
Duduk termenung didepan kolam, satu hal yang Lani lakukan malam ini.
satu hal yang akan sangat mengecewakan dirinya dan rekan satu tim nya akan kembali terjadi.
Lani mendesah pelan, wajah sendunya masih terlihat jelas. Kepalanya mendadak penat, ia bingung harus bagaimana jika nanti sebagian dari rekan-rekannya kecewa.
sentuhan dibahu Lani membuat Lani terkesiap, seketika ia menoleh ke belakang. Cepat-cepat Lani merubah ekspresi wajahnya tatkala ia melihat Raya yang kini berdiri dibelakangnya.
Raya tersenyum tipis, lalu ia bergerak duduk disamping putranya. " kenapa lagi ? " tanya Raya to the point.
Tanpa Lani sadari, Raya memperhatikan Lani yang tengah termenung sendiri di pinggir kolam.
Lani menatap kosong kearah depan, kemudian Lani menggelengkan kepala sembari.
Raya menghela napas, " jangan bohong. Terakhir kamu bohong, semua orang kamu kecewakan. "
Seketika Lani kembali menoleh dan kini bertatapan langsung dengan Raya. Tapi tak lama, Lani kembali memalingkan wajahnya.
" Arlan bingung, Bu. " kata Lani pada akhirnya.
Raya diam, bukan berarti ia tidak merespon. Hanya saja, Raya membiarkan Lani untuk melanjutkan kalimat yang akan ia ucapkan.
" tempo hari, Coach Dito bilang kalau bakal ada seleksi buat timnas lagi, semuanya bisa ikut seleksi. Tapi, kemarin Coach Dito ngasih kabar lagi kalau yang bisa ikut cuma usia 17 tahun keatas. itu berarti yang dibawah 17 gak bisa ikut. "
Raya mengangguk paham, jadi sepak bola lah yang membuat putranya merenung.
" Arlan bingung gimana cara nyampein sama yang gak bisa ikut, mereka itu udah antusias banget. Kalau tiba-tiba Arlan bilang, pasti mereka kecewa banget. Lagi-lagi mereka gagal. tempo hari gara-gara Arlan, dan sekarang gara-gara umur. "
" terus dalam hal kali ini kamu yang salah gitu ? " Raya kini bersuara.
Seketika Lani kembali menoleh pada Ibunya.
" dalam hal kali ini kamu gak salah, Arlan. Sama seperti kamu, mereka gagal karena umur. Gak akan ada masalah kalau kamu sampein sama mereka, mereka gak akan bisa protes. Regulasi dari sana yang menyebabkan mereka gak bisa ikut, dan mereka harus bisa menghargai itu. mereka harus anggap bahwa kesempatan kali ini bukan rezeky. Sesimple itu Arlan. kamu hanya harus bicara seperti itu. Lagian kenapa harus kamu yang nyampein, kenapa bukan Coach Dito atau jajaran pelatih lainnya ? "
Lani menghela napas. Ya, yang Ibunya katanya memang sangat mudah. Tapi, rasa solidaritas Lani yang terlampau tinggi membuat Lani merasa takut apabila Lani mengecewakan teman-temannya untuk kedua kalinya.
__ADS_1
" lagi pula sebentar lagi kamu juga bakalan ninggalin Tim kan ? Terus buat apa kamu ambil pusing sama urusan ini, inget seleksi dilakukan ketika ujian kenaikan kelas selesai dilaksanakan, dan pada saat itu kita sudah berada di kota kelahiran kamu. waktu keberangkatan Ibu percepat, selesai ujian tanpa menunggu hasil kita langsung bergerak pergi, untuk urusan yang tertinggal disini, Ibu udah serahin sama Om Bima "
" aku kira sampai pembagian raport, Bu. " kata Lani sambil tersenyum miris. Entah mengapa ia merasa ingin membatalkan keinginannya.
Raya menggeleng " rasanya akan lebih baik kalau kita mempercepat semuanya. Kamu kan yang meminta semua itu. "
Lani menunduk, kemudian ia menganggukkan kepalanya walau hatinya mendadak berat.
" oh iya, Ibu dapat kabar kalau tadi kamu nganterin Jiasa pulang "
Seketika Lani mendongkak dan menatap Ibunya sembari mengerutkan dahinya. " Ibu tau dari mana ? " tanya nya.
Raya tersenyum penuh arti.
Lani mendengus, " si Robi pasti nih " tuduhnya. " iya kan, si Robi ? " Lani kembali memastikan.
" emang siapa lagi infomen Ibu yang paling setia selain Robi ? Zaki ? Haduh, dia mah kamu sogok juga bakal diem. Yoga ? Terlalu sayang sama kamu melebihi sayang Ibu sama kamu, jadi pasti dia akan berdiam diri demi menutupi kamu. Tedia ? Hhhmm, " hanya sampai Tedia, Raya memilih diam dan tidak melanjutkan kembali kalimatnya.
" kok gak dilanjutin ? " tanya Lani
" gak tau, tiba-tiba Ibu bingung mengdeskripsikan Tedia. "
Mengingat kebingungan yang dialama Raya membuat Lani tersenyum tipis, Lani yakin jika Raya memilik ikatan batin yang kuat dengannya.
" kalian berdua baik-baik aja kan ? " tanya Raya, ekspresi wajah Lani cukup membuat Raya bertanya-tanya.
" baik, Bu. itu buktinya Tedia masih datang kesini pas malam-malam itu. "
" syukur deh, Ibu ngerasa aneh aja gitu. Ibu juga bingung kenapa tiba-tiba berpikiran yang aneh-aneh tentang Tedia. "
Lani kembali terkekeh. " Ibu kangen Tedia kali, biasanya kan dia datang kesini seminggu 5 kali, sekarang seminggu sekali aja jarang. "
" iya kali ya " sahut Raya menerima alasan dari Lani mengapa ia berpikiran yang tidak-tidak kepada Tedia.
" udah malem, ayo masuk " ajak Raya, sembari bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Lani mengangguk. sama seperti Raya, Lani pun bangkit dari duduknya. Kemudian keduanya melangkah masuk kedalam rumah.
..
" kenapa Papa bisa kepikiran buat nelephone Lani ? " tanya Jiasa pada Fadil yang saat ini tengah duduk santai dengan koran bisnis yang ada dalam genggamannya.
meskipun sumber berita sudah mudah didapatkan melalui ponsel pintar. Tapi, Fadil lebih suka membaca berita dari koran atau majalah. Menurut Fadil, kita tidak boleh menghilangkan satu hal dalam gempuran era digital.
" entahlah, yang ada dalam pikiran Papa saat itu cuma Lani. " sahut Fadil matanya fokus pada koran yang ia baca.
Jiasa mendesah pelan, kemudian ia melirik Farah yang duduk disamping sang ayah.
" Papa gak lagi usaha buat deketin aku sama Lani kan ? " tanpa sadar, Jiasa melontarkan pertanyaan itu. seketika ia pun terdiam ketika ia menyadari pertanyaannya terkesan bodoh.
" enggak, yang Papa pikirkan tadi itu hanya bagaimana kamu pulang dengan selamat sampai rumah. " sahut Fadil, matanya masih fokus pada koran.
" padahal, Jiasa bisa pake taksi. Banyak jasa taksi online kok " Jiasa mencoba memberi pengertian, kemudian kembali melirik sang Ibu.
hening, tak ada lagi percakapan, Fadil memang memilih fokus dengan korannya.
Merasa tak ada lagi yang ingin Jiasa sampaikan, akhirnya Jiasa memilih untuk pergi. " Jia ke kamar dulu. Ma, Pa. " pamitnya, kemudian Farah menganggukkan kepalanya.
Farah terus menatap kepergian Jiasa dengan tatapan penuh arti, dan ketika Jiasa sudah tak terlihat, Farah beralih kepada Fadil.
" Pa " panggil Farah.
Fadil merespon dengan lirikan.
" kalau misalnya mereka kembali dekat, apa Papa setuju. ? "
Fokus Fadil pada koran seketika hilang, ia pun segera menutup koran yang tengah ia baca, kemudian Fadil menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
" rasa kecewa, rasa benci, itu semua masih Papa rasakan. Tapi, jika mereka memilih kembali bersama dan mereka bahagia. Gak ada alasa bagi Papa untuk tidak setuju "
Jawaban Fadil membuat Farah merasa lega, mungkin jawaban ini adalah salah satu alasan mengapa Fadil memilih untuk menghubungi Lani ketika dirinya tak bisa menjemput Jiasa.
__ADS_1
" Mama masih penasaran, kok bisa Papa nelephone Lani. ? "
" entah lah, Papa juga gak punya jawaban untuk pertanyaan yang satu ini " sahut Fadil dengan senyum, kemudian ia kembali membuka korannya.