
Motor yang Tedia kendarai berhenti di wahana hiburan.
Kemudian ia memarkikan motornya di lahan parkir yang tersedia.
Perlahan Jiasa turun dari motor yang ia ketahui milik Lani. Jiasa memandang takjup ke arah wahana hiburan yang sudah sangat jarang ia temui apalagi di kota besar yang saat ini ia singgahi.
" ini pasar malem .. ? " tanya Jiasa melirik sekilas Tedia kemudian kembali menatap penuh kekaguman.
" iya, tapi sekarang belum malem, masih menjelang sore .. Tapi udah rame kok, yang jualan juga udah pada buka .. Mau masuk enggak .. ? "
Jiasa menganggukkan kepala, ia tak ingin melepas kesempatan untuk mengenang masa kecilnya.
" yuk .. " kata Tedia kemudian menggenggam pergelangan tangan Jiasa. Jiasa tersentak akan perlakukan Tedia. Ia diam menatap Tedia dengan tatapan yang sulit di artikan.
" ayok .. " kata Tedia, Jiasa tersadar kemudian menganggukkan kepalanya.
Sembari menggenggam pergelangan tangan Jiasa, Tedia melangkah memasuki wahana hiburn. jiasa mengikuti langakah Tedia, di sela-sela langkahnya, Jiasa tiba-tiba tersenyum tipis.
Keduanya kini berhenti di salah satu wahana rumah hantu. Jiasa bergidik ngeri menatap bangunan buatan yang di buat untuk menantang keberanian pengunjung, sementara Tedia menatap dengan mata berbinar senang.
" gue pengen banget masuk kesana, tapi sekarang masih belum bisa ... Nanti kapan-kapan kita masuk kedalam sana yuk Ji .. " Kata Tedia, matanya tak beralih barang sedetikpun, ia masih menatap bangunan rumah hantu.
Jiasa membulatkan matanya, jujur saja ia seorang yang penakut " gak mau, aku gak berani, aku takut, masih mending naik ombak banyu dari pada masuk kerumah hantu " Jiasa menolak dengan tegas.
Tedia terkekeh mendengarnya, kemudian ia mengalihkan perhatiannya menatap Jiasa yang ternyata tengah menatap rumah hantu dengan raut wajah yang ketakutan " gak usah takut, kan ada gue, nanti kalau lu digangguin mbaknya, lu tinggal peluk gue aja .. "
Sontak Jiasa mengalihkan perhatiannya, ia mendongkak menatap Tedia kemudian mendengus " dih modus .. " kata Jiasa dan membuat Tedia tertawa terbahak.
Tak ada percakapan lagi, Tedia kembali mengedarkan pandangannya. Tak sengaja ia melihat satu wahana dimana pemenang akan mendapatkan hadiah " Jia, kesana yuk .. Yang itu kayanya udah buka .. " Kata Tedia menunjuk wahana yang ingin ia kunjungi.
Jiasa mengikuti arah tunjuk Tedia. Melihat banyaknya boneka yang di jadikan hadiah membuat Jiasa mengangguk antusias.
sudut bibir Tedia tertarik, ia senang Jiasa tak menolak, kemudian keduanya kembali melangkah menuju tempat yang baru saja Tedia tunjukan kepada Jias.
Tiba di wahana permainan yang di tuju, Jiasa dibuat terpana dengan salah satu boneka berbentuk beruang.
Tedia yang sadar berinisiatif memenangkan boneka itu untuk Jiasa. Tapi, sebelum bermain Tedia berpura-pura bertanya, hadiah mana yang ingin Jiasa dapatkan " mau boneka yang mana Ji ..? "
Sontak Jiasa langsung menunjuk boneka beruang yang sedari tadi menjadi fokus utamanya.
Tedia menganggukkan kepala, kemudian Jiasa menghampiri penjaga wahana, setelah memberi si penjaga wahana uang, Tedia kemudian diberi bola kecil yang nanti harus ia lembarkan ke arah tumpukkan kaleng.
Tedia kembali mendekati Jiasa.
Tedia mengangguk " Tapi cuma dapat 3 bola, kalau tiga lemparan berhasil berarti kita bakal dapat boneka itu .. " kata Tedia menunjuk boneka yang Jiasa idamkan.
Jiasa tersenyum " ayo semangat, aku doain kamu supaya berhasil ancurin kaleng-kaleng itu .. "
Tedia menggelengkan-gelengkan kepalanya " udah kaya di medang perang gue .. " kata Tedia sembari tertawa.
Jiasa ikut tertawa mendengarnya, kemudian wajah Tedia berubah serius, Jiasa menatap penuh harap.
" gue lempar nih Ji, lu doain ya .. " kata Tedia bersiap melempar, Jiasa mengangguk dengan wajah penuh harap.
Tedia mulai berancang-ancang untuk melempar, kemudian bola itu ia lemparkan.
Brakkk ..
Mata Tedia dan Jiasa membola, lemparan pertama berhasil. Keduanya bersorak senang. Tapi, tak lama wajah senang itu kembali dengan wajah penuh kecemasan.
__ADS_1
Tedia kembali mengambil ancang-ancang untuk melempar tumpukan kaleng kedua.
Jiasa disampingnya kembali berharap.
Brakkk ..
Sorakan kembali terdengar, lemparan kedua berhasil. Kini tinggal satu kali lemparan lagi. Jika berhasil maka Tedia akan mendapatkan boneka yang Jiasa inginkan, tapi jika gagal maka Tedia tidak akan mendapat apapun. Karena lemparan pertama dan kedua di anggap gagal jika lemparan ketiga meleset.
Tedia kembali mengambil ancang-ancang. jiasa berharap-harap cemas. Telapak tangannya disatukan ia berdoa supaya Tedia berhasil.
Brakkk ..
Mata Tedia dan Jiasa membulat, Lemparan ketiga berhasil. Replek Tedia dan Jiasa berpelukan, keduanya senang karena berhasil mendapatkan boneka yang Jiasa idamkan.
Keduanya melepas pelukan, kemudian Tedia menghampir penjaga. Si penjaga memberikan hadiah yang dijanjika, yaitu boneke beruang yang terlihat lebih bagus dari boneka yang lain.
" nih Ji .. " kata Tedia, Jiasa menerima dengan senang hati. Wajahnya begitu ceria, Tedia yang ikut bahagia menarik sudut bibirnya.
Setelah berhasil mendapatkan apa yang Jiasa mau, Tedia mulai mengedarkan pandangannya lagi. Tapi Tedia tidak menemukan objek yang menarik. Tedia kembali mengedarkan pandangannya, tak lama ia tersentak ketika Jiasa menggoyangkan lengannya.
" Di .. Beli itu yuk .. "
Tedia mengikuti arah pandang Jiasa, ternyata Jiasa menunjuk ke arah penjual permen kapas. Tak ingin membuat Jiasa kecewa, akhirnya Tedia mengangguk setuju. Seketika wajah Jiasa sumringah. Seperti seorang anak kecil yang diizinkan membeli permen oleh ibunya.
Tiba di tempat penjual permen kapas, Jiasa mengambil satu bungkus dan langsung membuka bungkus itu. Jiasa mengeluarkan isinya, tak perduli dengan efek akhirnya nanti, Jiasa langsung menggigit kecil permen kapas itu.
" yuk .. " kata Tedia setelah membayar permen kapas yang diinginkan Jiasa.
Keduanya melangkah beriringin, Sembari memeluk bonekanya, Jiasa pun memakan permen kapas yang Tedia beli untuknya.
Melihat Jiasa yang sedikit kesulitan memakan permen kapas karena satu tangannya memeluk boneka membuat Tedia berinisiatif mengamankan boneka "
Tedia kembali mendekati Jiasa.
Tedia mengangguk " Tapi cuma dapat 3 bola, kalau tiga lemparan berhasil berarti kita bakal dapat boneka itu .. " kata Tedia menunjuk boneka yang Jiasa idamkan.
Jiasa tersenyum " ayo semangat, aku doain kamu supaya berhasil ancurin kaleng-kaleng itu .. "
Tedia menggelengkan-gelengkan kepalanya " udah kaya di medang perang gue .. " kata Tedia sembari tertawa.
Jiasa ikut tertawa mendengarnya, kemudian wajah Tedia berubah serius, Jiasa menatap penuh harap.
" gue lempar nih Ji, lu doain ya .. " kata Tedia bersiap melempar, Jiasa mengangguk dengan wajah penuh harap.
Tedia mulai berancang-ancang untuk melempar, kemudian bola itu ia lemparkan.
Brakkk ..
Mata Tedia dan Jiasa membola, lemparan pertama berhasil. Keduanya bersorak senang. Tapi, tak lama wajah senang itu kembali dengan wajah penuh kecemasan.
Tedia kembali mengambil ancang-ancang untuk melempar tumpukan kaleng kedua.
Jiasa disampingnya kembali berharap.
Brakkk ..
Sorakan kembali terdengar, lemparan kedua berhasil. Kini tinggal satu kali lemparan lagi. Jika berhasil maka Tedia akan mendapatkan boneka yang Jiasa inginkan, tapi jika gagal maka Tedia tidak akan mendapat apapun. Karena lemparan pertama dan kedua di anggap gagal jika lemparan ketiga meleset.
Tedia kembali mengambil ancang-ancang. jiasa berharap-harap cemas. Telapak tangannya disatukan ia berdoa supaya Tedia berhasil.
__ADS_1
Brakkk ..
Mata Tedia dan Jiasa membulat, Lemparan ketiga berhasil. Replek Tedia dan Jiasa berpelukan, keduanya senang karena berhasil mendapatkan boneka yang Jiasa idamkan.
Keduanya melepas pelukan, kemudian Tedia menghampir penjaga. Si penjaga memberikan hadiah yang dijanjika, yaitu boneke beruang yang terlihat lebih bagus dari boneka yang lain.
" nih Ji .. " kata Tedia, Jiasa menerima dengan senang hati. Wajahnya begitu ceria, Tedia yang ikut bahagia menarik sudut bibirnya.
Setelah berhasil mendapatkan apa yang Jiasa mau, Tedia mulai mengedarkan pandangannya lagi. Tapi Tedia tidak menemukan objek yang menarik. Tedia kembali mengedarkan pandangannya, tak lama ia tersentak ketika Jiasa menggoyangkan lengannya.
" Di .. Beli itu yuk .. "
Tedia mengikuti arah pandang Jiasa, ternyata Jiasa menunjuk ke arah penjual permen kapas. Tak ingin membuat Jiasa kecewa, akhirnya Tedia mengangguk setuju. Seketika wajah Jiasa sumringah. Seperti seorang anak kecil yang diizinkan membeli permen oleh ibunya.
Tiba di tempat penjual permen kapas, Jiasa mengambil satu bungkus dan langsung membuka bungkus itu. Jiasa mengeluarkan isinya, tak perduli dengan efek akhirnya nanti, Jiasa langsung menggigit kecil permen kapas itu.
" yuk .. " kata Tedia setelah membayar permen kapas yang diinginkan Jiasa.
Keduanya melangkah beriringin, Sembari memeluk bonekanya, Jiasa pun memakan permen kapas yang Tedia beli untuknya.
Melihat Jiasa yang sedikit kesulitan memakan permen kapas karena satu tangannya memeluk boneka membuat Tedia berinisiatif mengamankan boneka " sini bonekanya gue yang pegang .. " kata Tedia, Jiasa tersenyum senang.dimata Jiasa, Tedia benar-benar pengertian.
Keduanya terus melangkah, Jiasa kini sudah tidak kesulitan untuk menikmati premen kapas miliknya " mau enggak Di .. ?" jiasa menawarkan premen kapas itu.
Tak menolak Tedia pun membuka mulutnya, bergegas Jiasa mecubit premen kapas itu, kemudian premen kapas yang behasil ia cubit, ia suapkan ke dalam mulut Tedia.
Jiasa tersenyum melihat Tedia menerima suapanya. Usai menyuapi Tedia premen kapas, keduanya kembali melangkah, entah dorongan dari mana, kini tangan Tedia sudah bertengger dibahu Jiasa, Jiasa pun tak menolak, Jiasa justru merasa nyaman dengan rangkulan tangan Tedia.
Keduanya benar-benar menikmati moment, hingga tak terasa waktu sudah hampir magrib. Keduanya memustuskan untuk pulang.
Menuju tempat parkir, Tedia mengambil motor Lani, bersama Jiasa kini ia berada di atas motor Lani, detik berikutnya, tedia melajuka motor yang ia kendarai meninggalkan area wahana hiburan.
..
Jiasa turun dari motor Lani dengan wajah senang. Kini ia sudah sampai di halaman rumahnya.
" makasih ya bonekanya .. "
" iya sama-sama .. Masuk sana .. " kata Tedia, Jiasa menganggukkan kepala.
" gue balik ya, ada janji sama Yoga nih .. "
Jiasa kembali merespon dengan anggukkan.
" ya udah sana masuk .. "
" kamu pulang dulu sana .. " sahut Jiasa tak berniat masuk jika Tedia belum pergi.
" ngusir nih ceritanya .. "
Jiasa menggelengkan kepala, Tedia terkekeh pelan, gemas dengan tingkah Jiasa, Tedia mengulurkan tangannya mengusak pucuk kepala Jiasa " gemesin banget sih lu, udah ah gue balik yang ada gue khilaf kalau disini terus .. Dah ya .. "
Jiasa mendengus, Tedia kembali terkekeh, kemudian mulai menghidupkan mesin motor Lani.
Tedia menarik gas sebelum melajukan motor Tedia melambaikan tangan, dan mendapatkan balasan dari Jiasa.
Setelah Tedia pulang, Jiasa bergegas masuk, dalam langkahnya Jiasa senyum-senyum sendiri sembari memeluk boneka yang Tedia berikan untuknya.
...
__ADS_1