
Pagar tinggi itu bergerak, bergeser ke kanan dan terbuka dengan lebar. Kemudian disusul kendaraan yang melaju masuk secara beriringan.
" hallo Pak Adul .. " Sapa Zaki yang sengaja menghentikkan laju motornya.
" hallo juga calon presiden .. " Pak Adul menyapa balik sembari meledek Zaki.
Zaki memutar bola matanya malas.
Tin
Tin
Tin
Suara klason mobil membuat atensi Zaki dan Pak Adul teralihkan. Ternyata di belakang Zaki ada Lani yang sedari tadi menunggu antrian untuk masuk di dalam mobilnya.
" buruan minggir, lama banget sih lu . " Lani yang memilik tingkat kesabaran seperti kertas menggerutu dan hal itu membuat nyali si ketua kelas menciut.
" sabar " sahut Zaki sembari mendengus ." udah ngamuk Pak, masuk dulu ya .. " kata Zaki yang kemudian melajukan motornya memasuki halaman rumah Tedia.
Tak ada lagi yang menghalangi jalannya, Lani yang sedari tadi menunggu antrian akhirnya bergerak maju.
Dari dalam mobil dengan kaca yang terbuka, Lani menyempatkan diri untuk memberi senyum menyapa Pak Adul. Dengan ramah pula, Pak Adul menyapa balik Lani dengan cara yang sama. Yaitu, memberi senyum.
Tak sengaja mata Pak Adul yang masih sehat di usianya yang tidak lagi muda melihat sosok Jiasa yang duduk di kursi penumpang disamping Lani.
Pak Adul mengerutkan dahinya, bertujuan untuk mengingat-ngingat siapa gadis yang duduk disamping Lani.
Hingga mata Pak Adul melebar sempurna, kini ia ingat. Gadis itu, gadis yang pernah berkunjung ke rumah majikannya, gadis itu dulu menunggu ayahnya bersama anak majikannya, dan gadis itu pula yang menjadi bahan Pak Adul untuk menggoda Tedia.
Sudah terjawab, Pak Adul kembali merubah ekspresi wajahnya. Ia tidak mau ambil pusing dengan hal yang baru saja ia sadari.
" salamikum Tedia .... " Yoga memberi salam ketika ia sudah mencapai pintu rumah Tedia yang terbuka lebar.
Melihat bagaimana cara Yoga memberi salam membuat Zaki gemas kemudian menoyor pelan kepala Yoga yang tidak berdosa itu.
Pelan, dan Zaki yakin itu tidak akan sakit. Tapi, dengan tingkat berlebihan yang tinggi, Yoga mengaduh sembari mengusap kepalanya yang baru saja ditoyor Zaki.
" Anjjir sakit Pak Lurah .. "
Zaki memutar bola matanya malas, sedangkan Lani yang berdiri di belakang keduanya menggeleng-gelengkan kepala.
Jika menunggu kedua orang di depannya kembali ke sikap normal, maka menurut Lani itu adalah satu hal yang akan lama. Maka dari itu, Lani melangkah melewati sedikit celah di antara Yoga dan Zaki, membuat Zaki dan Yoga sedikit terdorong karena kelakuan Lani.
__ADS_1
" Astagfirallah .. Bocah edan .. " sentak Zaki, Lani yang sudah berada di dalam rumah tedia tertawa tanpa dosa.
Tingkah Zaki, Yoga, dan Lani membuat tiga orang siswi yang sedari tadi menunggu untuk masuk akhirnya memutar bola matanya jengah. Sedangkan Jiasa, ia menanggapi dengan senyum dan gelengan kepala.
" buruan deh masuk .. " Jennie yang jengah segera mendorong punggung Zaki dan Yoga alhasil Yoga dan Zaki terhuyung dan masuk dengan terpaksa ke dalam rumah Tedia.
" kalian udah datang .. ? " Ria baru saja keluar dari dapur melihat Lani dan yang lain berdiri di dekat pintu. Bergegas ia menghampiri teman-teman putranya itu.
Meski nakal, sopan satun tetap no satu. Mereka menyalami Ria, pada saat giliran Jiasa tiba untuk mencium tangan Ria, Ria tersenyum. Bukan berarti Ria tidak tersenyum dengan yang lain, hanya saja senyuman yang Ria berikan berbeda dengan senyuman yang ia berikan kepada yang lain.
Apa yang Ria lakukan di sadari oleh Yoga dan Zaki, Zaki bahkan sampai menyenggol lengan Yoga dengan sikunya. Kemudian ia berbisik kepada Yoga " Mama mertua kayanya udah ngasih restu .. "
Yoga menoleh, kemudian ia menatap nyalang Zaki, tatapan Yoga membuat Zaki menautkan alis kemudian bertanya lewat gerakan dagunya.
" jangan kenceng-kenceng, sebelah lu, Lani. " Yoga mengingatkan, wajah Zaki berubah datar. Kepalanya bergerak menoleh kesamping dan ternyata Yoga benar, ada Lani yang kini tengah menatap Zaki dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bak maling yang tertangkap basah, Zaki yang nyengir tanpa dosa sampai gigi putihnya terlihat.
" kalian mau di sini aja, gak mau duduk ? Atau ke kamar Dia ..? " Suara Mama Ria mengalihkan atensi Lani, Zaki dan juga Yoga.
" Dia nya suruh turun aja, Ma. " celetuk Zaki tanpa berpikir jika saat ini manusia yang mereka maksud sedang terbaring karena kakinya terkilir.
Kedua alis Ria naik, ekspresi wajahnya menatap Zaki dengan tatapan yang sulit diartikan.
Berbeda dengan Mama Ria, Lani yang memiliki rasa sabar setipis kertas tengah mengumpat dalam hati akan kebodohan yang tengah dialami Zaki. Sedangkan Yoga menghela nafas kemudian memukul pelan belakang kepala Zaki agar kewarasan Zaki kembali pada otaknya.
" gue tau lu stres karena dipaksa memperbaiki nilai sama Pak Menteri. Tapi, jangan jadi gila juga donk. Masa iya Tedia turun ke bawah nyamperin kita, pan kaki dia lagi sakit .. " Yoga yang gemas mengingatkan Zaki akan kondisi Tedia saat ini.
Zaki kembali mengeluarkan cengirannya. " lah iya ya, kok gue lupa .. "
" kebanyakan makan rumus jadi gini .. " kata Yoga lagi.
" tapi kan, siapa tau Tedia mau turun ke bawah, kan ada Jiasa .. " lagi, Zaki berbicara tanpa berpikir. Sontak semua menatap Zaki tak terkecuali Jiasa yang namanya disebut dengan jelas oleh Zaki.
Kebodohan Zaki kali ini membuat Emosi Yoga sudah memuncak, namun ia bisa menahan. Yoga pun menepuk dahinya. Menyesali lidah Zaki yang selalu asal jeblak tak lihat situasi.
" EHHHMMM ... " dehaman keras terdengar. Zaki, Yoga dan yang lainnya menoleh kearah seseorang yang baru saja mengeluarkan dehamannya.
Siapa dia ? Lani.
Sadar akan kebodohannya, Zaki memukul pelan dahinya. Kemudian melirik Yoga berusaha meminta tolong. tapi, yang terlihat oleh Zaki adalah ekspresi Yoga yang acuh dan tak perduli dengan tatapan minta tolong dari Zaki.
" udah kalian ke atas aja sana, Mama siapin minum dulu .. " kata Ria menengahi.
__ADS_1
" sama kue nya, Ma. Jangan lupa .. " celetuk Zaki dengan suara lantang.
Lani menatap dingin Zaki, Yoga mengumpat dalam hati, Jennie mengangkat tangan ingin mencakar Zaki, Irene menggeleng-gelengkan kepala, Rosa komat-kamit menggerutu, sedangkan Jiasa memilih diam seolah tak perduli dengan tingkah memalukan Zaki. Yang Jiasa pikirkan saat ini adalah kondisi Tedia, bagaimana dia sekarang ? Apa sudah membaik atau justru semakin memburuk. Jiasa sebenarnya sudah tak sabar, hanya saja drama Zaki membuat keinginannya untuk segera menemui Tedia terhalang.
Jiasa tersenyum senang dalam hati ketika Ria menyudahi drama Zaki dan memberi perintah kepada mereka untuk naik ke lantai atas menuju kamar Tedia. Dan kini bersama yang lain, Jiasa melangkah naik menuju kamar Tedia yang berada di lantai atas.
..
Tedia sudah tau jika temannya sudah tiba. Tapi, ia memilih menunggu. Kondisinya membuat ia tak bisa turun untuk menyambut kedatangan mereka.
Sembari menunggu Tedia bermain dengan game di ponselnya. Cukup lama menuggu akhirnya suara ribut mulai terdengar dari luar kamar Tedia.
Tedia membuang pandangan dari layar ponsel ia mendongkak menatap pintu kamarnya yang tidak tertutup.
Suara ribut itu semakin terdengar jelas, dan akhirnya Tedia dapat melihat sosok Lani yang kini mulai melangkah masuk ke dalam kamar Tedia, kemudian Yoga dan Zaki menyusul, selanjutnya Tedia melihat Iren, Jennie, dan Juga Rosa.
Raut wajah Tedia seketika berubah dingin, sosok sesungguhnya yang ia tunggu tidak terlihat. Ia pun langsung menghela nafas kecewa.
Ekpresi yang tengah Tedia tunjukkan di sadari jelas oleh Lani. Lani yang sudah duduk di sisi tempat tidur milik Tedia menatap Tedia dalam.
" Jiasa ke kamar mandi sebentar " kata Lani dengan suara pelan.
Tedia yang mendengar sontak langsung menatap Lani dengan mata melebar. Ia menatap Lani dengan tatapan penuh arti, terlalu kentara kah dirinya hingga Lani dengan mudah menyadari ekspresinya ? Pertanyaan yang hanya bisa Tedia lontarkan dalam hatinya.
Setelah mengatakan itu, Lani diam, ia kini malah fokus dengan ponselnya. Tedia kembali manatap dalam wajah Lani yang tertunduk, sebagai seorang sahabat Tedia tahu jika hati dan wajah Lani tidak padu. Hati dan wajahnya berbeda. Tedia dapat mengetahui itu dari gerakan mata Lani yang selalu terpejam sembari menghela nafas pelan.
" gimana kabarnya, gue kangen gak ada yang baperin gue .. " Zaki kembali bertingkah berlebihan, kedua tangannya di rentangkan berniat memeluk Tedia, jangan lupakan wajahnya yang begitu dramatis.
" lebay lu, gue sehat, otak lu kaga .. " kata Tedia mendorong Zaki agar melepas pelukannya.
Zaki masih berdrama, kemudian ia duduk di pinggir kasur di samping Lani, namun tak lama Lani bangkit dan berpindah tempat, Lani melangkah menuju soffa yang ada di kamar Tedia, kemudian Lani merebahkan tubuhnya lalu ia menaruh lengannya diatas dahi kemudian ia memejamkan mata.
Tedia memeperhatikan sikap Lani, penuh tanda tanya ? Kemudian ia menatap Yoga dan Zaki secara bergantian, ia butuh penjelasan.
" gara-gara si Zaki noh .. " kata Yoga dengan suara pelan.
Zaki membulatkan mata, kemudian menunjuk dirinya sendiri. Selanjutnya dengusan dari Yoga di dapatkan Zaki.
Derap langkah kembali terdengar, Semua beralih kearah pintu, dan tak lama Ria datang dengan nampan berisi minuman.
Dibelakang Ria, Jiasa berjalan, ia yang yang baru saja selesai dengan urusannya di kamar kemudian Jiasa menyusul temannya.
Tahu Jiasa datang, secara otomatis hati Tedia mendadak senang, ia merasa kupu-kupu berterbangan dalam dirinya.
__ADS_1
Dalam langkahnya, Jiasa tersenyum begitu manis, Tedia pun menbalas senyuman itu.
Tapi, tak lama senyum Tedia sirna, ia langsung berpaling menatap Lani yang masih betah dengan posisinya. Menatap dalam Lani, kemudian Tedia tertunduk dan menghela nafas pelan.