LABIRIN

LABIRIN
101


__ADS_3

Yoga melirik ke samping, ke arah seseorang yang saat ini berbaring di sampingnya.


Dia mendecakan lidahnya, ketika melihat Tedia hanya diam berbaring dengan satu lengannya yang bertengger di atas dahi.


Seketika Yoga keluar dari game yang tengah ia mainkan di ponselnya, kemudian Yoga merubah posisi tubuhnya menjadi duduk, lalu menatap Tedia yang tetap dalam posisinya.


Yoga meletakan ponselnya asal di sisinya, kemudian ia bersuara dan memanggil Tedia.


" Di .. "


Tedia tak merespon, ia tetap pada posisinya.


helaan nafas kasar Yoga hembuskan, kemudian ia kembali memanggil sahabatnya itu.


" Dia .. " nada suaranya lebih tinggi dari yang pertama.


Berhasil, Tedia mulai bergerak dengan menjauhkan lengannya dari atas dahinya, kemudian Tedia membuka matanya, lalu ia menggerakan kepalanya menoleh ke arah Yoga yang tengah duduk menatapnya.


" apaan ? " katanya, balik bertanya.


Yoga kembali mendecakan lidahnya, kemudian ia kembali menghela nafas. " lu kenapa diem aja sih, pake acara pura-pura tidur lagi, kalau lu emang ngantuk gue mau pulang. Inget ya, yang ngajak gue ke sini kan elu. "


Tedia membuang padangannya, ia kini menatap langit-langit kamarnya.


Yoga menggelengkan kepala melihat bagaimana Tedia saat ini. Sebagai orang yang mengenal Tedia cukup lama, Yoga tentu saja tahu jika sahabatnya itu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


" gue kira lu udah move on, ternyata masih sama, gue sadar dan tau kalau gue itu gak ada hak buat larang elu. Tapi, posisi sekarang itu gak memungkinkan buat dukung apa yang elu inginkan. Susah emang Di, buang rasa yang hampir terbalas, tapi elu gak bisa memaksa kehendak. Semua udah ada yang ngatur, Dia. "


Tak menjawab, Tedia justru memijat pangkal hidungnya. Yoga kembali menghembuskan nafas kasarnya.


" gue balik dulu deh, lu mending lanjut tidur deh, biar otak lu berfungsi dengan baik lagi. jangan sampai karena galau lu datang lagi, terus otak lu yang jahat itu punya ide lebih buruk dari yang dulu. "


Yoga turun dari kasur besar milik Tedia, ia masih berdiri di sisi tempat tidur sembari menatap Tedia yang diam membisu sembari menatap langit-langut kamarnya.


Yoga menggelengkan kepala, kemudian ia meraih ponselnya dan tasnya yang ia letakan di atas meja belajar Tedia.


Yoga menyampirkan tasnya di salah satu bahunya, lalu ia kembali menatap Tedia. " gue balik ya "


Pamit Yoga, tanpa menunggu jawaban ia segera melangkah keluar dari kamar Tedia.


Yoga melangkah tanpa ragu, ia benar-benar ingin pulang.


dalam langkahnya menuruni anak tangga, Yoga tak sengaja berpapasan dengan Ria.

__ADS_1


" lho, Kamu mau kemana ? " tanya Ria pastinya.


Yoga tersenyum. " pulang, Ma. Lagi pula kayanya Tedia udah ngantuk banget deh, jadi aku mau pulang aja. "


Ria tersenyum, kemudian ia mengelus dengan lembut bahu Yoga. " hati-hati ya, salam buat Mama Sarah "


Dengan senyum, Yoga menganggukkan kepalanya.


Setelah berpamitan dengan Ria, Yoga melanjutkan langkahnya untuk pulang dari rumah Tedia.


Ria menatap Yoga yang kini mulai keluar dari rumahnya. Setelah Yoga tak terlihat, Ria menghela nafas, lalu ia pun melanjutkan langkahnya yang tadi tertunda.


Kamar milik putranya tak tertutup rapat, Ria yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Tedia, dapat melihat Tedia yang sedang berbaring dari celah pintu.


Dengan ragu tangan Ria bergerak hendak mengetuk pintu. Tapi, hal itu urung di laksanakan.


Ria kembali memperhatikan putranya, kemudian ia menhembuskan nafas kasarnya, lalu dengan penuh keyakinan Ria mendorong pintu kamar Tedia kemudian masuk.


" Tedia .. " panggil Ria.


Tedia yang memang tidak tidur, mendengar dan akhirnya bangkit.


seketika Tedia terkejut melihat raut wajah ibunya yang terlihat tidak baik-baik saja.


" kenapa, Ma.? " tanya Tedia panik.


Tedia mengerutkan dahi, menunggu sang Ibu yang sepertinya akan menyampaikan satu hal.


" kamu udah tau belum ? "


" apa ? " sahut Tedia, raut wajahnya semakin penasaran.


" Arlan "


Mendengar nama Lani di sebut, Tedia memutar bola matanya malas. " kenapa lagi sih tuh bocah ? Perasaan demen banget nyari sensasi "


Ria mendecakan lidah akan respon yang di berikan putranya " kali ini bukan sensasi "


" ya terus apaan kalau bukan sensasi " Tedia semakin jengah karena sang Ibu terkesan bertele-tele.


" Mama dapat kabar kalau Arlan sama Ibunya mau kembali ke Amerika. "


Seketika mata Tedia membulat, bahkan tubuhnya yang tadi bersandar di kepala ranjang kini ia tegakan.

__ADS_1


" kata siapa ? Mama jangan bercanda deh. "


" Mama serius, Dia. Mama gak sengaja ketemu Ibu nya Arlan. Dia kaya lagi ngurusin sesuatu gitu, dan saat Mama tanya, tertanya jawabannya dia dan Arlan mau pulang " Ria menjelaskan dengan wajah memberengut.


Tedia semakin terkejut " Ma tolong jangan bercanda, Ma. " Tedia masih tidak yakin.


" Mama gak bercanda Tedia Al Malik "


Tedia kembali menyandarkan punggungnya. Ia memejamkan matanya dan menghela nafas kasar. Setelah merasa lebih baik, Tedia kembali menatap sang Ibu.


" terus mereka perginya kapan ? "


" selesai ujian kenaikan kelas. Mama bilang, nangung sebentar lagi kelas tiga, kenapa gak nunggu lulus aja. Raya jawab kalau Lani gak mau nunggu, Lani pengen cepet- cepet tinggal di negara asalnya. "


Tedia menarik kasar rambutnya kebelakang, tiba-tiba ia ingat dengan moment perkumpulan mereka ketika di sekolah. Tedia ingat tidak ada nama Lani dalam list itu, mata Tedia melebar. Kini ia tahu jawabannya.


Melihat ekspresi putranya, Ria memelas " mama gak nyangka kalau efeknya bakal besar banget, Arlan sampai mau pergi jauh supaya bisa lupa sama semuanya "


Tedia tak menyimak, ia sibuk dengan pikiran lain, ya itu Lani. Tiba-tiba Tedia turun dari kasurnya, lalu Tedia melangkah dengan terburu menuju sofa yang ada di kamarnya.


Tujuan Tedia adalah ponselnya yang ia letakan di atas sofa,


Ria hanya diam memperhikan Tedia yang mulai memainkan jari-jarinya di atas layar ponsel.


Tedia menempelkan ponselnya di telinga, kini ia diam menunggu seseorang menjawab telephonenya.


Decakan lidah Tedia terdengar kala panggilan itu tak terjawab, dengan raut wajah yang sulit di artikan Tedia kembali mencoba untuk menghubungi seseorang di seberang sana.


" Hallo .. Dimana lu ? " kata Tedia ketika sambungan telephonenya terjawab.


" tunggu di situ, gue kerumah elu sekarang, ada hal penting yang mau gue omongin " kata Tedia lagi.


Ria mengerutkan dahi, ia penasaran dengan siapa putranya itu berbicara.


Usai berbicara melalui telephone, Tedia menghampiri sang Ibu.


" Dia, mau kerumah Arlan, Ma."


Ria membulatkan mata.


" Dia mau mastiin omongan Mama itu bener atau cuma bohong " kata Tedia lagi.


Ria menghela nafas, ia kemudian bangkit daj berdiri.

__ADS_1


" sama seperti kamu, Mama juga kaget. Tapi, apapun nanti keputusan Arlan, Mama yakin itu yang terbaik buat semuanya " kata Ria tersenyum lalu mengusap pelan lengan putranya, kemudian Ria melangkah pergi dari kamar putranya.


Tedia memperhatikan punggung sang Ibu yang kini sudah tak terlihat. setelah itu Tedia memejamkan mata lalu menghembuskan nafas kasarnya.


__ADS_2