
Selesai. Lani telah selesia membacakan doa untuk mendiang Ayahnya.
Menuntup buku doa, kemudian Lani mulai menaburkan bunga diatas makam ayahnya, Jiasa pun bergerak mengikuti Lani. tak lupa pula Lani menaburkan air doa.
Lani berdiri, begitu pula dengan Jiasa.
Ditatapnya dengan sendu pusara sang Ayah. Tak lama menghela nafas pelan. Kemudian ia menoleh ke samping menatap Jiasa yang ternyata masih menunduk menatap pusara Ayah Lani.
" yuk pulang .. " ajak Lani, Jiasa mendongkak, kemudian menoleh menatap Lani.
Detik berikutnya Jiasa menganggukkan kepalanya.
Keduanya berbalik, Lalu mengayunkan kaki melangkah meninggalkan pusara Ayah Lani.
Mereka terus melangkah dengan pasti, hingga keduanya kini sudah sampai di tempat Lani memarkirkan mobilnya.
Menekan kunci mobil, kemudian mobil Lani pun berkedip.
tak ada percakapan, Jiasa berjalan ke sisi kiri. Di belakangnya, Lani mengikuti. Kemudian Lani membukakan pintu mobil untuk Jiasa, Jiasa masuk dan duduk dengan nyaman. Setelah itu Lani melangkah ke sisi kanan mobilnya.
Membuka pintu, kemudian Lani masuk dan duduk dengan nyaman di kursi kemudi.
tanpa bicara, Lani menghidupkan mesin mobilnya, lalu melajukan mobilnya meninggalkan area pemakaman umum.
Mobil yang Lani kendarai sudah melaju jauh.
Di dalam mobil, Jiasa terus menatap keluar menikmati suasana jalanan yang ramai.
" langsung pulang, apa mau mampir buat makan ? " tanya Lani memecah keheningan, sekilas melirik Jiasa. Tapi, tak lama kembali fokus mengemudi.
Jiasa mengalihkan perhatiannya, ia berbalik menghadap Lani. Jiasa nampak berpikir. " kamu laper ? " Jiasa malah bertanya balik.
Lani menggeleng sebagai jawaban.
" kalau enggak, kita langsung pulang aja " kata Jiasa.
" kamu sendiri, laper gak.? "
Jiasa tersenyum dan kemudian menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Tak ada lagi percakapan, Jiasa pun sudah kembali dengan dunianya menikmati suasana jalan raya yang ramai dari dalam mobil yang melaju.
Sesuai keinginan Jiasa, keduanya langsung pulang. Tentu saja Lani akan mengantar Jiasa ke rumahnya.
Dalam fokusnya mengemudi, Lani diam-diam mengulum senyum. Sebentar lagi ia akan mengetahui dimana gadis pujaan hatinya itu tinggal.
Tapi, tak lama senyum Lani sirna, wajahnya berubah kecut. Lani tiba-tiba ingat jika dirinya bukan orang pertama yang mengantar Jiasa, sebelumnya ada Tedia yang pernah mengantar Jiasa pulang.
__ADS_1
Mengingat itu, Lani menghela nafas pelan.
" masuk ke gapura itu ya, Lan. " Suara Jiasa membuyarkan lamunan Lani. Sekilas Lani melirik, kemudian menganggukkan kepala.
Sesuai petunjuk Jiasa, Lani berbelok dan memasuki gapura komplek perumahan Jiasa.
Tanpa percakapan, Lani fokus mengemudi agar Jiasa bisa cepat tiba di rumahnya, sedangkan Jiasa kembali asik dengan dunianya.
Akhirnya setelah menempuh waktu yang lumayan lama, gerbang rumah Jiasa terlihat. Jiasa pun memberitahu Lani untuk berhenti di rumah yang ia tunjukkan. " nanti berhenti di rumah yang itu ya, Lan. "
Lani pun mengangguk.
Sampai, Lani menghentikkan mobilnya. Dan bertepatan dengan itu. Pagar rumah Jiasa terbuka. Dari dalam fadil keluar dengan sebuah kantong plastik hitam.
Ia mengerutkan dahinya ketika melihat mobil yang asing berhenti di depan rumahnya.
Sadar dengan ekspresi Ayahnya, Jiasa bergegas keluar. Lani pun mengikuti dan melangkah menghampiri Jiasa.
" pa. " Suara Jiasa, fadil kembali mengerutkan dahinya, kemudian Jiasa mencium telapak tangannya.
" sore, om .. " sapa Lani begitu sopan.
Mendengar suara orang lain, Fadil mendongkak, kemudian ia menyipitkan matanya ketika melihat sosok pemuda yang pulang mengantar putrinya.
Tak langsung menjawab sapaan Lani, Fadil kembali menyerengit, hingga kini matanya terbuka sempurna. " kamu Arlan, kan.? " tanya Fadil.
sama seperti Jiasa, Lani pun terkejut. Hanya saja, Lani buru-buru menghilangkan rasa terkejut itu. Ia kini tengah berpikir siapa sosok Ayah Jiasa, kenapa Ayah Jiasa bisa mengenal dirinya ?.
Lani nampak berpikir, hingga suara kembali mengalihkan perhatiannya.
" kamu Arlan, anaknya Almarhum Pak Rajan, kan.? "
Lani mengangguk dan kembali berpikir, Jiasa sendiri semakin terkejut bahkan Ayahnya itu mengenal mendiang Ayah Lani.
Setelah lama berpikir akhirnya Lani mendapat jawaban. " Om, Fadil. " katanya.
Fadil tersenyum dan mengangguk, sedangkan Jiasa semakin di liputi rasa terkejutnya, kini pertanyaannya adalah, bagaimana Lani mengenal sosok Ayahnya.
" kamu satu sekolah sama Jiasa ? " tanya Fadil.
" iya, Om. Maaf baru pulang jam segini, tadi Jiasa ikut saya ke makam Ayah " kata Lani menjelaskan.
Fadil menautkan alisnya, kemudian menatap Jiasa, yang ditatap tersenyum kikuk.
" ayo masuk, mampir dulu .. " ajak Fadil.
Lani tersenyum ramah. " maaf, Om. lain kali aja, saya harus pulang, Ibu dirumah sendiri soalnya. " Lani menolak dengan sopan.
__ADS_1
Fadil tersenyum, kemudian mengangguk. " tapi lain kali harus mampir ya " kata Fadil lagi.
dan kini Lani lah yang tersenyum dan mengangguk.
Baik Lani ataupun Fadil, keduanya seperti melupakan kahadiran Jiasa yang sedari tadi menatap penuh tanya ke arah keduanya.
Setelah menolak tawaran Fadil, Lani beralih kepada Jiasa. " Ji, aku pulang dulu, ya. "
Masih dengan ekspresi penuh tanyanya, Jiasa menganggukkan kepala.
setelah pamit untuk pulang, Lani kemudian melangkah mendekati mobilnya, Lani masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin mobil. Kemudian membunyikan klason, memberi tanda jika ia akan pergi.
Fadil mengangkat satu tangannya, menanggapi suara klason sebagai tanda jika Lani pamit, setelah itu mobil yang Lani kendarai melaju meninggalkan rumah Jiasa.
setelah Lani pulang, kini tinggal Jiasa dan Fadil.
Fadil merangkul bahu Jiasa, berniat mengajak Jiasa masuk. Tapi, bukan menurut, Jiasa malah menahan langkahnya. Kemudian menatap Fadil dengan dahi berkerut.
" kok papa bisa kenal Lani ? " tanya Jiasa
Fadil mengerut dahi. " Lani, siapa ? " tanyanya asing dengan nama yang baru saja Jiasa sebut.
Jiasa memutar bola matanya malas. " Arlan, pa. Yang baru aja pulang, itu Lani alias Arlan "
Fadil mengangguk-anggukkan kepalanya. detik berikutnya Fadil tersenyum.
" dulu Almarhum Ayahnya rekan bisnis Papa. Kalau ada pertemuan, Arlan selalu di ajak, makanya Papa kenal sama Arlan. "
Jiasa melebarkan mata, cukup terkejut dengan kenyataan yang ada.
" berarti Papa, juga tahu donk, waktu Ayahnya Lani meninggal.? " Tanya Jiasa lagi.
Fadil mengangguk. " bahkan Papa waktu itu nganter Ayahnya Arlan sampai peristirahatan yang terakhir "
Jiasa yang sudah paham kini manggut-manggut.
" sekarang giliran Papa yang nanya "
Jiasa mengerutkan dahi.
" kok, kamu bisa kenal dia, terus bisa ikut dia ziarah ke makam Ayahnya.? " tanya Fadil sembari menaik turunkan kedua alisnya menggoda sang putri.
seketika Jiasa salah tingkah, ia membuang pandangannya. Dan hal itu semakin membuat Fadil senang menggoda Jiasa.
" kemaren di anter pulang sama Tedia, sekarang sama Arlan, besok sama siapa ? " lagi Fadil menggoda putrinya, bahkan alisnya pun di naik turunkan.
Jiasa yang salah tingkah menunduk malu. " papa, apaan sih .. " malu Jiasa sembari terus menunduk.
__ADS_1
Fadil terkekeh, kemudian mengusak surai hitam putrinya.