
Kriiiiiiinggg
Suara pertanda pelajaran berakhir berbunyi. Semua siswa yang berada di dalam kelas mulai mengemasi alat tulisnya.
" jadi kan Ji ..? " tanya irene yang baru saja menyampirkan tas slempang miliknya di bahu.
Dengan senyum Jiasa mengangguk " jadi, aku udah dapat izin kok ... "
Mata Irene berbinar. Bergegas kedunya bangkit dari duduknya, kemudian keduanya melangkah keluar kelas.
" yuk balik .. " Zaki yang sudah berdiri mulai menjauhi kursinya. Kemudian ia mengajak teman-temannya agar segera meninggalkan kelas.
Mendapat anggukan setuju. Kini keempat cowok fofuler itu melangkah keluar kelas.
Di koridor Irene dan Jiasa tengah berbincang. Keduanya terlihat begitu antusias dalam mendengar dan bercerita tentang kehidupan pribadi. Sesekali canda dan tawa mengiasi wajah cantik keduanya hingga menarik perhatian dari siswa lain. Seperti kakak kelas mereka yang bernama Bara.
Bara terus memperhatikan Jiasa yang sembentar lagi akan melewati dirinya. Terus memperhatikan hingga kini Jiasa dan Irene sudah berada di dekat Bara.
Tak ingin kehilangan kesempatan untuk tebar pesona dengan Jiasa siswi baru yang sudah menarik perhatiannya, Bara berdiri dari duduknya kemudian menghadang Jiasa dan Irene.
Otomatis Jiasa dan Irene berhenti. jiasa menautkan alisnya menatap heran cowok yang tidak ia kenali itu.
" ada apa ya kak ..? " Tanya Irene, Jiasa menoleh menatap Irene.
" gue mau kenalan sama dia .. Kenalin gue Bara, gue kelas 12 .. " Bara mengulurkan tangannya menunggu dan berharap Jiasa membalas jabatan tangannya.
Jiasa menatap telapak tangan Bara yang terulur ke hadapannya. Selanjutnya Jiasa menatap wajah Bara yang tengah tersenyum padanya.
" Jiasa .. " kata Jiasa memberitahu namanya, kemudian membalas uluran tangan Bara. Jiasa hendak menarik tanggannya dari jabatan Bara. Tapi tidak bisa karena Bara menahannya.
Jiasa menatap dingin Kakak kelasnya itu. Jiasa seolah meminta di lepaskan melalui tatapan matanya. Bara masih tak mau melepas, ia malah menahan dengan kuat jabatan tangan Jiasa.
Seketika Jiasa merasa risih, Ia menoleh ka arah Irene. Seolah meminta bantuan Irene agar membantunya lepas dari cengkraman Bara.
Irene yang paham kemudian membuka suara " kak .. Maaf ya, kita buru-buru ada tugas kelompok soalnya .. " bohong Irene berharap dalam hati semoga Bara percaya dan segera melepas Jiasa.
Bukan melepas, Bara malah tersenyum penuh arti.
Dari kejauhan. Lani, Tedia, Zaki, dan Yoga tengah berjalan di koridor dengan gaya selengek'annya.
Tiba-tiba Zaki menghentikan langkahnya hingga membuat tiga orang di belakangnya berhenti, bahkan Tedia sampai menabrak punggung Zaki.
Tedia menggeram kesal. Ia mengangkat tangannya bersiap menjambak rambut Zaki. Tapi niatnya tak terlakasanakan karena suara Zaki menghentikan gerakan tangannya.
" cugg .. Liat deh, itu kan Jiasa sama Irene, di apain tuh mereka sama si Bara .. " kata Zaki menyebut kakak kelasnya itu tanpa embel-embel kakak.
Sontak ketiga cowok itu mengikuti arah petunjuk Zaki, seketik mata ketiganya terbuka dengan sempurna. Mereka terkejut dan juga khawatir.
Tanpa banyak kata Lani melangkahkan kaki dengan cepat. Tedia tahu kemana tujuan Lani, ia pun mengikuti Lani.
Zaki dan Yoga saling tatap " ayo susulin Ki, gelut lagi entar mereka .. " Kata Yoga kemudian mengejar Lani dan Tedia.
Dengan langkah kaki yang cepat, Lani akhirnya sampai ke tempat dimana Jiasa dan Irene dihadang oleh Bara.
" ada apa ini .. ? " Lani basa-basi padahal dia tahu kalau Bara tengah menganggu Jiasa.
Bara menoleh menatap Lani, kemudian ia tersenyum tipis.
Melihat Bara yang sedang berperang dengan Lani lewat mata membuat Jiasa memilik kesempatan untuk melepas jeratan Bara.
__ADS_1
Dengan kasar Jiasa menghempaskan tangan Bara, berhasil. Sontak Bara menatap tajam Jiasa.
" elu gak apa-apa Jia ..? " tanya Tedia khawatir kemudian menyentuh tangan Jiasa dan memeriksa kondisi telapak tangan Jiasa.
Jiasa menggelengkan kepala, Tedia bernafas lega. Tedia menurunkan tangan Jiasa, tapi ia tidak melepas, justru Tedia kini menautkan jari-jarinya di telapak tangan Jiasa. Tedia menatap tajam Bara.
Jiasa sendiri sedikit terkejut dengan tindakan Tedia, ia melirik sekilas telapak tangannya yang saling bertautan dengan telapak tangan milik Tedia.
" jangan ganggu cewek-cewek dikelas gue kalau elu gak mau berurusan sama kita .. " Lani dengan kata-kata penuh penekanan di setiap ancamannya.
Bara berdecih kemudian memadang remeh Lani " gak usah sok iye kalian disini, inget gue itu kakak kelas kalian, jadi jangan songong sama gue, hormati gue paham .. "
" kalau kakak kelasnya macem elu, gak sudi gue hormat .. " Zaki yang sudah berada bersama mereka ikut bersuara.
Mendengar itu Bara menatap tajam Zaki, kemudian Bara mengangkat jari telunjuknya dan di arahkan ke wajah Zaki. " elu gak usah mecem-macem sama gue, jangan mentang-mentang lu anak osis jadi belagu dan songong sama gue .. Inget gue itu kakak kelas elu .. "
" kalau lu lupa, gue bisa depak elu keluar dari sekolah ini .. " suara Tedia terdengar, terkesan lebih santai dan tanpa emosi, namun senyuman yang Tedia tunjukan mengandung arti.
Tedia tersenyum penuh seringai dan menatap remeh Bara.
Kalimat yang baru saja diucapkan Tedia membuat Bara kalah telak, Bara mengepalkan telapak tangannya dengan kuat. Ia tidak bisa melawan kata-kata Tedia. Ia baru saja dibuat ingat dengan satu fakta, jika Tedia bukan orang sembarang disekolah ini. Keluarga Tedia adalah pemilik yayasan SMA NUSA PELITA " kalian semua liat aja nanti .. Gue gak bakal diem .. " ancam Bara. Kemudian melangkah pergi.
" iya gue tungguin .. " Teriak Yoga.
Semua bernafas lega, Lani bergegas mengalihkan perhatian kepada Jiasa " kamu gak apa-apa kan Ji ..? "
Jiasa mengangguk, Lani kembali bersuara " kalau ketemu dia lagi kalian langsung ngehindar ya, dia bahaya buat cewek-cewek disini .. "
Jiasa dan Irene mengangguk
" makasih ya, udah mau bantu aku sama irene " kata Jiasa dan mendapat anggukan dari ke empat teman sekelasnya itu. Jiasa masih tak menyadari kita tautan tangannya dengan tangan Tedia belum terlepas.
Kemudian ia berbisik " tangan itu tolong kondisikan .. "
Tedia peka, ia membulatkan mata dan langsung melepas tangan Jiasa.
Menyadari itu Jiasa mendongkak menatap Tedia, Tedia hanya menunjukan cengiran bodohnya.
Dingin, Jiasa menanggapi cengiran Tedia dengan dingin. Ia kembali merasa dongkol kepada Tedia, dari pagi Jiasa seperti diabaikan oleh Tedia, dan kini ia kembali dibuat baper oleh Tedia.
" kalian mau pulang .. " suara Lani mengalihkan perhatian Jiasa, Jiasa tersenyum dan menganggukkan kepala.
" ya udah hati-hati sana .. " kata Lani lagi, dan kembali mendapat anggukan dari Jiasa dan Irene.
Setelah itu Jiasa dan Irene melangkah pergi meninggalkan Lani dan ketiga temannya.
Dalam perjalanan menuju tempat parkir, Irene menggerutu " gila tuh si Bara, makin nyeremin .. Hati-hati ya Ji, kayanya elu jadi target dia selanjutnya deh .. "
" maksudnya ..? " Jiasa bingung, ia tak paham, ia tak mengenal sosok kakak kelas bernama Bara itu.
Irene menarik nafas kemudian mengeluarkan dengan kasar, ia mengerti dengan pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Jiasa " nanti gue ceritain dirumah gue .. Yuk pulang .. " kata Irene yang sudah mengeluarkan motornya dari barisan motor yang terparkir dengan rapih.
..
Tak butuh waktu lama bagi Irene untuk sampai di rumahnya. Bersama Jiasa, Irene masuk ke dalam rumah.
" eh ada tamu .. " sapa ana, mama Irene yang memilik wajah yang sangat mirip dengan Irene.
Jiasa tersenyum ramah, menyalami ana kemudian ia mencium punggung tangan ana.
__ADS_1
Setelah sedikit berbasa-basi, Jiasa dibawa Irene naik ke lantai atas rumahnya. Tak berselang lama keduanya sudah tiba di depan kamar Irene.
Irene membuka kamarnya dan mempersilahkan Jiasa masuk.
Jiasa melangkah masuk setelah diberi izin oleh pemiliknya. Kemudian Jiasa mengedarkan pandangannya. Kamar Irene terlihat begitu rapih, dan Jiasa merasa kagum dengan kepribadian Irene.
" duduk aja Ji .. Nanti gue nyuruh bibi buat bawain minum .. " Kata Irene, Jiasa mengangguk.
Waktu semakin berlalu, Jiasa masih berada di rumah Irene.
Kini keduanya tengah duduk santai di atas tempat tidur Irene.
Irene begitu antusias cerita tentang kehidupan pribadinya kepada Jiasa.
" pantes gak pernah baper kalau lagi digodain Lani dan bestinya, tenyata udah punya pacar .. " ledek Jiasa, Irene tersenyum bodoh.
Tiba-tiba Irene menunjukan wajah seriusnya. Jiasa mengerutkan dahi melihat ekspresi Irene.
" Ji, elu inget gak tadi Tedia ngomong apa sama Bara .. " Irene dengan wajah seriusnya berbicara kepada Jiasa.
Jiasa memiringkan sedikit kepalanya, ia tengah memikirkan jawaban akan pertanyaan yang baru saja Irene lontarkan. Tak berselang lama Jiasa membulatkan matanya, ia inget dengan pernyataan Tedia.
" jadi Tedia itu sebenarnya siapa ..? "
Irene tersenyum penuh arti, wajah serius tidak ia hilangkan. Jiasa semakin penasaran dengan semuanya.
" bapaknya Tedia, om Malik. Beliau itu yang punya yayasan .. "
Jiasa membulatkan mata setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.
Jiasa kembali menatap serius ke arah Irene yang sudah kembali bersiap untuk bicara.
" selain Tedia yang faktanya anak pemilik yayasan, yang tiga itu Zaki, Lani, Yoga. Mereka anak donatur terbesar disekolah .. "
Kali ini Jiasa tak membulatkan mata, ia ingat dengan cerita Irene tempo hari. Jadi fakta berikutnya tak terlalu membuat Jiasa terkejut.
" mereka itu emang anak orang penting disekolah, tapi yang bakal elu geleng kepala adalah, guru disekolah gak pernah segan-segan buat hukum mereka, para guru gak takut sama status mereka .. " cerita Irene disertai tawa, Jiasa yang tadi terlihat biasa aja kini kembali membulatkan mata.
" guru disekolah gak takut, kalau salah ya dihukum. Udah gitu yang bikin gue kagum sama mereka berempat itu adalah, kalau abis dihukum guru, gak ada tuh ortu mereka datang terus negur guru itu .. "
Jiasa merubah ekspresi terkejutnya, kini diganti dengan kedua sudut bibir yang tertarik. Tiba-tiba raut wajah Jiasa kembali berubah, Jiasa inget akan satu hal.
Sebuah prestasi yang selalu empat cowok itu dapatkan. Dari sifat slengek'an mereka, mengapa mereka bisa berprestasi dalam bidang pelajaran. Sebagai manusia biasa tentunya Jiasa merasa sedikit curiga.
" oh iya ren, soal peringkat mereka yang selalu masuk 5 besar, apa ada kaitannya sama status mereka .. ? "
Irene menatap Jiasa dengan wajah serius, kemudian Irene tersenyum penuh arti. Jiasa sendiri menunggu jawaban Irene.
Irene menggelengkan kepala, Jiasa semakin penasaran.
" enggak .. Mereka emang murni pinter, dibalik sifat bandelnya mereka itu pinternya gak ketulungan .. Ya mungkin itu salah satu cara buat nutupin sifat buruk mereka .. " Irene tertawa.
Seketika Jiasa merubah ekspresinya, rasa curiga itu sirna begitu saja. Diam-diam Jiasa tersenyum, ia ingat dengan seseorang dan Jiasa semakin menganggumi sosok itu. Tapi, Jiasa kembali mengingat akan sikap abai yang dilakukan cowok itu. Jiasa kembali merubah ekspresi wajahnya. Ia menghela nafas kasar.
" kenapa Ji ? " tanya Irene
Jiasa menggeleng sebagai jawaban
...
__ADS_1