LABIRIN

LABIRIN
37


__ADS_3

" Mama taro di sini ya. Kalau butuh yang lain panggil aja ya .. " Ria berbicara sembari menaruh nampan berisi minuman di atas lantai yang sudah terlapisi permadani.


Dengan sigap para anak gadis membantu Mama Ria, setelah selesai Ria kembali keluar dari kamar putranya dan membiarkan putranya itu menghabiskan waktu bersama teman-temannya.


" kalian di bocengin mereka ..? " tanya Tedia berbasa-basi lebih dulu, kemudian dagunya bergerak menunjuk Zaki dan Yoga yang sudah selonjoran di lantai dengan ponsel dalam genggaman.


" enggak, gue bawa mobil .. " kata Jennie sembari menunjukkan kunci mobil miliknya kepada Tedia.


Tatapan Tedia kini beralih kepada Jiasa, dilihatnya Jiasa yang tengah menatap nanar pergelangan kaki Tedia yang terbalut. Kemudian Tedia beralih kepada Lani, dilihatnya Lani masih dalam posisi rebahan dengan lengan menempel di dahi.


Tedia menghela nafas pelan, ia tahu dan paham apa yang tengah Lani lakukan, sepertinya Lani tidak mau melihat interaksi yang terjadi di antara dirinya dan Jiasa.


" oh iya, kaki elu udah di urut, Di. ? " Iren bertanya, Tedia tersenyum kepadanya.


" udah sama Pak Adul, tapi kalau elu mau ngurut lagi sih, Boleh. " Mulai, Tedia mulai mengeluarkan jurus andalannya. Semua mencibir kecuali Jiasa yang tersenyum tipis, dengan wajah tak suka. Sedangkan Iren mendengus, sedikit menyesal sudah memberi pertanyaan kepada si raja gombal.


Tatapan Tedia kembali dialihkan kepada Lani, entahlah melihat dan merasa sikap Lani begitu berbeda membuatnya tak enak hati dan tak bisa fokus dengan sekitar.


Tak lama objek yang Tedia pandangi bergerak, lengannya yang bertengger di dahi berpindah, kemudian Lani bangun dan setelah itu melangkahkan kaki tanpa bicara.


Semua mata kini tertuju kepada Lani, cowok dengan seragam yang dimasukkan kedalam celana abu-abu itu masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Tedia.


Melihat ada yang aneh, Jennie beringsut mendekati Yoga, kemudian ia duduk di samping Yoga dengan jarak yang dekat, setelah itu Jennie berbisik.


" ada yang aneh, Arlan kenapa ..? "


Yoga menoleh, menatap wajah Jennie yang tengah tersenyum.


Kemudian Yoga terkekeh dan menggelengkan kepala, lalu telapak tangannya bergerak mengusak surai hitam milik Jennie.


" ck! Elu emang temen kita, tau aja kalau tuh bocah lagi gak bae .. " kata Yoga pelan.


Ya, Jennie yang sudah berteman dengan mereka sejak duduk di bangku SMP sudah hapal dengan tingkah laku dan kebiasaan mereka.


" Astagfirallah, tega banget kalian selingkuh di depan gue .. " Celetukan dari Zaki membuat semua mata tertuju kepadanya, tak terkecuali Lani yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Jennie dan Yoga sama-sama memutar bola matanya malas. Mereka berdua mengabaikan Zaki yang kembali uring-uringan.


Melihat tingkah Zaki, Yoga, dan Jennie mampu membuat kondisi Tedia menjadi lebih baik, tapi matanya kembali menatap sosok Lani yang kini kembali merebahkan tubuhnya di soffa. Tapi, Lani tidak tidur seperti tadi, Lani justru bermain dengan ponselnya.


Kembali hening, Zaki, Yoga, dan Tedia saling pandang satu sama lain. Setelah itu tatapan mereka beralih pada Lani yang sedari tadi lebih memilih menyendiri. Yoga kemudian menatap tajam Zaki, ia yakin sikap Lani saat ini di picu oleh celotehan Zaki sebelum mereka naik menuju kamar Tedia.


Melaui matanya, Yoga memberi perintah kepada Zaki untuk menghampiri Lani.


Zaki yang peka mendesah pelan, sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, Zaki bangun kemdian melangkah menghampiri Lani.

__ADS_1


" Lan, PS kuyy .. " katanya mencari bahan agar Lani tidak terus-terusan menyendiri.


" males .. " sahut Lani singkat jelas padat.


Zaki kembali menghela nafas, kemudian menggerakan kepalanya menoleh ke arah kumpulan teman-temannya. Kemudian Zaki kembali beralih pada Lani, Zaki merendahkan tubuhnya, duduk di lantai dengan posisi badan menghadap Lani yang tengah rebahan di soffa.


" Lan, elu kalau masih kaya gini gue jatohin nih .. " Bisik Zaki berhati-hati agar tidak di dengar oleh yang lain.


Lani melirik, kemudian menatap dingin Zaki. Lalu Lani kembali fokus dengan ponselnya.


Kumat, Sifat Lani yang paling di benci oleh teman-temannya kini tengah mengusai diri Lani.


Menyerah, Zaki bangkit dan kemudian kembali menghampiri temannya yang lain.


" oh iya, gue gak lama kayanya di sini, Di. Cepet sembuh aja ya " Irene bersuara, semua menatap dirinya bahkan Lani yang tengah asik dengan ponselnya.


" gue juga kayanya gak lama, suasana lagi gak baik soalnya .. " Sindir Jennie yang peka akan situasi panas yang sedang terjadi, meski tak tahu penyebabnya, Jennie peka dan sadar.


" ehhhmm .. " respon Yoga akan sindirian Jennie.


" pulang sekarang aja yuk .. " Akhirnya Jiasa bersuara, Sama seperti sebelumnya semua mata tertuju kepadanya.


" ya elah, air minum aja belum abis udah pada pengen pulang aja " Kali ini suara Tedia.


Lani yang berpura-pura sibuk dengan ponselnya, mendengar. tak lama ia tersenyum miring.


Tedia manggut-manggut.


" ya udah yuk kita pulang " Rosa bangkit dari duduknya, kemudian ia merapihkan seragamnya. Lalu tiga gadis cantik lainnya mengikuti.


" kalian barenga Jennie ? Tanya Tedia.


" gue enggak, bawa motor soalnya .. " sahut Irene, Tedia mengangguk sebagai respon.


" balik ya, Di. Cepet sembuh biar bisa sekolah lagi, kasian tuh degem elu nyariin .. " ledek Jennie, membuat Tedia terkekeh dibuatnya.


" bukan degemnya, Jen. Tapi si amel .. " kali ini Rosa yang bersuara.


Jennie dan Iren tertawa, begitu pula dengan Zaki dan Yoga. Jiasa sendiri hanya menanggapi dengan senyum kecut, mendengar nama amel membuat Jiasa merasa sesak. Padahal baru tadi di sekolah Jiasa melihat bagaimana Amel meminta untuk ikut menjenguk Tedia.


" dih males, udah sono lu pada balik .. Yang ada bukan cuma kaki gue yang sakit, tapi kepala juga .. " Tedia risih, malas begitu mendengar gadis yang terkenal agresif itu disebut.


" jangan gitu, Di. Entar naksir lagi .. " goda Jennie.


" mending gue sama elu, udah sana lu balik .. " sahut Tedia menolak dengan tegas.

__ADS_1


Kecuali Jiasa dan Lani, semua tertawa.


" balik duluan ya, Yoga elu berhutang penjelasan sama gue .. " celetuk Jennie, semua menatap Yoga, bahkan Zaki dan Tedia menatap Yoga dengan mata memincing penuh selidik.


Ditatap oleh Zaki dan Tedia sedemikian rupa membuat Yoga hanya menunjukan cengiran bodohnya.


..


Gelap berganti terang, Malam berganti pagi, dan bulan pun berganti matahari.


Dengan mengendarai mobil pribadinya, Lani masuk ke dalam area sekolah. Memarkirkan mobil di tempat yang tersedia, kemudian setelah itu Lani keluar dari mobilnya.


Seragam lengkap, putih abu-abu dengan kemeja putih masuk ke dalam celana, dan jangan lupakan dasi yang bertenger di kerah kemeja. Tapi hal itu tak membuat kesan cupu untuk siswa bernama lengkap Raylan Arlan Khazira ini. Justru dia terlihat lebih rapih dan keren, bahkan terlihat lebih tampan.


Dengan tas yang ia sampirkan di satu bahunya, Lani mulai melangkahkan kaki.


Setiap langkah pun menjadi pusat perhatian bagi kaum hawa, terbukti dari semua mata yang memandang.


Lani terlihat cuek, tak mengabaikan namun juga tidak terlalu merespon.


Dalam langkahnya menuju kelas, Lani dibuat berhenti ketika suara seorang gadis memanggilnya.


" Arlan .. "


Nama tengahnya yang di teriakan, Lani berbalik, kemudian dahinya berkerut ketika melihat Jennie, Rosa, dan tentunya Jiasa yang tengah melangkah mendekati dirinya.


" Apaan, waktu gue terbatas .. " ketus Lani pada Jennie, kemudian ia melirik Jiasa sekilas, lalu kembali beralih pada Jennie.


" dih sensi banget lu, PMS. " kata Jennie malah menggoda Lani.


Lani memutar bola matanya malas. " gue kenal lu dari jaman lu masih pake pempes, kalau lu manggil gue pake nama ARLAN, berarti elu lagi ada maunya .. " Sindir Lani, Jennie cenggesan.


Yang dikatakan Lani benar. Tapi, ia tidak mungkin menanyakan hal yang sangat ingin ia ketahui kepada Lani sendiri.


" gak ada apa-apa, Lan. Elu mah curigaan mulu, oh iya lu liat Yoga kaga .. ? " akhirnya Jennie bertanya.


" gak liat, gue baru datang, udah, kan.? Gue duluan .. " sahut Lani yang kemudian kembali melirik Jiasa sekilas, lalu berlalu pergi tanpa mengucapka sepatah kata pun.


Jennie dan Rosa menatap Lani, bingung. Keduanya mengerutkan dahinya. Berbeda dengan Jennie, dan Rosa. Jiasa justru menatap Lani dengan tatapan yang sulit diartikan, Jiasa merasa ada yang berbeda dengan sikap Lani pada dirinya.


" aneh banget, pix ini ada yang gak beres, biasanya kan dia ngeluarin jurus kadalnya. Tapi, kenapa sekarang cuek banget .. ? " kata Jennie, ibu jarinya di gigit, matanya bergerak, ekspresi wajahnya terlihat berpikir.


" iya lah dia aneh, orang ayangnya sakit, jadinya dia galau .. " celetuk Rosa dengan tawa.


Setelah mencerna kata-kata Rosa, Jennie pun akhirnya tertawa.

__ADS_1


Jiasa sendiri hanya tersenyum tipis menanggapi.


__ADS_2