan satu-satunya? Salahkan Kakek kenapa Papa dan aku ikut dibenci juga" ujarnya kesal.


Jemarinya mengambil cap es krim yang berada di tangan Bastian lalu memakannya dengan suapan yang besar. Amelia memejamkan matanya saat rasa dingin dan ngilu menghampiri rongga mulutnya. Rasa manis yang Creamy, Lumer, dan Crunchy ada sedikit rasa pahit dari kopi Jadi Satu saat es krim itu mencari didalam mulutnya rasanya benar-benar enak.


Bastian masih terdiam belum sepatah katapun ia ucapkan ia hanya memperhatikan orang yang ada di hadapannya saat ini yang sedang asik menyantap es krim yang ia beli. Mata hezel nya terus menatap orang yang ada dihadapannya lalu Ia menghembuskan napasnya pelan tangan nya terangkat jari-jarinya mengelap sisi bibir Amelia dengan lembut membersihkan sisi-sisi es krim yang tertinggal.


Bastian tidak habis pikir dengan wanita yang ada dihadapannya saat ini. Sebenarnya dia itu masih anak-anak atau sudah dewasa. Tingkah laku tidak mencerminkan kedewasaannya.

__ADS_1


Amelia yang diperlakukan seperti itu biasa saja karena memang ia sudah terbiasa diperlukan seperti itu oleh Papanya. Sudah ia bilang bukan Kalau ia sudah terbiasa di perlakukan bagaikan tuan putri yang tinggal di sebuah istana.


Bastian membuka pintu mobilnya lalu menyuruh Amelia untuk masuk saat es krim yang ada didalam cap itu habis. Ia pun memberikan satu cap lagi yang tersisa kepada Amelia sebelum akhirnya ia melanjutkan lagi perjalanannya ke suatu tempat yang asri dan indah. Bastian yakin bahwa Amelia akan menyukainya. Ia hanya ingin menepati janjinya saja pada laki-laki tua itu.


__ADS_2