
Setelah berbicara dengan Ibunya, Tedia memilih untuk berdiam diri di kamar.
Larut dengan lamunannya, Tedia di buat terkesiap dengan suara dering ponsel.
Tedia mengerutkan dahi, itu bukan suara ponselnya.
Berlahan kakinya turun dan kini menapak di lantai, Tedia beranjak dan melangkah menuju meja kecil tempat ponsel yang terus berdering itu tergeletak.
Tedia menghela nafas, ponsel yang sedari tadi berdering itu milik Lani. Dan ia mengenal siapa yang saat ini tengah berusaha menghubungi Lani.
Tedia melirik ke arah pintu kamarnya yang tertutup, kemudian tangan Tedia bergerak meraih ponsel milik Lani itu.
warna hijau yang ada di layar ponsel milik Lani ia sentuh dan geser, kemudian Tedia mulai menempelkan ponsel itu di telinganya.
" Ha .. "
[ " dari mana aja lu setan, baru angkat telephone gue, jangan coba-coba buat kabur, gue udah tau semua kebusukan elu " ]
Umpatan serta makian Tedia denger, ia juga tahu siapa yang saat ini tengah berbicara.
Tedia memejamkan sejenak matanya, kemudian ia menghela nafas. " Jen, ini gue Tedia " kata Tedia memberitahu Jennie jika saat ini yang menerima panggilannya bukan pemilik ponsel.
Dengusan Tedia dengar di telinganya.
[ “ mana Arlan, gue ada urusan sama dia bukan sama elu " ]
Tedia kembali menghela nafas kasar, " Arlan gak ada "
[ " kabur maksud lu, banci banget. Gaya aja so paling wow. Tapi ternyata gak punya nyali " ]
" Arlan gak kabur, Jen. Bisa kita ngomong di tempat lain " pinta Tedia pada akhirnya.
Tedia kembali mendengar ucapan Jennie, tak lama Tedia kembali bersuara. " ok, tunggu gue di tempat biasa. "
Setelah sambungan telephone berakhir Tedia kembali meletakan ponsel itu pada tempatnya.
Tedia bergegas melangkah menuju meja belajarnya. Di raihnya kunci motor yang tergeletak di atas meja, kemudian Tedia melangkah guna keluar dari kamarnya.
ketika ia menginjakkan kakinya di lantai dasar, Tedia melihat Lani yang sepertinya kembali di sidang.
Kali ini bukan hanya Papa Malik, Ada Papa Marsel dan Papa Deri. Jangan lupakan Mama Raya dan juga Mama Ria yang juga ada di sana.
" mau kemana kamu ? " tanya Ria.
Tedia menoleh ke arah Ibunya, ia kira para orang dewasa itu tidak menyadari kehadiran dirinya.
" keluar sebentar " sahut Tedia cuek kemudian melenggang pergi, ia tak perduli meski tidak mendapat izin.
..
__ADS_1
Di tempat yang sudah dijanjikan, Tedia duduk menunggu Jennie.
Menunggu beberapa menit, akhirnya Jennie datang.
Keduanya kini duduk di taman kota yang biasa mereka kunjungi untuk sekedar joging.
" mana Lani ? " tanya Jennie tak mau basa-basi, yang ingin ia temui adalah Lani, Jennie ingin memaki dan memukul laki-laki yang sudah menghancurkan hidup sepupuhnya.
" lagi di sidang sama Papa " sahut Tedia matanya menatap lurus ke depan.
Jennie mengerutkan dahinya. " bokap lu tau ? "
Tedia mengangguk mengiyakan.
" terus gimana jadinya, Arlan gak akan lari dari tanggung jawab kan ? Gila bisa-bisanya tuh bocah " Jennie menghela nafas frustasi ia masih tidak percaya.
Keduanya kini larut dalam pikiran masing-masing, Saling diam dan tak saling berbicara.
Tapi tak lama situasi hening itu sirna, Tatkala terdengar helaan nafas dari Jennie.
Tedia menoleh, " Jadi orang tua Jiasa udah tau ? " tanya Tedia memulai kembali percakapan.
Jennie mengangguk, " Jiasa juga bilang kalau orang yang pertama tau itu tante Raya. "
Tedia tersenyum miris, ia kembali ingat dengan kejadian kemarin.
" gue masih gak percaya, Sumpah. mereka berdua itu gak deket tapi bisa-bisanya ... " Jennie menghentikan kalimatnya.
" Di .. "
" hhhmm "
" pasti sekarang lu sakit banget " ucapan Jennie membuat Tedia terdiam. Kemudian Tedia menunduk dan tersenyum miris.
Jennie menatap prihatin, ia tahu bagaimana perasaan seorang Tedia kepada sepupuhnya itu.
" elu tenang aja, Jen. Lani gak akan kabur. Secepatnya Papa bakal datang kerumah Jiasa " tutur Tedia melenceng dari pertanyaan Jennie.
Jennie menghela nafas, " lu baik-baik aja kan, Di. ? " lagi-lagi Jennie bertanya perihal keadaan Tedia, dan lagi-lagi Tedia merespon dengan sebuah senyum. Tapi, Jennie tahu arti dari senyum yang terukir di bibir Tedia.
" gue, baik Jen. Yang lagi gak baik-baik aja itu Jiasa sama Lani. "
" tapi hati lu ? "
Tedia mengigit bibir bawahnya, ia mencoba menahan sesuatu yang mulai terasa dalam dirinya.
Rasa sakit itu kembali muncul seiring dengan pertanyaan yang Jennie lontarkan.
Tedia bangkit dari duduknya " gue balik ya, Mama pasti nungguin."
__ADS_1
Jennie mengangguk, Tedia kemudian melangkah pergi.
Jennie menatap kepergian Tedia yang terlihat begitu jelas jika dia tengah merasakan kehancuran di hatinya.
Tedia melajukan motornya dengan laju yang tidak terlalu cepat.
Hari sudah mulai gelap. Suara solawat tanda akan di kumandang adzan magrib pun sudah terdengar.
Tedia menghentikan laju motornya ketika ia berada di jembatan layang.
Ia memarkirkan motornya di pinggir jalan. Bukan hanya Tedia yang berhenti, tapi ada beberapa muda mudi yang sepertinya akan menghabiskan waktu bersama.
Tedia membiarkan motornya, kemudian ia melangkah ke sisi jembatan. Tedia menatap pemandangan kota yang mulai di hiasa oleh lampu-lampu yang bergemerlapan.
Ia menghela nafas, kemudian ia tersenyum miris.
..
Fadil bertolak pinggang, menatap nyalang Jiasa yang tertunduk di atas tempat tidurnya.
Tak lama tangan Fadil bergerak, memijat pangkal hidungnya yang mendadak sakit.
Fadil mendesah lelah dan kembali menatap nyalang Jiasa.
" Papa gak habis pikir sama kamu Jia, bisa-bisa kamu buat aib di keluarga kita yang dikenal baik. "
" Maaf, Pa. " hanya itu yang bisa Jiasa katakan sejak rahasia besarnya terbongkar.
Farah menatap prihatian ke arah putrinya yang tengah di sidang oleh Fadil.
Diana juga masih berada di rumah Jiasa, tujuannya adalah menenangkan kakak iparnya yang pasti terguncang karena ulah putrinya.
" keluarga Arlan udah tau ..? " Tanya Fadil, dalam pertanyaannya ia seperti akan membuat perhitungan dengan keluarga yang pernah menjadi rekan bisnisnya dulu.
" udah, Om. Kata Tedia secepatnya Keluarga Lani akan datang ke sini. " Jennie yang menjawab, seketika semua mata tertuju padanya. Mereka menatap Jennie penuh tanya.
Jennie yang paham akan tatapan itu pun akhirnya kembali berbicara, " tadi aku ketemu Tedia, dia bilang kalau keluarga Lani udah membahas masalah ini, dan mereka secepatnya akan menemui Om Fadil. " Jennie kemudian mengalihkan pandangannya pada Jiasa.
Jiasa yang sadar akan tatapan Jennie tertunduk. Sprei warna krem yang ia pakai untuk menutupi kasurnya di remas sekuat tenaga menggunakan telapak tangannya.
Apa alasan Jiasa bersikap demikian ? Jawabannya karena ia mendengar nama Tedia disebut oleh Jennie.
Tiba-tiba Jiasa merasa bersalah, dan saat ini Tedia pasti sangat kecewa padanya.
Andai waktu bisa di ulang, Jiasa pasti memilih untuk tidak dekat dengan Lani.
Karena hatinya bukan untuk Lani melainkan Tedia.
Meski Tedia tidak pernah mengatakan jika ia mencintai Jiasa. Tapi hati Jiasa sudah terkunci di dalam labirin yang ada di hati Tedia.
__ADS_1
Bulir air mata mengalir di pipi Jiasa. Jiasa menangis dalam wajah yang tertunduk.
Jennie sadar, ia memperhatikan. Merasa paham dengan apa yang Jiasa pikirkan, Jennie menatap prihatin.