
Suasana sarapan pagi ini terasa sunyi. Lani yang selalu mengusili Ibunya kini mendadak diam dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Raya mengerutkan dahi melihat sikap aneh putranya.
" kamu kenapa sih, dari semalem aneh banget ? " tanya Raya, heran saja sebab tingkah aneh Lani sudah Lani tunjukkan sejak Lani pulang, bahkan Lani tidak turun untuk sekedar makan malam.
Lani mendongkak menatap wajah sang Ibu yang menatapnya penuh selidik, kemudian Lani kembali menunduk. sembari mengaduk-ngaduk nasi goreng miliknya, Lani menggeleng, menjawab sang Ibu jika ia baik-baik saja.
" nasi gorengnya gak enak ya den, kok cuma diaduk-aduk aja ? " tanya Bi Minah yang memang ada di ruang makan guna memberikan air minum untuk Raya.
Lani kembali mendongkak, kemudian menatap sendu Bi Minah, detik berikutnya Lani kembali menggeleng.
Bi Minah menghela nafas, ia yakin jika Lani saat ini tengah memikirkan nasib mobil Ibunya yang kemarin terkena tilang.
Raya melihat arloji di pergelangan tangannya, kemudian ia minum dan segera beranjak dari duduknya. " Ibu duluan ya, kamu mau bareng enggak. "
Melihat sang Ibu akan pergi membuat wajah Lani kembali sendu, ia menatap Ibunya, Lani mengangguk, ia ingin pergi sekolah diantar Ibunya.
Raya terkekeh. melihat sikap Lani, Raya yakin jika putranya ini berada dalam mode manja, sekolah saja ingin diantar olehnya. " Yuk, sarapannya udah selesai kan ? " tanya Raya, Lani mengangguk.
Raya melangkah lebih dulu, kemudian Lani mulai beranjak dari tempat duduknya, tas yang ai letakan di kursi kosong ia ambil kemudian ia sampirkan di bahu.
Lani memundurkan kursinya, lalu ia mulai melangkah untuk menyusul Ibunya.
" den Arlan " panggil Bi Minah menghentikan langkah Lani.
Lani berbalik menatap Bi Minah yang tengah tersenyum padanya.
" jangan khawatir, nanti Bibi yang bantu ngomong sama Ibu soal mobil yang kena tilang " kata Bi Minah yakin jika kejadian kemarin yang menjadi beban pikiran Lani.
Lani tersenyum miris. Bi Minah salah, bukan itu yang Lani pikirkan, masalah tilang akan menjadi masalah kecil dibanding dengan masalah yang mungkin saja akan datang menimpanya sebentar lagi.
Tapi Lani mencoba untuk menutupi, ia pun hanya mengangguk pelan, seolah membenarkan jika yang ia pikirkan adalah mobil yang ditilang.
Di luar rumah, Lani segera menghampiri Ibunya yang sudah berada didekat mobil yang akan Raya kendarai.
Tanpa banyak kata, Lani langsung membuka pintu, kemudian ia masuk dan duduk di kursi penumpang.
Menyusul Lani, Raya pun masuk kedalam mobilnya. Sebelum menghidupkan mesin mobilnya, Raya menoleh menatap Lani yang sejak tadi hanya diam.
" yakin mau bareng ? " tanya Raya, Lani mengangguk.
" gak mau bawa mobil atau motor sendiri ? " Raya kembali memastikan, ya siapa tahu Lani yang sikapnya super unik ini tiba-tiba ditengah jalan berubah pikiran dan minta putar balik.
Lani kembali merespon, kali ini ia menggeleng tanda jika ia enggan membawa kendaraan.
" nanti pulang gimana ? " tanya Raya lagi.
__ADS_1
Kepala Lani bergerak, kini ia menatap datar Ibunya, tapi hanya sebentar detik berikutnya Lani menatap lurus ke depan, " nanti nebeng Zaki aja " katanya final.
Tak ada yang ditanyakan lagi, waktu juga semakin berjalan, tak ingin terlambat Raya akhirnya menghidupkan mesin mobilnya, kemudian ia melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya.
..
" widih udah bisa bawa mobil sendiri " ledek Zaki ketika Tedia keluar dari mobil miliknya.
Tedia mencibir, kemudian matanya berotasi mencari seseorang yang belum terlihat.
" Arlan mana ? " tanya Tedia pada Zaki dan Yoga yang saat ini bersamanya.
" belum datang kayanya, mobilnya kaga ada soalnya " sahut Yoga.
" emang tuh anak bawa mobil ? " pertanyaan bodoh Zaki lontarkan, Yoga menggelengkan kepala.
" bawa mobil ataupun motor, yang jelas dua kendaraan milik Lani belum keliatan. Jadi, udah dipastikan kalau tuh bocil belum datang " kata Yoga menjelaskan.
Zaki menunjukan senyuman lebarnya. Kemudian dengusan ia dapatkan dari Tedia.
Ketiganya masih berdiam diri di tempat. Tak lama fokus mereka teralihkan oleh mobil yang berhenti di depan gerbang sekolah.
Mobil itu, mobil yang sangat mereka kenali.
" lah, itu mobilnya Ibu " kata Tedia, " tumben amat " kata Tedia lagi.
Ketiganya masih mengamati, hingga mata mereka dibuat melebar ketika melihat Lani keluar dari mobil milik Ibunya.
Ketiganya terus memperhatikan Lani, sampai-sampai Tedia dan Yoga mengerutkan dahi karena ekspresi wajah Lani terlihat tidak biasa.
" hahahahahahha "
Suara tawa terdengar, Tedia dan Yoga menoleh ke sumber suara.
Zaki tengah tertawa sembari menatap Lani, yang di tertawakan melirik sekilas, kemudian ia melanjutkan langkahnya mengabaikan ketiga temannya begitu saja.
sontak hal itu membuat Tedia dan Yoga bingung, sedangkan Zaki langsung menutup rapat mulutnya.
" ada yang gak beres " celetuk Yoga dan mendapat anggukkan dari Tedia.
" diomelin kali sama Ibu karena ketauan ditilang " kata Zaki.
Tedia dan Yoga kini menatap Zaki dengan tatapan yang sulit diartikan. Hal itu membuat Zaki bergidik ngeri, Zaki saat ini tak ubahnya. Binatang kecil yang hendak dimangsa oleh predator.
" ayo ke kelas " kata Yoga, mendapat anggukkan dari Tedia dan Zaki.
Ketiganya melangkah bersama menuju kelas mereka yang berada di lantai satu.
__ADS_1
. ..
Lani melangkah memasuki kelas dengan ragu-ragu, takut jika Jiasa sudah ada di dalam kelas.
Jujur saja kejadian kemaren membuat Lani tidak berani berhadapan langsung dengan Jiasa.
Pengecut ? Jelas, Lani benar-benar tidak siap menerima kenyataan yang terjadi.
Meski ragu, mau tidak mau Lani harus masuk kedalam kelas. Dan sepertinya keberuntungan berpihak kepadanya, Jiasa belum datang.
Lani bernafas lega, bolehkan ia berharap jika hari ini Jiasa tidak masuk ke sekolah.
jahat memang Lani, tapi hatinya belum siap.
Lani melangkah pelan menuju kursinya yang berada di pojok kelas, setelah sampai Lani langsung duduk dan kemudian merebahkan kepalanya di atas meja, kedua lengannya ia gunakan sebagai bantal. Dan Lani mulai memejamkan matanya, pusing dengan semua masalah yang menimpanya bertubi-tubi tanpa permisi.
Samar-samar Lani mendengar suara ketiga temannya. Lani mencoba abai, ia tetap pada posisinya saat ini.
" lah, tuh bocah malah lanjut molor "
Suara Zaki terdengar jelas, sepertinya Zaki sudah duduk di kursinya. Lani mengabaikan, ia tetap pada posisinya dan enggan untuk menegakkan tubuhnya.
" Lan "
Kali ini suara Tedia disertai sentuhan di bahu Lani. Lani tetap bergeming, benar-benar malas untuk menegakkan tubuhnya.
" kenapa, lu di omelin Ibu gara-gara kemarin ? " Tedia kembali bersuara.
Lani tak menjawab, ia hanya diam. Tedia, Yoga, dan Zaki saling tatap, kemudian Yoga bersuara dengan pelan, tapi masih bisa didengar oleh Lani.
" udah biarin aja dulu "
Helaan nafas kini terdengar, itu suara Tedia. Lani tahu meski ia tidak melihat.
Tak terdengar lagi suara ketiga temannya, kini suara lain masuk ke indera pendengaran Lani. Lani mendengar suara Jennie dan kawan-kawan.
" Ji, elu kok gak semangat banget hari ini, ada apa nih ? "
Seketika Lani membuka matanya yang terpejam. itu suara Jennie, tapi Jennie menyebut Jiasa.
Tak terdengar suara sahutan dari Jiasa, Lani penasaran langsung menegakkan tubunya, kemudian ia menatap kearah kursi milik Jiasa, dan kini ia dan Jiasa saling bertatapan.
" giliran Jiasa aja bangun lu " Zaki mencibir.
Lani masih diam, ia menatap Jiasa dengan tatapan yang sulit diartikan, tapi tak lama Lani langsung memalingkan wajahnya, Lani kini bangkit dan berdiri, " minggir " katanya pada Tedia.
Tedia mendongkak menatap Lani dengan mata memincing, kemudian ia memberi Lani jalan, Tedia yakin Lani akan menghampiri Jiasa.
__ADS_1
Ternyata dugaan Tedia salah, Lani malah melangkah keluar kelas. Tatapan heran dari ketiga temannya kini terpancar, bahkan Rosa sampai bersuara, " kenapa lagi tuh bocah.? "
Semua mengedikkan bahu, sedangkan Jiasa yang duduk disamping Irene kini tengah menundukkan wajahnya, Jujur ia pun belum siap bertemu Lani, tapi keadaan yang membuatnya tak bisa menghindar, awalny Jiasa tidak ingin kesekolah. tapi, ia tidak ingin membuat semua menaruh curiga.