
" mana sih yang lain ..? " Tedia berucap dengan wajah jengah, Lani yang duduk di atas motornya memutar bola matanya malas.
" ngapain nungguin yang lain, emang kita mau kerja kelompok sekarang ? "
Sebagai jawaban, Tedia menganggukkan kepalanya. Dan hal itu membuat Lani menganga dengan sempurna. Dengan wajah kesal Lani celingak-celinguk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melempar Tedia.
Ketemu, Lani menemukan batu kerikil yang kebetulan berada di dekat kakinya. Di ambil dan kemudian Lani lemparkan ke arah Tedia " heh, emang tadi pas di kelas lu udah bahas kalau kerja kelompoknya sekarang, kaga kan ?, mana ada kerja kelompok dadakan, pea lu .. "
Tedia menoleh ke arah Lani, kemudian ia mendesah pelan " waktu cuy, waktu .. "
" waktu masih lama, Bu Riska bilang buat minggu depan .. " gerutu Lani semakin kesal dengan sahabatnya itu.
" gue juga tau buat minggu depan, tapi besok dan seterusnya kita itu harus fokus sama latihan. Inget Lan, ada seleksi timnas .. "
Seketika Lani terdiam, ia seolah merenungkan kalimat yang baru saja di ucapkan Tedia.
" iya juga sih, tapi masalahnya bahan-bahannya aja kita belum ada .. " Lani kembali mengingatkan Tedia akan persiapan mereka yang belum lengkap.
Tedia mendecakan lidahnya " gampang kalau itu mah, beli di jalan banyak .. "
Lani mendengus, percuma berdebat Tedia selalu memiliki jawaban.
Cukup lama menunggu yang di tunggu oleh Lani dan Tedia datang mereka adalah Zaki, Yoga, Jennie, Rosa, Irene, dan juga Jiasa.
" lah ngapain lu berdua di sini, gue kira udah masuk rumah sakit gara-gara gelut tadi .. ? " canda Zaki, Lani dan Tedia memberi dengusan.
" Tedia ngajakin kita kerkom sekarang .. " kata Lani memberitahu alasan mengapa keduanya masih berada di parkiran, sontak semua membulatkan matanya.
" gila lu, gue belum bilang nyokap gue .. " Irene bersuara tak setuju dengan rencana dadakan Tedia.
Lani menghela nafas sudah menduga respon mereka, sedangkan Tedia memutar bola matanya malas.
" Ren, punya hp kan ? " Tedia bertanya, irene menganggukkan kepala
" tinggal telephone mama ana kalau lu kerkom di rumah suami lu .. " Tedia kembali berbicara, dan kali ini ia mendapat cibiran dari irene.
" Tedia lu bener-bener ya, gak bisa dadakan gini donk, lagi pula tugasnya masih lama .. Minggu depan kalau lu lupa .. " Jennie ikut bersuara dan jelas menolak rencana dadakan Tedia.
Tedia kembali memutar bola matanya malas " besok dan seterusnya kita berempat sibuk jen, gue sama mereka mau fokus sama bola, ada seleksi timnas, gue sama yang lain gak mau gagal, kan bukan cuma gue yang bangga, lu juga pasti bangga donk kalau misalnya temen lu bisa masuk timnas .. " Tedia mulai meyakinkan teman-temannya dengan alasan yang cukup masuk akal di mata Zaki, dan Yoga. Terbukti keduanya kini menatap Tedia dengan mata berbinar.
Zaki yang sedari tadi diam seolah tak setuju kini menghampiri Jennie
" gue tau lu mau ngomong apa " Jennie bersuara lebih dulu, hingga Zaki yang sudah membuka mulut bersiap untuk bicara menutup rapat mulutnya.
Jennie menghela nafas lelah " ok dah hari ini, tapi bahan-bahan semua di tanggung Tedia, anggap aja bentuk tanggung jawab lu karena ngajakin kerkom dadakan .. " Jennie akhirnya setuju.
Bahkan bunya hanya Jennie yang setuju. Tapi, yang lain merubah ekspresi wajahnya ketika mendengar kalimat terakhir yang Jennie ucapkan.
__ADS_1
" sialan , itu namanya kesempatan dalam kesempitan, bilang aja gak mau keluar duit .. "
Tedia mencibir, Jennie mengedikkan bahunya tidak perduli.
" udah-udah berangkat sekarang, ca lu sama gue .. " Yoga bersuara, Rosa yang namanya di sebut terkejut.
" hah .. Gue .. " kata Rosa menunjuk dirinya sendiri.
" iya oca , emang siapa lagi, Jennie lu sama Zaki, irene bawa motor sendiri kan "
Irene mengangguk sebagai jawaban " Jiasa lu sama gue, di mobil .. " Jiasa yang sedari tadi terdiam terkejut ketika namanya di sebut oleh Tedia.
Bukan hanya Jiasa, semua yang ada di tempat terkejut dengan ucapan Tedia.
" heh Malik, mau modus kan lu, Jiasa sama gue, bahaya kalau Jiasa di biarin berduaan sama lu .. " Lani yang tak sependapat menolak dengan tegas usulan Tedia.
Sontak Tedia memutar bola matanya untuk kesekian kali " panas Lan, nanti Jiasa kepanasan .. " Tedia berbicara kemudian ia melangkah menghampiri Jiasa yang masih berada dalam mode terkejut " Ayo Ji, waktu adalah uang .. " kata Tedia kemudian membawa Jiasa melangkah mendekati mobilnya. Seolah pasrah dan tak tahu harus berbuar apa, Jiasa hanya mengikuti langkah Tedia.
Semua melongo, menatap Tedia yang kini tengah membukakan pintu mobil untuk Jiasa " masuk Ji .. " perintah Tedia. Jiasa tidak menuruti, ia masih berdiri ditempat dan menatap tak percaya ke arah Tedia.
" tadi kata lu apa, Nanti Jiasa kepanasan, terus lu tega gitu sama gue, irene dan Jennie, kita bertiga juga kepanasan .. " sindiran Rosa berikan, seketika ekspresi Jiasa berubah, ia merasa tak enak hati. Berbeda dengan yang lain yang justru terlihat biasa saja, karena hal seperti ini sudah menjadi bahan candaan dalam hidup mereka sehari-hari.
" karena lu bertiga gak penting buat gue .." Sahut Tedia, sontak Jiasa mendongkak menatap Tedia dengan tatapan yang sulit di artikan " Buruan masuk Jia, apa mau gue masukin .. " ucapan Tedia terdengar ambigu, Jiasa mengerutkan dahinya.
Sedangkan yang lain mengumpat bahkan Lani ingin sekali melempar Tedia dengan batu besar yang mungkin saja bisa membuat Tedia tersadar.
Setelah perdebatan panjang akhirnya mereka menuruti Tedia, semua neninggalka area sekolah dan pergi menuju rumah Tedia.
....
Tin
Tin
Tin ..
Suara klason mobil yang di bunyikan oleh Tedia, Pak Adul yang bertugas sebagai satpam di rumah Tedia bergegas membukakan pagar agar Tedia bisa masuk ke dalam halaman rumahnya.
" makasih pak .. " kata Tedia, begitu pagar terbuka lebar, Tedia melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah. Di belakang mobil Tedia ada 4 motor yang di kendarai oleh Zaki, Lani, Yoga, dan juga irene yang tentunya sudah dikenali oleh Pak Adul.
" bawa temen-temennya ternyata .. " gumam Pak Adul sembari terkekeh. Setelah semua masuk, Pak Adul kembali menutup pagar tinggi itu.
Kendaraan sudah terparkir rapih di halaman rumah Tedia. Tedia keluar dari dalam mobilnya di ikuti oleh Jiasa. Kemudian Tedia mengajak Jiasa menghampiri yang lain.
" ayo masuk .. " kata Tedia melangkahkan kaki guna memasuki rumahnya, yang lain mengikuti.
Jiasa yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Tedia merasa kagum dengan suasana rumah Tedia, meski berada di tengah kota, tapi terasa begitu sejuk karena banyak pohon yang menjadi hiasan di sekitar halaman yang lebih mirip dengan taman.
__ADS_1
" ini salah satu hal yang belum lu tau tentang mereka berempat .. " irene yang sedari tadi melangkah berdampingan dengan Jiasa mulai berbisik. Jiasa mengerutkan dahinya.
" mereka berempat merupakan putra dari pengusaha-pengusaha yang cukup ternama, Lani memang sekarang hanya tinggal sama ibunya. Tapi, almarhum ayahnya itu pengusaha, pewaris tunggal, udah gitu ibunya punya usaha juga .. "
Jiasa tersenyum tipis merespon satu lagi fakta tentang keempat pria tampan pembuat onar. Sebenarnya Jiasa tidak terkejut dengan fakta ini, Jiasa bisa menilai sendiri dari gaya hidup keempat remaja itu.
" assalamualaikum .. Ma .. Mama .. " Tedia berteriak memanggil Ria, Malik yang kebetulan duduk di ruang tamu memutar bola matanya malas.
" walaikumsalam, gak usah teriak teriak kebiasaan banget kamu itu .. " Malik menjawab salam putranya itu kemudian mengomentari kebiasaan buruk Tedia.
Tedia memberikan cengiran bodoh, kemudian mengulurkan tangan mencium punggung tangan ayahnya.
" papa .. Arlan maen .. " Lani bersuara kemudian ia menghampiri Malik dan juga mencium punggung tangan Malik. Satu persatu tamu Tedia menghampiri Malik dan menyalami Malik.
" baru liat yang ini, pasti anak baru ya ..? " tanya Malik ketika melihat Jiasa. Jiasa merespon dengan senyuman.
" baru 5 hari pa, kenalin pa, namanya Jiasa , jodoh Arlan di masa depan .. " Lani dengan pedenya mengenalkan Jiasa sebagai jodohnya.
" halah, kencing aja masih dipegangin so so'an ngomongin jodoh .. Belajar dulu yang bener .. " Malik mencibir, seketika Lani ditertawakan oleh teman-temannya.
" ya udah papa panggil mama dulu .. " Malik pamit dan melangkah pergi. Semua menganggukkan kepala.
" masih di rumah, gue kira udah balik lagi ke batam .. ? " tanya Lani, Tedia mendesah pelan
" kalau udah balik ke batam gue gak bakal bawa mobil .. " sahut Tedia dengan suara pelan khawatir ayahnya itu mendengar. Suara pelan Tedia membuat Lani terkekeh sembari menggelengkan kepala.
" gue ke kamar dulu ya .. Mau ganti baju .. " kata Tedia, semua mengiyakan. " ca ikut kaga .. " Tedia kembali berulah.
Rosa mendelik tajam " musnah aja mendingan lu .. " Rosa gemas ingin memegal kepala Tedia. merespon ucapan Rosa, Tedia tertawa kemudian melangkah naik ke lantai atas rumahnya.
" heran gue mah, di rumahnya aja masih berani ngardus, kaga takut di sunat papa Malik apa tuh bocah .. " Jennie dibuat geleng-geleng dengan tingkah Tedia.
" bocah pea kalian tanggepin .. " celetuk Zaki, membuat Jennie, Rosa dan juga Jiasa menoleh padanya.
Jennie dan Rosa berdecih, sedangkan Jiasa tengah terdiam dengan segala pemikirannya. Tak lama Jiasa tersenyum tipis, sangat tipis, bahkan bisa di sebut tersenyum miris. Seketika Jiasa ingat dengan kata-kata Tedia yang mengatakan jika Jennie, Rosa, dan Irene bukan bagian peting dalan hidupnya. Saat Tedia mengatakan itu, Jiasa merasa sedikit terbawa perasaan. Tapi, rasa itu seketika sirna kalah Tedia tadi menggoda Rosa. Bisa-bisanya ia terbawa perasaan, padahal Tedia hanya bergurau akan ungkapan itu.
" aduh ada tamu .. Maaf ya, mama tadi dari belakang ngurusin tanaman-tanaman mama .. " Ria datang dan menghampiri teman-teman putranya.
" gak apa-apa ma, kita juga baru nyampe kok .. " kata Yoga, Ria tersenyum ramah, kemudian tatapan Ria tertuju ke arah Jiasa, di tatap begitu dalam membuat Jiasa sedikit canggung. Ia tersenyum malu.
" pasti ini anak baru .. ? " tebak Ria, Jiasa tersenyum dan menganggukkan kepala.
" ya sudah, mama bikinin air minum dulu ya .. "
" ok ma .. Ma jangan lupa makanannya, kita belum makan gara-gara Tedia nyeret kita kesini .. " ucap Lani tanpa merasa sungkan, kecuali Jiasa semua setuju dengan ucapan Lani. Mereka merasa terwakilkan.
Ria tersenyum, ia pun menganggukkan kepala, kemudian melangkah pergi menuju dapur.
__ADS_1
...