
Pukul 18.30 sesuai dengan waktu yang di rencanakan, pihak keluarga Lani yang di wakili oleh Malik dan yang lainnya pergi menuju rumah Jiasa.
Dalam perjalanan, Tedia terua fokus dengan ponselnya. Yoga yang bertugas mengendarai mobil sesekali melirik sekilas ke arah Tedia.
Dengan kepala yang begitu santai bersandar pada sandaran kursi, jari-jari Tedia begitu lihai menari di atas layar ponselnya.
" kita lagi di jalan " satu pesan Tedia kirimkan, tentu saja itu kepada Jiasa.
Tak lama satu balasan Tedia dapatkan
[ ya ]
Singkat, tapi itu sudah cukup buat Tedia. Tedia menghela nafas kasar, ponselnya kini sudah redup, layarnya menjadi gelap. Masih dengan posisi yang sama, kini Tedia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
Pikirannya kalut, ia sudah jahat. Tapi, ia tak bisa bersikap ikhlas untuk melepas Jiasa begitu saja.
Tedia sudah terlanjur terkunci dalam labirin hati milik Jiasa, ia sudah berkali-kali berusaha mencari pintu keluar agar bisa keluar dari labirin hati Jiasa. Tapi, hasilnya nihil. Menurut Tedia, Jiasa terlalu pandai menyembunyikan kunci. Alhasil, dia pun terjebak dalam situasi yang salah.
" Di, kenapa lu ? " tanya Yoga, matanya sekilas melirik Tedia. Tapi tak lama kembali fokus pada jalanan.
" udah lah, Di. Lupain Jiasa, dia itu jodohnya Lani. " celetuk Zaki yang duduk di kursi belakang.
Tedia menoleh ke belakang, tapi tak lama ia kembali menatap ke depan. menarik nafas dalam, kemudian Tedia menghembuskan dengan kasar melalui mulutnya.
" lu bisa ngomong gitu karena lu gak ada di posisi gue, coba lu yang ngerasain. Mungkin lu udah bunuh diri " sesuatu yang Tedia pendam kini ia ungkapkan. Zaki membulatkan mata, sedangkan Yoga mencoba mengontrol dirinya di balik rasa terkejutnya.
Saat ini Yoga sedang mengendarai mobil, jadi ia harus fokus. Jangan sampai acara lamaran kerumah Jiasa menjadi acara perawatan di rumah sakit.
Yoga menghela nafas, " terus lu mau gimana, mau ngikutin lagunya irwansyah yang judulnya ku tunggu janda mu "
" iya " sahut Tedia begitu yakin.
Yoga yang lagi-lagi terkejut kembali melirik Tedia, tapi hanya beberapa detik, karena ia harus kembali fokus pada kemudinya.
" wah gak waras lu, terus lu doain Lani mati gitu " Kata Zaki gemas ingin mencakar Tedia karena tak habis pikir dengan keinginan Tedia.
" enggak juga, gak mungkin lah, gue doain sahabat gue sendiri mati. " sahut Tedia terlihat begitu santai menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan untuknya.
__ADS_1
" terus lu mau ngapain " Yoga jengah.
" gak ngapa-ngapain, udah deh fokus aja nyetir " kesal Tedia pada akhirnya.
Zaki dan Yoga memilih diam.
Dengan Tedia yang berperan sebagai petunjuk jalan, akhirnya dua mobil yang membawa rombongan perwakilan dari keluarga Lani tiba di rumah Jiasa.
Tak ada senyum ramah saat mereka datang,. Penghuni rumah menyambut dengan begitu dingin.
Faktor sakit hati yang sudah membuat keluarga Jiasa bersikap demikian.
Semua saling berjabat tangan, dan tiba giliran Tedia menjabat tangan Fadil.
Jabatan itu tak terlepas untuk beberapa detik, Tedia dan Fadil saling tatapan, bahkan Fadil menatap Tedia dengan tatapan yang sulit di artikan.
Yoga dan Zaki yang menyadari saling tatap.
Dua keluarga sudah berkumpul. Dari perwakilan Lani ada Malik, Deri, Marsel, Tedia, Zaki, dan Juga Yoga. Sementara dari keluarga Jiasa ada Fadil, Farah, Fani, dan muntas ayah Jennie. Ada juga dokter Diana dan Jennie yang ikut bergabung.
" kita udah gak bisa berbicara apapun lagi, kata Maaf pun gak akan bisa merubah semuanya. Yang sudah hancur sudah tidak bisa di satukan, bahkan dengan alat perekat super sekaligus. " Fadil berkata menatap mata Tedia, hanya sejenak kemudian kembali menatap Malik dan melanjutkan kalimatnya.
" kalian tinggal sebutkan saja tanggal pernikahannya, lalu mulai siapkan karena kami tak ingin repot dan di buat lelah dengan acara yang terpaksa ini "
Malik terkekeh kecil, kalimat yang di ucapkan Fadil terkesan angkuh dan ingin membebankan semuanya pada pihak Lani. Tapi Malik tak membantah, ia tahu rasa kecewa dan kesal yang dirasakan oleh Fadil.
" baiklah, saya akan mengurus semuanya. Karena umur mereka yang masih di bawah umur, dengan begitu pernikahan Lani dan Jiasa hanya di lakukan secara sirih. nanti setelah umur mereka memenuhi syarat maka saya akan bergegas mendaftarkan pernikahan mereka. "
" terserah bapak saja, yang penting bagi saya masa depan putri saya. " sahut Fadil.
Malik menganggukkan kepala. Meski di sambut dengan tidak baik, Malik terima dengan lapang.
Ketika semua yang ada di ruang tamu sibuk mendengarkan percakapan Fadil dan Malik, Tedia ternyata sibuk dengan ponselnya.
Dia diam-diam mengirim pesan kepada Jiasa tentang pembahasan pertemuan malam ini.
" pernikahan akan segera di laksanakan. Persyaratan pun akan segera di ajukan. Selamat ya ji. " pesan terkirim, kemudian tak lama di baca oleh Jiasa.
__ADS_1
Tedia tersenyum miris, semakin miris ketika tak ada balasan dari Jiasa.
Tedia yang menunggu balasan akhirnya menyerah, ia membiarkan ponselnya dan kini fokus mendengarkan seperti yang lain.
Tak lama derap langkah seseorang yang menuruni tangga terdengar. Meski mendengar, Tedia tak mau mengalihkan perhatiannya. meski malas, ia tetap menyimak percakapan itu.
Hingga akhirnya, satu suara membuat fokus semua orang yang ada di sana teralihkan.
" pa " suara Jiasa, ia kini berdiri di anak tangga sembari menatap sendu ke arah kumpulan orang yang ada di ruang tamu.
" Jia .. " panggil Tedia lirih.
Jiasa mengedarkan pandangannya, tak lama matanya bertemu pandang dengan Tedia. Tedia pun menatap Jiasa, keduanya saling tatap.
Tak melepas tatapannya pada Tedia, Jiasa kembali bersuara " aku gak mau menikah sama Lani, Pa. "
Semua terkejut seketika. Bahkan Zaki yang tidak sedang minum sampai tersedak.
kecuali perwakilan Lani, semua perwakilan keluarga Jiasa berdiri. Menatap terkejut ke arah Jiasa.
Farah bahkan sampai menghampiri Jiasa, ia mencoba membuat Jiasa tenang.
" Jia kamu " kata Farah.
Jiasa menatap Ibunya, tapi tak lama kembali di alihkan.
" aku gak mau menikah sama Lani. " seru Jiasa dari sorot matanya tak mau di bantah.
Tapi hanya angan, Fadil menyahuti.
" Jiasa kamu apa-apain, mau bayi kamu lahir tanpa ayah. "
Jiasa menggelengkan kepala, tentu saja ia tidak ingin bayinya lahir tanpa figur seorang ayah. Tapi, Jiasa tidak mencintai Lani.
" aku gak mau nikah sama Lani, yah. " kata Jiasa lagi.
Tedia yang menundukkan kepalanya, diam-diam tersenyum miring.
__ADS_1