
Satu bulan sudah Hanin berada di apartemen Bayu dan Tristan juga selama sebulan selalu mendapatkan kesulitan karena ayahnya, bahkan pekerjaannya selalu di revisi karena ulah Janu yang menyebabkan Tristan harus selalu lembur
Jam makan siang Bayu sedang menerima telepon di ruangannya Tristan yang akan memberikan laporan menguping di balik pintu yang sedikit terbuka
"Ada apa? " tanya Bayu
"Baiklah aku pulang sekarang, hanya kue itu saja? mau pesan yang lain? oke baiklah"
"Siapa yang di telepon Bayu? kenapa dia bicara selembut itu? " batin Tristan mulai curiga dengan gerak gerik Bayu yang kerap keluar meskipun di jam kerja
Tristan memutuskan untuk mengikuti Bayu yang ia curigai selama ini karena sering keluar bahkan saat jam kerja tidak pernah selama dia bekerja disana meninggalkan pekerjaannya bahkan sekarang hampir setiap hari
Sebenarnya Hanin semalam melihat gambar di handphone Bayu yang di pinjamkan padanya dia melihat kue yang membuatnya merasa air liur sampai menetes di mulutnya, dia ingin mengatakannya malam itu tapi dia lupa hingga dia kembali mengingatnya siang ini
Tristan sampai di parkiran apartemen Bayu dia membiarkan pria itu masuk lebih dulu membawa sebuah box kue di tangannya, Tristan sampai di depan apartemen melihat seseorang membuka pintu apartemen dan Bayu pun Masuk
Dia bersembunyi di dekat sana sampai Bayu kembali keluar, hanya sebentar dia disana rasa penasarannya membuatnya kepo tingkat dewa. Tristan mengetuk pintu apartemen Bayu
Hanin yang baru saja menutup pintu mengira itu adalah Bayu dan membuka pintu tanpa melihat dulu dari lubang di pintu itu
"Kenapa kembali lagi? " ucapnya sambil membuka pintu
...Deg...
Keduanya menunjukkan ekspresi terkejut, Hanin segera menutup pintu namun kaki Tristan mengganjal pintu tersebut dan berhasil membukanya. sedikit mendorong hingga tubuh Hanin jatuh duduk di lantai
"Awwww" pekik Hanin
''Hanin kau baik baik saja? " dengan panik Tristan membangunkan Hanin
Tristan memeriksa tubuh Hanin dan tidak ada yang terluka membuatnya lega, Hanin mendorong Tristan dan mengusirnya dengan kasar
"Kau tidak di Terima disini, pergilah" Hanin mendorongnya
__ADS_1
"Aku mencarimu selama ini" jawab Tristan tanpa amarah, wajahnya tampak sendu
Sesaat kemudian Tristan memeluk Hanin erat meskipun yang di peluk berontak dan memakinya habis habisan
"Pulang sayang aku merindukanmu" ucap Tristan mengecupi bahu dan leher Hanin
"Pergi sialan kau menjijikkan" hardik Hanin berusaha lepas dari Tristan
Tristan tidak menjawab dia menekan tubuh Hanin hingga duduk di sofa dan dia meletakkan kepalanya di pangkuan Hanin mengusap perut Hanin yang sedikit membuncit
"Sayang aku merindukanmu, ibumu tega membawamu pergi" ucapnya lalu mengecup perut Hanin
Wajah Hanin menatap ke arah lain menyembunyikan genangan air mata dimatanya, Tristan mendongak menatap wajah cantik Hanin yang menoleh ke kiri terkadang jarinya menekan sudut matanya agar air mata itu tidak menetes
"Kenapa kau pergi? " tanya Tristan yang berlutut di hadapan Hanin
"Aku rasa kau lebih tau jawabannya, sekarang pergi aku sudah bahagia hidup disini" jawabnya ketus
"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu disini, kau istriku. tidak baik seorang istri tinggal bersama laki-laki lain"
"Sikapnya yang lemah lembut dan penuh perhatian meskipun aku tidak mengandung anaknya tapi setiap hari dia mengatakan ' apa kau dan bayimu Baik baik saja hari ini? apa yang ingin kau makan hari ini? apa kau merasa mual? ' bahkan dia rela meluangkan waktu untuk mengantarku ke dokter"
"Kau memuji laki laki lain di hadapan suamimu, aku bisa melakukannya jika kau ada bersamaku di apartemenku" bentak Tristan
"Iya aku memujinya bahkan mungkin memujanya saat ini, jika saja aku tidak menikah denganmu maka aku akan memilih Bayu dan hidup bahagia dengannya. bukan seperti sekarang aku menderita saat aku hamil bahkan tidak tau nasib anakku kedepannya akan seperti apa" ucap Hanin berteriak, air mata yang dia tahan dari tadi lolos dari matanya
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Hanin membuat kepalanya menoleh ke kiri, air mata Hanin semakin membanjiri wajah cantiknya dan dia mengusapnya kasar dengan punggung tangannya
"Aku membencimu, hatiku fisikku selalu kau siksa Tristan aku tidak ingin kembali bersama pria sepertimu" ucapnya penuh penekanan
"Kau mengandung bayiku dan kau tidak bisa pergi sebelum kau melahirkannya"
__ADS_1
"Heh egois sekali anda" Hanin tersenyum mengejek
"Kau sudah akan punya anak sendiri dan calon istrimu yang bilang anakku tidak akan punya kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan bersamamu, aku sebagai ibunya tidak akan menyerahkan anak ini. aku lebih baik membawanya mati" ucap Hanin penuh emosi dan berdiri di hadapan Tristan
Plak
Tristan kembali menampar Hanin hingga tubuhnya terhuyung dan jatuh di atas sofa, Tristan panik dan menepuk pipi Hanin namun sepasang mata itu tidak juga terbuka. saat Tristan membawa Hanin pergi tanda pengenal yang menggantung di lehernya jatuh
Bukan membawa Hanin kerumah sakit Tristan malah membawanya ke apartemennya, menidurkan Hanin di ranjangnya lalu menelpon dokter. dokter memberi peringatan pada Tristan agar tidak membuat Hanin tertekan atau dia akan kehilangan bayinya
Tristan meminta maaf berulang kali pada Hanin dan menciumi kening serta perut Hanin setelah kepergian dokter, Tristan ikut berbaring di samping Hanin dan memperhatikan wajah cantik itu dari atsnya. Tristan mengecup bibir Hanin berkali kali dia merindukan wanita ini selama satu bulan menghilang
"Jangan pergi lagi sayang, aku bahkan tidak akan melepaskanmu walaupun tidak ada anak di dalam sini" Tristan mengusap perut Hanin lalu mengecup bibirnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Aku sudah masuk ke dalam rumah tangga mereka bahkan posisiku bisa di bilang sangat aman, sekarang giliranmu Luis jika ada kesempatan kau harus segera masuk ke kehidupan Hanin dan jadilah pahlawan untuknya buat dia bergantung padamu" ucap Yasmine saat menemui Luis di sebuah restauran
" Aku akan melakukannya dengan caraku, kau hanya tinggal menjaga Tristanmu agar dia tidak kembali pada Hanin dan aku akan membawa Hanin pergi jauh saat aku ada kesempatan " jawabannya
"Cara kerjamu terlalu lamban" ejek Yasmine
"Tapi akan minim resiko tidak sepertimu, kau akan habis jika Tristan tau semuanya" ejek Luis tidak mau kalah
"Apa maksudmu? " pekik Yasmine
"Aku tau betul anak yang kau kandung bukan anakmu, kau berselingkuh dengan pria yang lebih muda darimu. bukankah dia seorang photograper? " perkataan Luis membuatnya terkejut namun dia berusaha menyembunyikan keterkejutannya
"Jangan asal bicara, ini anak Tristan" tegasnya
"Benarkah? kita akan tahu kebenarannya nanti" jawab Luis
"Apa maksudmu sialan? "
__ADS_1
"Tidak ada, aku harus pergi" Luis membayar makanan mereka lalu pergi begitu saja meninggalkan Yasmine yang terlihat begitu kesal