LABIRIN

LABIRIN
66


__ADS_3

" Zakiiiiiiiii .. "


Mata Zaki berotasi ketika sebuah panggilan terdengar di telinganya.


Ia mendengus kasar, sebentar lagi drama akan segera di mulai.


" tau dari mana tuh paduka raja ..? " tanya Zaki pada Yoga yang masih ada di sampingnya.


Yoga mengedikkan bahunya. bertepatan dengan itu, pintu kamar Zaki yang tertutup di buka oleh sosok pria berwibawa meski dengan dasi yang terlihat berantakan.


Pria berwibawa itu menatap tajam Zaki dan juga Yoga. " kalian berdua ikut Papa sekarang juga, ada yang ingin Papa tanyakan kebenarannya. " katanya kemudian berbalik meninggalkan kamar Zaki.


Zaki dan Yoga saling tatap, kemudian Zaki kembali mendengus kasar. " yang salah siapa, yang di sidang siapa .. Hadeeeehhh " gerutu Zaki yang kemudian turun dari kasurnya bersama Yoga.


Zaki dan Yoga melangkah pelan di anak tangga guna menuju lantai dasar rumahnya.


Terlihat jelas oleh keduanya, Ayah Zaki yang terlihat begitu kesal dan frustasi.


Ayah Zaki mendongkak dan menoleh, kemudian ia mendengus kesal ketika melihat bagaimana pelannya langkah Zaki dan Yoga.


" langkah kalian bisa di percepatan tidak " sindir Ayah Zaki. Seketika Zaki dan Yoga mempercepat langkahnya. keduanya bahkan berlari hingga keduanya tiba dengan cepat di hadapan Ayah Zaki.


" duduk .. " perintah pria yang berkerja sebagai pejabat negara itu.


Keduanya langsung menuruti, ketika melihat Zaki dan Yoga yang sudah duduk, Ayah Zaki langsung menghela nafas kasarnya.


" kenapa kalian sampai membatalkan untuk ikut seleksi timnas. ? " tanya Marsel, Ayah Zaki.


Zaki dan Yoga menunduk, bingung harus menjawab apa. Tapi ada rasa syukur di hati keduanya, mereka kira Marsel akan bertanya perihal kasus kecelakaan Lani.


" Zaki, Yoga .. " panggil Marsel yang melihat Kedua remaja itu malah menunduk.


Yoga mendongkak wajahnya, seketika ia pun bertemu pandang dengan Ayah Zaki. Tanpa ragu Yoga bersuara, " Lani ..... " ada jeda diawal, Yoga nampak seperti tengah berpikir. Tapi tak lama Yoga kembali bersuara, " Lani kecelakaan, Pa. " sambungnya.


seketika Marsel membulatkan matanya, bukan hanya Marsel. Tapi Widia, Ibu Zaki yang baru saja datang dengan secangkir kopi di tangan terkejut.


Berbeda dengan Marsel dan Widia yang terkejut, Zaki malah menatap bingung ke arah Yoga.


Ok, drama apa yang akan Yoga buat kali ini. satu pertanyaan yang hanya mampu Zaki suarakan dalam hati.


" kecelakaan, lalu sekarang bagaimana keadaan Lani. Dia baik-baik aja kan, lukanya gak parah kan.? " rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Widia.


Yoga mendesah pelan, sudah ia duga. Pasti kedua orang tua Zaki akan berpikir demikian. Yoga menatap Marsel dan Widia secara bergantian.


" bukan kecelakaan seperti itu. Ini bukan ranah aku buat ngasih tau lebih detail. Akan lebih baik kalau Papa bicarakan dengan Papa Malik. "


seketik dahi Marsel berkerut. Zaki sendiri kini tengah menggeleng-gelengkan kepala, dan kebetulan hal itu tak luput dari perhatian kedua orang tuanya.


" Zaki, apa kamu bisa menjelaskan maksud Yoga. ? " tanya Marsel pada putranya.


Zaki menghela nafas kasar, " bener kata Yoga, Pa. Papa tanya dan bicara sama Papa Malik aja, ini bukan lagi ranah kami. "


Kebingungan semakin terlihat jelas di mata kedua orang tua Zaki. Hingga helaan nafas pun terdengar jelas dari mulut Marsel. Detik berikutnya Marsel mengangguk pelan tanda setuju dengan saran Zaki dan Yoga.


Bergegas Marsel mengeluarkan ponselnya yang kebetulan ia simpan di saku Jasnya. Rasa penasaran yang sudah tinggi membuatnya memutuskan untuk segera menghubungi Malik.


Jari Marsel mulai menari di ponsel pintarnya, ia mencari nomor Malik. dan ketika berhasil di temukan, Marsel segera menghubungi Malik.

__ADS_1


Ponselnya ia tempelkan di telinga, hingga setelah lama menunggu. Marsel pun membuka suaranya. " hallo .. Malik . "


Marsel diam, seperti mendengarkan Malik berbicara. Kemudian ia kembali bersuara, " bisa kita bicara. ? " tanya dan kembali diam.


Zaki, Yoga, dan Widia diam memperhatikan.


" kita bertemu di tempat biasa, sekarang. " katanya kemudian mengakhiri sambungan telephonenya.


Marsel bangkit dari duduknya, ponselnya ia simpan kembali ke saku jasnya. " Papa pergi dulu. Zaki kamu jangan kemana-mana, dan kamu Yoga jika mau pulang, langsung pulang jangan keluyuran. "


Kedua remaja itu mengangguk. Kemudian Marsel segera melangkah pergi tanpa meneguk kopi yang sudah istrinya buat.


Setelah Marsel pergi, Widia menatap Zaki dan Yoga dengan mata memincing, " sebenarnya apa yang kalian sembunyikan ? " tanyanya. dan bukannya menjawab, Zaki dan Yoga malah menunduk. Widia mendesah pelan.


..


Membantu Ibunya memasak saat ini, Jiasa melakukannya dengan terpaksa.


Aroma rempah-rempah membuat dirinya mual, tapi sekuat tenaga Jiasa menahannya. Ia tak mau Ibunya melihat dirinya yang muntah-muntah karena satu hal yang tak masuk akal.


Jiasa sudah sering membantu Ibunya memasak dan dia tidak pernah bermasalah dengan aroma rempah-rempah. Jadi, jika saat ini Farah melihat dirinya muntah-muntah maka Farah akan berpikir yang tidak-tidak.


" Ji, aduk terus ya. Jangan sampai santainya pecah. "


Jiasa hanya bisa mengangguk pasrah, ia pun menuruti perintah sang Ibu. Sembari menahan gejolak dalam perutnya, Jiasa mulai mengaduk pelan masakan Ibunya.


Jiasa terus mengaduk dan terus menahan, ia melirik sekilas ke arah Farah yang kini sedang mengiris beberapa siung bawang merah. Dan lagi aroma bawang membuat gejolak di perut Jiasa bertambah.


Jiasa merapatkan bibirnya, menahan satu hal yang terus memberontak minta di keluarkan. Hingga tiba saatnya ketika Jiasa tak bisa lagi menahannya.


" hueekkk .. " Jiasa dengan telapak tangan yang sudah menutup mulutnya.


Sontak atensi Farah teralihkan, ia menatap heran putrinya.


Jiasa semakin tak kuat menahan, ia terus mengeluarkan suara dan kemudian berlari menuju kamar mandi yang ada di dapur.


Melihat bagaimana putrinya, Farah pun ikut berlari, dan seketika ia terkejut ketika melihat Jiasa yang kini berjongkok dengan wajah mengarah ke kloset dan sedang mengeluarkan sesuatu dalam perutnya.


panik, Farah bergegas menghampiri Jiasa, " Jiasa, kamu kenapa ? " tanyanya dengan suara panik, tapi tak mendapat jawaban karena Jiasa terus berusaha memuntahkan isi dalam perutnya.


Farah kembali terkejut ketika melihat hanya cairan kuning yang keluar dari mulut Jiasa. " Jia, Mama panggilin dokter ya. "


Jiasa yang panik segera menghentikan apa yang tengah ia lakukan meskipun ia masih ingin mengeluarkan semua yang membuatnya mual.


Jiasa bangkit, mengusap pelan bibirnya yang basah. " gak u-sah, Ma. " cegahnya gugup. " aku gak kenapa-napa kok, kayanya mag aku kambuh deh, soalnya tadi aku sempat minum es kopi. " sambung Jiasa, bohong.


Farah menatap lekat putrinya, mendapat tatapan seperti itu dari Ibunya, Jiasa menundukkan wajahnya dan berdoa semoga Ibunya percaya.


Tak lama helaan nafas dari mulut Farah terdengar, " ya sudah kalau gitu kamu istirahat aja, lain kali jangan minum es kopi kalau masih pagi. Inget kamu itu harus jaga kesehatan. "


Jiasa menghela nafas lega, bersyukur karena Ibunya percaya.


" sana masuk kamar, biar Mama aja yang lanjutin masaknya sendiri. "


Jiasa mengangguk, kemudian ia melangkah meninggalkan sang Ibu.


Dalam langkahnya, wajah Jiasa berubah sendu. Ia merutuki dirinya dalam hati, sampai kapan ia akan terus berbohong, sampai kapan ia akan menutupi semuanya. Jiasa bukan gadis bodoh, Jiasa tahu hari demi hari dia akan terus tumbuh dalam perut Jiasa.

__ADS_1


Mengusap pelan perut ratanya, Jiasa memilih melangkah cepat guna menuju kamarnya, ia ingin sendiri, ia ingin menangkan diri akan kenyataan yang baru hari ini ia ketahui.


...


" Arlan .. sudah berbuat salah. " kata Malik yang kini sudah duduk di hadapan Marsel dengan dua cangkir kopi yang menemani mereka.


Marsel mendesah pelan, di rumah putrany dan Yoga tidak memberi jawaban yang membuatnya puas hingga dirinya yang penasaran mengajak Malik untuk bertemu dan ketika sudah bertemu, kini Malik yang membuatnya penasaran.


" bisa gak sih langsung to the point aja, gak Yoga, Zaki dan kamu. Sama aja. " kesal Marsel karena merasa di permainkan.


Ayolah, Marsel sedang tidak merayakan hari jadinya. Jadi jangan menjahilinya dengan candaan apapun.


" yakin kamu bisa terima dan tidak terkejut. " kata Malik.


" sudah katakan saja. " lelah Marsel.


" Arlan membuat kesalahan dengan .... " jeda Malik melirik kanan kiri, ia takut ada yang mendengar percakapan dirinya dan Marsel yang notabenya seorang pejabat. Sembari menunggu Marsel meraih cangkir kopinya dan bersiap menyesap kopi itu.


" Arlan menghamili teman sekolahnya. " Final Malik pada akhirnya.


Seketika cangkir yang Marsel pegang nyaris jatuh, beruntung Marsel mampu mengontrol tangannya.


" jangan bercanda kamu " katanya, ada nada kesal yang terdengar.


Malik tersenyum miris, ia menggelengkan kepala. " aku gak bercanda, itu kenyataan dan faktanya. "


Marsel menarik nafas dalam kemudian menghembuskan dengan kasar. Seketika kepalanya penat, pangkal hidung pun jadi sasarannya. " jadi, maksud dari kata kecelakaan yang Yoga maksud itu, ini.? "


Malik mengangguk lemah.


Marsel mendesah kasar, " Astagfirallah Arlan .. " katanya.


Malik menundukkan wajah mendengar Marsel sampai beristigfar.


" sekarang di mana Arlan, bisa-bisanya dia bikin malu kita. " geram Marsel. Sama seperti Malik, Marsel sudah menganggap Lani sepeti putranya.


" dia di rumah, sama Raya juga. Raya hancur banget, itu sebabnya aku gak ngizinin dia pulang. Kamu tahu, Raya adalah orang pertama yang mengetahui tetang kehamilan Jiasa. "


Marsel kembali terkejut.


" dengan kondisi hati hancur, Raya datang kerumah, terus dia memberitahu hasil dari perbuatan Arlan. " cerita Malik, detik berikutnya ia memejamkan sejenak matanya.


" aku udah gagal didik Arlan, sel. Aku gagal. Aku terlalu percaya diri sama sikap Arlan yang jauh sama Tedia. Tapi ternyata, aku kecolongan. aku terlalu mentingin kerjaan sampai gak ada waktu buat merhatiin anak-anak. ini semua salah aku. " sesal Malik, ia menundukkan wajahnya, menyesali semua yang terjadi kepada Lani.


Persahabat yang terjalin bukan hanya terjadi pada putra-putra mereka. Malik, Marsel, mendiang Ayah Lani, dan juga Deri ayah Yoga. Para orang tua itu bersahabat. Mereka juga menjalin kerja sama dalam bidang bisnis.


Marsel kembali menghela nafas, ia tahu setelah salah satu sahabatnya yaitu Ayah Lani berpulang. Mereka berinisiatif memberi kasih sayang kepada Lani agar Lani tidak merasa kehilangan dan kekurangan kasih sayang seorang Ayah.


" bukan cuma kamu yang gagal, tapi kita semua gagal. ayo kita sama-sama cari jalan keluarnya. " suara Marsel terdengar.


" jalan keluarnya cuma satu, menikahkan mereka. Tapi, masalahnya Lani masih terlalu muda, dan satu lagi kita tahu bagaimana sikap Lani. Apa dia bisa bertanggung jawab dan bersikap dewasa. " keraguan dalam diri Malik akan sikap Lani selama ini.


Marsel terdiam mencerna semua kalimat Malik. Ya, yang Malik katakan benar.


Tapi kemudian dia berusaha meyakinkan Malik. " mungkin saja setelah kesalahan yang dia buat, sikapnya jadi berubah. "


Malik menghela nafas, kemudian ia mengangguk pelan.

__ADS_1


__ADS_2