
" ARLAN .. SIALAN .. SINI LU JANGAN LARI "
Dengan tawa, Lani terus berlari menuruni anak tangga rumahnya.
Sesekali Lani menoleh kebelakang guna melihat Robi apakah sudah dekat dengannya.
" JATOH GUE MAMPUSIN " teriak Robi lagi sembari mengejar Lani.
Di lantai dasar, Raya dan Jiasa baru saja keluar dari ruang pribadi milik Raya.
Keduanya di buat terkejut dengan tingkah Lani dan Robi yang tengah kejar-kejaran bak anak TK.
Raya memutar bola matanya malas. Hal seperti ini sangat sering ia lihat ketika Robi ada di rumahnya.
" Mulai .. Mulai .. Ribut lagi, berantem lagi .. Kapan sih berhenti kaya anak TK " gerutuan Raya sukses membuat Lani dan Robi berhenti dan mengalihkan pandangannya pada Raya.
Bukan hanya Lani dan Robi, tapi Jiasa yang berdiri di samping Raya pun menoleh dan menatap Raya.
" Arlan yang mulai, Bu. Masa muka aku di tutupin handuk " adu Robi dengan wajah memelas.
Lani si tersangka mencibir Robi, dan Robi yang sadar segera memberikan Lani sebuah dengusan.
Raya menggelengkan kepalanya, dan kini beralih pada Jiasa.
" Ji, kamu udah ngasih kabar sama orang rumah kalau kamu di sini ? " Tanya Raya.
Seketika semua mata tertuju pada Jiasa, mereka menunggu jawaban Jiasa.
Dan tak lama Jiasa mengangguk pelan.
" Lan, kamu anter Jiasa ya " perintah Raya.
Lani dan Jiasa saling tatap satu sama lain.
Tak lama suara Raya kembali terdengar.
" maaf ya, Ji. Bukannya Ibu ngusir kamu. tapi ini sudah malam, ayah sama ibu kamu pasti nunggu kamu pulang "
Jiasa merespon dengan anggukan dan sebuah senyum. Tentu saja Jiasa paham, jika sebenarnya Raya bermaksud baik.
setelah mendengar perintah dan kemudian melihat Jiasa mengangguk, Lani yang berdiri di samping Robi segera mengadahkan sebelah telapak tangannya pada Robi.
Robi yang melihat mengerutkan dahi " ngapain tuh tangan, minta duit ? "
Lani menatap datar Robi, kemudian Lani memberi Robi dengusan kasar " gini nih kalau gaulnya sama modelan Tedia dan kawan kawan, Lemot. Kunci mobil mana ? " kata Lani
Robi mencibir " dih, lu pikir gue pembantu lu, ambil sendiri " kata Robi, kemudian melangkah pergi.
Lani membulatkan matanya. berbeda dengan Lani, Jiasa menggelengkan kepala sembari terkekeh. Lalu Raya ? Iya mendengus kemudian menggelengkan kepalanya, kesal.
" pake mobil Ibu, tuh kuncinya ada di atas meja "
Lani segera mengalihkan pandangannya ke tempat yang Raya sebutkan. Tak lama bibir Lani tersenyum, kemudian ia melangkah mendekati meja, lalu meraih kunci mobil itu.
" yuk Ji. " kata Lani, lalu berjalan lebih dulu.
" aku pulang ya, Bu. Maaf ngerepotin " pamit Jiasa mencium punggung tangan Raya.
__ADS_1
Keduanya benar-benar terlihat seperti tidak pernah terjadi hal apapun.
Lani melangkah di depan, lalu Jiasa mengikuti dari belakang.
Keduanya pun menjadi perhatian Raya dan Robi, kemudian muncul Bi Minah dari arah dapur dan juga memusatkan perhatiannya pada dua remaja yang kini sudah keluar dari rumah megah milik keluarga Lani.
Robi perlahan mendekati Raya, lalu ia berdiri di samping Raya. Robi memperhatikan Raya yang masih menatap ke arah pintu meski Jiasa dan Lani sudah tak terlihat.
" Bu " panggil Robi
Raya menoleh, ia menatap Robi sembari mengerutkan dahinya.
" kenapa mereka di biarin berdua malem-malem " kata Robi.
Raya menyipitkan matanya, Robi pun tersenyum penuh arti " Ngeri, Bu. Takut lahir anak kedua " celetuk Robi kemudian bergegas lari sebelum telinganya jadi sasaran empuk Raya.
sembari berlari cepat menaiki anak tangga, Robi pun mendengar teriakan Raya.
" ROBIIIIIIII .. SINI KAMU, TELINGA KAMU BELUM KENA JEWER HARI INI .. "
Di lantai atas, Robi tertawa terbahak.
Hening.
Tidak ada percakapan, satu hal yang menggambarkan suasana di dalam mobil yang tengah Lani kendarai.
Sesekali Lani melirik Jiasa yang sibuk dengan ponselnya, ingin memulai percakapan tapi Lani merasa bingung memulai dari mana.
Lani kembali fokus pada jalan, Jiasa pun masih sibuk dengan ponselnya.
Kemudian Lani kembali melirik Jiasa, tak sengaja Lani melihat dres yang di kenakan Jiasa.
Sontak Jiasa pun mengalihkan perhatiannya pada Lani, Jiasa kini menatap Lani yang fokus menatap jalanan. Lalu tak lama Lani kembali menoleh ke arah Jiasa, meski sekila, tapi saling pandang terjadi beberapa detik.
" katanya udah lama beli, cuma baru sempet ngasih " kata Jiasa yang pada akhirnya ikut bersuara.
Lani tersenyum tipis, " bukan baru sempet, sebenarnya itu dres ... " Lani menjeda kalimatnya. Ia kini diam seribu bahasa tak melanjutkan kalimat yang sengaja ia jeda.
Jiasa mengerutkan dahi, penasaran dengan kalimat Lani yang terjeda.
" sebenarnya kenapa ? " penasaran, akhirnya Jiasa pun bertanya.
Lani menoleh sekilas, lalu kembali fokus menatap jalanan. " gak kenapa-napa " kata Lani.
Jiasa menatap dengan mata menyipit, ia tahu ada yang Lani tutupi. Tapi, menyadari statusnya dan tidak mau terlalu memaksa Lani untuk buka suara, Jiasa memilih diam dengan rasa penasarannya.
Lani pun kembali diam, matanya memang fokus pada jalanan. tapi, pikiran dan hatinya ke arah lain.
Lani tahu dres yang Jiasa sekarang kenakan. Dres yang sengaja di beli Raya untuk hadiah pernikahan Lani dan Jiasa jika waktu itu Jiasa menerima Lani.
karena Jiasa menolak, Raya menyimpan dres itu.
akhirnya Lani dan Jiasa tiba di tempat tujuan, yaitu kediaman Jiasa.
Lani menghentikan laju mobilnya di depan pagar rumah Jiasa yang tidak tinggi itu.
Dapat Lani lihat kedua orang tua Jiasa yang tengah berdiri di teras rumah.
__ADS_1
Lani tahu keduanya pasti menunggu Jiasa pulang.
Bersama Jiasa, Lani akhirnya keluar dari mobil yang Lani parkir asal di depan pagar rumah Jiasa.
Dapat Lani lihat tatapan tak suka dari Fadil untuk Lani. Meski dari jarak yang tidak terlalu dekat, tapi Lani bisa merasakan tatapan itu.
Keduanya melangkah, sesekali Jiasa menoleh menatap Lani yang melangkah dengan kepala seolah enggan di tegakkan.
Jiasa paham, Lani pasti merasa takut kepada Ayahnya. Pasalnya setelah kejadian buruk itu, ini adalah pertemuan keduanya untuk pertama kali.
" Pa, Ma. " sapa Jiasa, lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Kemudian Jiasa melirik Lani yang hanya diam dengan raut wajah yang bisa Jiasa tebak. Di wajah Lani terlihat jelas sebuah keragu-raguan untuk Lani melakukan satu hal.
Di wajah Lani pula terlihat satu ke khawatiran.
kemudian dengan raut wajah itu, secara perlahan tangan Lani terulur ke arah Fadil.
Sama seperti Lani, Jiasa pun takut Fadil menolak uluran tangan Lani.
apalagi, wajah Fadil tak menunjukan jika ia menyambut baik kedatangan Lani.
Tapi, ternyata dugaan itu salah. Meski dengan raut wajah tak suka, Fadil tetap menerima uluran tangan Lani hingga Lani mencium punggung tangan Fadil.
" Maaf Om, tadi itu ... "
" Jia kamu masuk sana " belum selesai Lani bicara, Fadil sudah memotong kalimat Lani dengan memberi perintah pada Jiasa.
Lani terdiam, seketika mentalnya merasa jatuh setelah sempat di bawa terbang ketika Fadil menerima uluran tangannya.
Lani sedikit tertunduk. ia tahu, ia sadar diri jika ia pantas mendapatkan perlakuan seperti ini setelah ia menghancurkan masa depan Jiasa yang sudah di jaga mati-matian oleh kedua orangtuanya.
Mengdengar perintah Ayahnya, Jiasa tak lantas menurut. Ia kini menatap Lani dan merasa prihatin kepada Lani setelah mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari Ayahnya.
Harusnya Jiasa merasa senang, karena bisa melihat Lani tersakiti. Tapi, di sini, saat ini ia malah merasa ikut tersakiti.
" Jia .. Papa nyuruh kamu masuk, kamu gak denger " Farah mengingatkan Jiasa.
Jiasa menatap Ibunya, lalu ia pun mengangguk dan melangkah masuk tanpa menatap Lani.
Jiasa sudah berada di dalam rumah, kini tersisa Lani dan kedua orang tua Jiasa.
Lani hanya tertunduk, ia tak berani menatap Fadil.
Lani kini seolah menunggu dan pasrah dengan apapun yang akan Fadil lakukan.
Farah ikut menatap Lani, kemudian ia menoleh menatap suaminya yang tengah menatap Lani.
Lalu helaan nafas Farah terdengar " Mama masuk duluan, Pa. " katanya, Farah kemudian melangkah masuk meski tak mendapat respon dari suaminya.
Kini hanya ada dua insan berbeda usia itu.
Fadil masih menatap Lani yang tertunduk. " saya harap kamu paham dengan sikap saya malam ini " kalimat yang Fadil ucapkan untuk Lani, setelah itu Fadil melangkah pergi meninggalkan Lani begitu saja.
Lani tentu saja langsung menegakkan kepalanya. Ia paham dengan kata-kata Fadil.
Lani menghela nafas kasar, dengan hati yang kecewa Lani melangkah dan berniat pulang.
__ADS_1
Meski di perlakukan demikian, Lani tak merasa sakit hati, karena dia sadar diri, Lani merasa pantas di perlakukan demikian apalagi oleh kedua orangtua Jiasa.