
Memasuki jam pelajaran akhir.
Semua siswa kelas 11 c kini tengah berganti seragam mereka dengan baju olahraga.
Siswa laki-laki memilih berganti baju di ruang kelas, sedangkan siswi perempuan meminjam ruang osis untuk mereka berganti baju olahraga.
Selesai mengganti seragam sekolah dengan baju olahraga, Lani dan kawan-kawan keluar dari kelas dan melangkah menuju lapangan olahraga.
" hari ini kita olahraga bareng kelasnya Bara. Ajakin sparing kaga nih ..? " Yoga membuka suara di sepanjang perjalanan mereka menuju lapangan olahraga.
" ajakin lah, gue pengen nendang mukanya pake bola .. " kali ini Zaki menimpali dengan ekspresi wajahnya yang dibuat seperti orang yang tengah kesal.
" elu nendang dia gimana cugg, kan elu yang jadi kiper .. "
Tedia mengingatkan Zaki akan posisinya jika mereka bermain bola nanti.
Zaki berdecak " ya elah, kan bisa gue tendang bolanya dari gawang langsung ke muka dia .. "
Lani menggelengkan kepala mendengar ocehan ketiga temannya. Tak lama mata Lani melihat siswi perempuan yang juga tengah melangkah menuju lapangan. Fokus Lani kepada Jiasa, Lani melihat Jiasa yang tengah bersenda gurau dengan ketiga temannya.
Tanpa banyak bicara Lani melangkah meninggalkan ketiga temannya guna menghampiri Jiasa.
Tiba didekat Jiasa, Lani menyapa dan Jiasa membalas sapaan Lani. Keduanya melangkah secara beriringan, tak menyadari jika ada sepasang mata lain yang menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Siapa pemilik mata itu ?
Tedia.
Sejak Lani melangkah mendahului ia dan kedua temannya, Tedia terus memperhatikan Lani. Ekspresi Tedia berubah ketika melihat Lani menghampiri Jiasa.
Tedia terus memperhatiak keduanya, satu sentuhan di bahunya membuat Tedia terkesiap. Pelakunya adalah Yoga.
" apa ..? " Tedia bertanya.
Yoga hanya menggelengkan kepalanya.
Membiarkan Tedia kembali melanjutkan langkah. Sesekali matanya memperhatikan Jiasa dan Lani yang kini sudah berbaris di lapangan, dan lagi-lagi posisi keduanya berdampingan.
Bersama Yoga, dan Zaki. Tedia menghampiri Lani. Tedia kini berbaris di belakang Lani. Mata Tedia kembali melirik Jiasa yang kini terlihat diam memperhatikan Pak Satrio guru olahraga mereka.
Pemanasan dan arahan sudah diberikan oleh Pak Satrio.
Sesuai perintah, siswa laki-laki kelas 11 harus bertanding melawan kelas 12.
Olahraga yang mereka pilih adalah sepak bola. Dan kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh siswa kelas 11 yang memang memiliki siswa yang berprestasi dalam bidang olahraga tersebut.
Siswa laki-laki bertanding, sedangkan siswi perempuan memilih duduk di pinggir lapangan memberi semangat pada kelas mereka.
Skor 2-0 untuk keunggulan kelas 11. Siswi yang mendukung kelas 11 bertepuk tangan.
" ck. Sialan awas aja lu .. " gerutu Bara ketika timnya tertinggal.
Bersama rekan satu timnya Bara memulai bertanding. Mengoper bola bersama timnya dari kaki ke kaki.
__ADS_1
Tak lama bola kembali dioper kearah Bara. Bara menerima dengan baik dan siap untuk
Melesakkan bola ke gawang yang di jaga Zaki.
Satu sakinya sudah di angkat. Sayang, belum menyentuh bola. Bola itu sudah direbut oleh Tedia.
Dengan kaki yang menahan bola, Tedia tersenyum remeh kearah Bara. Bara menggeram kesal. Gagal sudah niatnya untuk tebar pesona kepada adik kelas dan teman sekelasnya.
Melihat ekspresi Bara, Tedia bergegas berlari membawa bola. Bara mengejar guna merebut kembali bola itu.
Tedia bersiap mengoper kepada Lani, tapi niatnya terhenti karena tubuhnya disenggol oleh Bara. Tedia pun terjatuh. Satu sikunya mengenai lapangan yang terbuat dari aspal, darah pun mengalir dari sikunya.
Priiiitt ..
Pluit tanda pelanggaran berbunyi.
Siswa yang menonton dari pinggir lapangan berdiri. Mereka menatap dengan tatapan panik dan khawatir.
" Tedia .. " pekikan beberapa siswi perempuan termasuk Jiasa.
Semua memeriksa kondisi Tedia, bahkan Lani dan Yoga berlari guna melihat bagaimana kondisi Tedia.
Siku berdarah dan kaki yang sedikit terkilir membuat Tedia meringis dan sepertinya tidak bisa melanjutkan permainan.
Dengan dibantu oleh Yoga dan Lani, Tedia pun berdiri. Sebelum melangkah Tedia menatap kearah Bara yang tengah menatapnya juga dengan senyum meremehkan.
Tedia berdecih dan menatap nyalang Bara.
Yoga dan Lani membawa Tedia ke pinggir lapangan. Kemudian Lani dan Yoga membantu Tedia agar duduk di kursi yang memang ada di pinggir lapangan.
Tedia menghela nafas kasar. Menatap nanar kakinya kemudian Tedia menatap kearah lapangan dengan wajah kecewa.
" Dia .. Kamu gak apa-apa ..? "
Tedia menoleh dan melihat Jiasa yang kini menghampiri dengan raut wajah khawatirnya.
Tedia tersenyum menanggapi " gak apa-apa udah biasa kaya gini .. " sahut Tedia yang memang menganggap lukanya hanya luka kecil.
Jiasa mendesah pelan, masih dengan wajah khawatirnya Jiasa duduk disamping Tedia kemudian menyentuh lengan Tedia guna memeriksa siku Tedia yang terluka " ini berdarah ayo ke UKS kita obatin .. "
Tedia terdiam mendapat perhatian dari Jiasa, ia tidak bisa berkata-kata.
" ayo .. Bisa berdiri kan .. Ayo aku anter ke UKS .. " kata Jiasa, Sontak Tedia pun menganggukkan kepala.
Setelah mendapat anggukan dari Tedia, Jiasa mulai membantu Tedia berdiri. Beruntung kaki Tedia hanya terkilir sedikit hingga ia pun tidak terlalu kesusahan untuk berdiri.
Ketika Tedia sudah berdiri tegap, Jiasa kemudian membatu Tedia untuk melangkah.
" kalian mau kemana .? " tanya Jennie, ketika melihat Jiasa memapah Tedia.
" ke UKS .. " sahut Jiasa singkat.
Jennie menaikkan alisnya, kemudian ia mengedikkan bahunya dan kembali melihat pertandingan yang ternyata sudah berakhir.
__ADS_1
Pertandingan benar-benar berakhir dengan dimenangkan oleh kelas 11.
Di pinggir lapangan Lani bersama yang lain tengah beristirahat. Ia meneguk air mineral miliknya, pada saat minum matanya bergerak, tak sengaja melihat Tedia yang tengah dipapah oleh Jiasa.
Lani terdengung melihat keduanya. Ia diam dengan tatapan yang sulit diartikan.
" mereka mau kemana tuh .. Susulin yuk .. " Suara Zaki mengalihkan perhatian Lani.
" paling UKS .. " sahut Yoga, matanya melirik-lirik Lani yang kini sudah berdiri.
" kemana Lan ..? " tanya Yoga.
" nyusul Tedia .. Ayo liat .. " sahut Lani, Yoga menghela nafas, ia sudah menduga hal itu.
Zaki dan Yoga bangkit. Bersama Lani ketiganya menyusul Tedia yang sepertinya sudah sampai di UKS.
..
Tedia dan Jiasa masuk ke dalam UKS yang kebetulan kosong tidak ada yang menjaga.
Jiasa mendesah pelan. Sedikit kesal karena di saat siswa yang terluka memerlukan pertolongan tapi UKS kosong.
Menyuruh Tedia duduk, Jiasa melangkah kearah lemari kaca tempat menaruh obat-obatan.
Lemari kaca ia buka, Jiasa tersenyum ketika menemukan benda yang ia cari. Kapas, obat merah, dan plester pembalut luka.
Jiasa mengeluarkan ketiga benda itu, kemudian ia melangkah menghampiri Tedia dan duduk dihadapan Tedia.
" sini tangannya kita obatin .. " kata Jiasa, mulai menuangkan obat merah ke atas kapas.
Tedia mengulurkan tangannya, dengan telaten Jiasa mengobati luka di siku Tedia.
" aaaaaakkkhhh .. " Tedia meringis, cukup sakit karena Jiasa sedikit menekan lukanya.
Mendengar itu Jiasa mendongkak, menatap Tedia dengan tatapan dingin.
Tedia berdeham " ehhmm " tatapan Jiasa cukup menakutkan. Mungkin Jiasa memberi peringatan agar Tedia diam selama diobati.
" sok jagoan sih, ngapain sih deket-deket Kak Bara .. ? " Jiasa menggerutu sembari mengobati luka Tedia.
" ya kalau gak dideketin gimana rebut bolanya .. " sahut Tedia dengan kekehan.
Jiasa kembali mendongkak, menatap Tedia dengan tatapan dinginnya lagi.
Tedia tersenyum bodoh menanggapi tatapan Jiasa.
Jiasa menghela nafas kasarnya, kemudian ia menutup luka Tedia dengan plester.
" udah selesai .. " kata Jiasa sembari merapihkan benda-benda yang ia gunakan untuk mengobati Tedia.
Tedia kembali tersenyum tipis, ia melihat sikunya yang baru saja diobati " makasih ya .. " kata Tedia dan mendapat anggukan dari Jiasa.
Keduanya saling tatap dan membalas senyum tak menyadari sedari tadi Lani berdiri diambang pintu memperhatikan interaksi keduanya.
__ADS_1
...