
Mobil yang membawa Malik, Deri, dan juga Marsel berhenti di depan rumah milik keluarga Malik.
satu persatu tiga orang yang berada di dalam mobil keluar dengan wajah lesuh.
Pak Adul yang sedari tadi memperhatikan mengerutkan dahi ketika melihat wajah lesuh majikannya itu.
" ada yang gak beres nih " katanya, kemudian ia celingak celinguk mencari sesuatu. " kok mobilnya satu, mobil den Tedia kemana ? " katanya lagi, mancari-cari mobil milik Tedia.
Dengan wajah lesuh tiga orang dewasa itu masuk ke dalam rumah. Di dalam, tepatnya di ruang tamu. Ada tiga wanita dewasa yang berdiri menyambut mereka dengan dahi berkerut.
Sedangkan Lani, ia tak ikut berdiri. Lani tetap duduk dengan kedua tangan yang saling bertautan, wajahnya cemas, hatinya kalut.
" gimana, Pa.? " suara Ria memecah keheningan. Termasuk Lani, semua kini menatap ke arah Malik.
Malik menatap Lani, cukup lama. Hingga helaan nafas kasar ia hembuskan.
" Jiasa menolak " kata Malik tak mau berbasa-basi. Semua terkejut, begitu pula Lani. Tapi tak lama senyum miris di bibir Lani terukir, sebenarnya hal seperti ini sudah ia duga sebelumnya. Pasti Jiasa akan menolaknya.
" di tolak, seperti apa sih rupanya perempuan itu sampai di saat keadaannya sudah tak baik masih saja bisa menolak. " Sarah yang geram mengeluarkan suara. Widia mencoba menenangkan dengan menyentuh bahu Sarah.
" Ck ! Gak habis pikir aku, mbak. Udah lah, Lan. Kalau dia nolak itu tandanya kamu gak usah tanggung jawab, toh kita sudah berbaik hati datang ke sana. Tapi hasilnya apa " Sarah kembali menggerutu, kemudian ia mendudukkan tubuhnya di sofa, nafasnya masih memburu, Sarah tengah menahan emosinya.
" terus yang lain kemana, Pa.? " tanya Ria, ia tak mau memperkeruh suasana.
" di rumah sakit " sahut Malik.
Semua kembali terkejut.
" si- siapa yang di rumah sakit ? " dengan tergagap Widia bersuara.
" Jiasa, dia jatuh dari tangga. "
Seketika Lani berdiri, begitu pula dengan Sarah.
" terus keadaan Jiasa gimana, Pa. ? " Lani panik.
" belum tau, Tedia dan yang lain di sana. Nanti kita tunggu kabar dari Tedia dan yang lainnya. " tutur Malik.
Lani terdiam, tapi tak lama mulutnya bergumam. " Tedia. " Lani memejamkan sejenak matanya.
..
Dokter yang menangani Jiasa sudah keluar, semua berdiri dan mendekati dokter itu. Tatapan penuh harap di tunjukan oleh semua orang yang ikut membawa Jiasa ke rumah sakit.
Sang dokter menghela nafas berat, " Pasien baik-baik saja "
semua bernafas lega ketika mendengar penuturan sang dokter.
" tapi .. " satu kata terjeda membuat semua orang kembali berharap-harap cemas, semua diam menunggu kelanjutan dokter itu.
" bayi-nya tidak selamat " kalimat akhirnya yang di ucapkan mampu membuat semua orang yang ada di sana melebarkan mata.
Fadil dan farah tertunduk lesuh, Jennie memejamkan matanya tak percaya dengan hal yang baru saja di ungkapkan.
Tatapan Yoga kini tertuju ke arah Tedia yang juga ikut tertunduk. sembari menatap Tedia, Yoga mengepalkan tangannya.
__ADS_1
" setelah penanganan selesai, nona Jiasa akan kita pindahkan ke ruang perawatan. Apa suaminya ada di sini ? " pertanyaan yang sang dokter lontarkan membuat semua orang saling tatap, mereka bingung harus menjawab apa.
Tak lama Tedia seperti hendak berbicara, tapi di hentikan oleh suara Yoga. " suaminya di luar kota, Dok. tapi ayah sama Ibunya ada di sini kok. " sembari berbicara mata Yoga menatap Tedia.
Tedia kembali tertunduk, sedangkan Jennie dan Zaki tengah saling tatap.
" bapak dan Ibu, orang tuanya.? " tentu saja Fadil dan Farah mengangguk ketika sang dokter melontarkan pertanyaan itu. " mari ikut saya " kata sang dokter dan kembali mendapat anggukkan.
Fadil dan Farah mengikuti langkah sang dokter meninggalkan empat remaja itu.
Setelah Fadil dan Farah pergi bersama sang dokter, Tedia kembali duduk di kursi tunggu. Yoga menatap datar Tedia dan kemudian melangkah menghampirinya.
Jennie dan Zaki memperhatikan, mereka penasaran apa yang akan Yoga lakukan kepada Tedia.
Yoga berhenti tepat di hadapan Tedia, sontak Tedia mendongkak, dan ia bertemu pandangan dengan Yoga. Ketika di tatap Tedia, Yoga menghela nafas kasarnya.
" puas lu sekarang ? " tanya Yoga. Tedia membulatkan mata.
Begitu pula dengan Jennie dan Zaki.
" ck ! Maksud lu apa sih, gue gak ngerti " sahut Tedia, sembari menghela nafas kemudian ia membuang padangannya.
Yoga tersenyum miring, " gue tau kok, lu dalang dari semua ini. Lu kan yang hasut Jiasa supaya nolak Lani. "
Tedia kembali mengalihkan atensinya, dengan mata melebar ia menatap Yoga.
Jennie dan Zaki pun merasa terkejut.
" gak usah ngomong sembarangan deh, lu. " Tedia tak terima akan tuduhan Yoga.
Seketika Tedia tertunduk, sedangkan Zaki dan Jennie saling pandang dengan wajah yang begitu sendu.
" selamat atas kemenangan lu sama Jiasa, gak ada penghalang lagi buat kalian bersatu. Kenapa gue bilang gada penghalang. Pertama setelah anaknya pergi, Jiasa semakin punya alasan buat nolak Lani. Kedua, Lani juga gak punya alasan buat tanggung jawab. terima kasih Tedia, terima kasih banyak. " tak ada jawaban dari Tedia. Tedia tetap diam dengan kepala tertunduk.
Yoga menghela nafas, " gue balik " katanya kemudian berpaling dari Tedia dan mulai melangkah pergi.
" Ga .. " panggil Zaki ketika Yoga melewati dirinya dan Jennie.
Yoga berhenti, ia mendesah kasar. kemudian Yoga berbalik, " lu mau bareng gue apa bareng Tedia. ? "
Zaki napak berpikir, tapi tak lama ia bersuara, " elu aja deh. "
Helaan nafas kembali terdengar dari mulut Yoga, kemudian Yoga menatap Jennie. " gue balik ya, Jen. Salam sama Om dan Tante, bilang kita gak bisa lama lama di sini "
Jennie mengangguk, kemudian Yoga kembali berbalik dan melangkah.
" balik ya, Jen. " pamit Zaki lalu menyusul Yoga.
...
" gimana pa, udah ada kabar tentang Jiasa.? " tanya Ria.
Malik yang tengah fokus dengan ponselnya menghela nafas, semua menatap Malik dengan wajah penasaran.
" Jiasa gak apa-apa, tapi bayinya gak selamat " kata Malik sembari menatap Lani.
__ADS_1
Entah mengapa Lani tidak terkejut, ia seperti sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Lani menundukkan kepalanya.
Marsel yang duduk di samping Lani menepuk pelan bahu sahabat putranya itu. " sabar, seperti ayah kamu, dia kembali ke pemilik sesungguhnya " kata Marsel, Lani mengangguk. Jujur saja meski ia sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi Lani merasakan sakit yang teramat dalam di lubuk hatinya.
rasa sakit Lani begitu bertubi, pertama dia di tolak oleh ibu dari calon anaknya, dan kedua ia harus kehilangan calon anaknya.
Semua menatap Lani dengan wajah sendu, sungguh miris kehidupan Lani.
Tak lama Lani mendongkak. wajah Lani terlihat tegar, tapi semua yang orang yang saat ini bersama Lani tau Jika remaja itu tengah menyembunyikan rasa sakitnya.
" Arlan pulang ya, Pa. Arlan mau nemuin Ibu. " kata Lani. setelah Raya pulang, Lani belum bertemu lagi dengan Ibunya. Bahkan acara lamaran malam ini pun Raya tak hadir.
Tak ada yang menjawab, semua diam. Tapi tak lama sebuah anggukan di berikan oleh Malik. " biar Papa anter. "
Lani menggeleng, ia ingin pulang sendiri.
Melihat penolakan Lani, Malik menghela nafas, kondisi Lani di saat ini tak akan baik jika ia di biarkan pulang sendiri. " jangan membantah, biar Papa anter. "
Lani diam, ia tidak bisa menolak.
..
" Ga " panggil Zaki, keduanya kini berada di dalam taksi yang akan membawa mereka menuju rumah Tedia.
Yoga menoleh. Tapi, ia hanya diam.
" kok lu bisa nyalahin Tedia atas penolakan Jiasa. ? " hal yang membuatnya penasaran akhirnya ia tanyakan.
Yoga memalingkan wajah, ia menatap ke depan dengan tatapan kosong. " feeling aja sih, gue gak sengaja ngeliat Tedia senyum pas Jiasa datang terus ngomong kalau dia gak mau nikah sama Lani. "
mata Zaki melebar, terkejut dengan jawaban Yoga. " tapi, itu kan cuma senyum. Ya bisa aja kan itu cuma senyuman biasa. Belum tentu Tedia dalang dari semuanya. " meski terkejut Zaki mencoba untuk berpikir positif.
Yoga menghela nafas, " ya, semoga aja " kata Yoga.
Tak lama mereka tiba di tempat tujuan. Mereka keluar dari dalam taksi secara bersamaan, kemudian mereka meminta pak Adul untuk membukakan pintu gerbang untuk mereka.
" makasih, pak. " kata Zaki, bersama Yoga ia melangkan menuju teras rumah Tedia.
Ketika sampai di teras rumah Tedia, keduanya tak sengaja berjumpa dengan Lani yang keluar bersama Malik.
" kalian mau kemana ? " tanya Zaki.
" gue mau balik " sahut Lani, kemudian mata beralih pada Yoga.
Yoga menghela nafas, lalu ia mendekati Lani. " sabar ya, Lan. "
Lani tersenyum tipis, " tenang aja, gue udah pernah ngalamin hal yang lebih dari ini. " katanya penuh makna, dan sukses membuat hati Yoga dan Zaki teriris. Bahkan Malik sampai memalingkan wajah lalu menghela nafas kasar.
" ayo, Lan. " kata Malik. Lani mengangguk.
" gue balik dulu ya " pamit Lani pada dua sahabatnya.
Bersama Malik, Lani meninggalkan rumah Tedia.
Yoga dan Zaki terus menatap perginya Lani, hingga mobil yang membawa Lani tak terlihat.
__ADS_1
" kita tau kok, Lan. Kalau lu cuma pura pura kuat. " Tutur Zaki, Yoga menghela nafasnya.