
Tangan Lani bergerak ke belakang, tujuannya meja yang sekarang di tempati Yoga.
Adanya Pak Agus membuat Lani tak bisa leluasa membalikkan tubuhnya, oleh karena itu Lani hanya menggerakan tangannya.
Tangan Lani yang berada di meja milik Yoga dan Jennie terus bergerak meraba-raba dan mencari-cari sesuatu. Hingga, ia mengaduh ketika seseorang memukul lengannya.
" anjiiing .. Sakit setan " kata Lani pelan, dengan hati-hati menoleh kebelakangnya.
Jiasa yang duduk di sampingnya, menoleh. Lalu ia menggelengkan kepala menanggapi tingkah Lani.
" bukan gue, noh si Jennie " kata Yoga.
Lani mendengus, kemudian ia mendapat tatapan tajam dari Jennie.
Lani kembali berpura-pura fokus pada buku tulisnya. Lani sadar, sepertinya Pak Agus tengah memperhatikannya.
" elu nyari apaan, Lan.? " tanya Yoga. tentu saja dengan suara pelan, tapi Lani bisa mendengarnya.
" penghapus " sahut Lani.
sontak Yoga menahan tawa dengan cara menutup mulutnya, " si anjiir, anak sultan penghapus aja kaga punya " ledek Yoga.
Lani menghela napas, di situasi genting seperti ini Yoga malah meledeknya. " bukan gak punya, semuanya ketinggalan di rumah. "
" lah, ketinggalan. Terus itu lu nulis pake punya siapa ? " tanya Yoga lagi.
" ini kebeneran ada di tas, udah deh gak usah banyak nanya. Ngasih pinjem kaga, tapi banyak omong " kesal Lani pada akhirnya.
" cieee ayang marah .. " goda Yoga sembari mengusak surai rambut Lani.
Lani mendengus, kemudian ia menghempaskan tangan Yoga yang berada di kepalanya.
Apa yang ia cari tidak ia dapatkan, Lani menatap nanar ke arah kertas yang penuh dengan coretan. Terlihat rapih hanya saja ada beberapa tulisan yang salah.
Mendecakan lidah, Lani pun bersiap merobek selembar kertas itu, Lani berniat menulis tulisan yang baru.
Tapi, niat Lani terhenti ketika Jiasa memberikan satu buah penghapus padanya.
Lani sedikit terkejut, ia menoleh dan diam menatap Jiasa dengan tatapan yang sulit di artikan.
" sayang kalau di robek, pake punya aku aja " kata Jiasa pelan.
Lani tersenyum tipis, kemudian ia pun menerima satu benda yang Jiasa berikan. Lani mulai menggores benda itu di atas buku tulis miliknya. Selesai, ia pun mulai memperbaiki tulisannya.
Kriiiiiiinggg ..
Suara yang sangat dinanti. Semua siswa berhamburan keluar.
begitu pula dengan kelas 11 Ipa C. Tapi, tidak semua. Ada beberapa siswa yang tak langsung keluar, mereka memilih untuk merapihkan dulu alat tulis mereka.
" gila tuh si Agus, cari masalah sama gue " kata Tedia yang masih tidak terima dengan keputusan Pak Agus.
" Pak Agus lupa kali naro masalahnya, makanya dia minta bantuin nyari sama lu " Sahut Lani, membalikan kata-kata Tedia ketika Pak Agus mengatakan dirinya suka mencari masalah.
Tahu Lani menyindirinya, Tedia memincingkan matanya. " Asu " umpatan Tedia pada akhirnya.
" kita gini pas pelajaran Pak Agus doank kan ? abis ini pindah lagi, males banget gue duduk sama Tedia. " kata Irene, melirik tak suka Tedia yang duduk disampingnya.
" emang elu kira, gue mau duduk sama elu .. Sakit nih tangan gue, lu cubitin mulu " tentu saja itu suara Tedia yang tak terima dengan ucapan Irene.
" itu karena lu gak mau diem " ketus Irene sembari memberi dengusan. " sebentar-sebentar ngerangkul, sebentar-sebentar nyolek. Lu pikir gue sambel bisa lu colek sesuka hati " sambung Irene lagi meluapkan kekesalannya karena selama ia duduk bersama Tedia, Tedia tidak berhenti mengganggunya.
Tedia menunjukan cengiran bodohnya " abis gue biasa begitu sama Lani, jadi kebiasaan deh .. Jangan marah napa, Rene. Di colek doank gak bakal bikin lu hamil " kata Tedia tanpa sadar.
Seketika hening, semua menatap Tedia dengan tatapan sulit di artikan. Bahkan Zaki sampai menepuk dahinya, ia menyesali kebodohan Tedia.
Berbeda dengan yang lain, yang menatap Tedia dengan tatapan sulit di artikan. Lani dan Jiasa yang kebetulan masih berada di tempat tengah menundukan kepala.
Lani menghela napas, terdengar begitu jelas.
Tedia yang masih belum sadar, dengan tampang bodohnya ia menatap penuh tanya ke arah Yoga.
Hingga akhirnya keheningan sirna ketika Lani bersuara.
" Gue keluar duluan " singkat, dan kemudian Lani bangkit dan bergerak pergi keluar kelas.
Seketika Tedia membulatkan matanya, ia terkejut. Kini Tedia pun sadar.
Merasa bersalah, Tedia pun menatap ke arah Jiasa. Terlihat, Jiasa sudah tidak lagi menundukan kepalanya, Jiasa justru tengah menatap balik Tedia.
__ADS_1
Dengan rasa bersalah, Tedia menatap Jiasa. Dan Jiasa membalas Tedia dengan senyuman tipis, namun di mata yang lain itu sangat menyakitkan. Terlebih lagi di mata Tedia.
" Aku duluan ya, Jen. " katanya, yang kemudian berdiri lalu melangkah pergi.
Setelah Jiasa dan Lani pergi, Tedia menghembuskan napas kasarnya. Ia menyesal benar-benar menyesal.
Tatapan nyalang pun kini Tedia dapatkan, Tedia menundukan kepalanya.
" lu tuh ya, kalau ngomong kaga pernah mikir " kesal Jennie, ia yakin Jiasa dan Lani tersinggung dengan ucapan Tedia.
" gue gak sengaja " sahut Tedia, menyesal.
" kebiasaan sih lu kalau ngomong asal jeblak " kali ini Irene.
" khilaf anjiir gue " sahut Tedia lagi.
" minimal bismilah dulu kalau ngomong " kini Rosa, sedari tadi ia sudah menahan diri ingin menarik rambut Tedia yang memang sudah terlihat panjang.
" ya maaf, gue ngaku salah " Tedia memberengut, ia kembali menunduk.
Yoga mendesah pelan, jika di biarkan maka hal seperti ini akan berlangsung lama.
" udah, udah .. Sekarang kita cari Lani " kata Yoga, berdiri. Kemudian ia menatap Zaki.
Zaki yang peka, segera bangkit dan kini berdiri menatap Tedia. " Buruan bangun kita cari Arlan. " katanya pada Tedia.
Tedia pun bangkit.
Yoga kembali mendesah pelan, ia menatap datar Tedia, kemudian ia melangkah lebih dulu.
Zaki mengikuti, lalu Tedia pun mengikuti.
" nyebelin banget sih tuh orang, asli pengen jambak tadi " Rosa menggerutu, bahkan ia menggerakan tangannya mencakar-cakar udara.
" titisan dajjal begitu " Jennie ikut menimpali.
" udah, kita cari Jiasa aja yuk " Irene mengingatkan keduanya tentang Jiasa.
Jennie membulatkan mata " astaga, gara-gara si malik gue ampe lupa sama Jiasa, ayo kita cari .. " kata Jennie kemudian berlari pelan guna keluar dari kelas.
Jiasa hanya berjalan-jalan tak jelas di area sekolah. Awalnya ia ingin ke kantin, tapi menurut Jiasa itu tidak akan membuat dirinya tenang.
Jujur, kata-kata Tedia membuat ia tak enak hati. Jiasa ingin menenangkan diri.
Ia menghela napas, tempat apa yang nyaman dan bisa membuat hatinya tenang kembali.
Tak lama wajah murung Jiasa terlihat sedikit berbinar.
Tiba-tiba di benaknya terlintas satu tempat yang mungkin bisa membuat dirinya tenang.
UKS, tempat yang kini terlintas dalam benak Jiasa.
Bergegas Jiasa pun melangkah pergi.
Dengan keyakinan penuh, Jiasa kini sudah tiba di depan pintu yang tertutup. Tulisan UKS terlihat jelas di atas pintu yang tertutup itu.
Jiasa mulai membuka pintu yang tertutup itu, pelan-pelan, hingga akhirnya daun pintu terbuka dan dirinya dapat masuk ke dalam ruangan tersebut.
Jiasa melangkah masuk dengan pelan. ketika sudah di dalam, ia kembali menutup rapat pintu itu.
" Anjiiir, siapa sih ganggu aja "
Jiasa terperanjat, ada orang lain ternyata di dalam UKS.
Tirai yang menutup brankar di buka oleh seseorang yang tadi bersuara.
Jiasa kembali terkejut ketika melihat siapa siswa yang baru saja menunjukan dirinya.
Bukan hanya Jiasa. Tapi, Siswa itu pun terkejut dengan hadirnya Jiasa.
" Jiasa " katanya dalam kerterkejutannya.
salah tingkah, dan merasa canggung. Jiasa pun berniat untuk pergi. " maaf udah ganggu " katanya dan bersiap membuka pintu.
" mau kemana, sini aja . " katanya melambaikan tangan, memerintah Jiasa agar menghampirinya.
Jiasa tak bergegas menghampiri, ia malah berdiri di tempat sembari menatap siswa yang sangat ia kenali.
Lani, siswa itu. Ia tersenyum tipis melihat respon Jiasa yang hanya diam.
__ADS_1
" lu tenang aja, gak usah takut. Gak bakal gue apa-apain kok. Ini sekolahan " kata Lani, paham kenapa Jiasa hanya diam.
Awalnya wajah Jiasa sedikit menengang, tapi ketenggan itu perlahan sirna. Tangan Jiasa pun sudah di jauhkan dari daun pintu.
Entah mendapat keberanian dari mana, Jiasa mulai mengayunkan kakinya dan melangkah mendekati Lani.
Tiba di dekat Lani, Jiasa duduk di samping Lani. Ada jarak di antara mereka.
Menyadari itu, Lani kembali tersenyum tipis.
" pasti lu sakit hati ngedenger omongan Tedia. " Lani mulai berbicara, tapi matanya tak menatap Jiasa, ia menatap kosong ke arah depan.
seketika Jiasa menoleh, ia pun dapat melihat tatapan Lani yang kosong.
" kalau iya, berarti kita sama. " Lani kembali bersuara, dan lagi-lagi ia tidak menatap Jiasa. " awalnya gue pengen banget ngehajar Tedia, supaya dia itu bisa mikir kalau ngomong, tapi setelah gue pikir-pikir Tedia gak harus di hajar. "
Jiasa masih menyimak kalimat-kalimat yang Lani ucapkan sembari menatap Lani.
" justru harusnya gue yang mikir, kalau semua itu hukuman yang harus gue jalani. Gak di percaya orang, di sindir orang, di kucilin orang, dan di benci sama elu " Lani terus berbicara dan kali ini ia menoleh menatap Jiasa.
Keduanya saling tatap. Lani diam, Jiasa pun diam. Hingga tatapan keduanya terputus ketika Lani terkekeh dan membuang pandangannya.
Jiasa masih menatap Lani dengan tatapan penuh arti, entah mengapa tak ada lagi rasa benci yang dulu ia rasakan untuk Lani.
" gue tau gue salah karena gue udah ngerusak elu. Tapi, apa gue salah kalau gue sayang sama elu. Apa gue yang gak ada akhlak ini gak patut di maafkan, apa gue yang gak tau diri ini gak patut bertobat, apa gue yang bejad ini gak patut di kasihani. Sama kaya elu, gue juga terbebani. Terbebani karana gue harus kembali bikin ibu percaya sama gue, kembali bikin yang lain peduli sama gue. Dan yang penting, gimana caranya gue bikin elu gak benci sama gue. Jujur gue terbebani, tapi lagi-lagi gue mikir, mungkin itu juga salah satu hukuman buat gue. " kepala Lani tertunduk, nada suaranya berat. Tak lama isakan terdengar.
Jiasa terkejut, Lani menangis di hadapannya. Dari apa yang Jiasa lihat, tangisan Lani bukan tangisan sandiwara, tangisannya terdengar begitu memilukan. Bahkan Jiasa melihat bahu Lani yang ikut bergetar.
" pengen nyusul Ayah, tapi kasian sama Ibu. Kalau gue nyusul Ayah kan selamanya elu gak akan pernah liat manusia yang udah ngerusak elu "
Jiasa ikut menangis, kalimat Lani kali ini benar-benar menusuk relung hatinya.
" makanya biar adil, elu tenang dan Ibu juga tenang. Gue mutusin buat pergi dari kalian. Pergi jauh, supaya lu gak liat gue lagi "
Jiasa membuang pandangannya, " kalau kamu pergi berarti lari dari tanggung jawab " katanya, entah ia sadar atau tidak.
" gue gak pernah lari dari tanggung jawab, cuma dalam hal ini elu yang gak mau gue kejar, maka dari itu gue mutusin untuk mundur "
Jiasa terkekeh, Lani yang mendengar kekehan Jiasa mendongkak. Tak perduli jika Jiasa melihat wajahnya yang basah karena air matanya.
" elu ngetawain gue " kata Lani,
Jiasa membulatkan mata, rasa simpatinya untuk Lani mendadak hilang, kini berganti dengan wajah gemas, gemas karena ingin mencabik-cabik Lani. Tapi, sebisa mungkin Jiasa menahan semua rasa itu. Ia sadar memaki Lani justru akan memperburuk suasana.
Dalam situasi kali ini, Jiasa mencoba berada di pihak yang paling dewasa. " siapa yang ngetawain, anak kamu kali " celetuk Jiasa. Jujur kini ia tengah menahan malu karena merasa harga dirinya hilang setelah mengatakan kata anak kepada Lani.
" mana ada anak gue, dia udah pergi di culik kakeknya " sahut Lani.
Jiasa terhibur, hanya saja dia tengah menahan tawanya. Ia harus menjaga imagenya di depan Lani.
" kamu mau pindah kemana ? " tanya Jiasa, penasaran dengan kabar yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.
" Amerika. Nanggung kalau masih sekitar indonesia, entar kita ketemu lagi lu malah makin takut dan benci. kalau jauh kan gak akan ada kesempatan ketemu, kecuali lu ke Amerika juga. "
Jiasa kembali mengeluarkan kekehannya " kalau aku takut dan benci sama kamu gak akan aku duduk di sini "
Lani terdiam, ia menoleh dan menatap Jiasa yang tengah menatapnya dengan tatapan tanpa ada kebencian di matanya.
Cukup lama tatapan itu, hingga terputus ketika Lani merasa salah tingkah dan segera membuang pandangannya. " jangan liatin gue kaya gitu lu, nanti gue khilaf lagi berabe "
Jiasa memejamkan sejenak matanya, wajahnya menahan kesal. Kemudian ia menggeser tubuhnya menjauh dari Lani.
" ngapain juga ngejauh, lu masih bisa gue tarik "
Sudah tak tahan, Jiasa pun menggeram kesal. Ia menarik tangan Lani lalu dengan sengaja menggigit tangan Lani.
" aaaaaaaggggkkkkkkkk .. Jiasa sakitttt .. "
Lani mengaduh kesakitan, ia berteriak hingga Jiasa melepas gigitannya pada tangan Lani.
" anjiiir " katanya melihat bekas gigitan Jiasa di tangannya. " kalau mau bikin tanda tuh di leher bukan di tangan kaya gini " sambungnya lagi semakin berani berkata yang tidak-tidak pada Jiasa.
Jiasa kembali menggeram kesal, kemudian ia menarik rambut Lani hingga Lani kembali berteriak kesakitan.
" anjiir, Jia. KDRT ini namanya " Lani mengusap-usap kepalanya yang terasa perih karena Jiasa.
" siapa suruh nyebelin " kata Jiasa kemudian beranjak dan melangkah pergi keluar dari UKS.
Di tinggal sendiri Lani menatap ke arah pintu yang tidak tertutup itu. Tak lama bibir Lani bergerak, ia tersenyum. Hatinya yang tadi terasa sakit kini berangsur membaik.
__ADS_1
Sama seperti Lani, Jiasa pun kini tengah tersenyum dalam langkahnya. Hatinya yang tadi tak tenang, kini sudah terasa membaik.
..