LABIRIN

LABIRIN
11


__ADS_3

Malam semakin larut, Jiasa masih fokus dengan catatannya.


Tak lama fokus Jiasa kembali terganggu, setelah tadi soraya, kini Jiasa diganggu oleh suara dering ponsel miliknya.


Bergegas Jiasa mengalihkan perhatiannya, ia menatap layar ponselnya yang menyala dan menampilkan sebuah nomor yang tidak dikenal.


Jiasa mengerutkan dahinya, takut jika itu panggilan penting. Jiasa bergegas menerima panggilan telephone tersebut " hallo .. " sapaan khas jiasa suarakan.


Tak lama Jiasa mendengar suara seorang pria di seberang sana " ini siapa ? "


Raut wajah Jiasa seketika berubah, ia menghela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan pria yang tengah menghubunginya " harusnya saya yang nanya kamu siapa, terus nyari siapa, kayanya kamu salah sambung deh .. "


[" enggak, saya gak salah sambung kok, saya cuma mau mastiin nomor ini aktif atau tidak .. "]


Jiasa mengerutkan dahinya kembali " maaf mas, nomor saya dari dulu aktif, mas nya siapa ya, kok bisa tau nomor saya ..? " Jiasa penasaran


[" saya nemu nomor kamu dari uang 5000 an, saya kira gak aktif ternyata aktif, dan ternyata nomor perempuan .. Bisa kali kita kenalan .. "]


Rayuan Jiasa dapatkan, sontak Jiasa menggeram kesal meski tidak bisa dilihat oleh lawan bicaranya " maaf mas saya sibuk " Jiasa mengakhir sambungan telephone dan segera memblokir nomor orang yang tidak dikenal itu.


Jiasa meletakan asal ponselnya, ekspresi wajahnya masih terlihat kesal. Ia masih ingat dengan kata-kata yang di ucapkan orang tidak dikenal itu. Jiasa berpikir keras siapa orang jahil yang sudah menulis nomor telephonenya di atas selembar uang kertas. Tidak kah dia berpikir jika hal itu membahayakan Jiasa.


Lama berpikir akhirnya mata Jiasa membulat sempurna, ia ingat siapa yang sudah menulis nomor telephonenya di atas uang kertas. Lani


Jiasa menghela nafas lelah, terjawab sudah, rasa kesal masih terlihat jelas " bisa-bisanya dia seceroboh itu " gerutu Jiasa yang memang masih ingat jelas jika dulu Lani pernah meminta nomor telephonenya.


..


Kejadian semalam membuat Jiasa masih kesal, wajahnya terus memberengut, bahkan Jiasa hanya mengaduk-ngaduk nasi goreng yang disiapakan Farah untuknya.


Saling pandang terjadi di antara Farah dan Fadil, kedua pasangan suami istri itu dibuat bertanya-tanya akan sikap putri sematawayangnya " kamu kenapa sih, perasaan semalam ceria kok sekarang cemberut ? "


Jiasa merespon, ia mendongkakkan wajahnya, kemudian menatap ke arah ayah dan ibuanya yang tengah menatapnya penuh tanya.


Jiasa menghela nafas " gak apa-apa kok ma pa, aku masih ngantuk, soalnya semalam nulis sampai larut malam " Jiasa berbohong, tentu saja ia tidak mau membuat kedua orang tuanya khawatir.


" ya udah, kalau gitu kamu udah selesai sarapannya, papa mau berangkat .. " Fadil bersuara memberitahu putrinya jika ia harus segera pergi ke kantor barunya.


Jiasa yang memang tak bernafsu menganggukkan kepalanya, kemudian ia pun bangkit dari duduknya dan menyampirkan tas slempang di bahunya, Jiasa mencium punggung tangan Farah, ia pamit untuk pergi sekolah.


" nanti kamu pulang bareng Jennie aja ya .. " Fadil kembali bersuara, Jiasa mengangguk sebagai jawaban.


...


Sampai di area sekolah, Jiasa keluar dari dalam mobil kemudian Jiasa berpamitan kepada Fadil.

__ADS_1


Usai berpamitan Jiasa melangkahkan kaki memasuki area sekolahnya.


Jiasa berjalan seorang diri, terkadang ia mendapat sapaan dari siswa lain yang tidak ia kenal. Tak ingin di cap sebagai siswi baru yang sombong, jiasa pun membalas sapaan itu dengan sebuah senyuman yang begitu manis.


Asik berjalan sendiri, Jiasa dikejutkan dengan suara seorang pria " ehhmm .. Sendirian aja neng, mau abang temenin gak .. "


Jiasa mendongkak, dilihatnya Tedia yang tengah tersenyum ke arahnya, setelah menatap Tedia, Jiasa kemudian melihat ke sekitarnya, ternyata bukan hanya ada Tedia, tapi Lani, Zaki, dan juga Yoga ada di sekitarnya.


Fokus Jiasa tertuju kepada Lani, Jiasa ingat satu hal dan sangat ingin membicarakan masalah ini dengan Lani


" Lani, bisa bicara sebentar ..? "


Sontak Lani pun terkejut, bukan hanya Lani. Tapi, Zaki dan Yoga pun terkejut. Berbeda dengan Tedia, Tedia justru terlihat biasa saja, ia malah tersenyum ketika mendengar Jiasa ingin berbicara dengan Lani.


" Bi .. Bisa kok .. " Lani gugup, Tedia yang melihat bagaimana ekspresi wajah Lani menggeleng-gelengkan kepalanya.


" lama juga bisa kok Ji, Lani mah selalu ada waktu terus, dia gak pernah sibuk .. " celetuk Tedia, Lani memberinya tatapan tajam, sedangkan Jiasa tersenyum tipis menanggapi.


" udahlah, ayo biarin mereka ngobrol berdua, kita duluan ya .. " kata Yoga mengingatkan kedua temannya yakni Zaki dan Tedia agar tidak mengganggu Lani dan Jiasa.


Sebagai seseorang yang sedikit lebih waras dibanding Tedia, Lani, dan Zaki. Yoga selalu berpikiran dewasa.


Tedia dan Zaki pun mengangguk setuju, ketiganya kini melangkah pergi meninggalkan Jiasa dan Lani yang masih berdiri di tempat.


Jiasa tak melepas pandangannya dari ketiga siswa yang baru saja pergi, ia terus menatap punggung Tedia yang terus menjauh, hingga Jiasa dibuat terkejut ketika Lani bersuara " ada apa Ji ..? " Lani bertanya, Jiasa merespon dengan senyum terlebih dahulu.


" kenapa ..? " Lani memecah keheningan


" hhhmmm .. Dulu kamu nulis nomor hp aku di uang 5000 an kan ya ..? " tanya Jiasa, ia tidak mau berbasa-basi.


" iya, dan maaf ya, uangnya ilang, aku lupa, uangnya malah aku kasihin ke pengamen .. " jawab Lani jujur, Jiasa menghela nafas kini semua sesuatu yang membuat penasaran terjawab. Pantas saja semalam ada nomor yang tidak dikenal menghubunginya.


Melihat ekspresi wajah Jiasa, Lani mengerutkan dahinya. Ada yang aneh menurut Lani " ada masalah ya ..? "


Jiasa tersenyum tipis, tidak disangka Lani begitu peka dengan ekspresi wajahnya saat ini " semalam ada yang nelephone aku, orang itu bilang kalau dia nemu nomor aku dari uang 5000 an " Jiasa mengatakan jujur tentang ke gundahan hatinya. Sontak Lani terkejut, seketika ia pun merasa bersalah.


" maaf ya Ji. aku ceroboh banget, aku kira gak akan sampai kejadian kaya gini .. " Lani merasa bersalah, ia benar-benar merasa tak enak hati kepada Jiasa, karena kecerobohan yang sudah ia lakukan membuat Jiasa diganggu oleh orang yang tidak dikenal.


Jiasa tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepala " gak apa-apa kok, aku juga udah blokir nomor orang itu .. "


Lani menghela nafas pelan " ya tetep aja Ji, biarpun udah kamu blokir kalau duit itu masih berkeliaran diluar sana pasti bakal ada orang iseng yang kaya gitu lagi .. " Lani khawatir


Jiasa kembali tersenyum tipis. yang Lani ucapkan benar, Uang itu masih berkeliaran diluar sana.


" ya, semoga aja gak ada orang iseng lagi .. "

__ADS_1


" amiinin aja deh .. " sahut Lani raut wajahnya masih menunjukan jika ia merasa bersalah.


Keduanya masih melangkah beriringan. hingga saat tiba di depan pintu kelas, Lani kembali membuka suara " oh iya, aku boleh minta nomor kamu lagi gak, yang kemaren belum sempet aku simpen, keburu ilang uangnya .. "


Jiasa terkekeh bahkan ia menggeleng-gelengkan kepalanya, Jiasa pun menganggukkan kepalanya memberitahu Lani jika Lani boleh meminta nomor ponselnya lagi.


Jiasa pun mulai menyebutkan nomor ponsel miliknya, dengan wajah senang Lani menyimpan nomor milik Jiasa di ponselnya.


Lani dan Jiasa masuk ke dalam kelas secara bersama, keduanya pun jadi perhatian seisi kelas. Terutama Jennie dan Rosa, Jennie dan Rosa terkejut, keduanya bertanya-tanya mengapa Jiasa dan Lani terlihat dekat padahal keduanya baru saja bertemu.


Jennie yang tengah duduk bergegas bangkit ia pun berlari kecil menghampiri Jiasa " ayo buruan duduk, jangan deket-deket sama titisan kadal " kata Jennie sembari manarik pelan Jiasa agar segara duduk di kursinya.


Lani memberi Jennie dengusan, Lani kesal kebahagiannya seketika hilang di ambil paksa oleh Jennie " Jeje lu gak bisa banget ya liat gue seneng " kesal Lani pada akhirnya.


Jennie menanggapi Lani dengan cara menjulurkan lidahnya. Hal itu membuat Lani menggeram kesal.


" cemburu dia, Lan. soalnya lu deket-deket sama calon bini gue .. " celetuk Tedia, semua mengalihkan padangannya ke arah Tedia.


" heh sembarangan kalau ngomong, calon bini dari hongkong .. " Zaki berkata mengingatkan Tedia.


" dari hongkong apaan sih, orang Jiasa dari Bandung, iya kan, yang. ... " Tedia kembali menggoda Jiasa, Lani yang sudah duduk disamping Tedia memutar bola matanya malas.


Lani mengangkat tangannya dan mengarahkan tangannya ke atas kepala Tedia, kemudian Lani menepuk-nepuk pelan kepala Tedia " yang yang yang, pala lu peyang .. " kata Lani sembari menarik rambut Tedia.


Sontak Tedia mengaduh kesakitan


" aaaaakkkkkhhhh .. Sakit pea, lu mau bikin rambut gue rontok .. Gue pulangin ke Makasar mau lu .. " kata Tedia memberi ancaman.


" heh yang pulang ke makasar mah elu, bukan Lani, Lani mah asli sini, brojol di sini .. " suara Yoga mengingatkan Tedia akan daerah asalnya.


Tedia diam, tampang bodohnya mulai ia tunjukan, tak lama Tedia pun tersenyum bodoh " eh iya ya, lupa kalau dulu gue lahir dan tinggal di sana .. "


Lani mendengus, Yoga menggelengkan kepalanya, sedangkan Tedia masih mempertahankan senyuman bodohnya " maaf Kakanda, Adinda lupa tempat asal dinda .. " Tedia kembali berkata nyeleneh.


" anak dajjall emang lu .. " sentak Lani, geli dengan kalimat yang diucapkan Tedia.


Tidak perduli dengan sentakan Lani, Tedia kembali berulah dan terus mengganggu Lani. Semakin semangat ketika Zaki juga ikut mendukung kejahilannya, sedangkan Yoga ia hanya menghela nafas melihat tingkah konyol temannya.


Di kursi lain, Jiasa memperhatikan tingkah Lani dan Tedia, sesekali Jiasa tersenyum ketika melihat Tedia bertingkah konyol kepada Lani, bagi Jiasa hal itu merupakan hiburan baginya.


" Ji .. " sebuah panggilan membuat Jiasa mengalihkan perhatiannya. Jiasa menoleh dan melihat ternyata Jennie, Rosa, dan Iren tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Jiasa mengerutkan dahinya menanggapi tatapan ketiga temannya


" kok lu bisa kenal sama Lani .. ? " tanya Rosa.

__ADS_1


Jiasa tersenyum kikuk " oh itu, dulu waktu aku nonton bola di serang, aku gak sengaja kenalan sama Lani dan Tedia .. "


Ketiga gadis cantik itu seketika membulatkan matanya


__ADS_2