
Bertepuk tangan dan bersorak. Hal yang saat ini di lakukan penonton di atas tribun ketika melihat tim kesayangan mereka mencetak gol.
Bangga ? Sudah pasti. Tak sia-sia mereka datang untuk melihat dan mendapatkan hasil memuaskan.
" Tedia ayo tambah lagi ... " Teriak Jennie disertai tepuk tangan.
Jiasa menoleh ke arah Jennie, ia tersenyum tipis dan kemudian kembali mengalihkan perhatiannya ke arah lapangan hijau. Di sana Tedia yang baru saja mencetak gol untuk timnya tengah melakukan high five dengan Lani.
Babak pertama selesai. Kedua tim kini berada di pinggir lapangan. Mereka mulai mendengarkan intruksi dari pelatih.
" jangan puas diri, masih ada babak kedua, Lani coba maju ke dapan, jangan hanya mengandalkan Tedia dengan memberi umpan, bantu Tedia menyerang .. "
Lani menganggukkan kepala. Arahan masih di berikan sang pelatih. Hingga tak terasa 15 menit sudah berlalu.
Pluit tanda babak kedua akan segera dimulai sudah berbunyi.
Kedua tim kembali masuk ke dalam lapangan.
Sebelum bermain, kedua tim membuat lingkarang kecil. Lani sebagai kapten memberi sedikit arahan. Setelah itu ke sebelas pemain itu mengulurkan tangan menjadi satu kemudian bersorak guna menyemangati diri.
Masing-masing para pemain menempati posisi. Tedia berdiri di posisi penyerang. Sebelum pluit di bunyikan mata Tedia berotasi melihat ke arah tribun, tak sengaja matanya menangkap sosok Jiasa yang entah secara kebetulan tengah menatap ke arah Tedia.
Replek Tedia mengangkat tangannya, seolah memberitahu Jiasa jika ia sadar akan tatapan Jiasa. Sontak Jiasa pun tersenyum, dan Tedia pun lagi-lagi menyadari senyuman Jiasa. Tedia yang yakin jika senyuman itu ditunjukan untuknya membalas senyuman Jiasa, dan tak lama pluit tanda babak kedua di mulai pun berbunyi.
Penonton kembali bersorak, bahkan mereka berteriak gemas ketika salah satu pemain gagal mencetak gol.
" gilaaa .. Kipernya SMA NUSA PELITA keren juga, udah gitu cakep lagi .. " ujar salah satu gadis berbaju merah marun.
Jennie yang mendengar ucapan gadis itu berdecak tak suka.
" iya .. Yang namanya Yoga juga gak kalah keren .. " lagi suara memuji terdengar, kali ini dari gadis berbaju biru langit yang duduk di samping gadis berbaju merah marun.
Pujian kembali terdengar, kali ini yang mendelik tak suka adalah Rosa.
" tapi buat gue sih, Tedia sama Lani yang paling keren .. " kali ini gadis berbaju cokelat.
Jiasa yang mendengar membulatkan matanya, kemudian ia mendengus tak suka.
Melihat ekspresi ketiga temannya, irene menggelengkan kepala. Kentara sekali jika Jiasa, Jennie, dan Rosa cemburu.
" eh kalau pertandingan berakhir kita ajak mereka kenalan yuk .. " ucap wanita berbaju merah marun dan mendapat anggukkan dari kedua gadis yang duduk disampingnya.
Jennie membolakan matanya. dengan raut wajah kesal, Jennie mengumpat " sialan, ganjeng banget sih tuh cewek, enak aja mau ngambil Zaki, dia punya gue .. "
" bener banget, kita harus jauhin mereka dari cewek-cewek itu .. " seru Rosa, dengan mata yang menatap tajam ke arah tiga gadis yang memuja Tedia, Lani, Zaki, dan Yoga. Jennie menganggukan kepala menyetujui kalimat yang di ucapkan Rosa.
Irene kembali menggelengkan kepalanya " kalau ketemu aja berantem mulu, giliran mau di gebet cewek lain gak terima, dan mengakui kepemilikan, dasar bocil jaman now .. " kata Irene. Jiasa menoleh manatap Irene, Irene yang sadar mengedikkan bahunya " bener kan omongan gue .. " kata Irene dan mendapat anggukkan setuju dari Jiasa.
..
Pertandingan berakhir, bahkan pelatih sudah membubarkan tim dan mempersilahkan para atlet untuk pulang.
Empat gadis cantik SMA NUSA PELITA tengah berdiri di luar gedung pusat pelatihan.
Mereka menunggu ke empat lelaki yang menjadi pembahasan para gadis dari SMA lawan.
" mana sih mereka .. " gerutu Jennie dengan wajah ditekuk.
" sabar, mereka bukan lagi ngopi .. " sahut Irene mengingatkan.
Jennie mendengus, tak lama ia di buat terkejut ketika seseorang menepuk-nepuk bahunya
__ADS_1
" eh liat, mereka kan cewek yang tadi, ngapain diem di sana .. " kata Rosa, kemudian tangannya bergerak menunjuk ke arah tiga gadis yang ia lihat di dalam pusat pelatihan.
Jiasa, Jennie dan Irene menatap ke arah yang di tunjukan Rosa, dan seketika Jennie mendengus tak suka " pasti mau caper sama mereka .. " gemas Jennie, ingin sekali menghampiri ketiga gadis yang Jennie anggap centil.
Jiasa dan Irene saling lirik, sebenarnya Jiasa pun tak suka. tapi, ia tidak terlalu menunjukkan. Menurut Jiasa, ia masih baru dan belum mengenal mereka. Jadi tidak sepantasnya Jiasa bersikap berlebihan.
Tak lama empat pria yang sedari ditunggu keluar dari dalam pusat pelatihan. Jennie menggeram kesal ketika melihat tatapan memuja dan berbinar dari tiga gadis yang Jennie yakini akan mengajak ke empat pria itu berkenalan.
" gak bisa dibiarian, kalau begini yang ada Zaki jaga jarak sama gue .. Buruan samperin mereka .. " ajak Jennie, Rosa mengangguk setuju.
Dengan kaki yang dihentakan Jennie melangkahkan kaki, berjalan menuju ke empat pria yang tak boleh di lirik oleh gadis lain. Rosa mengikuti Jennie, begitu pula dengan Jiasa dan Irene.
Kedatangan ke empat pria tampan itu tentu saja menjadi perhatian ke tiga gadis yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka.
Wajah ketiga gadis itu semakin berbinar ketika Tedia, Lani, Zaki, dan Yoga sudah dekat dengan mereka.
Baru saja gadis berbaju merah marun akan melancarkan aksinya, suara Jennie membuat ia mengurungkan niatnya.
" Zaki .. "
Yang dipanggil menoleh, kemudian ia tersenyum ke arah Jennie yang berjalan menghampirinya.
Seketika ekpresi ketiga gadis itu berubah, wajah kecewa terlihat jelas, melihat itu Rosa bersorak dalam hatinya. Ia pun menjadi semangat untuk memanas-manasi. Rosa mendekati Yoga, dan dengan sengaja mengaitkan tangannya di lengan Yoga " pulang yuk .. " ajak Rosa, Yoga yang bingung mengerutkan dahinya. Tapi tak lama ekspresi itu di hilangkan Yoga.
" yuk .. " sahut Yoga, Rosa tersenyum ceria.
Berbeda dengan Rosa yang tiba-tiba bergelayut manja dengan Yoga, Jennie hanya merapatkan tubuhnya dengan Zaki, sama seperti Rosa, ia pun mengajak Zaki pulang " pulang bareng mereka yuk .. "
Zaki langsung mengangguk menerima ajakan Jennie.
" kita balik duluan ya .. Dah .. " kata Zaki pamit lebih dulu. Tedia, Lani, Jiasa, dan Irene menganggukkan kepala.
Tingkah aneh Jennie dan Rosa tentu saja di sadari Tedia dan Lani, keduanya mengerutkan dahi " ada yang aneh .. Kok bisa begitu ..? " tanya Lani menatap Jiasa dan Irene secara bergantian.
Tin
Tin
Klason motor dibunyikan oleh Zaki dan Yoga sebagai tanda pamit lebih dulu kepada ke empat temannya.
lani mengangkat tangannya, sebagai respon akan kepulangan mereka.
" Di .. Entar malem gue kerumah lu .. " kata Yoga, Tedia memutar bola matanya malas, ia tahu apa tujuan Yoga datang kerumahnya.
Setelah mereka menjuah dan tak terlihat, Tedia kembali ingat akan satu hal.
" ren mereka kerusupan hantu di dalem yak ..? " pertanyaan konyol di lontarkan Tedia, Jiasa mendongkak menatap Tedia dengan alis yang ditautkan. Tedia sadar Jiasa menatapnya, ia tersenyum bodoh kepada Jiasa.
" bukan, mereka gak rela soalnya ada yang mau ngajak kalian kenalan .. " sahut Irene, Lani dan Tedia membulatkan matanya.
" serius lu .. Mana ceweknya kok gak bilang kita dari tadi .. " wajah terkejut Tedia hilang, berganti dengan wajah antusias seolah bersedia berkenalan dengan para gadis itu.
Di samping Tedia, Jiasa berdecak pelan. Ia merasa tak suka dengan respon yang diberikan Tedia. Bodohnya Jiasa, Tedia menyadari hal itu. Tedia pun menatap Jiasa dengan tatapan sulit diartikan, tapi tak lama Tedia kembali merubah raut wajahnya, Tedia tak mau Lani sadar akan tatapan itu. Ia pun berpura-pura dan kembali beralih pada Irene.
" yang mana Ren ceweknya .. ? " tanya Tedia, melirik Jiasa sekilas, dilihatnya Jiasa yang tengah menunduk dengan meremas jari-jarinya yang saling bertautan.
Irene mengedarkan pandangannya, tak lama matanya menangkap tiga gadis yang ternyata masih ada di sekitar pusat pelatihan " noh mereka .. " tunjuk Irene, Lani dan Tedia mengikuti arah pandang Irene.
Decakan lidah terdengar dari mulut Lani " ck, bukan type gue, b aja .... " kata Lani kemudian menoleh ka arah Jiasa dengan senyum penuh arti.
Irene mengedikan bahunya tak perduli " gue balik duluan ya, Ji sorry ya gak bisa bareng, dahhh ... " kata Irene pamit tak lupa melambaikan tangan kepada Tedia, Lani, dan Jiasa.
__ADS_1
" anjiir kita di tinggal .. " celetuk Tedia, Jiasa yang berdiri di samping Tedia tersenyum tipis kemudian ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
Lani memperhatikan gerak-gerik Jiasa " ngapain Ji .. ? " tanya Lani ketika ia tak sengaja melihat Jiasa membuka aplikasi ojek online.
" mau pesen ojek online .. " sahut Jiasa, kemudian kembali fokus pada ponselnya. Tedia yang mendengar mengalihkan perhatiannya ke arah Jiasa, ingin sekali ia menawarkan diri untuk mengantar Jiasa. Tapi, mengingat ada Lani, ia jadi mengurungkan niatnya.
Tedia yakin Lani akan menawarkan diri untuk mengantar Jiasa.
Tak lama suara ponsel Lani menjadi pusat perhatian. Lani menjawab telephone dan mulai berbicara dengan seseorang di seberang sana.
" iya bu iya .. " kata Lani kemudian mengakhiri sambungan telephonenya.
" Di .. Minjem mobil donk, lu bawa motor gue .. " kata Lani, Tedia membulatkan matanya.
" kaga usah nanya, penting soalnya, besok kita tukeran di sekolah .. Nih kuncinya, mana kunci sama STNK mobil lu .. " kata Lani memberikan kunci motornya kepada Tedia.
Tedia menerima kunci motor Lani, ia pun mulai memberikan kunci mobil milik. Lalu Tedia mengeluarkan dombet di saku celana, Tedia membuka dompet dan mengeluarkan surat kendaraan yang dipinta Lani.
Lani menerima, ia pun mengeluarkan dompet, membuka dan mengeluarakan surat kendaraan kemudian diberikan kepada Tedia.
" sodara gue datang, ibu nyuruh gue jemput mereka, gak mungkin kan gue jemput pake motor .. " meski Tedia tak bertanya, Lani mencoba menjelaskan. Tedia mengangguk-anggukkan kepalanya.
" gue balik ya, Ji aku duluan ya, sorry gak bisa nganterin .. " Lani merasa kecewa karena tidak bisa mengantarkan Jiasa, padahal ini kesempatan emas untuk Lani agar lebih dekat dengan Jiasa.
Setelah Lani pergi kini hanya tinggal Jiasa dan Tedia, Tedia melirik Jiasa yang tengah fokus dengan ponselnya.
" mau pulang bareng gue gak .. ? " Tedia menawarkan tumpangan, ia merasa tak tega meninggalkan Jiasa seorang diri. Dalam hati Tedia meminta maaf kepada Lani karena sudah seperti seorang lelaki yang tengah menikam temannya dari belakang.
" aku udah mesen ojek online .. " sahut Jiasa menunjukan aplikasi yang tengah ia telusuri.
Tedia berdecak " cancel aja, ayo gue anterin pulang, gue ngeri, nanti gimana kalau mamang ojeknya culik elu " canda Tedia di akhir kalimat, Jiasa terkekeh pelan.
" ya udah .. " akhirnya Jiasa menerima ajakan Tedia, kemudian ia mulai mengcancel pesanan ojeknya.
Bersama Tedia Jiasa melangkah menuju tempat parkir.
Di tempat parkir, motor Lani begitu mudah ditemukan oleh Tedia. Tedia naik ke atas motor Lani " ayo Ji .. " kata Tedia, Jiasa bergegas naik. Sama seperti dulu, bahu Tedia ia jadikan sebagai pegangan. Dan hal itu kembali membuat gelisir aneh di hati Tedia.
Jiasa sudah duduk dengan sempurna dibelakang Tedia, tak lama Tedia pun melajukan motor milik Lani menjauh meninggalkan area pusat pelatihan.
..
Dalam perjalanan hening, keduanya tak berniat berbincang, apalagi posisi mereka sekarang berada di atas motor.
Tedia sadar akan waktu yang belum sore, tiba-tiba ingat akan satu hal.
Tedia bergegas menepikan motornya, dan hal itu membuat Jiasa bertanya-tanya.
Menahan motor dengan kakinya, Tedia dan Jiasa masih duduk di atas motor " mau langsung pulang apa mau ikut gue ..? " tanya Tedia yang tiba-tiba ingin mengajak Jiasa ke suatu tempat.
" kemana ..? " pertanyaan yang sudah Tedia duga, ia terkekeh.
" ada lah .. Mau ikut kaga .. ? "
" tapi gak aneh aneh kan ..? " Jiasa berpikir buruk.
Tedia merespon dengan tawa " kaga elah, yuk ikut gue, gue jamin hari ini lu bakal seneng .. "
Jiasa luluh, akhirnya ia mengangguk setuju. Raut wajah Tedia berubah sumringah, kemudian ia kembali melajukan motor milik Lani itu.
Entah kerasukan apa, hari ini Tedia ingin mengajak Jiasa mengunjungi tempat yang menurut Tedia menarik. Tak lupa Tedia kembali meminta maaf kepada Lani karena ia lebih dulu mengajak Jiasa jalan-jalan. Anggap saja ini sebagai bonus, karena jika nanti Lani sudah mendapatkan Jiasa, Tedia tidak bisa bebas mengajak Jiasa.
__ADS_1
...