
Tok
Tok
Tok
Jennie mengetuk pintu kamar Jiasa, tanpa menunggu izin dari si pemilik kamar, Jennie membuka pintu dan melangkah masuk.
Yang pertama Jennie lihat adalah sosok Jiasa yang saat ini tengah duduk bersandar di atas tempat tidurnya.
Tapi, fokus Jennie bukan itu. Melainkan wajah Jiasa yang terlihat seperti orang bingung.
Jennie semakin penasaran, apalagi ketika melihat Jiasa yang tengah menatap ponselnya.
" Jia .. " Jennie memanggil.
Jiasa terperanjat, ponsel yang ia genggam terjatuh di atas kasur.
Jennie menyerengit. ada apa dengan Jiasa, Hingga panggilan saja bisa membuat dia terkejut.
" ada apa ? " tanya Jennie yang kini sudah duduk di sisi tempat tidur Jiasa dengan tubuh menghadap Jiasa.
Jiasa melirik ponselnya yang layar ponselnya ternyata sudah mati, kemudian ia merespon pertanyaan Jenni. " gak ada apa-apa kok. " sahutnya dengan suara pelan.
Diam-diam Jennie juga ikut melirik ponsel Jiasa, Jennie yakin ada yang Jiasa sembunyikan.
tapi, Jennie berusaha untuk diam, dan tak bertanya apapun lagi. Bagaimana pun Jennie tahu, Jiasa butuh privasi.
" oh iya, tadi di sekolah Tedia bilang " mendengar nama Tedia disebut, Jiasa langsung mendongkak menatap Jennie dengan tatapan yang sulit di artikan.
Jennie menaikan alisnya, cukup di buat bertanya-tanya akan respon Jiasa ketika ia menyebut nama Tedia. " Tedia bilang malam ini keluarga Lani bakal datang kerumah lu. " lanjut Jennie, setelah tadi kalimatnya sempat tertunda karena respon Jiasa.
Jiasa membulatkan matanya, sangat terkejut dengan kabar berita yang baru saja Jennie sampaikan.
" yang datang nanti malam, Papa Malik. Beliau datang sebagai walinya Lani. Beliau yang bakal lamarin elu buat Lani. "
Kali ini Jiasa merespon dengan kepala tertunduk. Hatinya tiba-tiba sakit, Ia tahu siapa Papa Malik yang di maksud Jennie.
Jiasa mengenalnya, orang itu adalah Ayah Tedia.
Jiasa memejamkan sejenak matanya, ia tersenyum miris. Dulu ia pernah bermimpi jika suatu saat nanti ayah Tedia akan datang melamar dirinya untuk Tedia, dan kini mimpi itu benar-benar terwujud. Tapi, bukan Tedia. Melainkan Lani.
" Ji " Jennie mamanggil kembali, kali ini di sertai sentuhan di tangan Jiasa.
Jiasa mendongkak dan bertemu pandang dengan Jennie yang menatap iba kepadanya.
" sabar ya, Dia bukan jodoh lu .." Jennie tahu apa yang Jiasa pikirkan. Awalnya Jennie akan membiarkan, tapi melihat respon Jiasa setiap kali ia menyebut nama Tedia membuat Jennie tak tahan untuk tidak berkomentar.
" gue tau kok, gimana perasaan lu sama Tedia. Perasaan elu juga gak bertepuk sebelah tangan, Gue tau itu. Tapi, elu sekarang harus terima konsekuensi dari kebodohan elu sendiri. Pertama, elu gak bisa bahagia sama Tedia. Kedua, elu harus nerima dengan ikhlas laki-laki yang justru hatinya gak pernah tertulis di hati elu. "
Jiasa diam membeku dengan pelupuk mata yang mulai berlinang air mata.
__ADS_1
" Tedia hancur banget, Ji. Tapi dia berusaha buat ikhlas. sekarang elu ngerasa bersalahkan, anggap aja semua itu sebagai hukuman karena lu udah ngecewain banyak orang. Sekarang lu harus ikhlas menatap hidup baru, lupain Tedia dan mulai terima Lani. Buang sifat egois elu, karena yang dia butuhin bukan Tedia. tapi, Lani. "
Jiasa masih diam, kelopak matanya di pejamkan. Bersamaan dengan itu, air yang menggenang di pelupuk matanya jatuh dan mengalir deras di pipinya.
" gue keluar ya, mau ngabarin Om Fadil dulu. Tapi kayanya Om udah tau deh. Soalnya kata Tedia Papa Malik udah nelephone Om Fadil. "
Jennie menghela nafas, lagi Jiasa hanya diam. Jennie bangkit, ia berdiri sejenak menatap Jiasa. Kemudian ia melangkah keluar dari kamar Jiasa.
setelah Jennie pergi, Jiasa kembali meraih ponselnya yang tergeletak di kasur.
Layar yang mati di hidupkan, Jiasa terkejut ketika ternyata di layar ponselnya menunjukkan roomchat dirinya dan Tedia.
Bahkan terlihat jelas Tedia sedang online.
Jiasa tak meninggalkan roomchatnya, ia malah mengigit bibirnya dan menatap ragu ke arah ponselnya.
Cukup lama, hingga tanda online Tedia sudah hilang. Jiasa menghela nafas, kemudian ibu jarinya mulai bergerak menari di layar ponsel.
Jiasa mengetik sesuatu. " Maaf " Jiasa menatap ragu sebuah pesan yang sudah tertulis dan tinggal di kirimkan.
ibu jarinya diam tak bergerak, hingga suara ketukan di pintu kamarnya membuat atensi Jiasa teralihkan. Jiasa menoleh, tapi ia tak sadar jika ibu jarinya malah bergerak menyentuh tanda kirim yang ada di ponselnya, hingga pesan yang tadi Jiasa tulis terkirim kepada Tedia.
..
Di lain tempat, Tedia yang baru saja kembali dari kamar mandi kini melangkah menuju tempat tidurnya.
Tujuan Tedia adalah ponselnya yang tadi ia geletakkan di atas kasurnya, ia ingin membalas pesan Zaki. Sebelum ke kamar mandi, Tedia tengah bertukar pesan dengan Zaki yang katanya sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
Ponselnya yang mati ia raih kemudian ia hidupkan. Ketika ponsel menyala kembali, Tedia terkejut dengan satu notip pesan dari Jiasa.
[ maaf ]
Satu kata dari Jiasa membuat Tedia menggenggam kuat ponselnya. Marah, benci, kecewa, kesal, dan ingin memaki. Itu yang Tedia rasakan kembali ketika membaca pesan dari Jiasa.
Dengan cepat, Tedia membalas pesan itu. " Ya "
Hanya satu kata singkat, pesan itu pun terkirim, dan tak lama pesan itu sudah di baca oleh Jiasa.
Tedia mengeram kesal, Jiasa ternyata kembali mengetik pesan.
[ kamu marah ]
Tedia tertawa sinis " JELAS " pesan Tedia kirimkan.
[ maaf ]
" cukup minta maaf, karena itu gak akan merubah apapun. " Tedia membalas pesan Jiasa.
Tedia menghela nafas lelah, ia merasa bersalah pada Jiasa. Kemudian Tedia kembali mengetik pesan untuk Jiasa. " Ji, bisa gak gue minta satu hal "
[ apa ? ] tentu saja langsung mendapat balasan dari Jiasa.
__ADS_1
Tanpa ragu Tedia mengetik pesan lagi untuk Jiasa. " setelah anak kalian lahir, bisa gak kalian pisah. Terus balik lagi sama aku, Ji. "
Satu pesan jahat dari Tedia. Tedia memejamkan sejenak matanya, ia menggenggam kuat ponselnya, tak lama ponselnya kembali berbunyi.
[ Ya ]
Mata Tedia membulat, Jiasa setuju dengan niat jahatnya. Telapak tangannya terkepal kuat, entah lah hatinya campur aduk.
Semalam ia menasehati Lani agar bisa bertanggung jawab. Tapi, hari ini ia malah berniat menghancurkan rumah tangga Lani yang belum terjalin.
Tedia buru-buru menghapus semua chatannya bersama Jiasa. Kemudian ia meletakan ponselnya di atas nakas. Lalu Tedia mencoba mengontrol emosinya, setelah di rasa lebih baik, Tedia melangkah keluar dari kamarnya.
..
Jauh di tempat Jiasa, Jiasa juga sama seperti Tedia. ia meletakan dengan kasar ponselnya, kemudian dengan ekspresu wajah memelas, Jiasa mengigit ibu jarinya. Saat ini ia tengah merutuki kebodohannya.
Bisa-bisa dia dan Tedia membuat rencana jahat dalam biduk rumah tangga yang belum ia bina.
Entah setan dari mana, Jiasa tak bisa menolak permintaan Tedia. Hati Jiasa sudah terkunci di dalam labirin hati Tedia.
Jiasa menghela nafas kasarnya, ia mencoba menenangkan dirinya.
..
" Malik ... " teriak Zaki yang saat ini sudah berdiri di ambang pintu rumah Tedia.
" apa "
Sebuah sahutan dari dalam. Tapi, itu bukan suara Tedia. Melainkan suara Papa Malik.
Zaki dan Yoga membulatkan mata, kemudian keduanya saling tatap untuk beberapa detik, Lalu Zaki dan Yoga mengalihkan perhatiannya dan seketika keduanya menunjukkan cengiran bodohnya setelah melihat Malik ternyata duduk di ruang tamu bersama Mama Ria.
" eh ada Papa " ucapan bodoh Zaki.
Tedia yang berada di anak tangga bergerak turun dengan langkah pelan. Ia mendengar suara Zaki yang memanggilnya. Ia pun menertawakan kebodohan sahabatnya itu.
" Mampus " gerakan mulut Tedia terlihat jelas, kemudian ia melangkah menghampiri kedua orang tuanya.
Zaki mendengus. bersama Yoga, Zaki menghampiri Tedia dan kedua orang tuanya.
" kita ke sana jam berapa, Pa.? " tanya Yoga yang akan ikut ke rumah Jiasa.
Tedia diam-diam melirik Yoga.
" Abis magrib aja, Papa udah ngabarin Pak Fadil tadi. Kalau abis isya takut kemaleman. " sahut Malik. Zaki dan Yoga mengangguk paham.
Kemudian tatapan Zaki di alihkan pada Tedia. Terlihat di mata Zaki, Tedia yang tengah menggigit camilan yang memang tersedia di meja.
" lu ikut, Di.? " tanya Zaki. Tedia menghentikan kunyahannya.
Yoga menyenggol kaki Zaki dengan kakinya, Yoga memberi kode kepada Zaki agar menghargai perasaan Tedia.
__ADS_1
Zaki yang paham menatap Tedia yang kini menatapnya intens, kemudian Zaki tersenyum kikuk.
" ikut " kata Tedia menjawab pertanyaan Zaki.