
" inget pesan papa, jangan bandel, jaga mama, kalau bukan kamu siapa lagi .. "
Tedia mengangguk-anggukan kepalanya ketika mendengar wejangan dari Malik yang akan segera pergi ke Batam.
" kalau ada masalah langsung telephone papa .. "
" iya .. " Tedia menyahut singkat, Ria dan Malik menggelengkan kepala
" gak ada yang ketinggalan kan pa, yang di butuhin udah di masukin ke tas .. ? " tanya Ria memastikan jika tidak ada satupun barang-barang milik suaminya yang tertinggal, bisa berabe jika ada yang tertinggal. Karena apa, mengantarkannya jauh.
" gak ada .. " sahut Malik
" ada pa .. " suara Terdengar, Malik dan Ria mengerutkan dahi.
" apa ..? " bukan Malik yang bertanya, tapi Ria. Ia merasa bingung dengan ucapan putranya.
" kunci motor aku .. "
Malik mendesah pelan, ia kira putranya itu akan lupa dengan kunci motor. Pantas saja sedari tadi Tedia berdiam diri " papa kira dari tadi kamu diam aja karena sedih mau di tinggal papa ke Batam, ternyata kunci motor .. " Malik berujar. Benar, ia sempat salah paham. Malik mengira Tedia tengah bersedih karena akan kembali di tinggal oleh dirinya.
Tedia mendecakkan lidah " ck, ngedrama deh .. Aku udah biasa papa tinggal juah, jadi rasa sedihnya udah pergi jauh dibawa pergi sama papa, lagian emang papa ikhlas pergi kalau pas papa mau berangkat tapi anak sama istri keadaannya lagi sedih, enggak kan ? Dari pada papa kepikiran sama di tempat kerja, akan lebih baik kalau aku bersikap biasa aja, inget pa, sedihnya anak sama istri pas ditinggal dinas sama suami itu cuma jadi beban pikiran suami, jadi dari pada papa gak fokus mendingan aku begini .. Santai ditinggal papa kerja jauh .. "
Tak marah, Malik justru takjub dengan penuturan putranya. Ya, Tedia benar. Jika ia pergi dalam kondisi Ria dan Tedia sedih, maka ia tidak akan pernah fokus untuk bekerja.
Malik tersenyum, ia mendekati Tedia. Tangannya terulur mengusap surai hitam putranya " udah dewasa ternyata kamu, papa pergi ya, ingat jaga mama .. Selalu ngasih kabar baik selama papa di Batam . Ok.. "
" iya .. " sahut Tedia.
Malik melihat arloji di pergelangan tangan. Ekspresi wajahnya kembali berubah, sudah waktunya ia pergi. Malik kembali menatap Tedia, kemudian beralih kepada Ria " papa berangkat sekarang ya .. "
" iya pa .. Hati-hati ya .. "
Malik mengangguk dengan senyum mendengar ucapan Ria.
Malik melangkahkan kaki keluar rumah, Ria mendampingi. Tedia menghembuskan nafas kasarnya, kemudian ia mengusul ayah dan ibunya.
Di luar rumah Tedia melihat ayahnya yang bersiap memasuki mobil. Hari ini Malik di antar oleh pak Adul menuju bandara.
Tedia memperhatikan ayah dan ibunya yang masih berbincang, kemudian ayahnya menatap dirinya. Tedia tersenyum sembari melambaikan tangannya kepada sang ayah, ia tahu jika ayahnya itu tengah merasa sedih karena harus kembali meninggalkan istri dan anaknya. Namun Tedia berusaha untuk menyakinkan ayahnya lewat mimik wajahnya.
Tak lama Malik masuk ke dalam mobil, tak lama pula mobil yang kini dikendarai Pak Adul melaju meninggalkan rumah keluarga Tedia.
Ria balik badan ketika mobil yang membawa suaminya pergi tak terlihat lagi oleh matanya. Tedia pun masih berdiri di tempat. Ria menghampiri Tedia " yuk masuk .. " ajak Ria pada putranya.
__ADS_1
" ma .. Papa gak nitipin kunci motor .. ? "
Pertanyaan yang Tedia lontarkan membuat Ria memutar bola matanya malas " kamu ini, bukannya berdoa supaya papa selamat sampai tujuan, malah nanyain kunci motor .. " kata Ria kemudia masuk ke dalam rumah.
Ditinggal sendiri dan tak mendapat jawaban yang membuat hatinya senang membuat Tedia merengek bak anak kecil " isss .. Mama ihhh .. " dengan menghentakan kaki Tedia masuk ke dalam rumah, tak lupa dengan wajahnya yang di tekuk.
...
Hari berganti begitu cepat.
Hari ini Lani akan berlatih bersama teman-temannya. Menuruni anak tangga rumahnya, Lani celingak-celinguk ketika ia menginjakkan kakinya di lantai bawah.
" bu .. Ibu .. " teriak Lani memanggil Raya ibunya.
" di dapur .. " sahutan Lani dapatkan, bergegas ia melangkahkan kaki menuju dapur dimana ibunya berada.
" Arlan pergi dulu ya bu .. " pamit Lani, mencuim punggung tangan sang ibu.
" iya hati-hati .. "
Setelah pamit dan mendapat sahutan, Lani melangkah pergi keluar rumah. Lani mendekati motornya yang ia parkir di halaman rumah. Sebelum duduk di jok motornya, Lani melihat ponselnya, Lani hanya melihat jam, sudah waktunya untuk pergi, menyimpan kembali ponsel ke dalam tasnya, Lani pun melajukan motornya dan meninggalkan area rumahnya.
..
Motor sudah terparkir sempurna, Lani melangkah menghampiri teman-temannya. Ada yang berbeda dan itu membuat Lani tersenyum senang, pasalnya di sana bukan hanya Zaki dan Yoga, tapi ada sosok yang lain yakni Jennie, Rosa, Iren, dan tentu saja Jiasa, gadis yang selalu membuat hati Lani takaruan. Lani tak menyangka jika Jiasa akan menyempatkan diri untuk datang.
" kalian udah lama di sini ..? " tanya Lani basa-basi, kemudian ia berdiri di samping Jiasa yang sibuk dengan ponselnya.
" iya, tinggal si Malik nih yang belum datang .. " sahut Zaki
Tedia terkekeh, ia melirik Jiasa sekilas, ternyata Jiasa masih sibuk dengan ponselnya. Kemudian Lani kembali beralih kepada Zaki " udah di telephone .. ? "
" udah, dia bilang tadi lagi di jalan .. Biasanya yang telat itu Yoga, ngapa sekarang jadi Tedia .. " kata Zaki menyindir Yoga yang berdiri berdampingan bersama Rosa, peka akan sindiran Zaki, Yoga mendengus dan memberi Zaki tatapan tajam, Zaki sendiri menunjukan cengiran bodohnya.
Tak berselang lama, Tedia datang mengendarai mobil miliknya, kemudian ia memarkirkan mobilnya.
Kedatangan Tedia membuat perhatian Jiasa teralihkan. Ia menatap mobil yang Tedia kendarai dengan tatapan yang sulit di artikan. Dan tatapan Jiasa di sadari oleh Yoga yang tak sengaja melihat bagaimana reaksi Jiasa ketika Zaki mengatakan jika Tedia datang
" hadeeehh .. Bakal ribet kayanya nih urusan .. " ujar Yoga pelan, ia tahu jika Lani mengagumi Jiasa, tapi ia juga tidak bisa di tipu oleh tatapan Jiasa yang terlihat berbeda kepada Tedia.
" lu ngomong apa Ga .. ? "
Yoga tersentak kaget, ia kira tidak ada yang mendengar ucapannya ternyata, Rosa mendengarnya
__ADS_1
" enggak kok .. " kilah Yoga, Rosa hanya membulatkan mulutnya membentuk hurup O. Yoga bernafas lega, untungnya ia bisa berkilah dan tak membuat Rosa penasaran.
" udah lengkap kan, yuk masuk ke dalam .. " kata Lani berbicara seperti pemimpin yang membimbing rekannya untuk masuk ke dalam pusat pelatihan.
" ya elah Lan, gue baru nyampe, kasih minum dulu kek .. " kata Tedia.
Lani memutar bola matanya malas, sahabatnya ini selalu saja bertingkah berlebihan " gak usah lebay, buruan kita masuk .. "
Tedia mendengus, tak memperdulikan Tedia, Lani melangkahkan kaki untuk masuk ke pusat latihan, yang lain mengikuti.
Tedia sendiri masih berdiri di tempat, ia menghela nafas kasarnya, kemudian Tedia melirik ke samping, ia terkejut karena Jiasa ada di sampingnya " astagfirallah .. " ucap Tedia sembari memegangi dadanya.
Jiasa tersenyum dan menggelengkan kepala, kemudian tangannya bergerak membuka tas slempang yang ia pakai, Jiasa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Tedia yang memperhatikan mengerutkan dahinya.
" nih .. " kata Jiasa, Tedia diam menatap jus cepat saji yang Jiasa berikan, kemudian ia mendongkak menatap Jiasa. Dilihatnya Jiasa yang tengah tersenyum " katanya haus, ini ambil .. " kata Jiasa lagi, tak menolak Tedia mengambil alih jus siap saji itu dari tangan Jiasa
" makasih .. " kata Tedia, Jiasa mengangguk pelan.
Berjalan bersama menuju pintu masuk, Yoga merasa ada yang kurang. Ia menatap dengan seksama teman-temannya. Tak lama Yoga mengerutkan dahinya " Tedia sama Jiasa mana .. ? " tanya Yoga, ia berbicara dalam hatinya hingga tak ada yang menjawab pertanyaannya.
Yoga menghentikan langkahnya, kemudian ia membalikan tubuhnya. Yoga mendesah pelan, di sana ia melihat Jiasa yang tengah memberikan jus kepada Tedia.
Yoga mengalihkan perhatian ke arah teman-temannya yang lain. Semua sudah menjauh.
Yoga juga memperhatikan Lani, sepertinya Lani tidak melihat apa yang telah terjadi dibelakang.
" Dia .. Cepetan .. " panggil Yoga, Tedia mendengar kemudian Tedia mempercepat langkah kakinya.
" Ji .. Lu duluan sana .. " kata Yoga, Jiasa menganggukkan kepala kemudian melangkah meninggalkan Yoga dan Tedia.
Melihat sikap Yoga, Tedia mengerutkan dahinya " kenapa ..? "
Yoga menghela nafas " jaga sikap, kalau Lani liat bahaya .. "
Mengerti maksud ucapan Yoga, Tedia menunjukan cengiran bodohnya
" biarpun Lani lebih dulu kenal sama lu, tapi gue tau arti dari tatapan mata lu .."
Tedia mendesah pelan
" ayo buruan .. " kata Yoga, kemudian Tedia mengekori.
...
__ADS_1