LABIRIN

LABIRIN
100


__ADS_3

" kapten mana kapten, ini pasukannya udah pada ngumpul nih .. " Zaki berkoar di area kantin tempat yang sudah di tentukan oleh Lani.


" sabar, Lani lagi ke ruang Guru " suara Tedia, matanya tak lepas mengamati ponselnya yang hidup, Tedia merespon ocehan Zaki agar Zaki diam.


Zaki mendesah pelan, kemudian ia merebahkan kepalanya di atas meja. Lalu Zaki kembali bersuara.


" dia yang minta tepat waktu, tapi dia juga yang telat "


Semua menatap Zaki, yang di tatap masih dalam posisinya. Kemudian beberapa siswa menggelengkan kepala menanggapi ucapan Zaki.


Zaki masih dalam posisinya, ia seperti enggan mengangkat kepalanya.


Tak lama terdengar sayup sayup suara siswi perempuan yang sepertinya menyebut nama Lani.


Yoga yang duduk di sebelah Tedia menoleh ke arah jalan masuk area kantin. Dan seketika Yoga menghela nafas lega, Lani yang mereka tunggu akhirnya datang dan tengah melangkah menuju tempat yang sudah di siapkan.


Sepanjang langkahnya, Lani selalu mendapat sapaan, entah adik kelas, siswi seangkatan, dan kakak kelas. Dan hal itu tentu saja tak luput dari pantauan beberap siswa yang berada dalam satu klub sepak bola bersama Lani


" emang, kapten kita susah di tolak pesonanya " celetuk Dani, siswa kelas 11 ipa A sembari menyangga dagu menggunakan telapak tangannya, matanya menatap ke arah Lani yang sesekali merespon sapaan para penggemarnya dengan senyuman.


" hooh, tapi ada yang bisa ngalahin dia " Zaki yang sudah menegakan tubuhnya ikut merespon ucapan Dani.


Seketika semua mata tertuju pada Zaki, bahkan Tedia yang fokus pada ponselnya diam-diam melirik ke arah Zaki.


" siapa, Ki ? Gue ? " Nathan berseru dengan percaya dirinya.


Zaki mencibir, Nathan menunjukan senyuman bodohnya.


" noh, Tedia .. " kata Zaki sembari menunjuk Tedia dengan dagunya.


dan kembali, semua siswa kecuali Tedia kini menatap ke arah Tedia. Bahkan Abas sampai menyipitkan matanya.


" kok bisa Tedia ? " tanya Diki, heran kenapa Zaki menyebut Tedia.


Tedia yang sadar jika Zaki menunjuknya, bersikap tak perduli. Ia memilih tetap fokus pada ponselnya.


" eeeemmm .. Kenapa ya ... " Zaki bingung sendiri harus menjawab apa, ia sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Yoga yang paham jika situasi sudah melenceng dari tujuan awal mencoba mengalihkan perhatian semuanya. Yoga yakin, jika di lanjutkan maka Zaki dengan polosnya akan mengungkit kejadian beberapa bulan lalu di mana Jiasa lebih memilih Tedia dari pada Lani, itulah sebabnya Zaki menyebut hanya Tedia yang bisa mengalahkan Lani.


" udah-udah, Lani udah mau duduk tuh .. " kata Yoga.


Lani yang hendak menggeser kursinya, terdiam. Ia bingung dan kemudian mengerutkan dahinya. " kenapa, Ga ?" tanya Lani.


" Nathan dapet nilai 5 " celetuk Yoga mengkambing hitamkan Nathan.


Nathan menganga dengan sempurna " lah, kok jadi bahas nilai gue "


Tawa membahana di keluarkan oleh Zaki, ia begitu puas menertawakan Nathan.


" jangan buka kartu napa, Ga. Noh si Zaki ngetawainnya ikhlas banget " Nathan memelas, Zaki semakin terbahak.


Lani yang melihat bagaimana tingkah temannya hanya bisa menggelengkan kepala. berbeda dengan Lani, Tedia diam-diam tersenyum penuh arti. Sama seperti Yoga, Tedia sadar ungkapan Zaki.


Semua kini diam, dengan tatapan mata tertuju ke arah Lani. Bahkan Tedia pun sudah menyimpan ponselnya.


Semua menunggu Lani untuk menyampaikan satu hal. Tapi lama menunggu, Lani tak kunjung bersuara, Lani kini malah sibuk sendiri dengan ponselnya.


Seketika semuanya bertanya-tanya, bahkan beberapa siswa lainnya saling tatap seolah bertanya satu sama lain.


Tak lama, helaan nafas terdengar. Pelakunya Tedia.


Kecuali Lani, semua menatap Tedia, dan menunggu Tedia untuk bicara. terlihat jelas di mata mereka, Tedia akan bicara. dan dugaan mereka benar, kini Tedia bersuara.


" lu ngapain sih, Lan. Katanya mau nyampein sesuatu. Kita dari tadi nungguin elu sampe si Nathan sama si Zaki lumutan, sekarang lu udah datang malah maen hp bukannya mulai " keluhan mereka semua terwakili oleh Tedia.


Kini tatapan kembali tertuju pada Lani. Semua menunggu respon Lani.


" sabar " satu kata dari Lani, matanya tak lepas dari ponselnya.


Wajah kecewa terlihat jelas dari beberapa siswa, bahkan Tedia dengan terang-terangan menghela nafas lelahnya.


Lani tak merespon, ia fokus pada ponselnya.


Setelah beberapa detik menunggu, ponsel milik mereka bersuara.


seketika mereka bertanya-tanya.


Lani meletakan ponselnya dan kini menatap ke arah teman-temannya.


" buka foto yang baru aja gue kirimin, itu nama-nama pemain yang bakal ikut seleksi kali ini "

__ADS_1


semua siswa kini mulai melihat foto yang baru saja Lani kirimkan.


berbagai macam respon kini mulai terlihat, Lani tersenyum tipis melihatnya, Lani tahu respon yang mereka tunjukan adalah sebuah respon bahagia.


" semua ikut ?" tanya Bayu, wajahnya terkejut tapi rasa bahagia tidak bisa ia sembunyikan.


Lani menganggukan kepalanya.


" gue gak mimpi kan, Lan.? " Diki yang juga terkejut kembali bertanya kepada Lani perihal kebenaran yang baru saja ia lihat.


" enggak, itu yang coach Dito semalam ngabarin gue "


" anjiiiir, mimpi gue semalam jadi nyata " dengan mata berbinar Nathan berbicara.


Lani kembali tersenyum, ia bahagia melihat semua temannya bahagia.


" tunggu " suara Tedia seketika merubah suasana, semua menatap Tedia penuh tanya.


" nama lu kok ga ada Lan ? " tanya Tedia.


Sontak, kecuali Lani. Semua mata kembali menatap layar ponselnya.


Dan ucapan Tedia benar, Lani tidak ikut dalam daftar.


Seketika semua pasang mata menatap penuh tanya ke arah Lani. terlalu terkejut dan bahagia, mereka sampai lupa akan nama Lani.


Lani terkejut karena Tedia menyadari jika namanya tidak tertera. Ia merasa bingung, tapi Lani akhirnya bisa mengontrol dirinya.


" gue kapten, ngapain namanya di tulis di situ. Gak perlu di tulis, tau-tau gue ada di sana " Lani menjawab dengan menunjukan rasa percayadirinya yang tingi. Tujuan Lani bersikap demikian agar semua percaya, dan tidak ada satu pun yang curiga.


Dengusan penuh kejengkelan Lani dapatkan dari Zaki, Lani berpura-pura tertawa agar Semua semakin percaya.


" beda kalau anak papa mah, kaga latihan aja gak di omelin, coba gue ? Bolos sehari, pas datang suruh hormat sama bendera, udah kaya si Nathan kalau telat masuk kelas " celetuk Abas.


Nathan yang namanya di sebut, terkejut. Bahkan ia menunjuk dirinya sendiri.


Zaki yang ada di samping Nathan kembali tertawa karena celetukan Abas.


Lani pun ikut tertawa, tapi tak lama tawa Lani sirna berganti dengan senyuman tipis.


Yoga yang duduk berhadapan dengan Lani, sadar akan ekspresi Lani. Ia juga yakin jika alasan Lani bukan seperti itu. Yoga menghela nafas, kemudian ia meletakan ponselnya.


Yoga terlihat serius, tak ada canda di matanya. Zaki sampai menelan ludah karena merasa ngeri dengan ekspresi Yoga.


" abis ujian kenaikan kelas, pihak sana juga gak mau kali kalau sampai ngeganggu sekolah kita " sahut Lani.


Kecuali Yoga, semua mengangguk paham.


Yoga kembali tersenyum tipis, kini ia semakin yakin kenapa nama Lani tidak di cantumkan. Lani akan meninggalkan kota Jakarta setelah ujian kenaikan kelas berakhir.


" ok deh, buat seleksi kali ini yang serius ya, jangan sampai gagal kaya kemaren " kata Dani


" lah yang bikin gagal kan si Arlan " celetuk Nathan tanpa dosa.


seketika semua mata menatap Nathan dengan tatapan tajam. Nathan yang sadar akhirnya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Lani sendiri hanya tersenyum miris menanggapi celetukan Nathan.


Uhuk


Uhuk


Uhuk


Suara Zaki mencoba mencairkan suasana yang mulai tidak baik.


Lani menghela nafas, semua menatap Lani. Nathan sendiri kini merasa bersalah.


" buat kali ini gue pastiin kalian gak akan gagal untuk ikut, maaf karena gue udah sempat ngubur mimpi kalian " Lani dengan suara lemahnya, ia bahkan menundukan wajahnya.


Seketika tatapan tajam kembali tertuju pada Nathan.


Nathan sampai gelagapan karena tatapan itu. Zaki yang gemas dengan tingkah Nathan pada akhirnya menginjak kaki Nathan dengan sengaja.


" aaaawww " Nathan mengaduh


" minta maaf, dodol " bisik Zaki.


" sorry, Lan. Gue gak bermaksud kaya gitu kok " Nathan dengan wajah memelas, ia menunduk kemudian melirik Zaki, Zaki yang duduk di sebelahnya memberi dengusan kasar.


Lani tersenyum " gak apa-apa, Jo. Gue sadar diri gimana kecewanya kalian waktu itu. Makanya hari ini gue pastiin kalau kalian gak akan gagal ikut seleksi kali ini. "

__ADS_1


Siswa bernama lengkap Jonathan itu akhirnya berbinar, seketika wajah terkekut para siswa itu pun sirna berganti dengan wajah berbinar. Tapi, tidak untuk Tedia dan Yoga.


Yoga diam-diam membuang pandangan dan menghela nafas pelan, sedangkan Tedia menatap Lani tanpa ekspresi. Tak ada senyum, dan tak ada wajah penuh tanya.


Tak ingin merusak suasana, Yoga dan Tedia buru-buru merubah ekspresi wajahnya. Sebelas siswa yang berada dalam satu tim sepak bola itu kini sibuk dengan dunianya.


Yoga dan Tedia pun sudah kembali sibuk dengan game di ponselnya, Zaki dan Nathan sibuk dengan tingkah konyolnya, Lalu Lani kembali berbalas pesan dengan seseorang di seberang sana.


kantin pun sudah nampak sepi, beberapa siswa sudah kembali ke kelas masing-masing. Lagi pula waktu istirahat akan segera berakhir, mereka tak mau berakhir mendapat hukuman karena terlambat masuk kelas.


Hanya Lani dan kawan-kawan dan beberapa siswa lainnya yang tersisa di kantin.


Keadaan yang cukup sepi membuat semua bisa mendengar suara seseorang yang sengaja berbicara dengan lantang. contohnya seperti Abi, siswa kelas 11 ipa A yang kini tengah berdiri di hadapan salah satu siswi yang baru saja menginjakan kakinya di kantin.


" gue mau kenalan sama elu, Jiasa. Gue Abi " katanya sembari mengulurkan tangannya.


Jiasa terdiam, menatap tangan Abi lalu kemudian beralih menatap wajah Abi yang menurut Jiasa menyebalkan.


Dari tempatnya, Lani dan kawan-kawan memperhatikan. Mereka tak lekas bergerak, mereka seperti menunggu apa yang akan Abi lakukan.


Jika hanya berkenalan tak masalah, tapi jika sudah bersikap tidak baik, maka mereka akan turun tangan. apalagi, sosok siswi yang saat ini Abi ganggu adalah Jiasa, siswi incaran kapten tim mereka.


Jiasa akhirnya menerima uluran tangan Abi, Abi tersenyum senang.


Kemudian Jiasa hendak menarik kembali telapak tangannya yang kini di jabat Abi. Tapi, Abi menahan dan tak melepas Jiasa.


Sontak wajah tak nyaman langsung Jiasa tunjukan.


Tedia yang melihat mengepalkan tangan, sedangkan Lani memutar bola matanya malas, malas dan jengah melihat tingkah Abi.


" udah lepasin, Bi. masa kak Bara gak ada sekarang gantian elu " kata Irene yang datang bersama Jiasa.


Masih dalam posisinya, Abi menatap Irene, kemudian ia tersenyum. Lalu Abi kembali beralih pada Jiasa yang kini sudah memberi tatapan benci pada Abi. Melihat ekspresi Jiasa, Abi tersenyum. Tapi, Abi tidak melepas Jiasa, ia malah mengeratkan jabatannya.


Jiasa semakin risih, ia mulai menarik paksa. Tapi Abi tetap menahannya.


Tedia dan Lani semakin kesal di buatnya, keduanya pun berniat berdiri untuk membantu Jiasa.


Hanya saja niat Tedia di gagalkan oleh Yoga yang duduk di sampingnya. Tedia yang hendak berdiri di tahan oleh Yoga dengan cara menyentuh lengan Tedia.


Tedia kembali duduk, ia pun menatap Yoga dengan tatapan penuh tanya.


" udah, diem. Biar Lani aja. Jangan mulai lagi, Jiasa tanggung jawab Lani " bisik Yoga.


Seketika Tedia menghela nafas kasar dan membuang pandangannya, Yoga menggelengkan kepala.


Setelah berhasil membuat Tedia duduk diam di tempatnya, Yoga kembali beralih pada Lani yang kini sudah berjalan menghampiri Abi yang sedang mengganggu Jiasa.


Abi sendiri tak sadar karena posisinya membelakangi Lani. Ketika Lani sudah berada di belakang Abi, Lani langsung menepuk bahu Abi.


Abi menoleh tapi tidak melepas jabatannya. Hanya saja jabatan tangannya mengendur dan itu di manfaatkan oleh Jiasa.


Abi terkejut, kemudian ia menoleh kembali pada Jiasa. mangsanya lepas, Abi menghela nafas, Lalu berbalik menatap Lani.


" ganggu aja sih, Lan. " kesal Abi.


" siapa yang ganggu siapa ?, lu ganggu Jiasa, semua juga tau Jiasa milik siapa "


Jiasa membulatkan matanya, sedangkan Abi menghembuskan nafas kasarnya.


" Jiasa masih sendiri, jadi siapa aja bebas deketin dia. Jadi jangan ganggu dulu Lani. "


Lani menyeringai, kemudian ia melangkah mendekat Jiasa. setelah itu Lani membuat Jiasa terkejut dengan menggengam tangan Jiasa.


" Jiasa punya gue, kalau lu mau nyari mangsa yang lain aja, jangan dia. Sehelai rambut aja lu ganggu dia, lu abis di tanggan gue .. " Lani mengeluarkan ancamannya.


Abi membulatkan matanya, meski arogan, Abi tak cukup punya nyali menghadapi Lani.


Irene yang ada di samping Jiasa tersenyum melihat ekspresi Abi.


" ayo Ji, kita ke kelas " kata Lani menarik Jiasa pergi meninggalkan area kantin.


Abi kembali melongo, setelah Jiasa dan Lani menjauh, Abi menggeram kesal.


" dadah Abi. " kata Irene meledek Abi.


Abi mendengus kesal.


Di tempat lain, Tedia diam-diam kembali mengepalkan tangannya. Tapi, tak lama kepalan tangannya mengenduk kala Yoga menepuk-nepuk bahunya.


Melihat sikap Tedia dan Yoga, Zaki yang sadar memincingkan matanya. Ia curiga dengan dua sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2