LABIRIN

LABIRIN
61


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal Jiasa untuk piket. dan kebetulan Jiasa mendapat tugas untuk membawa buku yang di kumpulkan ke ruang Guru.


Jiasa berjalan seorang diri sembari membawa 30 buku tulis, cukup berat memang. Tapi, sudah tugasnya jadi Jiasa tidak bisa menolak.


Kenapa tidak ada yang membantu ? Bukannya tidak ada yang membantu, hanya saja kelompok piket Jiasa sudah membuat jadwal bergiliran setiap minggunya untuk mengantar ini dan itu ke ruang Guru. Dan hari ini adalah jadwal milik Jiasa.


Melangkah dengan pelan, Jiasa di kejutkan dengan sosok Tedia. Jiasa menoleh ke sebelah kiri, dan kini ia melihat Tedia yang tengah tersenyum padanya.


" sini gue bantu " kata Tedia mengambil alih tumpukkan buku yang berada di tangan Jiasa.


Jiasa cukup terkejut, karena ia tidak siap dengan tindakan Tedia, beberapa buku jatuh ke lantai.


Bersama Tedia, Jiasa berjongkok guna memunguti beberapa buku tulis yang berserakan.


ketika selesai dan tak ada lagi buku yang berserakan di lantai, keduanya kembali bangkit. Dan Jiasa memegang buku yang bisa dihitung itu. Ada lima buku tulis yang kini Jiasa pegang.


Tedia mengadahkan tangannya, Jiasa mengerutkan dahinya.


" sini yang itu juga biar gue yang bawa " pinta Tedia, Jiasa kemudian mengalihkan pandangannya pada lima buku yang ia pegang.


Detik berikutnya Jiasa terkekeh.


" yang ini gak usah, biar aku aja. " tolak Jiasa merasa tak enak sudah membebani Tedia.


Tedia mengangguk pelan, kini keduanya berjalan beriringan menuju ruang Guru. Keduanya melangkah dengan pelan, tak ada percakapan diawal, hingga akhirnya suara Tedia yang bertanya membuat dahi Jiasa berkerut.


" gue boleh nanya gak, Ji. ? "


" apa " sahut Jiasa.


Tedia menghela nafas sebelumnya, kemudian ia mulai bersuara dan melontarkan satu pertanyaan, " elu ada masalah apa sih sama Lani.? " tanya Tedia, Tedia tipikal pria yang tak mau berbasa-basi jika ingin mendapat sebuah jawaban.


Seketika Jiasa menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Tedia.


Jiasa mendongkak menatap Tedia, tapi tak lama Jiasa membuang pandangannya sembari menghembuskan nafas kasarnya.


Tedia menyerengit, ada yang tidak beres dengan ekspresi Jiasa. Dan Tedia semakin penasaran ketika suara Jiasa terdengar, tapi bukan memberi jawaban.


" ruang Guru udah keliatan, yuk ke sana " kata Jiasa kemudian melangkah mendahului Tedia.


Tedia memperhatikan Jiasa yang semakin menjauh, ia mendesah pelan sedikit kecewa karena ia tidak mendapat jawaban, kemudian Tedia melanjutkan langkahnya menyusul Jiasa yang sudah tiba di ruang Guru.


Jauh di belakang keduanya, Lani saat ini tengah bersama kedua sahabatnya, yaitu Yoga dan Zaki.


Ketiganya melihat dan memperhatikan bagaimana interaksi Tedia dan Jiasa.

__ADS_1


Jujur Lani tak suka melihatanya, hatinya tentu masih terbakar jika melihat Jiasa berinteraksi dengan pria lain apalagi Tedia.


Suara tawa terdengar, Yoga dan Lani menoleh kearah si oknum yakni Zaki.


" Tedia selangkah di depan, udah gitu Jiasa nya respon banget. berat, Lan. Mundur aja, mundur. " Kata Zaki tanpa dosa memberi saran.


Lani menatap datar Zaki, sedangkan Yoga tengah menepuk dahinya karena ucapan menyebalkan Zaki.


" gak guna " kata Lani kemudian melangkah pergi meninggalkan Zaki dan Yoga.


Di tinggal Lani setelah tanpa dosa memanasinya, Zaki cengengesan. " ciaaa kepanasan. Makanya jangan so jual mahal. " celetuk Zaki, sebenarnya ia sengaja memanas-manasi Lani. Zaki ingin tahu bagaimana perasaan Lani kepada Jiasa, masih sama atau justru sudah berubah setelah lama Jiasa dan Lani tak bertegur sapa.


Masih asik cengengesan, akhirnya Zaki berhenti karena ada toyoran di kepalanya. Pelakunya siapa ? Tentu saja si paling dewasa di antara mereka. Yoga Hendra Priyadi.


Zaki menoleh dan menatap nyalang Yoga.


" elu "


" apa " Yoga menantang. " kebiasaan lu, mau bikin gue jantungan karena harus waspada setiap saat gara-gara mulut lu gacor manasin Lani terus. Heran gue sama lu, itu mulut apa mejicom sih. "


Zaki tersenyum bodoh, ya dia mengakui kalau yang ia lakukan tidak baik dan bisa berakibat fatal. Tapi, Zaki tidak kuat untuk tidak berkomentar seperti nitizen. Menurut Zaki, cinta segita yang tengah terjadi di antar kedua sahabatnya dan seorang gadis bernama Jiasa membuat Zaki gemas, Zaki jadi penasaran siapa yang nanti akan menjada pemanang.


" gimana ya, mereka tuh gemesin, Ga. " kata Zaki dengan mata berbinar.


Yoga mendengus, " gemesin, pala lu. Mereka tuh ngerepotin. " kata Yoga kemudian melongos pergi meninggalkan Zaki.


..


" mari makan semuanya " kata Zaki meletakan semangkuk bakso lengkap dengan garpu dan sendok di hadapan siswa yang memesannya, siapa ? Tentu saja Tedia, Yoga, dan Lani.


Yoga dan Tedia menatap dengan binar di mata, rasa lapar yang sedari tadi mereka tahan kini bisa diatasi dengan semangkuk bakso.


Zaki duduk di kursinya, ketiga siswa tampan itu sudah siap menyantap bakso mereka. Berbeda dengan Lani, ia hanya menatap bakso itu dengan raut wajah yang sulit diartikan. Tiba-tiba Lani mendadak mual, aroma bakso itu membuat perutnya memberontak. Namun Lani berusaha menahannya.


Lani kembali berekspresi aneh ketika melihat ketiga sahabatnya ini terlihat begitu menikmati baksonya.


Ternyata sikap Lani di sadari Tedia, Tedia yang tengah mengunyah bakso itu menatap Lani dengan dahi berkerut.


" kenapa lagi lu, makan buruan. Sakit perut nant, entar Ibu marah. " kata Tedia, sontak Yoga dan Zaki menoleh kearah Lani. Keduanya kini menatap heran Lani.


Lani mendecakan lidah, " ck ! Gak nafsu gue " kata Lani.


Zaki melongo, kemudian menelan pelan bakso yang ada di mulutnya. " lah, tumben. Biasanya elu paling demen bakso mang Dulah. "


Lani menggeleng, raut wajah kembali terlihat jika ia benar-benar merasa malas dengan hidangan bakso dihadapannya. " gak tau, ngeliat kalian makan aja udah bikin perut gue kenyang, singkirin sana, Ki. Aromanya gak enak banget, eneg gue. " Lani sembari mendorong semangkuk bakso agar menjauh dari hadapannya.

__ADS_1


Zaki kembali melongo. Bagaimana ini bisa terjadi, pasalnya mereka sangat hapal Lani. Lani itu sangat menyukai bakso, apalagi bakso mang Dulah yang ada di kanti sekolah.


Berbeda dengan Zaki, Tedia dan Yoga saling tatapan. Detik berikutnya Tedia dan Yoga kembali menatap Lani. Dilihatnya Lani yang begitu tersiksa karena menahan sesuatu.


" gue pergi deh, sumpah gue gak kuat, eneg banget. " Lani menyerah, kemudian bangkit dari duduknya dan melenggang pergi.


Bertepatan dengan itu, Jiasa dan tiga sahabatnya datang. Tak ada waktu bagi Lani untuk sekedar menatap Jiasa, ia ingin mengeluarkan sesuatu di dalam perutnya, Lani berlari pelan melewati Jiasa begitu saja.


Semua menyerengit menatap heran kearah Lani, begitu pula dengan Jiasa.


Tapi tak lama atensi mereka teralihkan oleh suara Zaki.


" kayanya alasan doank dia mah, ada Jiasa jadi kabur tuh bocah. "


" fitnah mulu lu jadi orang. " kata Jennie memukul pelan bahu Zaki. Jennie duduk di samping Zaki. Irene, Jiasa, dan Rosa mengikuti.


Jiasa duduk disamping Tedia, sedangkan Irene dan Rosa duduk dengan mengapit Yoga.


" kalau kata gue sih itu bukan bohongan, kayanya beneran sakit deh tuh bocah, mukanya aja keliatan pucat gitu. " kata Tedia menyanggah semua opini Zaki yang bisa membuat Jiasa sakit hati.


" tapi kenapa ngedadak, tadi tuh bocah baik-baik aja, ya kali gara-gara bakso doank jadi sakit. " gemas Zaki.


" ya bisa aja, mungkin perutnya lagi gak baik. " kali ini Yoga.


" ini kenapa sih sebenarnya ? " Irene mewakili Rosa, Jiasa, dan Jennie. Penasaran dengan pembahasan tiga cowok itu.


" temen lu, ya kali nyium bakso langsung mual. " kata Zaki.


alis Irene, Jennie, dan Rosa, naik. Sedangkan Jiasa mengerutkan dahinya.


" serius lu ? " tanya Rosa tak percaya.


" dua rius malah, tuh bakso dia masih utuh, keburu mual dia, langsung kabur entah kemana. Padahal itu bakso mang Dulah. " kata Zaki dengan wajah memelas meratapi nasib bakso milik Lani.


Jennie menggelengkan kepala.


" ya udah deh dari pada mubazir mending buat gue. " kata Irene menarik bakso milik Lani.


" dih, demen banget lu sama yang gartisan " cibir Tedia sembari menoyor kepala Irene.


" Dia, tangan lu lama-lama gue potong ya. " gemas Irene.


" coba aja kalau berani, emang mau lu entar gak ada yang ngelus-ngelus kepala elu " celetuk Tedia. Yoga dan Zaki tertawa.


" dih Najisss " kata Irene mulai menyuapkan bakso milik Lani ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Lain mereka, lain pula dengan Jiasa. Mendengar Lani yang kabur karena mual mencium aroma bakso membuat Jiasa mengingat dirinya yang selalu mual saat berdekatan dengan Lani.


Apakah ini salah satu tanda ? Diam-diam Jiasa menyentuh perut ratanya, kemudian tanpa mereka sadari, Jiasa menggeleng samar.


__ADS_2