
Lani memasuki area kantin yang cukup ramai.
Matanya berotasi mencari meja yang kosong tapi ia tidak menemukan.
Bukan tidak menemukan, ada kursi kosong yang biasa ia tempati, hanya saja di sana ada penghuni lainnya yaitu Tedia, Yoga, dan Zaki.
Lani bukan tak ingin bergabung. sejak kejadian semalam, ia butuh waktu untuk kembali bersosialisasi dengan mereka. Terutama Tedia.
" Kak Lani " sapa adik kelas yang tak sengaja lewat depan Lani.
Lani membalas dengan senyum, seketika gadis yang menyapa Lani berteriak histeris karena sudah mendapat respon dari kakak kelas yang menjadi favoritnya.
" anjiirr, Kak Lani senyum, jantung gue gak aman " kurang lebih seperti itulah kata-kata berlebihan yang di katakan gadis itu.
Lani menggelengkan kepala, selalu saja seperti itu respon mereka ketika Lani membalas sapaan mereka.
Sembari mencari kursi kosong, Lani memutuskan untuk pergi menuju penjual minuman.
" siang Pak. " sapa Lani. Seketika ia menjadi pusat perhatian siswi yang kebetulan mengunjungi pedagang yang sama.
" eh Raylan, kemana aja baru keliatan, sepi nih kantin gak ada kamu " katanya.
Lani merespon dengan senyuman tipis, ingin berkata jika kemarin ia sakit, itu berarti dia sudah berbohong. Itu sebabnya Lani memilih merespon dengan senyum.
" mau apa ? " tanya pedagang itu.
" yang biasa, tapi es-nya gak usah banyak-banyak yak " kata Lani, kemudian mendapat anggukan jembol dari si pedagang.
Sembari menunggu, Lani mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Fokus dengan ponselnya Lani di buat terkejut dengan hadirnya Irene, Jennie dan juga Rosa yang menghampirinya.
" Lan, kenapa sih elu jahat banget " kata Jennie masih kesal dengan Lani.
Lani tersenyum tipis, ia kembali menyimpan ponselnya di saku celana.
" udah jadi nih, Lan. " bertepatan dengan itu minuman pesanan Lani sudah siap.
Lani menerima kemudian ia membayar. Kemudian Lani kembali beralih pada Jennie. " sekali lagi Maaf, tapi buat sekarang yang jahat itu bukan gue. Siapa yang lebih jahat dengan menolak niat tulus orang lain. " kata Lani kemudian berlalu pergi.
Jennie menatap tajam Jennie.
Lani terus melangkah mencari kursi kosong, sesekali ia menyesap minuman miliknya.
" minum es, udah makan belum lu ? " suara yang sangat pamiliar, Lani menoleh dan melihat Tedia bersama dua sahabatnya.
Lani diam menatap ketiganya, " Robi " bukan menghampiri Ketiga sabahatnya, Lani justru memanggil Robi yang kebetulan berada di kantin.
Tanpa mengatakan apapun, Lani melangkah pergi mendekati Robi.
Zaki menghela nafas, " sakit hati banget kayanya. Gue gak pernah liat Lani semarah ini " kata Zaki kemudian memangku dagunya dengan tangan. kedua matanya menatap Lani.
__ADS_1
" udahlah, nanti juga balik, lu kaya yang gak tau Arlan aja. " celetuk Tedia mencoba bersikap tak terjadi apapun.
Yoga menggelengkan kepala, " iya entar juga balik, tapi baliknya kemana ? Balik sama kita atau balik ke kampungnya ? "
Zaki terkejut, ia menegakan tubuhnya, " ya kali ke kampungnya, Amrik donk. "
Yoga terkekeh " ya kali aja, ada fase di mana manusia itu ngerasa cape dan mutusin untuk pergi menjauh dari sekitar. Bukan buat nenangin diri. tapi buat ngalah "
" kalau begitu berati payah, orang dia nyerah " Zaki kembali bersuara.
Yoga menggelang, " nyerah sama ngalah beda. Nyerah itu kondisi di mana kita udah pasrah dan gak bisa ngapa-ngapain. Tapi kalau ngalah itu kondisi di mana kita bisa aja dalam keadaan menang tapi ada satu hal yang membuat kita mundur untuk mendapat kemenangan itu. "
" contohnya ? " tanya Zaki. Menatap Yoga dengan serius.
" nyari di google " katanya sembari menoyor kepala Zaki dengan jari telunjuknya.
Zaki tak marah, ia malah menunjukan cengiran bodohnya. Berbeda dengan Tedia, ia malah menatap Lani yang kini duduk bersama Robi. Tapi mata Lani fokus pada ponselnya.
" adem banget kalau dengerin elu ngomong, Ga. Kok bisa ya, anaknya tenang dalam situasi sedangkan Mama Sarah emosian kaya Lani. "
Yoga menatap Zaki dengan mata memincing tajam, di tatap oleh Yoga membuat nyali Zaki menciut, ia menunjukan cengiran bodohnya.
Lani menyimpan ponselnya, dan kini ia menatap Robi.
" Bi "
" geli gue dengernya, Lan. Berasa di panggil baby. "
Lani menatap tajam Robi, yang di tatap cengengesan.
Lani mendengus, " balik sekolah, anterin gue ke tempat Jiasa di rawat ya. " katanya dengan suara pelan.
Robi tersedak, ia terkejut. " ngapain anjiir, udah di tolak masih aja mau deketin, gak setuju gue. Masih banyak cewek yang mau sama elu "
Lani terkekeh pelan mendengar gerutuan Robi, Ya dalam kondisi yang sudah berbadan dua dan di saat si pria sudah bersedia bertanggung jawab. Jiasa dengan entengnya menolak. Siapa yang tidak kesal dan marah.
" jengukin aja, udah jengukin langsung balik, elu tau rumah sakitnya kan.? " Lani kembali berbicara.
Robi mengangguk. Lani tersenyum tipis kemudian kembali menyesap minumannya.
Melihat Lani menyesap minuman dingin, Robi menyipitkan matanya, Ia ingat jika pagi Lani tidak sarapan. Dan selama di sekolah, Robi tidak melihat Lani memakan makanan apapun.
" elu minum es, udah makan belum ? "
Lani menggeleng sebagai jawaban. Robi menepuk dahinya, kemudian ia memberi Lani dengusan.
" bocah gendeng " kata Robi kemudian mengedarkan pandangannya.
" Yoga, Zaki, Tedia. Temenin kalian nih urusin, dari pagi belum masuk roti secuil pun, ini minumnya udah es aja. " teriak Robi. Tentu saja di dengar oleh tiga siswa yang di panggil oleh Robi.
" Asu " umpat Lani sembari menggeram kesal.
__ADS_1
Robi mengedikkan bahunya tak perduli.
tiga siswa itu saling tatap, kemudian Zaki memberi kode untuk menghampiri Lani.
Yoga mengangguk, begitu pula Tedia. Sembari membawa somay sisa Zaki, tiga siswa tampan itu melangkah mendekati Lani.
Lani menatap datar tiga sahabatnya kemudian ia membuang padangannya.
" minggir, Bi. Bocah kaya dia mah harus di paksa. " kata Zaki. Seketika Robi berdiri, kemudian Zaki meletakan piring berisi somay miliknya yang tak habis.
" makan " titah Yoga kini sudah duduk di kursi yang tadi di tempati Robi.
" ogah, apaan sisa. Lu pikir gue kucing. " tolak Lani dengan wajah yang dipalingkan.
" heh kucrit, biar sisa ini makanan bukan anak perawan orang. Jadi orang mah kaya Tedia. Biar barang sisa, tapi dia suka. " sindir Zaki, seketika Lani mendongkak dan menatap dingin Tedia.
" mulut lu ya Zaki, asu banget " gemas Robi, tangannya siap menghajar Zaki.
Bukannya merasa bersalah, Zaki malah cengengesan " keceplosan, sorry. "
Lani masih menatap Tedia, tapi tak lama ia memalingkan muka. Helaan nafas kasar Lani hembuskan kemudian ia menatap wajah sahabatnya satu persatu.
" makasih atas perhatian kalian, tapi sumpah gue gak laper. Gue udah kenyang sama kenyataan dan sekarang gue haus " kata Lani berbicara sembari menatap Lani, Lalu Lani berdiri dan kemudian berlalu pergi.
Perginya Lani membuat Yoga dan Zaki harus menghela nafas dengan kasar.
" Bi, semalam Arlan baik-baik aja kan.? " tanya Yoga, kemudian ia melirik Tedia.
Robi mendesah kasar, " jauh dari kata baik, semalam Arlan sampe harus sujud di kaki Ibu supaya di maafin sama Ibu. " tutur Robi bercerita dengan suara pelan
Yoga dan Zaki seketika merubah ekspresi wajahnya.
" gue gak tau lagi apa yang terjadi, Ibu maafin Lani. Dan setelah itu Lani minta pulang "
" what balik " Zaki terkejut. Begitu pula dengan Tedia dan Yoga.
" Amrik maksud lu ? " Tedia bersuara. Yoga menatapnya dengan tatapan penuh arti.
" iya lah, emang tempat tinggal Lani sebelumnya di mana. Sebelum ke Indo, dia kan di sana "
Yoga dan Zaki saling tatap.
" susul Arlan .. ayo " kata Yoga, Zaki mengangguk kemudian melangkah pergi.
Tedia menatap kepergian Yoga dan Zaki dengan tatapan nanar, kemudian Tedia menghela nafas.
Jahat, munafik. Itu yang saat ini ada dalam diri Tedia. Dia begitu egois dan tak ingin melepas Jiasa, bahkan dia sudah berhasil menghasut Jiasa agar menolak lamaran Lani.
Kriiiinggg ...
Tedia terkesiap dengan suara bel yang berbunyi. bukan hanya suara bel, tapi sebuah tepukan di bahunya membuat ia kembali terkesiap.
__ADS_1
" Arlan udah ngalah, Di. Arlan ngorbanin semuanya cuma buat kebahagian Jiasa, bahkan ia rela pergi jauh supaya Jiasa lebih nyaman. Arlan itu anak yang baik, cuma sayang dia di kelilingi orang munafik " kata Robi sebelum pergi ia menepuk kembali bahu Tedia.
Tedia menghela nafas lagi, sindiran halus bertubi-tubi ia dapatkan. Padahal ia menghasut Jiasa dengan cara sembunyi-sembunyi. Tapi mereka yang ada di sekeliling dirinya merasa peka akan kelakuannya.