
Membuka pintu, kemudian Lani menutup kembali dengan rapat pintu UKS itu.
Setelah menutup rapat, Lani berdiri di tempat sembari menatap jejeran brankar yang kosong.
Lani menghela nafas kasar, kemudian ia melangkah pelan menuju salah satu bilik brankar yang berada di pojok UKS.
Setelah berhasil sampai di brankar yang di tuju, Lani bergegas duduk. Kedua tangan ditautkan, kemudian Lani menundukkan wajahnya. Dalam posisinya saat ini, Lani memejamkan mata. Ia ingin menenangkan diri.
cekleeekk ...
suara pintu UKS terbuka, Lani yang tengah menunduk dengan mata terpejam segera membuka mata. Ia mendongkak, kemudian menoleh ke arah pintu, tirai yang tidak di tutup membuatnya dengan mudah melihat siapa yang datang.
Lani membuang pandangannya setelah mengetahui siapa yang datang, kemudian ia tersenyum sinis.
Kejadian hari ini membuat mood Lani hancur, bahkan kemunculan Jiasa pun tak mampu menenangkan hati Lani.
sembari melangkah mendekati Lani yang jelas terlihat olehnya, Jiasa akhirnya berdeham.
" ehhhmmm "
Mendengar suara Jiasa, Lani kembali tersenyum sinis.
" hai .. " sapanya ketika ia sudah tiba di dekat Lani.
Lani mendongkak, menatap Jiasa dengan tatapan datarnya.
Jujur, Jiasa sedikit tersentak. sejak mengenal Lani, Jiasa baru pertama kali diberi tatapan dingin oleh Lani.
" siapa yang nyuruh elu ke sini .. ? "
Dingin, sangat dingin, bahkan cenderung ketus.
Ada satu hal yang begitu menusuk hati Jiasa, kosa kata Lani berubah, Lani yang biasanya menggunakan aku-kamu ketika berbicara dengan Jiasa kini terdengar kasar.
Jiasa mencoba tenang, ia harus paham jika saat ini Lani tengah diliputi api emosi.
meski merasa tak enak hati, Jiasa mencoba untuk tersenyum. Ia menaruh bokongnya di atas brankar, Jiasa duduk di samping Lani.
Lani menghela nafas kasar. Kemudian ia menoleh menatap Jiasa kembali dengan tatapan datar.
" udah sana balik ke kelas, bentar lagi Gurunya datang .. " Usir Lani pada Jiasa.
Jiasa kembali bersikap tenang, ia kembali menunjukkan senyumnya. " kata Zaki hari ini Gurunya gak hadir .. "
" terus mau ngapain di sini .. " ketus Lani.
Kini Jiasa menghela nafas kasarnya, merubah posisi duduk dan menghadap Lani.
" bisa gak sih gak usah kasar-kasar ngomongnya .. " Jiasa sudah jengan tak bisa lagi menahan sabar. Tak perduli jika nanti berakhir ia dan Lani berdebat.
Lani menatap Jiasa dengan kedua alis yang naik, kemudian ia tersenyum miring. " kalau kasar, ya elu ayak biar halus .. "
Jiasa berdecak. " ck! Gak usah bercanda, aku serius .. "
__ADS_1
Lani terkekeh. Jiasa terlihat menggemaskan di matanya, tapi Lani membuang pandangannya ketika ia ingat dengan Tedia. Ingat bagaimana Tedia dan Jiasa saling tatap, ingat bagaimana tatapan Tedia ketika Jiasa datang menjenguknya, dan ingat bagaimana antusiasnya Zaki ketika membahas Jiasa dan Tedia.
Jiasa menatap Lani yang tengah memalingkan wajahnya, dengan rasa keberanian yang ada, Jiasa kembali mengeluarkan suaranya. " kamu kenapa, ada masalah ? "
Lani kembali beralih pada Jiasa, di tatapannya mata Jiasa yang terlihat begitu penasaran dengan satu hal yang di alami Lani saat ini.
Lani menjawab dengan cara memberi gelengan. Memberitahu Jiasa jika ia baik-baik saja.
Jiasa tersenyum miring, tahu jika saat ini Lani berbohong.
" kalau gak mau cerita, ya udah aku balik ke kelas " katanya, kemudian hendak berdiri namun tertahan karena Lani menggenggam pergelangan tangannya.
Jiasa kembali duduk.
" aku gak kenapa-napa, Ji. Cuma lagi kangen sama ayah aja .. " bohong Lani yang tidak ingin memberitahu Jiasa jika ia tengah cemburu pada Tedia.
Jiasa terkekeh. " ya udah tinggal telephone ayah kamu, bilang sama dia kalau kamu kangen sama dia "
wajah Lani berubah, sorot matanya terlihat sendu. Jiasa mengerutkan dahinya. Kemudian Lani menundukkan wajahnya, detik berikutnya Lani terkekeh pelan.
" ayah gak megang hp, Ji. "
" ya udah telephone kantornya aja .. "
" kantor yang mana, Ji. Ayah udah sama Allah .. "
Seketika mulut Jiasa terasa terkunci, ia tak mampu berkata-kata. Jiasa menundukkan wajahnya, merutuki kebodohannya, mengapa ia bisa lupa akan hal yang pernah Irene sampaikan.
dahi Lani berkerut, ia menghela nafas, ia tahu kenapa Jiasa tiba-tiba meminta maaf padanya. Lani yakin saat ini Jiasa tengan merasa tak enak hati.
" gak apa-apa, Ji. Terkadang aku juga lupa kalau ayah udah gak ada di dunia .. " kata Lani.
Jiasa mendongkak, di lihatnya Lani yang tengah mengadah ke atas menatap langit-langit UKS, Jiasa yakin Lani tengah berusaha menahan sesuatu yang hendak keluar dari matanya.
" kamu udah tengokin ayah kamu ..? " Jiasa kembali berbicara berusaha menenangkan Lani.
Lani kembali menegakkan tubuhnya, kemudian ia menggeleng. " belum, rencana sih sekarang, pulang sekolah. " kata Lani, tak menatap Jiasa.
" aku boleh ikut ? "
Seketik Lani menoleh, menatap wajah Jiasa, Lani terdiam dalam tatapannya, dalam hati bertanya-tanya, apakah Jiasa dalam keadaan sadar ketika mengucapkan kalimat tadi.
" kalau gak boleh, ya gak apa-apa. Aku cuma pengen kenalan aja sama ayah kamu. Kok bisa ya beliau punya anak yang tingkat sabarnya setipis kertas .. "
Lani terkekeh mendengarnya, ekpresi wajahnya pun seketika berubah, tidak terlihat sendu lagi. Kemudian tangan Lani bergerak, telapak tangannya mengusak pucuk kepala Jiasa.
Jiasa mendengus, kemudian menjauhkan tangan Lani dari kepalanya. " ikh ! Jangan diacak-acak, aku udah cape-cape pagi-pagi nyisir terus catokan, tapi malah kamu berantakin " kata Jiasa dengan wajah memberengut dan bibir mengerucut.
" lebay .. " kata Lani
Jiasa membulatkan mata, dan menatap tajam Lani. " dih, kamu tuh yang lebay, ke singgung sedikit aja emosian, gimana nanti kalau udah punya istri, nanti istrinya kabur gara-gara kamu emosian .. "
" ya udah elu aja yang jadi istri gue biar gue gak emosian .. " celetuk Lani enteng.
__ADS_1
" aku " kata Jiasa dengan mata membulat sembari menunjuk dirinya sendiri.
Lani menganggukkan kepala.
" ogah .. " kata Jiasa berniat bergurau.
Lani terkekeh, Jiasa seperti tengah menolaknya. " iya lah elu gak mau, elu maunya sama Tedia " kata Lani pelan, sangat pelan hingga mampu di dengan samar oleh Jiasa.
" apa ? Kamu ngomong apa barusan ..? " tanya Jiasa.
" ada kucing pake daster .. " sahut Lani asal.
" ish .. Lani serius napa, nyebelin banget sih .. " gemas Jiasa memukul pelan lengan Lani.
" ngapain serius-serius, kamu aja gak mau aku seriusin .. "
Jiasa menatap tajam Lani, kemudian ia memberi Lani dengusan. Lani terkekeh melihatnya, Jiasa terlihat menggemaskan.
Tak lama Lani mengangkat tangannya, dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian Lani menatap Jiasa, yang ditatap mengerutkan dahinya.
" ke kelas gih .. " kata Lani.
" ya udah ayo .. " ajak Jiasa
" aku di sini, males berlajar nanti tambah pinter .. "
Jiasa mencibir. " percaya diri sekali kamu "
Jiasa bangkit dari duduknya, kemudian ia berdiri menghadap Lani. Lani mendongkak menatap Jiasa dan menunggu apa yang akan Jiasa lakukan padanya.
Tak lama tangan Jiasa bergerak memegang pergelangan tangan Lani, kemudian Jiasa menarik tangan Lani agar Lani bangun dan menjauh dari brankar.
" ayo ke kelas .. "
" males .. " sahut Lani menolak.
Jiasa menghela nafas kasar, tapi ia tidak menyerah, Jiasa kembali menarik-narik tangan Lani agar segera bangkit.
" Lani ayo .. "
" kemana ..? " tanya Lani dengan tawa
Jiasa menatap tajam. " ke penghulu .. " sahut Jiasa sudah jengah dengan Lani.
Seketika Lani bangkit. " ya udah ayok " katanya sembari merangkul Jiasa.
Jiasa langsung menghempaskan tangan Lani yang bertengger di bahunya. " dalam mimpi " kata Jiasa yang kemudian menghentakkan kaki, lalu melangkah menjauh dari Lani.
Lani terkekeh kemudian menggelengkan kepala, hadirnya Jiasa membuat hatinya sedikit membaik.
" Arlan buruan .. " panggil Jias dengan nada ketus di ambang pintu UKS
" iya .. " sahut Lani kemudian melangkah menyusul Jiasa.
__ADS_1