LABIRIN

LABIRIN
63


__ADS_3

Berjalan mondar-mandir sembari menggigit jari telunjuknya, wajah Jiasa terlihat bingung malam ini.


Ia tengah dilema, bingung harus mengambil. Keputusan yang mana.


Menghentikan gerakan tubuhnya, kini Jiasa beralih, ia duduk ditepi kasur dan kembali berpikir.


Selang beberapa menit akhirnya Jiasa menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan kasar.


Satu pilihkan sudah ia putuskan.


Apa yang membuat Jiasa dilema ?


Yang membuat Jiasa dilema adalah, ia ingin mendapat jawaban akan pertanyaan yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.


Ia ingin pergi ke apotek, membeli alat yang bisa memjawab semuanya. Tapi Jiasa takut, ia takut kedua orang tuanya mengetahui semuanya,nanti bagaimana cara Jiasa menyembunyikan alat itu ? Membuang ke dalam tong sampah. Lalu bagaimana jika ketahuan seperti dalam sinetron ?.


Huh, membayangkannya saja Jiasa tak sanggup.


Pada akhirnya Jiasa memilih obsi lain, ia akan pergi langsung menemui dokter. Jika pertanyaan sudah terjawab dan hasilnya keluar, Jiasa lebih mudah menyembunyikannya. Kertas yang diberikan oleh dokter bisa Jiasa sobek dan kemudian buang. Maka tidak akan pernah ketahuan kedua orang tuanya.


Jiasa telah menemukan cara, tapi ia tidak akan bergerak malam ini untuk mendapat jawaban. Jiasa akan pergi esok hari.


Kebetulan sekolah libur karena dewan guru akan mengadakan rapat.


Helaan nafas kasar kembali dihembuskan, Jiasa kini merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, detik. Berikutnya Jiasa memejamkan matanya. dalam hati Jiasa berdoa, semoga esok hari ia mendapat jawaban yang melegakan.


..


" mau kemana ? "


Suara Lani yang saat ini tengah berbaring santai di sofa ruang tamu rumahnya.


Raya yang mendengar suara putranya, mengalihkan atensi. Kemudian menatap ke arah Lani.


" jenguk temen di rumah sakit, kamu belum berangkat. ? " Raya balik bertanya, pasalnya semalam Lani memberitahunya jika hari ini Lani dan kawan-kawan akan ikut seleksi timnas.


Mendukung ?. Sudah pasti. Semalam Raya sudah memberi semangat kepada putranya dan berdoa jika Lani dan tiga sahabatnya berhasil dengan seleksi kali ini.


" nanti siang " sahut Lani yang kini anteng dengan ponsel yang tengah ia mainkan.


" langsung ke sana apa gimana ? "


Jari-jari Lani berhenti bergerak, ia bangun dari posisi rebahannya. Lani kini duduk tegap di sofa dengan kedua mata tertuju ke arah Ibunya.


" ngumpul dulu di rumah Tedia. " katanya.


Raya mengangguk paham, " ya sudah Ibu pergi ya. "


Kali ini Lani yang mengangguk. setelah pamit, Raya pergi. Sedangkan Lani kembali dengan dunianya. mengisi waktu kosong sebelum ia pergi bersama tiga sahabatnya.


.


Berbohong, itu yang Jiasa lakukan kepada kedua orang tuanya.


Hari ini Jiasa akan pergi kerumah sakit, guna mencari jawaban akan pertanyaan yang mengganggu jiwanya.


Dengan beralasan akan pergi mengunjungi kediaman temannya, Jiasa pergi meninggalkan rumah dengan harap-harap cemas.


Awalnya Jiasa sempat panik ketika Fadil menawarkan diri untuk menjemput Jiasa. Tapi dengan sejuta alasan, akhirnya Jiasa bisa pergi sendiri.


sebenarnya bukan hanya karena alasan yang Jiasa berikan. Fadil memang harus menghadiri rapat bersama rekan kerjanya. Dan disitulah kesempatan untuk Jiasa.


setelah menempuh waktu cukup lama Jiasa tiba di rumah sakit, dan saat ini Jiasa tengah melangkah di koridor rumah sakit dengan wajah yang terlihat cemas.


Ruang yang Jiasa tuju sudah terlihat dan semakin dekat.


Setelah mendaftar, Jiasa duduk di kursi tunggu.

__ADS_1


Jiasa melirik ke kanan dan ke kiri. ternyata bukan hanya dirinya, ada beberapa wanita lain yang datang. dan miris bagi Jiasa, mereka datang bersama pasangan.


Jiasa masih menunggu, sepertinya dia mendapat giliran terakhir.


beberapa menit menunggu, akhirnya nama Jiasa di sebut. Jantung Jiasa seketika berpacu dengan cepat.


Tarik nafas dalam, kemudian keluarkan dengan kasar. Jiasa mencoba menenangkan diri. Ketika sudah merasa lebih baik, Jiasa melangkah masuk ke dalam ruangan dengan pintu tertutup.


Ketika pintu berhasil di buka lebar olehnya, hal yang pertama ia dapatkan adalah sapaan berupa senyuman dari dokter yang ada di dalam.


Jiasa membalas senyuman itu, kemudian ia melangkah masuk meskipun hatinya ragu.


tanpa di suruh, Jiasa duduk di kursi pasien. Sang dokter tak menghilangkan wajah ramahnya. Ia menunggu Jiasa menyampaikan keluhannya.


Jiasa yang gugup memberanikan diri untuk menceritakan semuanya dengan tenang. Ia tak mau sang dokter curiga.


" kita periksa dulu ya. Kamu boleh berbaring di sana . " kata sang Dokter.


Jiasa mengangguk, kemudian mulai melangkah mendekati brankar yang ada di dalam ruangan.


Dengan perlahan Jiasa naik dan berbaring, sang Dokter mendekati, kemudian ia mulai menggenggam sebuah alat yang biasa di gunakan untuk mengetahui apakah ada makhluk yang tumbuh di dalam rahim seorang wanita.


Jantung Jiasa kembali berpacu, tubuhnya sedikit gemetar ketika sang Dokter mulai menempelkan alat itu ke atas perutnya.


sang Dokter menggerakan dengan perlahan, ia mencari satu hal yang Jiasa tanyakan. Jiasa mulai berharap-harap cemas.


Tak lama gerakan tangan sang Dokter terhenti. bertepatan dengan itu, senyum di bibir sang Dokter terpatri. Jiasa semakin ketar-ketir, apa arti dari senyuman sang Dokter.


" dugaan kamu tepat, dia hadir di sini "


Mata Jiasa membulat, mulutnya bahkan terbuka, ia terkejut ketika pertanyaannya kini terjawab.


" mak-sud Dokter ? " tanya Jiasa sebisa mungkin bersikap tenang.


" selamat nyonya, anda hamil " jelasnya dengan senyum merekah.


tangan Jiasa bergerak menyentuh perutnya yang rata untuk hari ini. Untuk esok dan seterusnya, ia akan tumbuh dan membuat perut Jiasa membesar.


" mari, saya buatkan resep vitamin. "


Jiasa terkesiap. seolah mati rasa karena terlalu terkejut dan bingung, Jiasa bangkit. Turun dari brankar, kemudian melangkah dan kembali duduk di kursi pasien. Ekspresi wajah Jiasa masih datar.


tatapan Jiasa tertuju ke arah sang Dokter yang tengah menulis sesuatu di atas selembar kertas.


" siapa nama nyonya ? " tanya sang Dokter, matanya menatap Jiasa.


" Jiasa " sahutnya singkat


" nama suami ? " tanyanya lagi.


Deg !


Diam, Jiasa diam. Bingung harus berkata apa dan menyebut siapa. Statusnya masih pelajar, dan ia belum memiliki suami.


" nama suaminya siapa ? " sang Dokter kembali bertanya.


Jiasa terkesiap, hingga mulutnya pun berucap menyebut nama seseorang.


" Raylan. " spontan Jiasa, entahlah nama itu yang hanya ada dalam pikiran Jiasa.


Sang Dokter kembali mencatat, kemudian ketika selesai ia mulai memberikan dua carik kertas kepada Jiasa.


" ini hasil pemeriksaan yang nyonya bisa tunjukan ke suami nyonya, dan ini resep vitamin dan obat yang bisa nyonya ambil di apotek yang tersedia di rumah sakit ini. "


Tanpa bicara Jiasa mengambil alih dua kertas itu.


" sehat terus ya, sama bayinya juga " katanya.

__ADS_1


" te-rima kasih " sahut Jiasa, kemudian berdiri lalu melangkah keluar dangan langkah pelan.


ketika Jiasa sudah berada di luar ruangan, Jiasa menutup pintu dengan rapat.


Jiasa kembali menatap secarik kertas yang ia genggam. Ia menatap nanar kertas itu, tangan Jiasa gemetar, kemudian air mata yang sedari tadi ia tahan, lolos begitu saja membasahi pipinya.


Jiasa melangkah pelan, meninggalkan ruangan yang baru ia kunjungi. Langkahnya gontai, Jiasa merasa tubuhnya melayang.


Dari kejauhan ada sesorang yang memperhatikan Jiasa. Ia mengerutkan dahi. Penasaran, ia pun melangkah menghampiri Jiasa.


" Jiasa " panggilnya.


Jiasa diam, tak menyahuti atau pun menoleh. Ia terus melangkah. Hatinya hancur setelah mendapat jawaban akan pertanyaannya.


Yang memanggil terus mencoba mendekat Jiasa.


" Jiasa. " panggilnya lagi sembari menyentuh bahu Jiasa yang sudah bisa ia gapai.


Jiasa berbalik, matanya yang sembab kembali melebar ketika melihat siapa orang yang sudah memanggil dan menyentuh bahunya.


" kamu kenapa ? " tanyanya panik.


Jiasa semakin terisak, bibirnya kelu tak mampu berkata.


Kepanikan semakin menjadi, ia menunduk dan melihat kertas yang Jiasa genggam. penasaran ia pun mengambil alih kertas itu tanpa izin dari Jiasa.


Tulisan demi tulisan mulai ia baca, hingga matanya melebar ketika melihat satu fakta yang sangat mengejutkan.


" Jiasa ka-mu .. " serunya sudah tahu apa yang membuat Jiasa menangis.


" tante Raya .. " kata Jiasa dengan isak tangis.


" siapa yang sudah membuat kamu seperti ini Jiasa ? " tanyanya prihatin.


Jiasa menunduk, tak berani menjawab. bahunya bergetar semakin hebat.


" Jiasa, bilang sama tante siapa orangnya " paksanya kepada Jiasa.


Jiasa tetap bergeming.


Kertas itu kembali di baca, hingga matanya membulat ketika membaca satu nama yang tertera di kertas itu.


" Raylan " katanya lirih. Kemudian ekspresinya berubah, Raya seperti tengah berpikir.


" Ray-lan " ulangnya dengan terbata.


Suara tangis Jiasa mengeras, Raya menatap Jiasa yang tertunduk.


" Raylan Arlan Khazira " katanya seoalah menebak laki-laki yang namanya tertulis jelas.


Jiasa semakin menunduk, isakannya pun semakin hebat.


Reaksi Jiasa membuat tubuh Raya seketika gemetar.


" Jiasa, apa Arlan yang harus bertanggung jawab atas semua ini ? " tanyanya memastikan, Raya sebenarnya ragu. Tapi ia sangat penasaran, dan Raya berharap Jiasa menggeleng.


Tak menggeleng dan mengangguk, Jiasa tetap pada posisinya.


" JIASA JAWAB " sentak Raya, sembari mengguncangkan lengan Jiasa.


Sontak Jiasa mengangguk. Dan seketika kertas yang berada dalam genggam Raya jatuh. Ia pun menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Tak percaya melihat anggukkan Jiasa yang mengiyakan pertanyaannya.


" Jangan bohong Jiasa, saya bisa tuntut kamu atas pencemaran nama baik. " Raya tak terima.


" aku gak bohong tante .. " sahut Jiasa yang kini sudah mendongkak menatap Raya dengan wajah yang basah karena air mata.


Raya menatap Jiasa, mencoba mencari kebohongan di mata Jiasa. Tapi, tidak ia temukan.

__ADS_1


__ADS_2