LABIRIN

LABIRIN
25


__ADS_3

Setelah mengantar Jiasa pulang ke rumah dengan selamat, Tedia pun memilih pulang ke rumahnya. Tak ada acara mampir, ia ingat dengan nasehat ayahnya, ia juga ingat dengan seleksi timnas yang sedang direncanakan, dan yang paling penting Tedia ingat dengan hukumannya. Ia tak mau hukumannya di tambah, karena itu bisa membuat Tedia semakin lama mendapatkan motornya kembali.


Hanya tinggal beberapa meter lagi maka rumah Tedia akan segera terlihat. Tedia melajukan motor Lani dengan santai, tak lama ia harus menghentikan laju motor yang ia kendarai ketika ponselnya berdering.


Tedia mengeluarkan ponselnya yang ia simpan di saku hoddynya. Ia mengerutkan dahi ketika nama Yoga tertera di layar ponselnya. Bergegas Tedia menjawab panggilan telephone dari Yoga.


" apaan .. ? " tanya Tedia tak mau berbasa-basi.


Decakan lidah Yoga terdengar di telinga Tedia.


[ " lu dimana anjiir ? gue udah di rumah lu nih " ] diseberang sana Yoga berbicara.


Tedia menjauhkan ponselnya dari telinga, ia melihat layar ponselnya sejenak, kemudian ia kembali menempelkan ponsel itu ketelinganya " gue di jalan, tungguin aja, gak nyampe 5 menit kok .. "


[ " ok .. " ] sahut Yoga tentunya.


Setelah mengakhiri sambungan telephone antara dirinya dan Yoga, Tedia kembali menyimpan ponsel miliknya di saku hoddy. Kemudian Tedia kembali menghidupkan mesin motor yang ia kendarai. Setelah itu Tedia melajukan motor itu menuju rumahnya yang sebentar lagi terlihat.


Benar apa kata Tedia, tak butuh waktu lebih dari 5 menit. Kediamannya kini sudah terlihat. Tedia masuk ke dalam halaman rumahnya. Di teras rumah, Tedia melihat Yoga yang tengah bermain catur bersama Pak Adul.


" skakmat den .. " kata Pak Adul, Yoga melongo. Tedia yang baru saja memasukan motor Lani ke dalam garasi menggelengkan kepala melihat sikap berlebihan temannya itu ketika di kalahkan oleh Pak Adul.


" bapak curang ya .. " Yoga tak terima dan mulai berbicara yang tidak-tidak.


" mana ada, kan dari tadi den Yoga merhatiin .. " elak Pak Adul


Yoga yang tak terima masih menatap tak percaya. Kemudian Yoga menunjukan ekspresi bingung.


" gak usah kaya gitu muka lu, jelas lu kalah. Inget lu tuh atlet sepak bola, bukan atlet olahraga catur .. "


Yoga dan Pak Adul mengalihkan atensinya ke arah Tedia yang kini berdiri di samping Yoga.


" udahan maennya ayo masuk .. " kata Tedia.


Yoga menganggukkan kepala " udahan dulu ya pak .. Kapan-kapan kita maen lagi "


Kini Pak Adul yang mengangguk. Yoga beranjak dari duduknya. Bersama Tedia, ia masuk ke dalam rumah temannya itu.


Sementara itu pak Adul kembali merapihkan catur yang tadi di gunakan untuk bermain.


" lu kemana dulu Di , kok baru balik ..? " tanya Yoga, keduanya kini sudah berada di depan kamar Tedia.


Tedia tak menjawab, ia memilih membuka pintu kamarnya.


Begitu pintu terbuka lebar, kondisi kamar Tedia gelap.


Perlu diketahui, Tedia selalu meninggalkan kamarnya dalam keadaan lampu mati.


Tedia melangkah masuk ke dalam kamar, Yoga mengikuti.


Kemudian Tedia menekan saklar dan detik berikutnya kamar yang gelap berubah terang.


Yoga segera membaringkan tubuhnya di atas kasur milik Tedia, sedangkan Tedia memilih masuk ke dalam kamar mandi.


Di tinggal sendiri, Yoga tak terlalu perduli, toh ia tahu apa yang tengah di lakukan Tedia di dalam kamar mandi. Ya, Tedia butuh membersihkan tubuhnya lebih dulu.


Beberapa menit kemudian, Tedia keluar dari kamar mandi dalam keadaan begitu segar. Rambut yang basah ia keringkan dengan handuk kecil miliknya.


Yoga sendiri masih asik berbaring dengan memainkan ponselnya, ia tidak terusik dengan suara Tedia yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Tedia sudah segar, ia sudah berganti pakaian sebelum keluar dari kamar mandi dengan setelan kaos polos dan celana pendek. Kemudian Tedia mendekati Yoga, Tedia naik ke atas tempat tidurnya, ia duduk bersila menghadap Yoga. Handuk yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambut ia kalungkan di lehernya.


" ngapain lu kesini ..? " tanya Tedia.


Dalam posisi berbaring, Yoga melirik Tedia sekilas, tapi kemudian matanya kembali di fokuskan pada layar ponselnya.

__ADS_1


Tedia mendesah pelan. Sedikit kesal karena Yoga mengabaikannya. Tedia berniat kembali bersuara. Tapi, niatnya urung terlaksanakan karena tiba-tiba saja Yoga melontarkan satu pertanyaan.


" elu darimana, kok baru nyampe ..? " Yoga bertanya, mata tak lepas menatap ponsel yang ia mainnya.


Tedia terdiam, ia seolah kehilangan jawaban yang ingin ia jadikan sebagai alasan.


Tak mendapat jawaban, Yoga kembali melirik Tedia, dilihatnya ekspresi wajah Tedia yang terlihat sulit diartikan.


" lu balik sendiri apa .. "


" gue bareng Jiasa .. " potong Tedia, Yoga menoleh, raut wajahnya tak menunjukan jika ia terkejut.


" kok bisa ..? "


Tedia mendesah pelan " tadinya Lani yang mau nganteri, tapi tiba-tiba ibu nelephone dia nyuruh Lani jemput sodaranya .. "


Masih dalam posisi berbaring Yoga mengangguk-anggukan kepalanya " kalian kemana dulu ..? "


" siapa ? " Tedia bingung.


" elu sama Jiasa, ya kali gue sama Oca... " sahut Yoga gemas, kenapa sih Tedia itu tak pernah bisa menangkap cepat arti dari pertanyaan yang ia lontarkan.


Yoga bangkit, kini ia duduk berhadapan dengan Tedia.


" kalian berdua kemana dulu ..? " tanya Yoga lagi.


" pasar malem .. " sahut Tedia.


Yoga membulatkan matanya, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya " siang bolong lu ke pasar malem .. Liat apaan lu di sana ..? "


Mendengar itu Tedia mendengus. Bahkan ia mengerucutkan bibirnya.


" biarpun belum malem , tapi tempat tadi rame lho. Lu tau kaga, gue dapat boneka terus gue kasihin ke Jiasa .. " cerita Tedia begitu antusias.


Seketika wajah Tedia berubah, tak lama kepalanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan yang Yoga lontarkan.


Melihat anggukkan Tedia, Yoga kembali tersenyum tipis " baru sekedar nyaman apa udah ada rasa yang lain .. ? "


Tedia menghela nafas, ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur hingga Tedia yang tadinya duduk kini berbaring.


Yoga menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Tedia " inget Lani. Di, lu tau kan gimana usaha dia buat nemuin Jiasa .. "


Tedia bangkit, ia kembali duduk dan kini menatap Yoga dengan mata mendelik " iya gue tau .. Lagi pula gue baru sekedar nyaman, belum nyampe ke tahap lebih .. "


Yoga terkekeh " ya kita kan gak tau kalau besok .. "


Tedia berdecih " sialan lu .. " umpat Tedia kemudian ia mencebikkan bibirnya.


Bukan hanya sekedar terkekeh, Yoga kini tertawa. Tak lama tawa Yoga terhenti, Dan hal itu membuat Tedia bergidik ngeri. Pasalnya Yoga jika tengah terlihat serius dia bisa-bisa sangat menyeramkan.


" gue paham kok, menurut gue rasa yang sekarang lu alami wajar-wajar aja .. Cuma lu juga harus inget kalau ada Lani di satu celah antara lu dan Jiasa. Emang sih antara Lani dan Jiasa belum ada ikatan apapun terlebih kita aja belum lama kenal sama dia .. Inget Di, jangan sampai karena adanya cewek yang kalian suka persahabatan yang udah lama jadi ancur .. " panjang lebar Yoga mulai berbicara mencoba menasehati Tedia, Tedia yang mendengar menundukan wajahnya.


" gue gak akan nyuruh lu jauhin Jiasa cuma buat Lani, gue bakal dukung kalian berdua kok, tapi inget bersaing secara sehat, jangan sampai lu ngelakuin hal yang bisa ngerugiin Jiasa, Lani atau bahkan diri lu sendiri, terus kalau nanti Jiasa udah nentuin hatinya buat siapa, please terima lapang dada, anggap dia bukan jodoh lu .. " Yoga kembali berujar menasehati.


Tedia menghela nafas " iya gue paham .."


" paham apa ..? " Yoga menaikan alisnya.


Tedia memutar bola matanya malas " yang lu omongin tadi .. "


" bersaing secara sehat .. "


Tedia menganggukan kepala, Yoga tersenyum kemudian menepuk bahu Tedia pelan.


" gue mau tanya, kok bisa jadi lu yang baper sendiri sih .. ? "

__ADS_1


Tedia mendecakan lidah, sembari menatap jengkel Yoga, Tedia turun dari atas tempat tidurnya.


Ia berjalan menuju kamar mandi, bukan untuk masuk ke dalam kamar mandi, tapi ia menggantukkan handuk kecil yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


Tedia kembali melangkah mendekati Yoga, dan kini Tedia sudah berdiri di hadapan Tedia.


Yoga menautkan alisnya, seolah memberitahu Tedia jika ia meminta jawaban akan pertanyaannya.


Tedia yang peka mendesah pelan, ia kembali melangkah dan kemudian duduk di sisi tempat tidur. Tedia mendongkak menatap langit-langit kamar yang menurutnya tidak terlalu penting.


" gue jga gak tau kenapa gue sendiri yang jadi baper, karma kali buat gue .. "


Yoga terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.


Mendengar kekehan Yoga, Tedia mendengus sinis " kok lu bisa peka sih .. ? "


Yoga tergelak " kan gue merhatiin "


" rajin amat.. " kata Tedia tak habis pikir dengan kerajinan temannya.


" gue gak sengaja liat Jiasa merhatiin lu .... Gue perhatiin kok tatapan Jiasa sama lu tuh beda, terus gue juga sering merhatiin kalau lu lagi baperin Jiasa, cara lu mandang Jiasa itu beda, Di. " ujar Yoga yang diam-diam memperhatikan tingkah keduanya. Yoga menatap Tedia yang tengah menatap kosong ke arah sprei tempat tidurnya. Yoga yakin jika Tedia saat ini tengah memikirkan sesuatu.


Yoga menghela nafas pelan " pokoknya gue gak akan halangin lu ataupun Lani untuk deketin Jiasa, yang gue pinta cuma satu jangan sampai persahabat kita ancur cuma gara-gara satu cewek " Yoga menepuk pelan bahu Tedia, sontak Tedia menoleh ke arahnya.


" inget ya kata-kata gue .. " peringatan diberikan oleh Yoga, sempat berpikir. Tapi, pada akhirnya Tedia mengangguk pelan.


Yoga kembali bermain dengan ponselnya, ia membiarkan Tedia sibuk dengan pikirannya. Tak lama terdengar notif pesan dari ponsel Tedia. Bergegas Tedia mengambil ponsel yang ia letakan di atas nakas. Tedia menghidupkan ponselnya. Yoga diam-diam memperhatikan.


Tedia mendesah pelan " Jiasa ... " kata Tedia menunjukan ponselnya pada Yoga.


" apa katanya ? "


" lu baca aja sendiri " sahut Tedia, Yoga mendengus kemudian merampas ponsel Tedia. Selanjutnya Yoga membaca pesan yang Jiasa kirimkan.


Tak lama Yoga terkekeh pelan " kayanya dia makin ada hati sama lu .. "


Tedia kembali merampas ponselnya, ia tersenyum tipis, kemudian jarinya bergerak di atas layar ponsel.


Yoga menaikan kedua alisnya, ia tahu Tedia tengah membalas pesan Jiasa.


" lu gak akan bilang sama siapapun kan Ga ..? " tanya Tedia matanya hanya fokus ke layar ponsel.


" gue jadi temen lu bukan setahun dua tahun, dari jaman SMP apa pernah ada satu rahasia lu yang bocor ? Enggak kan ? "


Tedia terkekeh mendengar penuturan Yoga. Ya, meski ia sangat dekat dengan Lani bahkan sudah seperti keluarga. Tapi, untuk urusan hati, Tedia memilih Yoga sebagai teman berbagi cerita.


Yoga merenggangkan otot tubuhnya, kemudian ia melihat arloji di pergelangan tangannya " gue balik ya .. "


" gak nginep lu ..? "


Yoga terkekeh " lain kali deh .. " kata Yoga kemudian turun dari kasur Tedia.


Bersama Tedia, kini Yoga berjalan menuruni anak tangga.


Dibawah, tak sengaja mereka melihat Ria yang sibuk dengan televisi.


" ma .. Yoga pulang ya .. " pamit Yoga menyalami dan mencium punggung tangan Ria.


" iya .. Hati-hati ya .. Salam buat mama kamu, bilang sama mama sarah, pokoknya minggu depan harus datang .. "


" minggunya aja masih lama mama, besok aja masih senin .. " kata Yoga


Ria terkekeh " gak apa-apa .. Biar dia gak lupa .. "


Yoga menghela nafas, sedangkan Tedia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2