LABIRIN

LABIRIN
41


__ADS_3

Waktu belajar mengajar habis, bel tanda pulang berdering begitu nyaring.


Para siswa yang sudah menghabiskan waktunya untuk belajar kini tengah merapihkan alat tulisnya ke dalam tas.


" Ji. Mau bareng enggak, gue bawa mobil soalnya .. " kata Jennie menawarkan tumpangan pada sepupuhnya itu.


Jiasa berbalik, kemudian ia melirik Lani yang tengah menatapnya. Ingat akan rencananya dengan Lani, Jiasa menggeleng menolak ajakan Jennie.


" ya udah, elu hati-hati ya .. " kata Jennie, Jiasa tersenyum dan mengangguk.


" ayo, Ca. kita duluan ya, Ji. " kata Jennie, pamit pulang lebih dulu.


Jennie dan Rosa melambaikan tangan, Jiasa pun membalas lambaian tangan keduanya.


Selesai merapihkan alat tulisnya, Lani bergegas bangkit dari duduknya kemudian melangkahkan kakinya. Zaki dan Yoga tentu saja mengikuti.


Tepat saat berada dekat dengan Jiasa, Lani menghentikkan langkahnya. Kemudian Lani menatap Jiasa yang masih duduk di kursinya bersama Irene.


" yuk .. " kata Lani.


Jiasa mengangguk, sedangkan Zaki, Irene, dan Yoga memincingkan mata.


" mau kemana kalian ? " tanya Irene penuh selidik.


Lani terkekeh. " nyari penghulu " sahut Lani, kemudian melirik Jiasa, Jiasa yang peka jika Lani kembali menggodanya memberi dengusan pelan." balik sono, langsung kerumah jangan pacaran .. " kata Lani lagi.


Kini gantian Irene yang mendengus. " suka-suka gue donk, jomblo iri aja .. " kata Irene.


Lani memutar bola matanya malas. " terserah, awas aja kalau di putusin terus nangis-nangis nyariin kita .. " kata Lani, Irene mencibir. Yang dikatakan Lani benar, jika ada yang mengganggunya Irene selalu mengadu kepada empat laki-laki yang sudah ia kenal sejak duduk di kelas satu SMP.


" yuk, Ji. " kata Lani, Jiasa mengangguk, bersama Lani, Jiasa melangkah keluar kelas meninggalkan Zaki, Yoga, dan Irene yang sedari tadi memasang wajah penasaran.


" kayanya pawang Lani emang Jiasa dah, kalau sama Jia tuh anak jadi kalem, enggak ambekan .. " celetuk Zaki, dan mendapat respon anggukkan dari Irene.


" sekarang kalem, tapi gak tau kalau si Malik udah masuk. kalau Jiasa deket-deket sama si Malik lagi, bisa-bisa ngamuk lagi .. " kali ini Yoga yang bersuara.


" Arlan gak akan ngamuk kalau gak ada yang mancing .. " kata Irene melirik Zaki, ia bermaksud menyindir Zaki. Kenapa ? Karena, pemicu amarah Lani adalah Zaki yang terus mengaitkan Jiasa dengan Tedia.


Sadar, Zaki peka dengan sindiran Irene, ia pun menggarukkan kepalanya yang tak gatal.


" iya, iya. Gue yang salah, maaf deh maaf .. "


Yoga menggeleng, Irene mendengus.


" yo balik .. " kata Yoga merangkul Zaki, kemudian melangkah keluar diikuti Irene.


.


bersama Jiasa, Lani melangkah menuju parkiran.


Tak ada percakapan dalam langkah keduanya, keduanya seolah bingung ingin memulai percakapan darimana.


Tak terasa keduanya sampai di tempat parkir. Kembali bersama Jiasa, Lani melangkah menuju mobilnya yang terparkir.


Menekan kunci mobil, setelah itu mobil milik Lani berkedip.


Lani membuka pintu mobil yang sudah tidak terkunci itu.

__ADS_1


Pintu yang ia buka lebih dulu adalah pintu penumpang, Mendapat perhatian kecil dari Lani membuat hati Jiasa sedikit tersentuh, ia pun tersenyum tipis.


Pintu penumpang itu terbuka sempurna, Jiasa di persilahkan masuk oleh Lani, bergegas Jiasa masuk ke dalam mobil Lani dan duduk dengan nyaman di kursi penumpang.


Setelah Jiasa duduk dengan nyaman, Lani kembali menutup pintu mobilnya.


Lani berlari kecil menuju sisi kanan mobilnya, kemudian ia membuka pintu, ia masuk dan duduk di kursi kemudi.


kedua tangan Lani menggenggam kemudi, sebelum menghidupkan mesin mobilnya Lani menoleh menatap Jiasa yang kini tengah sibuk dengan ponselnya.


" Ji . " panggil Lani.


Jiasa merespon, ia langsung menoleh. Kemudian menautkan alisnya bertanya ada apa.


" yakin mau ikut .. ? " tanya Lani memastikan lagi, takut Jiasa merasa terpaksa.


Jiasa tak menjawab, ia tersenyum dan kemudian memberi anggukkan.


Lani terkekeh, anggukkan Jiasa terlihat meyakinkan dan tidak meragukan, bergegas ia menghidupkan mesin mobilnya. Setelah itu, Lani melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah.


Jalanan begitu ramai tapi tidak terjadi kepadatan. Semua kendaraan berjalan lancar.


Lani mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal, tak pelan dan tidak juga ngebut.


Sesekali matany melirik Jiasa yang tengah sibuk dengan sebuah benda pipih bernama ponsel. Tapi, itu bukan milik Jiasa, melainkan milik Lani.


Sejak kejadian dimana Jiasa berani merebut ponsel Lani, ia merasa tidak sungkan untuk sekedar meminjam. Bahkan jari lentik Jiasa tak ragu menari di atas layar ponsel milik Lani.


Lani membiarkan, kembali fokus pada jalanan. Hingga sebuah gapura yang akan ia masuki bersama Jiasa terlihat begitu jelas.


Jiasa sadar, dan mendongkak menatap Lani dengan dahi menyerengit.


Tatapan Jiasa membuat Lani terkekeh. " udah nyampe, Ji. Tapi sebelumnya aku mau beli itu dulu .. " kata Lani sembari menunjuk salah satu penjual bunga yang berada di dekat gapura.


Jiasa mengikuti arah yang di tunjuk Lani, ia kemudian menganggukkan kepalanya.


" tunggu di sini, ya. " kata Lani lagi, Jiasa kembali mengangguk.


Detik berikutnya, Lani membuka pintu mobil dan kemudian ia keluar. Lani melangkah menuju penjual bunga. Setelah membeli satu bungkus bunga dan sebotol air doa, Lani kembali melangkah menuju mobilnya.


Dari dalam Jiasa memperhatikan, Kemudian pintu mobil terbuka dan Lani masuk ke dalam mobil.


Lani menyimpan bunga dan sebotol air doa di kursi belakang, kemudian ia kembali melajukan mobilnya.


Pemakaman yang Lani kunjungi kebetulan memiliki tempat parkir. Lani memarkirkan mobilnya, setelah itu bersama Jiasa, ia keluar dari dalam mobilnya, tak lupa Lani membawa bunga dan air doa yang sudah ia beli. tak lupa juga Lani membawa sebuah buku yang berisi ayat suci.


" Mas, Arlan. " sebuah panggilan mengalihkan perhatian Lani dan Jiasa, keduanya menoleh. Hingga keduanya melihat seorang laki-laki mengenakan topi tengah melangkah menghampirinya.


Lani tersenyum menyambut kedatangan lelaki itu.


" kemana aja, mas. Baru keliatan .. ? " tanya lelaki itu.


" biasa, Pak. Sibuk jadi baru sempet " sahut Lani. Jiasa sendiri hanya diam memperhatikan keduanya.


" ini siapa, mas. Pacarnya ya .. ? " tanyanya lagi.


Lani terkekeh, Jiasa tersenyum menanggapi pertanyaan yang di lontarkan lelaki itu.

__ADS_1


" kepo ah " kata Lani.


Yang bertanya hanya menunjukan cengirannya. " ya udah kalau gitu, Mas. Saya lanjut kerja lagi ya " pamitnya, Lani mengangguk, setelah mendapat anggukkan dari Lani, pria bertopi itu pun melangkah pergi.


" Namanya Pak Soleh, Beliau kerja di sini, Beliau yang bersihin tempat ini " kata Lani memberitahu sosok lelaki yang baru saja berbicara dengannya.


Jiasa mengangguk pelan menanggapi kalimat yang Lani ucapkan.


" kamu tunggu di sini sebentar ya, Ji. Aku ambil whudu dulu di situ " kata Lani menunjuk sebuah surau kecil yang berada di area pemakaman umum itu.


Jiasa mengangguk, setelah menitipkan barang bawaannya kepada Jiasa, Lani melangkahkan kaki menuju surau kecil itu.


Melihat Lani tengah mengambil whudu membuat Jiasa tertengun. Ia diam sembari menatap kagum pada sosok remaja yang sedari tadi bersamanya itu.


Selesai, di sana Lani sudah selesai mengambil whudu.


" yuk. " ajak Lani.


Jiasa diam, matanya menatap wajah Lani yang basah karena air whudu.


" Ji "


Jiasa terkesiap, ia salah tingkah. Bisa-bisanya ia begitu terpana dengan kondisi Lani saat ini.


berdosa, Jiasa merasa dirinya berdosa. Ia harus sadar jika ia tidak boleh bersikap demikian, apa lagi posisi Lani yang baru saja mensucikan diri.


Jiasa menundukkan wajah, kemudian ia mengikuti langkah Lani.


keduanya terus melangkah, Hingga langkah keduanya terhenti di sebuah pusara yang Jiasa yakini Jika itu pusara mendiang Ayah Lani.


Lani yang berdiri, lekas berjongkok. Lani pun mulai membuka sebuah buku doa yang ia bawa. Tapi Lani tak kunjung mulai membaca ayat-ayat itu. Dalam posisinya Lani malah mendongkak menatap Jiasa yang berdiri dengan wajah gelisah.


" kenapa, Ji.? "


" aku malu, pake rok pendek, depan orang yang lagi ngaji, udah gitu gak pake kerudungan. " kata Jiasa jujur. Malu dengan kondisi yang masih mengenakkan seragam, rok pendek di atas lutut, dan kemeje putih yang pas dengan ukuran tubuhnya.


Jujur saja, menurut Jiasa itu kurang sopan, apalagi saat ini ia tengah di ajak Lani berziarah ke makam Ayahnya.


Lani terkekeh. " kan dadakkan, Ji. Kalau di rencanakan dari kemaren kamu gak akan pake seragam ke sini, aku aja sekarang pake seragam " kata Lani mengingatkan Jiasa jika ia pun memakai seragam.


Jiasa menghela nafas. " kamu kan cowok, udah gitu celana juga panjang, nah aku. " sahut Jiasa.


Lani kembali terkekeh. " mau gimana lagi, udah sini " kata Lani menyuruh Jiasa berjongkong di sampingnya.


Melihat Jiasa yang nampak ragu, membuat Lani bangkit dan kemudian melepas switernya.


" nih pake " katanya memberikan switernya kepada Jiasa. lalu Lani kembali berjongkok.


Jiasa tersenyum, kini ia mulai merendahkan tubuhnya, berjongkok di sebelah Lani, dengan switer milik Lani yang ia gunakan untuk menutup bagian kakinya.


Lani membuka buku berisi Ayat suci itu. memulai dengan membaca bismilah, Kemudian Lani melantunkan surah yasin.


seketika ekpresi wajah Jiasa berubah, terkejut dengan satu kenyataan dari seorang Raylan Arlan Khazira yang baru ia ketahui. Selain pandai dalam bidang pejaran dan olahraga, ternyata Lani pandai mengaji.


Diam-diam Jiasa menarik senyum sembari menatap kagum Lani.


ternyata istilah melihat seseorang jangan hanya dari bagian luarnya saja benar adanya, terbukti di depan Jiasa saat ini berdiri seorang pria yang bernama Arlan selalu nakal, dan jahil, selalu marah jika di usik, tapi dari semua sikap buruknya Arlan adalah sosok pria yang pandai mengaji dan rajin mengirim doa untuk Ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2