
" dari sini kemana lagi, Ji...? "
Tanya Tedia yang saat ini tengah mengendarai motornya dan di belakangnya, jiasa duduk dengan begitu nyaman.
" belok kiri .. " sahut Jiasa mengarahkan jalan menuju rumahnya.
Tedia terus melajukan motornya, hingga tak lama tepukan di bahunya membuat Tedia menghentikan laju motornya.
" berhenti- berhenti .. Ini rumah aku .. " kata Jiasa
" buset berasa tukang ojek gue .. " celotehan Tedia membuat Jiasa terkekeh bahkan ia menggeleng-gelengkan kepala, bukan merasa tak enak hati. Apa yang di ucapkan Tedia justru terdengar lucu di telinga Jiasa
Bergegas Jiasa turun dari motor Tedia. Lagi, untuk turun Jiasa memegang bahu Tedia sebagai tumpuan.
Berdiri di hadapan Tedia yang bertenggger di atas motornya, Jiasa tersenyum manis " makasih ya, sorry kalau ngerepotin .. " kata Jiasa tak enak hati karena sudah merasa membuat Tedia kerepotan.
Tedia tersenyum " gak apa-apa Ji, lagian gak baik cewek malem-malem pulang sendiri, ngeri entar di culik buaya, mending kalau buayanya kaya gue, kalau kaya Lani atau Zaki, kan serem .. " Tedia bergurau membuat Jiasa tidak bisa menahan tawanya.
Tawa keduanya terhenti ketika ponsel Tedia berdering, Tedia mengeluarkan ponsel yang ia simpan di kantong jaketnya. Jaket Tedia yang sedikit tersingkab membuat Jiasa tak sengaja melihat seragam sekolah yang di pakai oleh Tedia.
" kamu belum pulang kerumah ..? "
Tedia yang tengah membalas pesan di ponselnya menoleh " kenapa Ji ..? " tanya Tedia karena tidak terlalu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jiasa.
Jiasa menghela nafas pelan " kamu belum pulang kerumah ..? "
Tedia terdiam sembari menatap Jiasa dengan dahi berkerut " kok tahu .. ? " Tedia malah balik bertanya.
Jiasa kembali menghela nafas, kali ini helaan nafas kasar " tuh kamu masih pake seragam .. " kata Jiasa menunjuk ke arah seragam yang masih di pakai Tedia dengan gerakan kepalanya.
Tedia mengikuti arah pandanga Jiasa, detik berikutnya Tedia terkekeh " ternyata lu diem-diem merhatiin gue ya .. " kata Tedia sembari menggerakan tangannya mengusak pucuk kepala Jiasa.
Sontak Jiasa membeku di tempat. Debaran di dadanya kembali berpacu dengan begitu cepat.
Tapi Jiasa buru-buru menenangkan dirinya, ia tak mau jika Tedia sampai menyadari perubahan sikapnya
" apa sih .. " kata Jiasa sembari merapihkan rambutnya yang berantakan karena ulah Tedia.
Tedia kembali terkekeh.
" lu gak mau masuk ke dalem .. ? " tanya Tedia
__ADS_1
" mau .. " sahut Jiasa
" ya udah sana masuk, gue mau balik .. "
" ya udah sono pulang .. " sahut Jiasa
" ya udah lu masuk dulu .. " Tedia kembali bersuara, keduanya malah saling menyahuti ucapan masing-masing. Hingga panggilang seseorang membuat atensi keduanya teralihkan.
" Jia .. "
Jiasa dan Tedia menoleh, di ambang pintu rumah milik Jiasa berdiri sosok pria paruh baya yang belum pernah Tedia lihat.
Tedia mengerutkan dahinya, ia yakin pasti pria itu ayah Jiasa.
" kamu sudah pulang, ngapain berdiri terus diluar , ayo masuk .. " Kata pria tinggi bernama fadil.
Ekspresi wajah Jiasa berubah, sedangkan Tedia tengah tersenyum tipis. Tedia merasa dirinya tengah memerankan suatu drama, dimana si wanita dilarang menjalin hubungan dengan sang kekasih oleh ayahnya.
" siapa dia .. ? " tanya fadil matanya menelisik Tedia, karena saat ini ia sudah berdiri di dekat Jiasa
" oh ..dia Tedia pa, temen sekolah aku, tadi kita gak sengaja ketemu, terus dia nganterin aku pulang .. " Jiasa menjelaskan, Tedia memberi senyuman. Sedangkan fadil kini mengangguk-ngangguk paham.
" ya sudah, ayo masuk, mama dari tadi nungguin kamu lho .. Buat kamu makasih karena sudah mau mengantar Jiasa .. " kata fadil
" hati-hati ya .. " kata Jiasa, Tedia menatap Jiasa dengan senyum kemudian mengangguk pelan.
Tak lama Tedia pergi sembari mengendarai motornya meninggalkan rumah Jiasa.
" baru tiga hari kamu di jakarta, udah berani di anter cowok .. " goda fadil sembari menaik turunkan alisnya.
Jiasa tersipu malu, apa lagi ini merupakan hal yang pertama kali dalam hidupnya, dimana ia pulang di antar oleh seorang laki-laki " apaan sih, kita gak sengaja ketemu pa .. "
Fadil terkekeh. bersama Jiasa, Fadil masuk ke dalam rumah.
..
Karena memilih mengantar Jiasa, Tedia tiba di rumah pukul setengah sepuluh malam.
Memarkirkan motornya di dalan bagasi, Tedia masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah Tedia melihat sosok Malik yang tengah duduk dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.
__ADS_1
Tedia menghela nafas pasrah, pasti tidak lama lagi ia akan mendapat siraman rohani di malam hari.. Pikirnya dalam hati.
" Assalamualaikum ma, pa .. " Tedia mengucap salam, dan salam itu mendapat balasan dari Malik dan Ria.
" walaikumsalam .. "
Tedia bernafas lega, ia merasa jika ayahnya tengah berhati baik, karena cara menjawab salam yang Tedia ucapkan tidak menunjukkan jika Malik tengah berada dalam amarah.
" dari mana kamu ..? "
Tedia terkejut, ia kira Malik akan melepaskannya malam ini. Ternyata salah besar. Wajah Tedia memelas seketika.
" dari rumah Arlan, Pa. .. " sahut Tedia, memang yang dia katakan jujur.
" iya papa tahu kalau itu, tapi sekarang jam berapa .. Jam setengah sepuluh Tedia. Kamu pulang dari rumah Arlan itu jam setengah enam, dan nyampe rumah jam setengah sepuluh, jadi selama hampir empat jam itu kamu kemana .. Keluyuran gak jelas sama temen balapan liar kamu itu iya kan .. "
Tedia terkejut bagaimana Malik bisa tahu tetang hobby lain yang Tedia senangi.
" kaget ya, kenapa papa bisa tahu .. Mata-mata papa itu banyak, papa tahu tiga teman kamu itu pasti selalu ngelindungi kamu karena mereka merasa gak enak sama kamu, tapi kamu harus inget Tedia Ibrahim Almalik, papa bukan orang bodoh yang bisa kamu bodohi .. "
Tedia yang semakin tersudut menatap Ria yang tengah duduk di soffa ruang tamu, Tedia mencoba meminta perlindungan sang ibu dari kode tatapan matanya. Tapi, yang diharapkan Tedia justru tak terjadi, Tedia kini hanya bisa menundukkan kepalanya.
" kalau udah begini, kamu nunduk minta dikasihani .. Inget Dia, papa kan udah berapa kali bilang, kamu sama Mama cuma berdua dirumah, kalau kamu keluyuran terus nanti siapa yang jaga Mama .. Apa kamu gak kasian sama mama .. "
Tedia semakin tertunduk lesuh " maaf pa, tadi aku gak sengaja ketemu temen sekelas, dia sendiri terus aku nganterin dia pulang dulu .. dia cewek pa, kasian kalau pulang sendiri .. " Tedia mulai mencari pembelaan melalui fakta jika ia baru saja mengantar Jiasa.
" apa rumahnya jauh sampai kamu harus menempuh waktu hampir empat jam .. ? "
Tedia menghela nafas lelah, ia baru sadar tidak akan ada cara untuknya agar bisa terselamatkan dari jeratan sang ayah.
" gak jauh sih pa, cuma tadi jalan padet banget, bawa motor aja pelan-pelan .. " Tedia kembali berusaha membela diri. Kali ini berbicara perihal jalanan yang memang agak padat merayap.
Malik menghela nafas kasar, ia sadar sekeras apapun ia memaki putranya, maka putranya itu akan selalu memilik jawaban.
" masuk ke kamar kamu sana .. besok kamu kesekolah bawa mobil, selama tiga bulan kamu gak boleh bawa motor .." kata Malik memberi perintah.
Tedia membelalak, yang dikatakan Lani ternyata benar, motor miliknya kini di sita oleh Malik, menuruti perintah sang ayah Tedia pun mengayunkan kaki melangkah menaiki tangga menuju lantai dua rumahnya.
Setelah Tedia pergi, Malik menghembuskan nafas kasarnya, tatapannya kini tertuju kearah Ria yang sedari tadi hanya memperhatikan keduanya.
" sekali-kali Tedia itu harus di beri efek jera, biar dia gak bersikap seenaknya .. "
__ADS_1
Ria menghela nafas " terserah papa .. Asal itu memberi efek baik buat Tedia, mama gak masalah .. " sahut Ria selalu setuju dengan usulan suaminya. Ria memaklumi, apapun yang dilakukan Malik kepada Tedia, itu semaka karena Malik tak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan menimpa Tedia.