LABIRIN

LABIRIN
99


__ADS_3

Melotot dan menganga dengan sempurna, hal yang kini di lakukan Zaki, Yoga, Nathan, dan satu siswa kelas 11 ipa b bernama Abas.


ke empat siswa itu menatap tak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi.


" Nat .. Gampar gue, Nat. Gue gak mimpi kan ? " pinta Zaki, ia benar-benar tak percaya dengan semuanya.


Plakkkk ..


Bukan Nathan yang memberi tamparan, tapi Yoga.


" asu, sakit ... " Zaki meringis sembari mengusap pipinya yang kena tamparan Yoga.


Yoga mendengus kasar, " tadi lu minta di gampar " katanya mengingatkan Zaki akan permintaan konyolnya.


" tapi gak kenceng juga, Yoga. lagian gue kan mintanya sama Nathan, ngapa jadi elu. Mana elu gampar gue nya ikhlas banget. Jadi sakitnya berasa .. " Zaki semakin mendramatiskan keadaan.


Yoga memutar bola matanya malas.


" udah, lu berdua berisik. Noh liat mereka lagi jalan ke sini ... " suara Abas akhirnya membuat Yoga, Zaki dan juga Nathan kembali ke objek yang sejak tadi mereka perhatikan.


Dan perkataan Abas, benar. Lani dan Jiasa tengah berjalan beriringan.


" kok diem aja ya. Kaga ngobrol .. " celetuk Nathan tanpa berpikir panjang.


Yoga menoleh dan memberi tatapan tajam pada siswa yang memilik sifat yang sama seperti Zaki.


Di tatapan seperti itu, Nathan hanya memberi Yoga cengiran bodoh.


Yoga kembali memutar bola matanya malas.


" kalau ada si Malik, bakal seru nih .. " kali ini suara Zaki.


seketika ia kembali mengaduh karena ia mendapat sebuah toyoran.


Zaki menoleh, menatap tajam Abas si tersangka yang sudah menodai kepalanya.


" apa, gak usah lemes mulutnya. Pantes lu tiap pagi di ceramahin baginda ratu .. "


Zaki mendengus, kemudian kembali menatap ke arah Lani dan Jiasa yang semakin dekat dengan mereka.


Lani yang tengah melangkah bersama Jiasa memincingkan matanya ketika melihat empat siswa yang kini tengah memperhatikan dirinya dan Jiasa.


Ketika Lani dan Jiasa berada di antara mereka, Lani menghentikan langkah.


Jiasa menatap satu-persatu empat siswa itu, kemudian Jiasa beralih pada Lani. " aku duluan ya, Lan. Makasih tumpangannya " kata Jiasa, Lani mengangguk, sedangkan empat siswa itu kembali terkejut.


Jiasa kembali menatap empat siswa itu, ia memberi senyum tipis, kemudian ia melangkah pergi.


ke empat siswa itu terus memperhatikan Jiasa yang mulai melangkah menjauh, dan ketika Jiasa sudah semakin menjuah dari mereka, secara bersamaan ke empat siswa itu menoleh ke arah Lani.


Mereka menatap Lani dengan tatapan penuh tanya. Di tatap seperti itu tentu saja Lani paham, Lani mendengus. Ia harus segera menjelaskan.


" gak sengaja ketemu di jalan, mobil bokapnya mogok, jadi gue nawarin tumpangan. Puas kalian " gemas Lani.


Seketika ke empat siswa itu menganggukkan kepala, mereka seolah paham dengan penjelasan Lani.


Lani menggelengkan kepala melihat tingkah ke empat siswa yang merupakan rekan satu tim di klub sepak bolanya.

__ADS_1


Lani kembali menatap satu-persatu ke empat siswa itu. Tatapan Lani berhenti pada Yoga. " lu ngapain sih, Ga. Kok lu sama gilanya ama mereka ? "


Mata Yoga mengerejap, kemudian ia berdeham kan bersikap seolah menormalkan diri.


Lani kembali menggelengkan kepala, " Tedia mana ? " tanya Lani, mengingat sahabatnya itu tak ada bersama mereka.


" belum datang, nyasar kali di jalan " sahutan nyeleneh dari Zaki. Nathan memukul bahunya, memberi peringatan kepada Zaki agar jangan berbicara sembarangan.


Dengan dramatis Zaki mengaduh, " Aaaaaggkkkhhh ... Sakit anjjiiirrr " sembari menyentuh dan mengusap-ngusap bahunya yang terkena pukul Nathan.


Nathan mendengus, Lani, Yoga, dan Abah menggelengkan kepala.


Lani melihat arloji di pergelangan tangannya, empat siswa itu memperhatikan, kemudian Lani kini kembali beralih pada empat siswa itu.


" istirahat semua kumpul ya, ada yang mau gue sampein. Kabarin yang lain "


Semua mengerutkan dahi.


" mau ngapain ? " tanya Abas


Lani beralih menatap Abas, baru saja Lani hendak membuka mulutnya, suara Zaki dengan lantang memotongnya.


" Kepo lu "


Sontak Abas memberi Zaki tatapan tajam.


Lani dan Yoga menggelengkan kepala melihat tingkah Zaki.


" ke kelas yuk, jangan lupa kabarin yang lain " kata Lani lagi.


" gue share kok di grup, lu liat aja. Cuma, bisa aja kan salah satu dari anggota tim kita gak punya kuota, jadi maka dari itu gue minta kabarin yang lain .. "


Semua menganggukan kepala, yang Lani katakan, benar.


Ke lima siswa itu kemudian melangkah pergi menuju kelas masing-masing.


Di tempat lain, Tedia diam-diam memperhatikan.


Sebenarnya Tedia datang tak lama setelah Lani datang.


Tedia juga melihat Jiasa turun dari motor Lani, Tedia yang terkejut memilih untuk tak menghampiri teman-temannya.


Ia malah bersembunyi dan memperhatikan semuanya.


Setelah mereka pergi, Tedia keluar dari persembunyian dengan rasa kecewanya.


Tedia menghela nafas, ia kembali marah. Tapi ia paham, ia tidak punya hak untuk memaki setelah semua yang terjadi karena dirinya.


..


Lani melangkah memasuki kelas dengan Yoga yang merangkul bahunya, di belakang keduanya ada Zaki yang melangkah dengan segala tingkahnya.


Dalam langkah keduanya, Yoga terus berbicara kepada Lani, terkadang Lani menanggapi dengan tawa.


" eh , Lani. Dah datang lu .. Sory tadi gue buru-buru .. Berangkat sama siapa tadi ? " tanya Robi ketika Lani dan Yoga hendak melewati mejanya.


Lani dan Yoga menghentikan langkah, keduanya menatap Robi.

__ADS_1


" berangkat bareng ayang donk " celetuk Zaki.


Robi mengerutkan dahi, Jiasa yang kebetulan sudah duduk di kursinya dengan Irene, mendongkak dan melihat ke arah sumber suara.


Lani menatap ke arah Jiasa, keduanya tak sengaja saling tatap. Kemudian Lani memberi Jiasa senyuman tipis. Lani mundur satu langkah agar dirinya lebih dekat dengan Zaki, " ngomong lagi, mulut lu gue jait " bisik Lani. Ia merasa tak enak kepada Jiasa karena celetukan Zaki.


Yoga cekikikan, sedangkan Robi mengerutkan dahi tak paham.


Entah Lani merasa atau tidak, Zaki hanya tersenyum hingga giginya yang putih terlihat.


Ketiga siswa itu kembali melanjutkan langkah, mereka kini tiba di kursi kebanggaannya.


Lani di sudut kelas, Zaki dan Yoga berada di depan Lani.


" ini si Malik kemana ya, gak masuk apa ya ? " Zaki mulai bertanya-tanya akan sosok Tedia yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.


" Dia kalau gak masuk pasti WA kita .. tunggu aja pasti bentar lagi datang .. " sahut Lani, sembari duduk bersandar di sudut tembok, matanya fokus menatap layar ponsel.


Ting


Ting


Ting


Notif ponsel yang saling bersahutan dari ponsel milik Lani, Zaki, dan Yoga.


Lani sudah lebih dulu fokus pada ponselnya, kini Yoga dan Zaki menyusul.


" buset dah pada kepo banget .. Lu langsung kasih tau aja napa Lan .. " kata Zaki.


" gak afdol kalau lewat grup .. Semua harus ngumpul dulu, biar nyampeinnya secara langsung .. " sahut Lani, Zaki mengangguk paham.


Lani mengabaikan pesan yang terus berdatangan di ponselnya, kemudian ia mengarahkan ponselnya ke telinga. Lani mencoba menghubungi seseorang.


" Hallo .. " sapa Lani, ketika panggilan telephonenya terjawab. Zaki dan Yoga memperhatikan.


" lu dimana ? " tanya Lani kembali berbicara pada seseorang yang dia hubungi.


" depan kelas .. " sahutnya.


Lani beralih menatap ke depan kelas, seketika ia pun mengumpat " setan, tau gitu ogah gue nelephone " Lani segera menekan tombol mereh di ponselnya. Kemudian ia memberi dengusan pada Tedia yang kini mulai melangkah menghampirinya sembari tertawa.


" lu nelphone dia, Lan ? " tanya Yoga tapi tak di jawab oleh Lani.


" kerajinan .. " celetuk Zaki.


Tedia sudah duduk di kursinya, ia masih tertawa meledek Lani. Kemudian Tedia menatap Lani yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.


" cieee ayang marah .. " goda Tedia sembari menjawil dagu Lani, sontak Lani pun menghempas tangan Tedia. Tedia kembali tertawa.


" elu baru datang, Di. ? " tanya Yoga.


" udah dari tadi sih, tapi gue tadi ke toilet dulu " bohong Tedia, dan sepertinya ketiga sahabatnya itu percaya, terbukti dari respon yang Tedia dapatkan.


Tedia menghela nafas, raut wajahnya berubah. Tapi, ia berusaha untuk menyembunyikan semua itu. diam-diam Tedia melirik Jiasa, di lihatnya Jiasa yang tengah tertawa bersama Irena, Jennie dan Rosa.


Tedia ikut tersenyum, ia senang melihat Jiasa yang sepertinya sudah kembali mendapatkan hidupnya, meskipun tidak bisa di katakan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2