
Jakarta, 17 Agustus 2003
Soeharjo Atmodipuro, laki-laki tua yang selalu menerorku dengan surat penuh cacian maupun nasihat yang ia kirimkan seminggu sekali. 'Seharusnya kamu senang dicaci oleh orang lain, karena setidaknya cacian itu memang kenyataannya. Daripada disanjung tapi hanya sebagai bualan.' Ujarnya yang membuatku tidak membenci caciannya. Di samping itu ia juga pernah berpesan, “Jangan lelah menerima nasihat, karena tidak semua orang mau meluangkan waktunya hanya untuk menasihati.” Entahlah, aku tidak mengerti apa yang dipikirkan olehnya.
Mengenai surat yang tidak pernah ku balas itu memang benar, bahkan aku tidak pernah berpikir mau membalasnya. Alih-alih memberi kabar, biasanya simbah lebih suka menanyai kabar, mencaci, atau memberi nasihat yang tidak ada habisnya. Tapi kali ini berbeda, beliau memberiku kabar tentang ibu yang mengalami kecelakaan . ”Apakah aku harus pulang ke Jogja hanya untuk menjenguk ibu?” Pikirku sedari tadi setelah membaca surat dari simbah. Kepalaku berdenyut kencang dan membuatku hampir limbung sebelum bude menangkapku. Sebenarnya aku tidak sendiri tinggal di Jakarta, karena masih ada bude, pakde, dan juga putranya. Walaupun tidak tinggal seatap, tapi mereka sesekali berkunjung untuk mengecek keadaanku.
“Sebentar, apa kau bisa menghubungi dokter?” Tanya Bude Ranti pada suaminya sambil membantuku duduk di sofa.
“Itu tidak perlu, aku tidak apa-apa.” Cegahku sebelum Pakde Rendi menelepon dokter.
“Kau hampir saja jatuh karena pusing bukan? Tapi tidak mau diperiksa dokter, apa kau sudah gila Rum? Sungguh merepotkan!” Ucap bibi menggebu.
“Sepertinya aku memang gila, jadi bude tidak perlu memanggil dokter. Oh iya, aku tidak akan merepotkan mu lagi setelah ini, karena dua hari lagi aku akan pulang ke Jogja.” Ucapku memutuskan untuk pulang ke Jogja.
“Kau yakin? Aku bahkan tidak mengerti apa motif mu tinggal di Jakarta sendiri, bahkan kau tidak pernah menjawab telepon ataupun pesan dari ibumu.” Jawab bibi sambil memijat dahinya.
“Sebaiknya kalian pulang, Mas Eja pasti mencari mu bude.” Ujar ku sambil tersenyum menatap mereka.
“huft, bahkan kami baru saja sampai dan kau sudah mengusir?” Tanya bude dan menghela napas.
“Baguslah jika bude mengerti.” Jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
“Yasudah aku akan pulang, nanti Reza akan membawakan obat untukmu.” Ucapnya sambil berjalan bersama suaminya ke luar ruangan.
“Itu tidak perlu.” Jawabku lalu menutup pintu. Entahlah, aku lelah mendengar amukan bude dan sikap suaminya yang bagai patung karena tidak pernah melakukan sesuatu sebelum istrinya tersebut menyuruh, aneh. Aku berjalan menuju kamar lalu rebahkan tubuhku di kasur, 'Semoga pilihanku untuk pulang ke Jogja benar.' Ucapku dalam hati.
Udara Minggu siang ini terasa sangat panas, padahal aku sudah membuka jendela kamarku tapi atmosfer terasa sesak. Ku pejamkan mataku untuk mengurangi rasa pusing yang masih terasa menusuk kepalaku.
Tok.. tok.. tok..
Cklek.. Terlihat seorang laki-laki bertubuh jangkung berdiri di depan pintu. Belum sempat aku menyuruhnya untuk masuk, dia sudah menyerobot lalu duduk di sofa sambil memakan camilan.
“Reza Setiawan putra dari Nyonya Miranti Atmodipuro dan Tuan Rendi Setiawan, apakah Anda datang hanya untuk menghabiskan camilanku?” Ucapku sinis.
Yang kutanya pun hanya mendesis lalu melempar keresek berwarna putih ke atas meja. Aku mengambil dan membukanya, “Haah, aku tidak membutuhkannya, apa bude pikir aku penyakitan.” Ucapku lalu melempar keresek berisi beberapa obat-obatan tersebut kembali ke tempatnya.
“Apa salahnya?” Tanyaku sambil memasukkan beberapa makanan ke mulut.
“Kenapa tidak dari dulu?” Tanyanya kembali. Ku hentikan acara makanku lalu kuhadapkan tubuhku mengarah Mas Reza sambil menatapnya intens.
“Aku kira dengan tinggal di Jakarta bisa tahu siapa pembunuh itu.” Ucapku menjelaskan.
“Kamu tidak percaya kalau orang itu Rukmi?” Tanyanya dengan nada mengejek.
“Mas Eja pikir Mbak Rukmi sekejam itu? Lagi pula jika memang benar-benar Mbak Rukmi yang membunuh ayah, kenapa kalian semua dengan mudah memaafkan?” Mas Reza kelihatan sedang berpikir karena terlihat dahinya mengerut.
__ADS_1
“Tapikan Rukmi sudah mengaku kalau itu perbuatannya dan dia melakukan itu karena benci sama Paklik yang selalu lebih perhatian ke kamu. Lagipula apa salahnya memaafkan? Tuhan saja selalu memaafkan hambanya.” Ujarnya seperti orang ceramah.
“Kalau Mbak Rukmi bunuh ayah karena ayah lebih perhatian ke aku, kenapa nggak bunuh aku saja? Kan kalau bunuh aku bisa dapat perhatian yang sepenuhnya dari ayah, Huft.” Aku membuang napas jengah.
“Kalau kamu yang dibunuh Rukmi dan paklik tahu, otomatis paklik kecewa sama Rukmi dan bisa jadi malah tidak akan memberikan perhatian lagi.” Ucap Mas Reza menjelaskan.
“Kenapa semuanya serumit ini?" Tanyaku sambil memijat dahi.
" Ya sudah sana pulang, ini sudah malam. Tidak mau aku nanti diamuk sama warga.” Ucapku sambil mengibas-ibaskan tangan.
“Orang aku tidak berbuat yang aneh-aneh kok, wah.. kamu mikir yang macam-macam ya! Lagian tetangga kan juga tahu kalau aku saudaraan sama kamu.” Balas Mas Reza dengan senyumnya yang jahil.
“Mas Eja! Sudah sana pulang! Kalau tidak, aku teriak panggil warga nih!” Ucapku sedikit berteriak, ya bagaimana dia sangat menyebalkan.
“Ya sudah nih aku pulang, awas saja kamu kangen.” Mas Reza Menaik turunkan alisnya sambil terkikik geli. Aku langsung mengambil bantal yang ada di sofa dan melempar ke arah mukanya.
“Udah sana pergi, lagian aku juga nggak mau kangen sama Mas Reza.” Ucapku sambil menarik tangannya keluar rumah.
“Gini-gini kamu waktu kecil juga suka sama aku. Dahlah kasihan itu pipi sudah seperti kepiting rebus, dada sayang awas nanti kangen.” Ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak lalu mengendarai motornya keluar dari halaman rumah.
Aku langsung masuk dan mengunci pintu sambil menggerutu. Ya habisnya siapa suruh ganteng kok kelewatan, aku yang waktu itu masih TK saja bisa suka. Apalagi sekarang dengan tubuh tinggi tegap, kumis tipis, kulit kuning langsat bersih, dan lesung pipi yang menghiasi senyumnya membuat para kaum hawa banyak yang menyukainya, tapi heran juga kok masih jomblo. Terlebih lagi Mas Eja itu humoris, jadi bisa membuat suasana lebih menyenangkan. Dia memang sering ke sini, katanya capek kalau di rumah ngelihatin bude yang kerjaannya marah-marah tidak jelas.
Ku langkahkan kakiku ke arah kamar, sesampainya aku langsung merebahkan tubuhku ke kasur. Ku lihat langit-langit kamar yang terlihat sedikit kotor karena aku jarang membersihkannya, lalu kuturunkan pandanganku ke arah sebuah bingkai yang tertempel di dinding. Dalam bingkai tersebut terdapat fotoku bersama ayah, ibu, juga Mbak Rukmi yang sedang tersenyum. Waktu itu kami sedang berlibur ke Pantai Parangtritis yang ada di Yogyakarta, di sana kami bermain kejar-kejaran dan membuat istana pasir, “Setidaknya ada sedikit cerita tentang keluargaku yang terlihat bahagia.” Ucapku tersenyum kecut.
__ADS_1