LABIRIN

LABIRIN
69


__ADS_3

dengan seragam yang terlihat begitu rapih, kemeja putih yang masuk ke dalam celana abu-abu tak membuat kesan tampan seorang siswa bernama Tedia luntur.


Berdiri mengantri di kantin, Tedia tengah menunggu minuman yang ia pesan.


Bukan sedikit siswi yang mencoba menarik perhatian Tedia, mereka bertingkah apapun agar Tedia memperhatikannya.


Pesanannya sudah selesai dibuat, Penjual tersenyum dan memberikannya. Tedia menerima, membayar kemudian melangkah pergi.


"Di, sini .. " Teriak Zaki, bahkan tangannya terangkat guna memberitahu Tedia.


Tedia menoleh, ia melihat Zaki yang memanggilnya. Tapi Tedia tidak melangkah menghampiri Zaki, justru ia melangkah pergi meninggalkan kantin dengan membawa minuman yang ia beli.


diabaikan Tedia, Zaki mendengus kasar. Sedangkan Yoga menghela nafas lelah. lalu Robi yang kali ini ikut bergabung bersama Zaki dan Yoga menatap Tedia dengan wajah sendunya.


" kasian Tedia. Lani hancur, dia juga ikut hancur. " kata Robi dengan wajah sendunya.


" bukan cuma Tedia, gue juga hancur. Karir gue hancur, masa depan gue tinggal separuh. " gerutu Zaki seolah tak terima dengan ucapan Robi.


Robi menoleh menatap Zaki dengan tatapan sendunya lagi. " maafin Lani ya, Ki. "


Zaki mengacak-ngacak rambutnya sambil. Berteriak pelan.


Yoga mendecakan lidahnya melihat tingkah kekanakan Zaki. " ck! Udah-udah mending kita susul Tedia " saran Yoga mendapat anggukan dari Robi.


Zaki menghela nafas kasar, ia bangkit kemudian melangkah pergi.


Kembali melihat tingkah kekanakan Zaki, Kini Yoga menggelengkan kepala.


Bersama Robi, Yoga mulai melangkahkan kaki meninggalkan area kantin.


Sembari menyesap minuman yang di beli, Tedia duduk sendiri di taman yang terletak di belakang sekolah.


Sesekali Tedia menarik nafas dalam kemudian menghembuskan dengan kasar. Dadanya terasa begitu sesak sejak kemarin.


" Di. "


Tedia menoleh, ketika suara seseorang terdengar di telinganya. Dan kini ia melihat Zaki yang tengah berjalan mendekatinya, di belakang Zaki dan Yoga dan juga Robi.


Zaki sudah berada di dekat Tedia, kemudian ia duduk di samping Tedia. Yoga dan Robi mengikuti Zaki.


tak ada bangku yang tersedia di taman belakang membuat mereka harus duduk di atas rumput yang hijau. Beruntung rumput yang tumbuh dirawat dengan baik, oleh sebab itu mereka tak perlu takut celana mereka kotor.


" lu kenapa sih, Di. lu sakit ? Dimana yang sakit. Lu pikir elu doank yang sakit, gue juga .. Yoga juga. bahkan Lani lebih hancur dari yang kita rasain. " suara Zaki menggerutu, Yoga dan Robi menundukkan kepalanya.


" please jangan gini, Di. Gue paham letak sakit hatinya elu, tapi dalam posisi ini, ada yang butuh semangat dari kita. Gue emang benci sama Lani, gue marah. Tapi apa dengan berlarut-larutnya kemarahan kita bisa nyelesai'in semua masalah. Enggak kan ? "


Tedia tertunduk, bahunya bergetar. Robi yang melihat menepuk-nepuk pelan bahu Tedia.

__ADS_1


" Lani juga pasti gak mau dalam posisi kaya. Gini, apalagi dia sampai nyakitin elu. Semua udah kehendak yang di atas, Di. Mungkin mereka di takdirkan berjodoh dengan jalan seperti ini. " Kali ini suara Yoga.


" gue akan ikhlas kalau mereka berjodoh dalam jalan yang baik. Tapi, ini ... " Tedia menjeda kalimatnya, ia menunduk lagi. Kemudian kembali menegakan kepalanya dan kembali bersuara, " jalan yang mereka lewati salah, masa depan mereka hancur. Dan .. " Tedia kembali menjeda kalimatnya, lidahnya mendadak kelu.


membiarkan Tedia menangis, Yoga dan Zaki memilih diam. Keduanya paham rasa sakit hati yang saat ini Tedia alami.


Bayangkan, seorang gadis yang kita cinta tiba-tiba harus menikah dengan sahabat sendiri.


Ya meskipun tidak ada ikatan di antara Tedia dan Jiasa. Tapi, Tedia bisa merasakan jika Jiasa juga menaruh hati padanya.


Tedia yang sejak awal tahu Lani mengagumi sosok Jiasa memilih untuk bersaing secara sehat, Tedia memang pernah berjanji akan menerima dengan ikhlas jika Jiasa memang berjodoh dengan Lani.


Tapi, bukan jalan seperti ini yang di inginkan Tedia.


Tedia, Yoga, Zaki, dan Robi. Duduk dalam garis sejajar. ke empat siswa itu masih berada di taman belakang sekolah.


Mereka seperti tidak perduli dengan bel yang sudah berbunyi pertanda jam istirahat sudah berakhir.


" balik sekolah kita temui Lani. " kata Yoga.


" gue belum siap " sahut Tedia.


" tapi sejak kemarin dia di rumah elu "


" dari kemarin gue ngehindarin dia terus " sahut Tedia.


" gue butuh waktu .. " sahut Tedia lagi.


" sampai kapan ? " tanya Yoga cukup jengkel dengan sikap Tedia.


Robi dan Zaki menghela nafas.


" gue minta waktu buat bisa maafin Lani, lu sama Zaki pasti paham apa yang gue rasain. Sakitnya gue, hancurnya gue. pasti lu sama Zaki paham. Jadi please kasih gue waktu buat nerima semuanya. " setelah menyahuti Yoga hanya dengan kalimat singkat. Kini Kalimat yang Tedia ucapkan jauh lebih panjang.


" sorry sebelumnya, cuma gue di sini yang gak paham, ada yang bisa jelasin kenapa lu kaya gini, Di. " Robi yang sedari tadi bingung pada akhirnya bersuara.


Tedia menunduk, Yoga dan Zaki menghela nafas kasar.


Mereka pada akhirnya memilih diam, dan tak menjawab pertanyaan Robi.


Namun sebelum memilih diam, Zaki seperti memberi kode kepada Robi. Hingga Robi pun tak merasa keberatan karena pertanyaannya diabaikan.


..


" Assallamualaikum .. " ucapan salam yang diucapkan Tedia terdengar sangat pelan.


Tak ada yang menjawab, Keadaan ruang tamu nampak sepi. Tedia menghela nafas lelah, dengan langkah pelan Tedia mulai berjalan dan menapiki anak tangga dengan kakinya.

__ADS_1


Tedia terus naik ke lantai atas dengan langkah pelan. Ia tak sadar kini ada Ria yang baru saja keluar dari dapur dan menatap putranya dengan tatapan sendu.


Ria tahu, putranya tengah mengalami patah hati. Ria juga tahu, Tedia sangat mencintai sosok gadis bernama Jiasa. Dan kini Tedia harus merelakan Jiasa menjadi milik sahabatnya.


Pintu yang tertutup rapat itu di buka oleh Tedia.


kosong, tak ada sosok Lani yang semalam berada di kamarnya.


Bernafas lega, itu yang Tedia lakukan. Tedia merasa lega karena tak harus melihat wajah Lani.


Jujur saja, Tedia sangat marah. Dan melihat wajah Lani membuat dirinya muak.


Tedia merasa heran dengan Ayahnya, kenapa Lani tak di biarkan pulang, kenapa pula Ayahnya itu harus menampung Lani dirumahnya.


Tedia melangkah masuk, tas yang tersampir di bahunya ia letakan di atas sofa yang ada di kamarnya.


Tedia melihat ke sekeliling kamarnya. Kosong, Lani benar-benar tak ada.


Tanpa melepas dan mengganti seragamnya, Tedia melangkah menuju pintu balkon.


Pintu balkon kamarnya yang tertutup ia buka, kemudian Tedia melangkah keluar dan berdiri di atas balkon dengan tangan yang berpegangan di pagar pembatas balkon.


Tedia mengedarkan pandangannya, tak sengaja matanya menangkap sosok Lani yang tengah duduk di atas rumput tepat di taman halaman rumah Tedia.


Tedia menghela nafas kasar, ia kira sahabatnya itu sudah pulang, ternyata masih ada di rumahnya.


" Dia .. "


Tedia menoleh, yang ia lihat kini sosok sang Ibu yang entah sejak kapan berdiri diambang pintu balkon kamarnya.


" Mama .. " Tedia begitu lirih terdengar.


Dengan wajah sendu Ria menghampiri putranya, ia kini berdiri di samping Tedia.


Pandangan Ria tertuju ke arah Lani yang tengah duduk sendiri di bawah sana.


" Mama tau apa yang saat ini kamu rasakan. Tapi, kamu harus inget Tedia. Takdir seseorang berada di tangan tuhan, dan kita tidak bisa merubah takdir itu. Jiasa bukan jodoh kamu, " Ria menghentikan kalimatnya, Tedia menundukan kepalanya.


" dia sudah di takdirkan menjadi milik Lani meski lewat jalan yang salah. Percayakan semua sama tuhan, Mama yakin kamu bisa mendapatkan gadis yang terbaik untuk kamu. Mama tau kamu marah, kamu benci, dan kamu ingin menghajar Lani. Tapi sekarang Mama tanya, apa dengan seperti itu semua yang udah terjadi akan kembali seperti semula ? Tidak, benar bukan ?. "


Tedia mengangkat kepalanya, ia kembali menatap lurus ke depan.


" Di, kalau kamu sayang Jiasa, lepasin dia dengan ikhlas, jangan buat Lani ragu untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Mama rasa selama ini Lani menghargai perasaan kamu terhadap Jiasa, apa selama ini Lani mengungkapkan perasaannya pada Jiasa. Tidak kan ? Itu karena dia masih menghargai kamu, jadi Mama rasa, ini adalah waktu yang tepat untuk kamu mengalah secara bijak. "


" Ma ... " suara Tedia tertahan.


Ria merubah posisi menghadap putranya, ia tersenyum. Tapi senyuman itu tersirat kesedihan yang begitu jelas, " ayo bersikap dewasa meski hati sedang terluka . "

__ADS_1


Tedia menunduk, isakan mulai terdengar, kemudian ia menganggukkan kepala. Melihat putrarnya menangis, Ria membawa Tedia kedalam pelukannya, ia mengerti sakit hati yang di rasakan putranya, Jiasa adalah cinta pertama putranya, tapi Jiasa milik Lani, dan tak ada lagi yang bisa mengubahnya. Kecuali tuhan yang maha kuasa.


__ADS_2