LABIRIN

LABIRIN
33


__ADS_3

Pagar tinggi itu terbuka. Lani yang baru saja pulang dari sekolah segera memasuki halaman rumahnya.


Berhenti di depan rumah, Lani memarkirkan motornya begitu saja di depan rumahnya kemudian ia melangkah masuk kedalam rumahnya.


Hal yang pertama kali Lani lihat di dalam rumah adalah Bibi Minah yang tengah membersihkan debu-debu di lemari hias milik Raya ibu Lani.


" Ibu udah pulang, Bi. ? " tanya Lani.


Bi Minah yang posisinya membelakangi Lani segerak membalikkan tubuhnya.


Sebelum menjawab, Bi Minah tersenyum menyapa " belum Den, Den Lani butuh sesuatu ? Nanti Bibi siapin " tanya Bi Minah


Lani menggeleng, kemudian ia menghela nafasnya pelan.


Yang ia cari belum pulang, Lani pun bergegas mengayunkan kaki melangkah naik ke lantai atas rumahnya. Tujuan Lani tentu kamarnya.


Berjalan pelan, tak lama pintu kamarnya yang tertutup sudah terlihat.


Lani terus melangkah hingga kini ia tiba di depan kemarnya.


Membuka pintu kemudian Lani masuk ke dalam kamarnya. sebelum melangkah masuk lebih dalam, Lani tidak lupa menutup kembali pintu kamarnya.


Lani kembali melangkah pelan. Ia menaruh asal tasnya di meja belajar, kemudian Lani mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Lani kembali menarik nafas, kemudian menghembuskan dengan pelan. Ia mencoba menenangkan hatinya yang tidak karuan sejak melihat Tedia dan Jiasa berduaan di dalam UKS.


CEMBURU ?


Ya, Lani cemburu. Ia cemburu melihat gadis yang ia kagumi justru terlihat begitu nyaman ketika bersama sahabatnya.


Lani mengigit bibirnya, kemudian ia mendongkak menatap langit-langit kamarnya. Tak lama Lani kembali menghembuskan nafas kasarnya.


Masih dengan ekspresi yang sama. Lani yang terlihat sendu, kini mulai menggerakan tangan membuka sepatunya dan meletakan dengan asal kedua sepatunya itu diatas lantai.


Lani mengusap wajahnya kasar, kemudian ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya.


Perlahan mata Lani terpejam, ia lelah ingin terlelap dan berharap jika nanti ia bangun dan terjaga, semua keresahan hatinya sirna dibawa purnama.


..


" pelan-pelan napa Pak .. " rengek Tedia ketika kakinya tengah mendapat penanganan dari Pak Adul satpam yang bekerja di rumahnya.


Sedikit berlajar saat tinggal di kampung membuat Pak Adul mahir dalam hal mengurut. Bahkan hal seperti ini sering ia lakukan jika anak majikannya itu terluka saat bertanding atau terjatuh.


" ini udah pelan Den, Den Dia nya aja yang cengeng .. " Pak Adul menimpali, bahkan dengan jahil ia menekan bagian kaki Tedia yang terkilir.


Alhasil Tedia pun menjerit  " MAMA ... " teriaknya memanggil Ria sang Ibu yang saat ini tengah menatap Tedia yang tengah ditangani oleh Pak Adul dengan wajah khawatir.


Terkadang Ria ikut meringis ketika Tedia berteriak.

__ADS_1


" makanya Den, kalau lagi maen bola itu matanya jangan meuleng, pasti lagi tebar pesona sama nona-nona yang waktu itu, jadi gak sadar kalau lawan mau nyerang .. " sembari bergerak mengurut pergelangan kaki Tedia, Pak Adul malah meledek Tedia.


Tedia memberengut " mana ada kaya gitu, ngadi-ngadi si Bapak mah .. " sahut Tedia.


Mendengar ledekkan Pak Adul, Tedia jadi ingat dengan Jiasa. Kemudian Tedia melirik sikunya yang terluka, reflek Tedia tersenyum. Bayangan Jiasa mengobati lukanya memenuhi ruang di kepalanya.


Tapi tak lama senyuman Tedia sirna ketika ia ingat bagaimana tatapan dingin Lani kepadanya.


Tedia menggelengkan kepalanya pelan.


Apa yang Tedia lakukan tentu saja di sadari Ria, Ria mengerutkan dahinya " kenapa kamu ..? " Tanya Ria.


Tedia tersentak, kemudian melirik kakinya yang sudah tidak ditangani lagi oleh Pak Adul. Tedia mendongkak menatap Pak Adul yang kini sudah berdiri disampingnya.


" lah udahan ternyata .. " celetuk Tedia.


Ria menggelengkan kepala " kebanyakan ngelamun, jadi pas Pak Adul selesai aja gak sadar .. " Ria mencibir, Tedia mencebikkan bibirnya.


Tugasnya sudah selesai, Pak Adul pun meminta Izin untuk kembali berjaga di depan.


" saya permisi Bu, cepet sembuh ya Den .. " kata Pak Adul.


Mendapat anggukan dari Tedia dan Ria, Pak Adul pun keluar dari kamar anak majikannya itu.


Hanya tinggal berdua didalam kamar bersama putranya yang tengah terbaring sakit. Ria menghela nafas kasarnya.


Kemudian Ria melengkah mendekati Tedia. Tiba didekat Tedia, Ria mendudukkan tubuhnya disisi ranjang milik Tedia.


Tedia memberengut.


Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah sebuah pribahasa yang tengah menimpa Tedia saat ini. Sudah jatuh oleh lawan, kemudian diabaikan kawan, lalu sekarang mendapat omelan.


" terus itu sikunya udah diobatin ..? " tanya Ria lagi


Tedia menganggukkan kepala sebagai jawaban.


" diobatin pake apa ..? " Ria kembali bertanya


Tedia memutar bola matanya malas, saat ini ia seperti seorang tersangka yang tengah diselidiki oleh seorang polisi diruang penyidik.


" udah ma, tadi di sekolah diobatin sama Jiasa .. "


" Jiasa ? " Ria menaikan alisnya.


" ho'oh, Jiasa murid baru yang pernah kesini pas kerja kelompok .. " Tedia menjelaskan Jiasa yang ia maksud.


Ria manggut-manggut. Kemudian ia menatap nanar pergelangan kaki Tedia yang kini terbalut. " kamu istirahat aja, besok Mama izinin kamu buat gak sekolah dulu .. "


Tedia mengangguk-anggukkan kepalanya merespon kalimat yang diucapkan Ibunya. Tapi beberapa detik kemudian raut wajah Tedia berubah. Ia menoleh menatap Ria dengan sorot mata yang penuh arti.

__ADS_1


" Ma, Mama besok mau izin kesekolah, terus nanti kalau ada yang lapor sama papa gimana ? " Panik Tedia, wajahnya kini memelas.


Ria mendesah pelan, sebagai pemilik yayasan pasti suaminya itu sering mendapat laporan akan kelakuan putranya. Tapi, laporan kali ini pasti akan membuat suaminya itu uring-uringan karena khawatir akan kondisi putranya.


" udah kamu tenang aja, untuk yang satu ini Mama udah ngasih peringatan sama orang kepercayaan Papa supaya gak laporan sama Papa .. "


Tedia bernafas lega. senakal-nakalnya Tedia, ia tidak mau membuat sang ayah yang jauh dari keluarga khawatir akan dirinya.


..


Pagi datang, matahari tersenyum menyapa.


Jiasa baru saja menginjakkan kakinya di area sekolah.


Tak sengaja matanya melihat tiga motor yang baru saja masuk melewati gerbang.


Jiasa mengerutkan dahi, ketika tak melihat kendaraan lain dibelakang tiga motor itu.


Menghela nafas kasarnya, Jiasa kini ingat Jika pemilik kendaraan itu sedang dalam kondisi yang tidak baik, pasti hari ini dia tidak masuk sekolah .. Terka Jiasa dalam hatinya.


Terlalu lama berdiri dan larut dalam pikirannya, Jiasa kini bersiap melangkah menuju kelasnya yang berada di lantai satu.


Berjalan dengan pelan dan tak ada yang menemani, Jiasa dihentikkan oleh suara seorang pria yang memanggilnya.


" Jiasa .. "


Merespon, Jiasa memutar tubuhnya dan berbalik. Tak jauh darinya kini Jiasa melihat Lani, Zaki, dan Yoga tengah melangkah mendekatinya.


Jiasa menyapa dengan senyum, Dan dibalas oleh Yoga dan Zaki. Perhatian Jiasa kini tertuju kepada Lani yang berdiri disamping Zaki. Lani terlihat dingin dimata Jiasa, menyadari hal itu Jiasa menyerengit samar.


" bareng Ji .. " kata Zaki, kemudian Jiasa menganggukkan kepala.


Keempat siswa yang menimba ilmu di SMA NUSA PELITA itu kini kembali melanjutkan langkahnya.


Zaki berjalan di depan berdampingan dengan Yoga, sedangkan Lani dan Jiasa berjalanan di belakang keduanya.


Dalam langkahnya Jiasa diam-diam melirik Lani yang sedari tadi hanya diam. Ingin bertanya tapi rasa malunya lebih mendominasi. Jiasa takut, Dirinya ini bukan siapa-siapa bagi Lani. Jiasa takut disebut terlalu ikut campur dalam urusan orang lain.


Memilih bungkam, Jiasa terus melangkah bersama Lani. Sesekali ia memainkan tali tas slempangnya guna menghilangkan rasa tidak karuan di hatinya.


" Tedia izin hari ini, semalam Mama Ria ngabarin kalau kaki Tedia agak bengkak .. "


Terkejut, reflek Jiasa mendongkak menatap Lani yang tiba-tiba bersuara.


" pulang sekolah kita bertiga mau jengukin dia, mau ikut ? " Lani kembali bersuara, bahkan ia menawarkan satu hal pada Jiasa.


Lani yakin pasti Jiasa memikirkan keadaan Tedia.


Semalam ada satu hal yang ia pikirkan dan itu membuatnya sadar dan tak ingin egois, itu sebabnya Lani menawarkan untuk mengajak Jiasa menjenguk Tedia, Lani yakin Jiasa pasti ingin tahu keadaan Tedia.

__ADS_1


Jiasa tak langsung mengiyakan, ia diam untuk beberapa saat, hingga anggukkan dari Jiasa membuat Lani kini tersenyum tipis.


..


__ADS_2