LABIRIN

LABIRIN
103


__ADS_3

Rutinitas seorang pelajar setiap pagi tentu saja pergi sekolah untuk belajar.


Contohnya, seperti Jiasa.


Ya, saat ini Jiasa tengah berjalan di koridor sekolah guna menuju kelasnya.


Dalam setiap langkahnya, banyak pasang mata menatap Jiasa, ada yang menatap kagum dan ada yang menatap tak suka.


Jiasa menyadari semuanya, bahkan ia tahu kenapa ada yang menatapnya tak suka, Jiasa yakin mereka penggemar Lani.


Kejadian kemarin cukup membuat gempar satu sekolah. Terutama penggemar Lani, sebenarnya bukan hanya kemarin Lani bersikap layaknya seseorang yang memilik hubungan dengan Jiasa, tapi kemarin itu begitu berbeda, Lani memberi peringatan kepada Abi agar jangan menganggu miliknya, lalu Lani membawa pergi Jiasa dengan cara menggenggam tangannya, oleh karena itulah semua penggemar Lani menatap Jiasa dengan tatapan sedikit tidak suka.


" ya elah, baru juga mau di sapa. Pawangnya di belakang. " Jiasa mengerutkan dahi, dia tahu itu suara Abi. Tapi, Jiasa tak terlalu mengerti dengan kalimat Abi.


Pawang ? Di belakang ?


Siapa ?


Itulah pertanyaan yang muncul dalam benak Jiasa.


Jiasa yang menghentikan langkahnya segera berbalik guna melihat siapa pawang yang di maksud Abi.


seketika Jiasa terkejut ketika melihat Lani, Tedia, Yoga, dan Zaki sudah berada di belakangnya dengan posisi berdiri sejajar.


" pagi Jiasa " sapa Zaki dengan senyuman.


Jiasa hanya diam, menatap ke empat siswa yang juga ikut berhenti setelah Jiasa berbalik.


Kemudian Jiasa beralih pada Lani yang berdiri di samping Tedia yang tengah merangkulnya.


Tak lama, beberapa detik selanjutnya Jiasa kembali berpaling dan menatap Abi yang duduk di luar kelas bersama beberapa temannya.


Abi memberi Jiasa senyuman, Jiasa tak membalas, ia malah memutar bola matanya malas. Kemudian Jiasa kembali beralih pada empat siswa itu.


" Bisa gak sih, kalian jauhan dikit " kata Jiasa dengan nada judes.


Zaki terkejut, sementara Lani, Tedia, dan Yoga merespon dengan gaya coolnya. Mereka hanya diam menatap Jiasa.


Melihat hanya dirinya yang bereaksi berlebihan, Zaki menatap heran ketiga sahabatnya. Lalu setelah itu Zaki menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" lu jalannya jangan kaya keong makanya " celetuk Zaki tanpa dosa.


Jiasa membulatkan mata, kenapa Zaki malah berbalik menyalahkan dirinya.


Jiasa pun memberi Zaki tatapan tajam.


Zaki tersenyum, meledek Jiasa. Lalu Zaki menoleh dan seketika senyuman Zaki sirna ketika ketiga sahabatnya tengah menatap Zaki dengan tatapan dingin.


Seketika Zaki bergidik ngeri. Ia pun berusaha membuat tenang ketiga sahabatnya.


" kalem dong ayang ayang ku. Yang gue katain kaya keong kan Jiasa, bukan kalian " kata Zaki mencoba melindungi dirinya sendiri dari tatapan mengimintidasi Lani, Tedia, dan Yoga.


Tawa menggelegar terdengar tak jauh dari tempat mereka, Zaki menoleh ke sumber suara. Dan dia kini Zaki melihat Abi, Nathan dan yang lainnya tengah menertawakan dirinya.

__ADS_1


seketika Zaki mengarahkan kepalan tangannya kepada mereka.


lalu Zaki kembali menatap tiga sahabatnya dan ternyata tatapan itu belum di palingkan dari Zaki.


Zaki mendecakan lidahnya. " Udah donk liatin guenya. Jia bilang sama pawang-pawang lu nih supaya nutup matanya "


bukan menuruti perintah Zaki, Jiasa malah mengedikan bahunya tak perduli, kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Zaki yang tengah mendapat tatapan membunuh.


Zaki kembali mendecakan lidah. " Jiasa, Asu lu ya " teriak Zaki, dan Jiasa tidak memperdulikan suara Zaki yang baru saja mengumpat.


Zaki mendengus karena di abaikan, kemudian ia menatap kembali ke arah tiga sahabatnya.


Zaki menghela nafas pasrah, tatapan dingin itu kini berubah menjadi tatapan tajam.


" iya maaf, maaf. Buruan ke kelas .. " kata Zaki lalu berjalan terlebih dihalu.


Setelah Zaki pergi, Lani, Tedia dan Yoga tertawa.


Mereka menatap Zaki yang baru saja ternistakan.


Lalu tak lama tatapan Tedia dan yoga berubah, keduanya menjadi sendu. Sedangkan Lani masih tertawa pelan.


" bakal kangen banget gue sama moment kaya gini " kata Yoga dan Tedia tanpa sadar.


Seketika tawa Lani sirna, Lani diam dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.


Sama seperti Lani, Yoga dan Tedia pun terdiam dan kini saling tatap.


Lani mengerutkan dahi, menatap heran ke arah Yoga.


Lalu tak lama Lani menghela nafas, mendengar helaan nafas Lani, Yoga dan Tedia yang tengah saling tatap satu sama lain beralih menatap Lani.


" buruan ke kelas " kata Lani kemudian melangkah pergi meninggalkan Tedia dan Yoga yang masih berdiri sembari menatap Lani yang mulai menjauh.


Lani memasuki kelas dengan langkah cepat, ekspresi wajahnya menunjukan jika ia sedang tidak baik-baik saja.


Zaki yang menyadari ekspresi wajah Lani pun mengeluarkan suara " drama apa lagi kali ini "


Lani terus melangkah dengan langkah cepat, di belakangnya ada Tedia dan Yoga yang melangkah dengan santai.


Saat ini ketiga siswa itu tengah menuju kursinya, kemudian ketika Lani tepat berada di sisi meja milik Robi, Lani menoleh dan menatap Robi " ROBI, IKUT GUE KELUAR .. " kata Lani dengan suara yang lantang.


Robi si oknum, langsung terperanjat kaget.


Tedia dan Yoga saling tatap, lalu Zaki tersenyum karena dugaannya bener.


" kan gue bilang ada drama lagi. "


Setelah meletakan tasnya dengan asal di meja miliknya, Lani kembali melangkah. Tujuannya tentu saja luar kelas.


" Robi buruan .. " teriak Lani, Robi kembali terperanjat, bergegas ia pun menyusul Lani yang sudah berada di depan kelas. Sontak seisi kelas pun memperhatikan.


" anjiirrr .. ngeri ngeri sedep kayanya " celetuk Zaki.

__ADS_1


Yoga dan Tedia menggelengkan kepala.


Mengabaikan Zaki, Yoga dan Tedia kemudian melangkah guna menyusul Lani dan Robi yang sudah lebih dulu keluar kelar.


" lah, kok gue gak di ajak ? Tunggu wooy " teriak Zaki, berlari pelan mengejar sahabat-sahabatnya yang sudah pergi lebih dulu.


Yang terjadi barusan tentu saja menjadi pusat perhatian seisi kelas, semua bertanya-tanya mengapa seorang Lani bisa terlihat begitu kesal kepada Robi.


" mereka kenapa ya ?" tanya Rosa, rasa keponya begitu tinggi. Mungkin rasa keponya itu mengalahkan tingginya monas yang ada di ibu kota.


" susulin aja sana kalau ingin jelas .. " saran Irene.


Rosa mencebikan bibirnya, kemudian ia menggelengkan kepalanya.


" tapi penasaran tau, pengen tau mereka kenapa ? " kali ini Jennie.


Jiasa dan Irene saling tatap, kemudian keduanya menggelengkan kepala menangapi rasa ingin tahu yang berlebihan yang kini di alami Rosa dan Jennie.


" susulin yuk " Jennie kembali bersuara.


" ogah " tolak Irene lantang.


Jennie mendengus kemudian ia memandang Jiasa dengan mata penuh harap " ayo, Ji. "


Jiasa menggeleng, " enggak ah, lagi pula bentar lagi Bu Yuli masuk "


Decakan lidah pun terdengar, mendengar nama Bu Yuli di sebut, Jennie dan Rosa segera mengeluarkan buku tulisnya.


Wajah Jennie dan Rosa yang masih memberengut membuat Jiasa dan Irene kembali menggeleng. " udah, nanti kamu tanya sama Zaki aja mereka tadi abis ngapain. " Jiasa memberi saran, seketika mata Jennie kembali berbinar begitu pula dengan Rosa.


..


Di tempat lain, Robi kini bak seorang pesakitan yang tengah menunggu vonis hukuman dari seorang hakim.


Di hadapan Robi ada Lani, lalu di sisi kanan kiri Lani ada Yoga dan Tedia.


Di mana Zaki ? Dia berada di samping Robi.


" jadi, lu kan yang ngasih tau Yoga ? " tanya Lani.


Tedia dan Yoga menghela nafas, sedangkan Zaki mengerutkan dahinya tak mengerti.


" gak sengaja, lagian Tedia juga udah tau kok .. Udah deh gak usah di sembunyiin lagi " sahut Robi.


Lani menghela nafas.


Zaki yang tak mengerti semakin penasaran " ini sebenarnya kenapa sih ? Kok gue kaya orang bego, ada yang bisa jelasin ? "


Dengan serempak, empat siswa yang kini bersama Zaki menghela nafas, Zaki semakin bingung.


" Arlan mau pindah .. " kata Tedia.


" ohhhh .. " Zaki mengangguk, ia masih belum menyadari semuanya. Dan ketika ia tersadar, raut wajah Zaki pun seketika berubah. " APA, PINDAH " teriak Zaki, Robi yang berada di sampingnya sampai menutup kedua telinganya.

__ADS_1


__ADS_2