LABIRIN

LABIRIN
59


__ADS_3

Begitu tiba di kediamannya, Jiasa bergegas masuk ke dalam rumahnya.


Farah yang masih berdiri di dekat mobilnya, hanya bisa mengerutkan dahi melihat tingkah aneh putrinya.


Tak ingin berpikiran yang tidak-tidak, Farah menghela nafas kasar, kemudian ia masuk ke dalam rumahnya.


Ketika tiba di kamar, Jiasa bergegas masuk dan segera menutup pintun. Bahkan Jiasa tak lupa mengunci pintu kamarnya.


Dengan wajah yang kini terlihat panik dan deru nafas yang memburu, Jiasa melangkah menuju meja belajarnya.


Di raihnya, kalender kecil yang ia letakan di atas meja belajarnya, kemudian Jiasa mulai melihat angka demi angka yang tertera di atas lembar kalender itu.


Jiasa menatap dengan seksama, jari telunjuknya mulai bergerak menghitung secara berurutan angka yang ada.


Gerakan jari Jiasa terhenti, sudah lewat satu minggu lebih. Seketika kalender yang ia pegang jatuh, kemudian kedua tangannya bergerak, dan kini kedua tangannya sudah menutup mulutnya sendiri.


Cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya, Jiasa menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dalam hati Jiasa berdoa, semoga yang saat ini ia takutkan tidak terjadi.


..


Waktu berlalu. Sejak pulang dan dikejutkan dengan datu fakta yang terjadi, Jiasa hanya mengurung diri di dalam kamarnya.


Satu hal yang belum Jiasa buktikan kebenarannya membuat Jiasa kalut.


Sebenarnya Jiasa ingin keluar, membeli alat yang bisa menjawab pertanyaan yang membuatnya ketakutan. Tapi, Jiasa tidak ingin membuat kedua orang tuanya curiga.


dalam kondisi wajah sendu, Jiasa menghela nafas kasar. Untuk memjawab semua itu Jiasa memilih bersabar dan menunggu hari esok.


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu membuat Jiasa menoleh kearah pintu kamarnya yang tertutup rapat.


Meski dalam kondisi kacau, Jiasa tak kondisi saat ini terbaca oleh kedua orang tuanya. Menarik nafas dalam, kemudian ia hembuskan dengan kasar melalui mulutnya, Jiasa mulai membenahi penampilannya, rambutnya yang sedikit berantakan ia rapihkan dengan jari.


Perlahan Jiasa mulai turun, dari tempat tidurnya, kini kedua kakinya sudah menapaki lantai, setelah itu meski dengan setengah hati, Jiasa melangkah guna membuka pintu. Apalagi sekarang suara dibalik pintu sudah terdengar.

__ADS_1


Heningnya suasana membuat, suara pintu yang terbuka terdengar dengan sempurna.


" ada apa, Ma.? " tanya Jiasa yang kini berdiri di ambang pintu dengan posisi pintu yang tidak terbuka dengan sempurna.


" ayo kebawah, kita makan malam dulu " kata Farah mengajak Jiasa.


Jiasa mendesah pelan, sumpah demi apapun malam ini ia tidak ingin makan. Pikiran kacaunya membuat nafsu makan Jiasa hilang, bahkan perutnya mendadak kenyang sejak siang hari.


" aku gak laper, Ma. Kayanya malam ini gak makan malam deh. gak apa-apa kan, Ma. Kalau Mama sama Papa cuma makan malam berdua " kata Jiasa, berharap ibunya langsung mengangguk.


setelah mengucapkan kalimat itu, Jiasa melihat Ibunya yang menautkan alias, bahkan kini Jiasa mendengar helaan nafas Farah.


" ya udah kalau gitu, tapi kalau perutnya udah kerasa laper langsung kebawah ya cari makanan, kamu itu kan suka kebiasaan menunda lapar meskipun perut udah mulai terasa perih, apa lagi kalau udah ngedrakor, pasti gak mau keaganggu. "


Jiasa terkekeh, kemudian menganggukkan kepala.


" ya udah, Mama kebawah lagi ya, kasian Papa dari tadi nunggu. "


Jiasa kembali mengangguk, Farah sungguh-sungguh dengan ucapannya, ia melangkah pergi meninggalkan Jiasa yang kini sudah mulai menutup kembali pintu kamarnya.


Di dalam kamar masih di tempat yang sama, perlahan tubuh Jiasa mulai merosot kebawah, ia pun kini terduduk di lantai. Jiasa menekuk kedua lutunya, dengan kedua lengan yang ia letakan di atas kedua lututnya, Jiasa mulai menenggalamkan wajahnya di atas lututnya.


..


Tak banyak. hanya ada Raya, Lani, Bi Minah, dan juga Pak Asep suami Bi Minah.


hal seperti ini jugalah yang membuat Art di rumah Lani betah.


Raya selalu mengajak Bi Minah dan Pak Asep untuk ikut makan malam bersama.


" Lan " panggil Raya, semua mengalihkan atensinya menatap Raya, mereka penasaran apa yang akan Raya sampaikan kepada putranya itu.


" apaan " sahut Lani, terdengar cuek bagi orang yang pertama kali mendengarnya. Tapi untuk keluarga Lani, hal seperti ini sudah biasa.


" Jiasa itu cantik ya " celetuk Raya, sontak semua yang ada di meja makan membulatkan matanya.


" Jiasa siapa Bu. Pacarnya den Arlan ? " tanya Bi Minah menggoda Lani yang duduk tepat di seberangnya.


Mata Lani kembali membulat, matanya menatap tajam kearah Bi Minah, kemudian Lani memberi Bi Minah dengusan.

__ADS_1


Bukannya merasa segan karena respon Lani seperti itu, Bi Minah malah terkekeh.


" kalau masalah itu gak tau deh, Bi. Coba tanya sama Arlan nya. Tapi, dulu Arlan pernah minta lamarin sih "


Lagi mata Lani melebar untuk kesekian kalinya, pernyataan Ibunya ini sudah tidak terduga. Benarkan Lani pernah berkata demikian, kapan dan dimana ?.


" apaan sih, Bu. Kapan Arlan ngomong kaya gitu ? "


Tiga orang dewasa yang saat ini tengah bersama Lani mencibir.


" dih, so so'an amnesia, bilang aja kalau den Arlan lagi malu sekarang " Pak Asep pun ikut bersuara.


" apaan sih Pak Asep ikutan aja " kata Lani, kembali mendapat cibiran dari Pak Asep.


" dulu kamu pernah ngomong kaya gitu, cuma Ibu gak setuju. Tapi, pas tadi ngeliat Jiasa, Ibu jadi berubah pikiran. Ibu mau deh lamarin dia buat kamu " seru Raya terdengar begitu semangat.


Lani mengerutkan dahinya.


" kok den Arlan ekspresinya biasa aja, kaya gak seneng gitu. ? " Heran Bi Minah, karena ekspresi Lani tidak menunjukkan jika ia senang dengan godaan Ibunya.


" itu mah pura-pura aja, dalam hati udah teriak-teriak " kata Pak Asep, dan sukses membuat Raya dan Bi Minah tertawa.


Lani memutar bola matanya malas, untuk dulu mungkin ia akan berteriak senang. Tapi untuk sekarang, entah lah Lani pun tak tahu harus bagaimana menyikapinya.


" Ibu restuin kamu sama dia, Ibu juga pasti lamarin dia buat kamu. Tapi, nanti. Bukan sekarang ataupun besok, sekolah dulu yang bener, penuhi dulu keinginan Ayah kamu. Ayah itu mau kamu sukses, mau kamu juga di panggil timnas, jadi kamu harus berusaha wujudin itu semua. "


Lani menghela nafas, sendok yang ia pegang diletakan ke atas piring dengan cukup kasar. Seketik nafsu makannya hilang, Kalimat-kalimat yang diucapkan Raya sukses menusuk lerung hatinya.


Mewujudkan keinginan Ayah, apa Lani bisa ? Setelah satu hal ia lakukan bersama Jiasa.


Bagaimana jika nanti orang tua Jiasa datang mengetuk pintu dan meminta pertanggung jawaban kepada Lani ? Apa Raya akan menerima ?.


tarik nafas dalam, kemudian keluarkan dengan kasar. Lani mulai membuka mulutnya untuk bicara, " dapetin Jiasa susah, Bu. " kata Lani, semua mengerutkan dahi menunggu kelanjutan ucapan Lani yang terjeda.


" saingannya berat, ada Tedia di hati Jiasa. " kata Lani final, kemudian dia beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan.


Satu hal yang baru saja mereka dengar membuat ketiganya terkejut, bahkan Bi Minah sampai menutup mulutnya tak percaya.


kepala Raya mendadak pusing, ia menatap punggung putranya yang terus menjauh dengan hati yang tak karuan.

__ADS_1


" berat, benar-benar berat. Udah kaya lagu Bang Haji Roma, cinta segi tiga. " celetuk Pak Asep.


Bi Minah merespon dengan memukul pelan lengan Pak Asep, sedangkan Raya hanya diam dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


__ADS_2