
Bastian menarik napas pelan saat sudah berada di dalam apartemen. Ia berdiri diambang pintu mata hazelnya menatap orang yang sedang tertidur di atas kasurnya dengan sangat pulas.
Ia beralih menatap ponsel yang sempat berdenting karena sebuah pesan yang masuk dari Randi Saguna.
'Jangan membahas masalah penculikan itu dengan Amelia karena dia melupakan tentang kejadian itu akibat trauma yang dialami dia mengalami Amnesia disosiatif. Aku melupakan informasi penting ini padamu.'
Bastian tidak menyangka wanita yang ada di hadapannya saat ini begitu menyedihkan kehidupannya. Ia terlihat sehat secara fisik, tapi didalam tubuh Amelia kejiwaannya sakit karena banyak trauma yang ia alami.
Bastian melangkah kakinya lebih dalam matanya menatap sekitar ruangan. Ia hanya bisa menggelengkan kepala saja saat baju masih berserakan di bawah. Amelia benar-benar wanita paket komplit. Akhirnya dengan telaten Bastian merapikan semua baju kedalam lemari dengan sangat rapi dan sebagian baju ia masukkan kembali kedalam koper.
Setelah selesai dengan itu ia mengambil obat yang biasa ia minum dan merebahkan dirinya di samping Amelia, "Ya ampun, apakah aku bisa menjaga wanita ini? Tapi aku tidak bisa menolak apa yang pria paruh baya itu tawarkan, itu sangat menggiurkan. Semoga saja kau tidak menyusahkan aku. Nasibmu begitu menyedihkan dan malang sekali, Amelia" laki-laki itu berbicara dengan menatap wajah Amelia yang ada di hadapannya saat ini. Wanita itu terlihat sangat nyenyak sekali tidurnya sampai tidak merasakan kehadirannya.
Amelia bergerak berpindah posisi tidur memunggungi Bastian, cairan bening keluar dari ujung matanya dan menetes di sarung bantal yang kering. Dadanya terasa sesak saat kata-kata itu terdengar di telinganya.
'Kau orang yang sekian kali yang berkata kehidupanku menyedihkan. Apa hidupku sebegitu menyedihkan di mata semua orang? Aku tau … tak seharusnya aku menangisi hal sepele seperti ini lagi. Ini sudah biasa dalam hidupku dan aku harus terbiasa mendengarnya," gumam Amelia dalam hati. Ia pun segera mengelap air mata yang menetes.
•
•
•
•
•
Cahaya matahari sudah masuk ke dalam celah-celah jendela. Dua pasang manusia tidur dengan berpelukan mencari kehangatan tubuh dalam dinginnya pagi hari.
Hingga kelopak mata double eylied itu bergerak sebelum akhirnya terbuka. Mata itu membulat sempurna saat tau siapa yang ada di dalam pelukannya saat ini
__ADS_1
Netra itu terpaku menatap wajah yang ada di depannya. Ia begitu tenang, matanya terus mengamati orang yang ada di hadapannya bibir tipis itu tidak gelap padahal ia perokok aktif, hingga sekelebat bayangan ingatan malam panas mereka hadir di kepala Amelia ia hanya mampu menelan salivanya dengan susah. Dengan perlahan wanita itu melepaskan pelukannya karena tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi, "Arumi … kau mau kemana aku masih ngantuk?" gumam Bastian dengan mata yang masih terpejam dengan mempererat pelukannya tidak ini terlepaskan.
Amelia langsung mendorong tubuh Bastian dengan kencang hingga ia terjatuh saat mendengar gumaman itu.
Bruk….
"Aaaawww!!" Bastian membuka matanya saat merasakan sakit ditubuhnya ia langsung beranjak dari lantai dan menatap wajah Amelia dengan tatapan nyalang. Perempuan ini ada apa sebenarnya dengan dia? Apa dia hobi membuat orang kesal? Ini masih pagi sudah membuatnya naik darah. Dengan mengacungkan telunjuknya di depan wajah Amelia, "Kau, sebenarnya jenis manusia seperti apa? Kau benar-benar mengganggu hidupku. Baru sehari kita tinggal satu rumah. Tetapi kau sudah berani melakukan aku seperti itu," ucapnya tidak terima.
Amelia yang menyaksikan tatapan mata Bastian yang sudah merah padam itu hanya bisa menunduk dan meneteskan air mata karena hanya itu saja yang bisa ia lakukan saat ini.
Bastian yang melihat itu hanya mampu menarik lalu menghembuskan napas demi melonggarkan saluran pernapasan yang seakan tersekat dan membuat dadanya sesak karena menahan kesal terhadap wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Bastian melangkah kakinya menuju kamar mandi meninggalkan Amelia dengan isak tangisnya. Mungkin dinginnya air shower bisa menghilangkan panas kepalanya yang tampak mengebul karena menahan marah.
Amelia yang melihat kepergian Bastian langsung beranjak dari atas kasur tanpa merapikan tempat tidur suatu kebiasaan yang bertentangan dengan Bastian.
Amelia yang merasakan lapar membuka kulkas mencari makanan apa yang bisa ia makan tanpa harus memasaknya. Sayangnya tidak ada apa-apa ia pun menutup kembali kulkas itu dan duduk di kursi makan dengan kepala ia taruh di atas meja menunggu Bastian selesai dari kamar mandi.
Bastian berjalan keluar dari kamar dengan rambut yang sudah basah. "Apa kau lapar?" Suara dingin itu terdengar saat melihat Amelia tergolek lemas.
Amelia menaikan kepalanya saat melihat Bastian, "Aku lapar tapi tidak ada yang bisa dimakan," ucapnya lesu.
Bastian hanya mampu menggelengkan kepalanya, "Ya sudah mandi sana setelah itu kita makan diluar dan berbelanja. Sepertinya aku harus mengajarimu untuk menjadi istri yang berguna,"
•
•
•
__ADS_1
•
•
Deru Mobil terdengar saat Mercedes memasuki parkiran supermarket setelah mereka selesai mengisi perut terlebih dahulu.
Amelia melangkah dengan senyum yang mengembang. Bastian hanya bisa melihat keceriaan itu tanpa berkata apapun kepada Amelia.
"Astaga baru diajak ke supermarket dia sudah sebahagia ini. Apalagi diajak jalan-jalan ke manapun dia mau sesuai permintaan laki-laki tua itu. Tanpa pengawalan. Pasti dia akan menangis," gumam Bastian seorang diri.
Amelia menoleh ke belakang menatap Bastian, "Kita akan belanja apa?" Tanyanya saat ia sudah di dalam supermarket dengan troli belanja yang ia dorong.
"Belanja sayuran dan kebutuhan rumah yang habis," ucap Bastian sambil bertolak pinggang memeriksa sesuatu yang penting tidak tertinggal di dalam mobil kalau-kalau bahaya yang menyerang.
Amelia hanya mengangguk dengan meneruskan langkah kakinya yang tadi terhenti. matanya mengedarkan pandangannya menatap sekitar ini adalah pengalaman pertamanya berbelanja bahan sayuran kakinya terus berayun ke depan.
Hingga iris mata cokelatnya tidak sengaja menatap wajah laki-laki yang tidak asing lagi di matanya dari kejauhan. Ia melihat laki-laki itu dengan seorang wanita bergandengan tangan dengan mesranya dan mereka bercanda gurau terlihat sangat bahagia. Mata itu langsung berembun saat ia yakin itu adalah Abian Bahran laki-laki yang sangat ia cintai.
Ia langsung terpaku menghentikan langkah kakinya dan menangkupkan tangan di wajah ia tidak kuat lagi melihat pemandangan itu karena ia sudah tidak tahan menahan sesak yang ia rasakan. Hatinya seperti teriris sembilu hanya ada suara isak tangis yang terdengar detik itu juga.
Bastian melangkah kakinya mendekati Amelia yang entah kenapa wanita itu jadi berubah yang tadinya ceria dan sekarang menangis. Apa dia mempunyai penyakit bipolar juga?
"Kau kenapa? Apa ada yang membuatmu takut?" Bastian memeluk wanita itu yang semakin kencang tangisannya dan menyebabkan mereka menjadi tontonan beberapa orang yang ada di sana.
Tidak ada jawaban dari Amelia hanya suara isak kan tangis yang terdengar. Tanpa banyak bertanya ia langsung membopong tubuh Amelia dan membawanya kembali ke dalam mobil.
Bastian hanya mampu terdiam saat itu dengan melajukan kendaraannya. Tanpa mau banyak bertanya apapun lagi pada Amelia, sesekali matanya melirik kearah Amelia yang masih saja menangis tanpa ia tahu apa penyebabnya.
__ADS_1