
Sebuah keputusan sudah diambil oleh Malik. Secepatnya ia dan yang lainnya akan datang kerumah Jiasa sebagai perwakilan dari keluarga Lani.
Lani hanya menunduk pasrah, meski ia ragu tak ia tak bisa menolak atau membantah.
Merasa tak ada lagi yang di bicarakan, Malik bangun dari duduknya. Ia berdiri dan menatap Lani yang duduk di seberangnya. Lani yang di tatap Malik hanya mampu menunduk dan tak berani menatap balik.
Helaan nafas terdengar, kemudian Malik melangkah pergi begitu saja. Melihat suaminya pergi, Ria pun bangkit dan menyusul langkah suaminya.
Kali ini di ruang tamu hanya ada Lani, Deri dan juga Marsel.
Dua orang yang berbeda generasi dengan Lani itu menatap Lani dengan tatapan kecewa.
" Papa masih gak habis pikir sama kamu, Lan. kamu pikir masalah akan kelar setelah kamu dan pihak keluarga datang ke rumah Jiasa ? Enggak Lani. Yang sekarang kita pikirkan itu bagaimana cara kita memberitahu kakek dan nenek kamu. Papa gak bisa bayangain gimana reaksi mereka. "
Lani membuka lebar matanya, ia terkejut dan seketika merasa bodoh. Bisa-bisanya ia melupakan orang tua dari Ibu dan ayahnya itu.
Benar apa yang dikatakan Papa Marsel, bagaimana mereka harus memberitahu masalah kali ini.
Dan juga bagaimana reaksi mereka setelah tahu.
seketika Lani panik, pikiran buruk mulai menyerangnya. Bagaimana jika setelah mengetahui kebenerannya kondisi nenek atau kakek Lani jadi memburuk.
Lani menggelengkan kepala, ia tak mau apa yang ia pikirkan terjadi.
" mikirin apa kamu ? udah dapet bayangan apa yang akan terjadi kalau sampai omah sama opah tau. " kali ini Papa Deri bersuara.
" makanya Lan, kalau mau ngapa-ngapain itu mikir dulu, kamu itu pinter ngaji, masa ngelawan setan aja gak bisa. " sambung Papa Deri kali ini di selipi sindiran halus untuk Lani.
Lani menunduk, Papa Deri menggelengkan kepala.
Malam kini sudah mulai larut, Deri dan Marsel juga sudah pulang.
Raya yang ingin menenangkan diri sudah kembali kerumahnya, Papa Malik dan Mama Ria mengizinkan. Tapi dengan catatan, Bi Minah harus selalu menemani Raya.
Hanya Lani yang tidak di izinkan pulang, Lani masih di tahan oleh Papa Malik.
Saat ini Lani duduk di sendiri di sisi kolam yang ada di rumah Tedia. Pandangannya kosong ke arah hamparan air yang menggenang di kolam.
Larut dalam lamunan, Lani di kejutkan dengan sosok Tedia yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
__ADS_1
" ngapa lu, nyusun strategi buat kabur. Sana kabur biar nanti gue aja yang kawin sama Jiasa. " celetuk Tedia.
Lani menoleh menatap Tedia dengan tatapan dingin.
" apa ngeliatin gue, mau gue colok mata lu " tantang Tedia.
Jika hatinya tidak sedang kacau mungkin Lani sudah melayani ocehan tak berfaedah dari Tedia.
Lani membuang muka, ia kembali menatap hamparan air yang menggenang di kolam.
" elu tau gak, gue tuh pengen banget bunuh lu pake tangan gue sendiri. tapi gue masih mikir, gue kasian sama anak lu, masa dia harus ngikutin jejak lu jadi anak yatim. Kan gak lucu. Gue masih kaya dalam dunia mimpi, bahkan gue terus berdoa semoga semua ini cuma mimpi. Bisa-bisa nya lu nanam saham duluan. Otak lu anjiir cetek banget kaya kolam renang di rumah Zaki. " Tedia mencoba untuk bergurau. meski hatinya sedang sakit, tapi kata-kata Ibunya membuat Tedia sadar akan takdir yang tidak bisa di paksakan.
Lani tersenyum miris. ayolah, dia tahu Tedia hanya berpura-pura menutupi kekecewaan di hatinya.
Melihat reaksi Lani, Tedia menghela nafas.
" Lan. Gue nitip Jiasa ya. "
Seketik Lani menoleh, menatap Tedia yang kini sudah menundukkan kepalanya.
Kekehan dari mulut Tedia terdengar, bukan terdengar lucu tapi terdengar menyakitkan.
Lani kembali membuat pandangannya, tak lama suara Tedia kembali terdengar. " Jiasa itu udah di takdirkan jadi tulang rusuknya elu. Dan sekarang lu sebagai calon tulang punggung harus belajar tanggung jawab dan bersikap dewasa. Jadi jangan kaya anak kecil lagi ya, Lan. Inget lu udah mau punya anak kecil. " satu nasehat Tedia ucapkan.
Lani berdecih. " Zaki noh yang kaya bocah ma. Dikit-dikit ngambek. " lagi nama Zaki jadi kambing hitam dalam suasan canggung yang meliputi Tedia dan Lani.
Mungkin jauh di tempat lain Zaki merasa gatal telinganya karena namanya di sebut dua kali.
Tedia mencibir. " elu berdua sama, kaya bocah. mana elu mah udah pinter bikin bocah lagi. "
Lani mendesah kasar. " gue lagi gak mau bercanda, Di. "
" kenapa ? Deg-degkan karena bentar lagi mau kawin " lagi-lagi Tedia bergurau. tapi lagi-lagi Lani tau kalau itu semua hanya kepura-pura Tedia yang menutupi rasa kecewanya.
Lani berdecak. tak lama ia merasakan sebuah rangkulan di bahunya, bahkan tubuhnya pun kini sedikit tertarik oleh rangkulan itu. " aaaaaaaaa .. Gue gak nyangka sahabat kecil gue udah mau nikah aja " suara gemas Tedia.
Lani berdecak, wajahnya memberengut, kemudian melepas rangkulan Tedia.
Tedia tersenyum miris mendapat perlakuan demikian. Ia tahu bagaimana perasaan Lani saat ini.
__ADS_1
" gue tau lu ngerasa bersalah sama kita. Tapi dengan lu kaya gini apa bisa balikin semua kembali ke awal ? Enggak, kan.? " Tedia menjeda kalimatnya. dia diam untuk beberapa detik, kemudian ia kembali bersuara. " gue udah pernah bilang kan kalau salah satu dari kita hancur maka semua harus kita hancur. Gara-gara masalah ini kita emang gagal ikut seleksi timnas, tapi apa kita harus ngeluh nyalahin elu. Enggak, Lan. Bahkan Zaki yang pikirannya kaya bayi baru berojol aja bisa nerima dengan legowo. udah Lan. Gak usah di pikirin yang gak penting, gue sama yang lain udah nerima dengan ikhlas biar pun gagal seleksi timnas, sekarang lu mending pikirin Mama Raya deh, pikirin bagaimana cara bikin hati Mama Raya kembali percaya sama elu. Inget Lan, elu itu baru aja ngerusak rasa percaya yang dia kasih buat elu. Elu gak usah ngerasa bersalah sama gue perihal Jiasa, dari awal emang lu kan yang ngebet sama dia, emang gue nya aja yang gak tau diri naro hati sama Jia. "
Helaan nafas Lani terdengar, Tedia menoleh dan melihat Lani yang beraut wajah sendu dan tatapannya kosong.
" mau nurut sama kakak lu ini kaga ?, lupain semuanya, jangan jadi lelaki pengecut, minta maaf sama semua yang udah elu buat kecewa, Ayah Ibu, Papa Mama, lalu mulai menatap hidup baru, menjadi Lani yang baru. Lani yang bertanggung jawab sama keluarga barunya. "
Lani mendecakan lidah, " cape gue dengerin lu ngomong, muter-muter di situ aja. Masalah maaf mah gampang, tinggal bilang maaf juga di maafin. Yang gue pikirin ini anak orang mau gue kasih makan apa anjiiirrr .. 17 aja gue baru mau. Ngertiin gue napa elu tuh, Di. "
Lani sudah mulai bersuara. Ok, Lani sudah kembali, meski hati masih sakit Tedia diam-diam tersenyum.
" tau masih belum bisa menghasilkan uang, malah bergaya menghasilkan anak "
Itu bukan suara Tedia, keduanya saling tatap lalu menoleh ke belakang.
Lani dan Tedia seketika terkejut, Papa Malik ternyata sudah berdiri di ambang pintu.
Wajah Papa Malik sudah terlihat lebih baik, tidak seperti sebelumnya. Mungkin Papa Malik sudah menerima semuanya dengan ikhlas.
Malik menghampiri Tedia dan Lani. Lalu ia ikut bergabung dan duduk di samping Lani.
" janji ya Lan. Cukup sekali aja kamu bikin orangtua kamu kecewa. "
" maafin Arlan ya Pa. " kata Lani bingung harus berkata apa.
Malik menepuk pelan bahu Lani, " jangan minta maaf sama Papa. Tapi minta maaf sama Ayah kamu, besok kita ziarah ke makam Ayah kamu, minta restu karena besok malem kita mau lamar Jiasa. "
Mata Lani membulat, Tedia diam-diam tertunduk dan tersenyum miris.
" be sok malam Pa.? " tanya Lani terkejut, " apa gak terlalu cepet Pa. ? " Lani kembali bertanya.
Tedia dan Malik menggelengkan kepala.
" gini nih kalau punya otak di gadein separo, keburu berojol anak lu " Tedia gemas, ia pun menghadia Lani dengan sebuah toyoran.
" anak Jiasa itu " kata Lani tanpa dosa, mungkin jika Jiasa mendengar, Jiasa tidak akan menerima. Lani terkesan tidak mengakui bahwa itu anaknya.
Tedia semakin gemas, ia menggeram kesal. " anak elu juga bego, kan lu yang bikin. "
Lani mencebik, ia memilih membungkam mulutnya, tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah, ya, memamg Bayi yang ada dalam perut Jiasa itu, miliknya. Lani juga sudah bersedia untuk bertanggung jawab. Tapi, apa Jiasa sendiri bersedia menerima Lani. Sedangkan Lani sendiri tahu, hati Jiasa itu sudah Jiasa simpan untuk sahabatnya, Tedia.
__ADS_1
Meski Jiasa tidak mengatakan secara gamblang. Tapi, Lani tahu dari sikap Jiasa kepada Tedia selama ini. Terlihat Jelas jika Jiasa menaruh hati pada Tedia.