LABIRIN

LABIRIN
57


__ADS_3

" Siang semua, hati-hati di jalan ya .. "


Pamit seorang guru, kemudian ia keluar dari kelas 11 IPA C.


Setelah sang guru keluar, kini berganti dengan para murid kelas 11 IPA C yang beransur keluar.


Jiasa melangkah keluar lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, wajah masam ia tunjukan, dan Hal itu membuat Jennie geleng-geleng kepala.


Jujur, Jennie bingung. Ia tak tahu penyebab sepupunya itu bersikap demikian, bertanya pun Jiasa tak menjawab.


" yuk balik, susul Jia .. " celetuk Irene. Jennie dan Rosa mengangguk.


Ketiganya kini melangkah keluar kelas.


Kecuali empat siswa, semua siswa dan siswi kelas 11 IPA C sudah pergi meninggalkan kelas.


Kini ke empat siswa itu masih setia duduk di kursi kebesarannya.


Tatapan mengimintidasi di tunjukan oleh tiga orang siswa kepada siswa lain yang duduk dipojok kelas.


Siapa mereka ? tentu saja Tedia CS.


Tedia, Zaki, dan Yoga menatap penuh imintidasi kearah Lani. Bahkan tatapan Tedia bukan lagi tatapan mengimintidasi, tapi tatapan tajam membunuh.


Lani mendesah pelan. Bak seorang mangsa yang sudah dikepung, Lani pasrah dan menunggu apa yang akan mereka lakukan padanya.


" lu .. " tunjuk Tedia pada wajah Lani.


Lani buang muka, Tedia menggeram kesal sembari mengepalkan tangannya.


" sebenarnya ada apa sih, Lan.? " Yoga dengan nada lembut, tapi terkesan frustasi karena Lani tak kunjung menjawab perihal penyebab masalah yang tengah terjadi.


" gak ada apa-apa " Sahut Lani sembari menatap Tedia dengan tatapan penuh arti.


Tedia tersenyum miring. Ia tahu Lani berbohong. Bertahun-tahun menjalin persahabatan dengan Lani, Tedia tahu bagaimana Lani.


" gak mungkin gak ada apa-apa kalau Jiasa aja sampe berani nampar lu " kali ini suara Zaki, si ketua kelas yang kadang bertingkah nyeleneh ini, kini terlihat serius seperti ketika ia tengah mengerjakan soal ujian.


Lani menatap Zaki, cukup Lama. Hingga terputus oleh helaan nafas Lani. " gak ada apa-apa " kata Lani kembali mengulang jawaban yang sama dengan jawaban yang ia berikan kepada Yoga.


Tedia menatap tajam Lani, kedua tangannya bersedekap diatas perutnya, " terus kenapa Jiasa ampe nangis kaya gitu, cewek gak mungkin sesakit itu kalau gak ada sebab. " Tedia kembali mengimitidasi Lani.


Lani mulai jengah, kilatan emosi sudah terlihat jelas di wajahnya, " ya mana gue tau, lu tanyain aja sama dia, lu kan ngejar-ngejar dia "


Tedia melebarkan matanya, menatap tajam Lani yang duduk dihadapannya, ia tidak percaya dengan kalimat yang baru saja Lani ucapkan.


Berbeda dengan Tedia, Zaki memasang wajah panik. Sedangkan Yoga kini menghela nafas lelah. Sebelum pertikaian terjadi, ia harus segera melerai semua ini, " udah, balik yuk." Yoga berdiri dari duduknya, kemudian Yoga kembali beralih pada Lani, " elu balik sama gue. "


Lani mengangguk pelan. tapi Tedia tidak setuju, ia langsung menggerakan kepala menoleh dan menatap Yoga, " gak, nih bocil balik sama gue "


Zaki menggelengkan kepala, " hadeeeh, butuh obat pusing satu pabrik gue mah, liat kalian kaya lagi liat drama, lebay banget sih kalian " Jengan Zaki.

__ADS_1


Lani menundukkan wajah, dua orang yang selalu menjadi sosok dewasa dalam hidup Lani kini seolah tengah memperebutkan dirinya.


Bangga ? Lani bangga ? Tentu tidak.


Lani tengah menunduk malu, malu karena jika Tedia dan Yoga tahu yang sebenarnya, Lani yakin keduanya akan merasa kecewa. Terutama Tedia.


Lani mendongkak, menatap sendu Tedia yang ia kenal sejak ia duduk di kelas 5 SD. " gue balik sendiri aja, naik taksi. Kalian gak perlu repot " Lani dengan nada lembut.


Tedia dan Yoga mengerutkan dahi.


" lu balik sama gue, gak ada penolakan " Tedia tidak ingin dibantah.


Lani mendesah pelan. meski enggan, tapi pada akhirnya Lani mengangguk. Ia bersedia pulang bersama Tedia.


...


Pagar rumah Lani terbuka. Mobil yang Tedia kendarai melaju memasuki halaman rumah Lani.


Lani membuka pintu, kemudian ia keluar dari mobil milik Tedia, setelah Lani, beberapa detik kemudian Tedia menyusul.


" elu gak pulang ? " tanya Lani dengan suara lembut, tak ada nada emosi dalam ucapannya.


Tedia tak menjawab, ia malah melangkah menuju pintu rumah Lani yang terbuka.


Lani menghela nafas melihat sikap Tedia, kemudian ia melangkah menyusul Tedia yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah Lani.


Sudah seperti rumah sendiri, Tedia terus melangkah masuk lebih dalam. Bahkan kini ia naik ke lantai atas rumah Lani. Tujuan Tedia tentu saja kamar Lani.


Pintu kamar Lani yang tertutup itu sudah terlihat, Tedia mempercepat langkahnya. Handle pintu ia pegang kemudian Tedia menggerakan tangannya untuk membuka pintu kamar Lani yang tertutup.


Lani yang berad tak jauh dari Tedia, mengerutkan dahi akan sikap temannya. Penasaran, Lani buru-buru mendekati Tedia.


Dan sama seperti Tedia, Lani juga ikut mematung di tempat.


Keduanya terkejut melihat Raya ternyata berada di dalam kamar Lani sembari memegang kertas berwarna putih yang sangat Lani ketahui dan ingin Lani sembunyikan dari ibunya.


" ada yang bisa jelasin " suara Raya terdengar, bahkan Raya menggerakan kertas yang ia pegang.


Tedia menelan ludahnya, jujur ia takut. Sedangkan sang pemilik kertas, kini tengah menunduk.


" Arlan .. " panggil Raya, Lani tetap menunduk.


Tedia melirik Lani, di lihatnya Lani yang tengah menundukkan kepalanya. sebagai sahabat Tedia paham situasi, Tedia berdeham guna mencairkan suasana yang menurutnya agak mencekam, " ehhemm " sontak hal itu membuat atensi Raya dialihkan padanya.


Tedia mencoba bersikap tenang, ia melangkah maju mendekati Raya.


" Bu, aku bisa jelasin. " kata Tedia ketika ia sudah berada dihadapan Raya.


Raya mengerutkan dahinya, kemudian ia menghela nafas, " ini bukan punya kamu, bukan kamu yang harus jelasin. Tapi, ARLAN " Raya dengan penekanan ketika ia menyebut nama putranya.


" Arlan lagi apes waktu itu, Bu. " Tedia kembali bersuara.

__ADS_1


Raya mendecakan lidah, sedangkan Lani masih berdiri ditempat sembari menunduk.


" sini kamu " perintah Raya pada Lani, Lani mendongkak. Tatapan datar sang ibu membuatnya semakin takut.


Ayolah, ini hanya selembar kertas tilang, bagaimana jika nanti Raya mengetahui kesalahan Lani yang lainnya. Mengingat itu, tubuh Lani semakin lemas. Bahkan keringat dingin sudah mengalir di pelipisnya.


" ayo sini " perintah Raya kembali terdengar.


Lani pasrah, ia pun melangkah mendekati.


Ketika tiba dihadapan Raya, Lani kembali menunduk.


" kenapa gak bilang, ini udah satu minggu ? " Tanya Raya, Lani melirik Ibunya sekilas, kemudian kembali menunduk, kedua tangannya saling bertautan.


" Maaf, Bu. Arlan gak berani bilang sama Ibu. Arlan takut Ibu marah. "


" dan sekarang ? " tanya Raya. Raya menggelengkan kepala, ia menghela nafas pelan. " masalah itu gak bisa selesai sendiri, Arlan. Kalau ada satu hal yang membuat kamu kesulitan, kamu harus meminta bantuan orangtua kamu, untuk apa kamu sembunyiin kertas ini, apa kamu gak percaya sama Ibu, sampai kamu memilih untuk bersikap seperti ini. inget Arlan, satu kali kamu berbohong, maka akan muncul kebohongan lain. "


Jleeppp ..


Kalimat itu mampu menusuk hati Lani yang paling dalam. Lani semakin menuduk, Tedia yang berada di sampingnya merasa tak tega.


" Bu, bukan begitu maksud Arlan, Arlan gak ngasih tau Ibu itu juga atas perintah aku dan Yoga. Kita gak mau Ibu sampai repot karena perkara tilang Arlan, jadi aku sama Yoga yang mutusin bakal ngurus kesana, begitu, Bu. Bukan karena gak percaya sama Ibu, tapi kita gak mau Ibu repot. " Tedia menjelaskan alasan mengapa Lani menyembunyikan semua ini dari Raya.


Raya menghela nafas, " inget ya, ini terakhir kalinya kamu bohong. Kalau sampai nanti ada kebohongan kedua, Ibu pastiin kamu gak bisa kumpul lagi sama Tedia, Yoga, dan Zaki. " Tedia dan Lani terkejut.


" Bu jangan gitu donk " Tedia tak bisa terima begitu saja.


" itu hukuman buat Arlan, karena udah berbohong. Kalau Arlan masih dibiarin kumpul sama kalian, yang ada kalian kebawa-bawa gak jujur. "


Tedia menggaruk kepalanya, pasalnya Tedia merasa bukan anak laki-laki yang baik, kadang ia juga sering berbohong kepada orangtuanya. " tapi, kan aku juga suka bohong, Bu. " kata Tedia.


Raya mendongkak menatap Tedia yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Kemudian Raya membuang pandangan sembari menghela nafas.


" kamu tau kan, Dia. Ibu trauma sama yang namanya bohong, terakhir Ibu dibohongi itu berakhir tragis dengan harus kehilangan seseorang. " suara Raya terdengar parau, matanya yang mulai memerah menatap Lani dengan tatapan datar.


Lani memejamkan matanya, Tedia mendesah pelan. Ia tahu dengan penyataan Ibu sahabatnya itu.


Dulu, Ayah Lani berbohong tetang penyakitnya, Ayah Lani menutup semua itu kepada Raya, Ayah Lani tak ingin merepotkan anak dan istrinya hingga ia memilih berjuang sendiri.


Tragis, Ayah Lani tak kuat menahan rasa sakitnya, hingga akhirnya ia harus menyerah. Dan yang membuat Raya menyesali hidupnya adalah, ia harus tahu perihal penyakit suaminya ketika detik-detik terakhir suaminya.


" Maaf, Bu. Arlan gak bermaksud seperti itu. " Lani dengan nada suara yang begitu menyesal.


air mata Raya turun, mendesah pelan kemudian Raya memeluk erat harta yang paling berharga dalam hidupnya.


Keduanya berpelukan, Tedia yang berdiri disamping Lani mendongkak guna menahan air matanya, ia tak kuasa menahan suasana haru yang ada dihadapannya.


Masih dalam posisi memeluk Lani, Raya mengalihkan pandangannya pada Tedia, Raya tersenyum, kemudian tangannya bergerak memberi kode pada Tedia agar Tedia ikut dalam pelukkan mereka.


Tedia yang peka, segera begerak dan kini ikut larut dalam suasana berpelukan yang mengharukan.

__ADS_1


Raya mengusap punggung kedua orang yang ia sayangi, " janji ya, kalian jangan mengecewakan ibu. "


Dengan senyum Tedia mengannguk. sedangkan Lani, ia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Lani tahu dan sadar, ia tidak akan pernah bisa menepati janjinya kepada sang Ibu jika satu hal terjadi kepada Jiasa.


__ADS_2