LABIRIN

LABIRIN
68


__ADS_3

" Jennie .... " teriak Irene setelah memarkirkan motornya.


Yang di panggil menoleh, kemudian menghentikan langkahnya dan berdiri menunggu Irene.


" duduk sendiri lu hari ini " kata Jennie setelah Irene sudah berada di dekatnya.


Irene mengerutkan dahi, " Jiasa kenapa ? "


" katanya sakit "


Irene mengangguk paham. " yuk " kata Irene mendapat anggukkan dari Jennie.


Keduanya siap melangkah, hingga pada akhirnya urung karena Rosa memanggil keduanya.


" Jen, Ren "


Kedua berbalik, dan melihat Rosa yang tengah berlari kecil guna menghampiri keduanya.


" berdua ? " Tanya Rosa.


" Jia sakit " sahut Jennie, Rosa mengangguk paham.


Tak lekas melangkah, ketiganya kini malah fokus ke arah jalanan di luar pagar, sebenarnya fokus utama mereka bukan luar pagar. Tapi, mobil yang berhenti di depan pagar sekolah.


Tak lama Zaki turun, ketiga gadis itu menatap dengan tatapan heran.


" tumben tuh bocah di anterin ? " tanya Jennie, Irene dan Rosa mengedikkan bahu tanda tak tahu.


Zaki melangkah memasuki area sekolah dengan raut wajah malasnya, melihat tiga gadis yang sekelas dengannya tengah memperhatikannya, Zaki menghela nafas lalu melangkah mendekati.


" ngapain lu pada ngeliatin gue .. " judes Zaki. bukan merasa tak enak Jennie malah mencibir, sedangkan Irene dan Rosa memutar bola matanya malas.


bergabungnya Zaki tak membuat mereka segera melangkah, ke empat remaja itu kembali menatap ke arah pagar di mana sebuah mobil mewah kembali berhenti di depan pagar.


Tak lama mereke melihat Yoga keluar dari mobil, helaan nafas jelas terlihat di lakukan oleh Yoga ketika ia sadar jika saat ini ia tengah menjadi pusat perhatian teman sekelasnya.


dengan langkah lemah, Yoga berjalan mendekati, tujuan utamanya sih, Zaki. Bertepatan dengan itu, mobil yang tadi mengantar Yoga melaju pergi meninggalkan area sekolah.


" bahahahahhaha .. Kena juga lu, berapa bulan Papa Deri nyita mobil sama motor lu " ledek Zaki, ia kira hanya dirinya yang terkena imbas atas kesalahan yang sudah Lani perbuat. Ternyata Yoga pun sama.


" berisik deh lu .. " kata Yoga, lalu kembali menghela nafas kasar.


Zaki tertawa geli melihat betapa kesalnya Yoga. berbeda dengan Zaki, ketiga gadis yang saat ini bersama keduanya tengah merasa heran.


" ke kelas yuk " ajak Zaki.


" bentar nunggu Tedia .. " sahut Yoga.


Zaki menyipitkan mata, " Arlan ..? " tanya-nya ketika Yoga hanya menyebut nama Tedia.


Yoga menatap Zaki, Lalu menghela nafas kasar untuk ketiga kalinya, " di kurung Papa Malik " kata Yoga.


" sudah gue duga .. " Zaki yang memang sudah menduga, bersuara.

__ADS_1


Ketiga gadis itu semakin heran dengan percakapan Yoga dan Zaki. Bahkan Irene yang sangat penasaran memberanikan diri untuk bertanya, tak perduli jika nanti Yoga dan Zaki men-cap dirinya sebagai gadis kepo.


" emang Arlan kenapa ? Kok di kurung Papa Malik. ? "


Seketika Yoga dan Zaki terdiam, keduanya terkejut karena baru sadar jika mereka membicarakan Lani di depan orang lain. Saling tatap antara Zaki dan Yoga terjadi untuk beberapa detik, hingga berakhir ketika Zaki berbicara lewat matanya.


Yoga kini beralih pada Irene, kemudian Yoga bersuara.


" lu kaya yang kaga tau Lani aja, Ren. Tedia bandel, Lani lebih-lebih dari Tedia. Biasa tuh anak bikin Papa Malik sewot, Jadi dihukum deh. " Yoga menjelaskan. Tapi sepertinya penjelasan Yoga tidak membuat Irene puas, Ia memejamkan sejenak matanya, kemudian menghela nafas lalu menatap Yoga intens.


" ya maksudnya kesalahan apa yang Lani buat, ampe dia di kurung Papa Malik. Bawa pesawat tanpa izin ? Kan gak mungkin. " jengan Irene.


Zaki menggaruk kepala yang tak gatal, bingung dia harus menjawab dengan jawaban apa. Padahal dalam hal ini Yoga yang di tanya.


" tanya aja sama Lani .. " kata Yoga, Irene mendengus.


atensi mereka kembali teralihkan ke arah pagar sekolah yang terbuka lebar. Lagi, mereka kembali melihat sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di depan gerbang.


Yoga dan Zaki menghela nafas, sudah hapal betul siapa pemilik mobil itu. Dan tak lama Tedia keluar dari dalam mobil.


Yoga dan Zaki dapat melihat dengan jelas raut wajah kecewa yang coba Tedia sembunyikan.


Tedia melangkah memasuki area sekolah. Ia terus melangkah, sempat melirik ke arah Yoga dan Zaki tapi kemudian tanpa menyapa, Tedia meneruskan langkahnya.


Tiga gadis yang masih berdiri di tempat bersama Yoga dan Zaki menatap heran Tedia.


Mereka kembali bertanya-tanya.


Yoga dan Zaki menoleh pada Jennie. tapi tak lama, Yoga dan Zaki kembali saling tatap. Hingga berakhir ketika Yoga bersuara.


" kita duluan ya. "


meski tak mendapat anggukan dari tiga gadis itu, Yoga dan Zaki melangkah pergi.


Keduanya mempercepat langkah guna menyusul Tedia.


Berhasil, keduanya berjalan di belakang Tedia yang melangkah pelan di koridor sekolah.


Jarak antara Yoga, Zaki dan Tedia memang tidak terlalu dekat. Yoga dan Zaki seperti membiarkan Tedia dan tidak ingin mengganggu Tedia, keduanya paham betul dengan rasa sakit yang saat ini Tedia rasakan.


" gue gak nyangka, Papa Malik juga nyita semua aset Tedia .. " Bisik Zaki, sengaja agar Tedia tidak mendengar.


" gila ya tuh Arlan, semua kena imbasnya. Kita gagal ikut seleksi timnas, aset kita di sita, dan sekarang Tedia hancur banget. " Zaki menggeleng heran dan masih tak percaya dengan semua kekacauan yang di buat Lani.


" senakal-nakalnya Tedia, dia gak pernah keciduk berbuat yang enggak-enggak, paling cuma ikut balapan liar. Lah ini, udah di luar jalur. bisa-bisanya dia nanam benih, dan kita ikutan manen. " Zaki kembali menggerutu. Di samping Zaki, Yoga mendesah kasar. Matanya memperhatikan Tedia yang melangkah dengan pelan. Meski tak melihat bagaimana raut wajah Tedia, Yoga yakin pasti Tedia tengah bersedih.


" udahlah, gak usah ngegerutu terus, gak akan ngebalikin keadaan. Mending kita deketin Tedia " usul Yoga, tak tega melihat kehancuran sahabatnya.


Zaki menoleh ke arah Tedia, langkah Tedia yang pelan membuat Zaki menghela nafas, kemudian Zaki menganggukkan kepala.


Keduanya mempercepat langkah guna mensejajarkan langkahnya dengan Tedia. dan ketika berhasil, Yoga langsung merangkul bahu Tedia sedangkan Zaki, ia langsung mengapit lengan Tedia dengan lengannya.


Tedia tersentak, langkahnya seketika terhenti. Tedia menoleh ke kanan dan kirinya. Senyuman bodoh Tedia dapatkan dari Yoga dan Zaki. Jika biasanya Tedia akan mengumpat dan sebagainya, kini respon yang Tedia berikan begitu datar dan dingin. Tedia kembali mengalihkan pandangannya, ia kembali menatap lurus kedepan, lalu melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Seketika rangkulan Yoga dan gandengan Zaki terlepas, Yoga dan Zaki secara bersamaan menghela nafas kasar, kemudian keduanya kembali melangkah menyusul Tedia.


" Di ? " panggil Zaki, dalam langkahnya Tedia menoleh ke sebelah kiri di mana Zaki berjalan. Tapi hanya beberapa detik, tanpa bersuara di detik berikutnya, Tedia kembali berpaling.


" bolos yuk, Di. " usulan sesat dari Zaki, biasanya Tedia akan merespon dengan wajah sumringah, kini Tedia hanya menggelengkan kepalanya lemah.


Bibir Zaki mengerucut. Tedia benar-benar patah hati sepertinya.


" lu sakit ya, Di.? " pertanyaan bodoh yang Zaki lontarkan, bahkan Zaki sampai merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia bertanya hal demikian, sudah jelas jawabannya jika Tedia tengah sakit, tapi sakit kali ini berbeda. Tedia merasakan sakit tepat di hatinya.


Kali ini Tedia tak merespon, ia memilih terus melangkah, kebetulan kelas mereka sudah terlihat.


Tedia berbelok, masuk ke dalam kelas dan melangkah menuju kursinya.


Zaki dan Yoga mengikuti.


Tiba di kursi kebesarannya, Tedia menaruh tasnya di atas meja, ia duduk kemudian langsung merebahkan kepalanya di atas meja dengan kedua lengan sebagai bantal.


Yoga dan Zaki yang sudah duduk, saling pandang. Kemudian helaan nafas kembali terdengar.


Tak lama suara para gadis yang sangat pemiliar terdengar.


Di ambang pintu, Jennie, Rosa dan Irene masuk ke dalam kelas.


Ketiga gadis itu melangkah menuju kursinya. Hingga suara Jennie mengalihkan atensi semuanya. " Pak Lurah. Jiasa izinin ya, dia sakit . "


Zaki diam, tapi tak lama ia menganggukkan kepalanya.


" oh iya, gimana kalau nanti pulang sekolah kita jenguk Jiasa " sebuah usulan di utarakan Rosa.


Irene merespon dengan antusias.


" gue sih setuju aja .. "


Jennie nampak berpikir, tapi tak lama satu senyuman terpatri. "ok deh. " katanya, kemudian Jennie menoleh ke samping yakni kursi Yoga dan Zaki. " kalian mau ikut gak ? " tanya Jennie pada Yoga, Zaki dan tentunya Tedia.


Yoga dan Zaki lagi-lagi saling tatap. Kemudian keduanya menggeleng pelan.


Dahi Jennie menyerengit heran, tapi seolah tak perduli, Jennie menerima dengan santai penolakan keduanya.


" Tedia ... " itu suara Robi, yang merespon Yoga dan Zaki sedangkan Tedia tetap pada posisinya.


Robi melangkah mendekati, sebuah benda ia bawa dalam genggaman. Dan ketika sudah berada di dekat Tedia, Robi kembali bersuara. " Di, ini punya Ibu. Gue gak bisa kerumah lu, gue harus jaga toko, gue titip sama elu ya. "


Tak ada respon, Tedia tetap diam dengan posisinya. Robi menunggu Tedia, karena tak ada pergerakan dari Tedia, Robi melirik ke arah Yoga dan Zaki.


Yoga lagi-lagi menghela nafas. Dan akhirnya, ia mengambil alih sesuatu yang ada dalam genggaman Robi. " sini biar gue aja . " kata Yoga.


Robi mengangguk, ia tahu kejadian yang menimpa Lani. Tapi, ia tidak mengerti dengan apa yang Tedia rasakan. Robi mengira Tedia merasa sedih karena sahabatnya tengah mengalami musibah.


Setelah titipannya di ambil alih Yoga, Robi memilih untuk pergi. Ia kembali ke kursinya yang ada di depan.


Dalam posisinya, Tedia mendengar semuanya. Rasa sakit yang teramat perih membuat Tedia enggan untuk sekedar merespon.

__ADS_1


__ADS_2