LABIRIN

LABIRIN
53


__ADS_3

" masuk " gertak Yoga ketika ia dan Lani tiba di rumahnya.


Ya, Lani yang menumpang padanya bukan diantar kerumah Lani. Tapi kini Yoga malah membawa Lani kerumahnya.


Lani yang berdiri didekat motor Yoga hanya diam dan tak menuruti perintah Yoga. Ia ingin pulang dan kemudian mengurung diri di kamarnya, lalu keluar kamar esok hari ketika ia akan pergi ke sekolah.


Lani yang hanya diam membuat Yoga mendecakkan lidahnya. " Mau masuk atau gue telephone Tedia supaya dia juga kesini " ancam Yoga dan sukses membuat Lani mendongkak menatap Yoga dengan sorot mata yang tajam.


Yoga tak takut, ia balas menatap Lani dengan tatapan yang lebih tajam. masa bodo dengan istilah pemaksa, ia tahu Lani sedang ada masalah, oleh sebab itu ia akan memaksa Lani untuk bercerita.


sama seperti Tedia, jika ada masalah yang berat, Lani selalu memilih Yoga untuk teman berbagi cerita. Yoga itu sosok dewasa bagi mereka yang kadang bersikap kekanakan. Yoga selalu bisa bijak memberi solusi ketika mereka berbagi keluh kesah padanya.


" gue mau pulang " kata Lani dengan nada lemah.


" gak " tolak Yoga.


Lani mendesah pelan, Yoga yang pemaksa seperti seorang lelaki jahat yang tengah menculik korbannya.


" Ga " Lani dengan nada rendah dan lemahnya. Matanya mulai berkaca-kaca.


Melihat ekspresi Lani, helaan nafas kasar Yoga keluarkan. Kemudian ia merangkul Lani dan menbawa Lani masuk ke dalam rumahnya.


Kamar milik Yoga, kini Lani dan Yoga sudah berada di dalam kamar itu.


Yoga melangkah menuju lemari, membuka, dan kemudian mengeluarkan kaos berwarna hitam yang akan ia gunakan.


Sementara Lani kini duduk di soffa yang ada di kamar Yoga dengan tubuh yang bersandar pada sandaran soffa.


Yoga hanya mengganti bajunya, ia masih mengenakan celana abu-abunya, kemudian ia duduk ditepi kasur dan menatap lurus ke arah Lani.


" lu kenapa, ada masalah ? apa karena Ibu udah tau kalau lu abis kena tilang ? terus lu juga tadi gak biasanya bersikap sombong sama adek kelas, iya sih, dia ngomongnya bisa bikin kita mikir macem-macem. Tapi, elu gak harus nyaut kaya tadi. angkuh banget kesannya. "


Lani menunduk, benar kata Yoga. Tadi di kantin ia sudah bertindak keterlaluan kepada adik kelas.


" ada masalah tuh ngomong, biasanya juga elu cerita sama gue atau sama Tedia. "

__ADS_1


Lani menghela nafas kasar, kemudian ia mendongkak menatap Yoga. " gue gak bisa cerita sekarang, mungkin nanti elu akan tau penyebab kenapa gue bisa kaya gini, please, gue punya privasi. "


Mendengar kalimat Lani, Yoga menghela nafas, sepertinya masalah kali ini berat. Itu sebabnya Lani enggan memberitahu.


Yoga mengangguk pelan. " ok. kalau itu mau lu, tapi kalau misalnya udah gak kuat nanggung sendiri, elu bisa cari gue atau Tedia. Inget Lan, gue harus nepatin janji gue sama Ayah, gue sama Tedia diberi amanah buat jagain elu sebelum Ayah berpulang. Kalau nanti ada satu hal yang menimpa lu, gue sama Tedia yang ngerasa salah karena udah gagal dan melanggar janji kita sama Ayah. Lan, Lu bukan cuma temen buat gue sama Tedia, lu buat kita udah kaya adik yang harus kita jaga meskipun kita beda keluarga. "


Lani kembali menunduk, rasa bersalah kepada mendiang sang Ayah semakin besar ketika mendengar kalimat Yoga, bukan cuma kepada mendiang Ayahnya. Tapi, Lani juga merasa bersalah kepada Ibunya, Yoga, dan juga Tedia.


Dalam wajah yang tertunduk tiba-tiba bahu Lani bergetar. Isakan juga mulai terdengar.


Mata Yoga melebar, ia terkejut. Bahkan kini Yoga panik. Lani yang sudah seperti adik baginya menangis dihadapannya. Bergegas Yoga mendekati Lani, ia menyentuh bahu Lani.


Lani mengangkat wajahnya, pipinya sudah basah oleh air mata, bahkan mata Lani sudah memerah dan sedikit bengkak. " Ga, maafin gue nanti kalau bikin kalian kecewa " kata Lani.


Dahi Yoga berkerut, Bingung. Tapi ia menghargai privasi Lani yang tak ingin bercerita. Meski penasaran, Yoga hanya bisa mengangguk pelan.


..


Makam malam terasa hambar, hidangan lezat pun tak menggugah selera bagi Jiasa.


Ia belum siap, sangat tidak siap.


" Ji .. " panggil Farah, sontak Jiasa mendongkak.


" kamu kenapa, makanannya gak enak ? "


Jiasa menunduk kemudian melihat kearah piring miliknya yang masih penuh dengan makanan yang belum ia sentuh. Seketika ia merasa tak enak hati pada Ibunya, Jiasa seperti seorang anak yang tidak menghargai kerja keras sang Ibu dalam menghidangkan masakan.


" bukan gitu ma, Aku masih kenyang soalnya. " bohong Jiasa, tak mungkin ia jujur dengan apa yang terjadi. Ia masih takut dengan reaksi kedua orangtuanya nanti. Membayangkan saja Jiasa tak sanggup apalagi jika benar terjadi.


Farah menggeleng, ia membiarkan putrinya itu.


" oh iya Ji, gimana kabar Arlan "


Jleb !

__ADS_1


Seketik hati Jiasa terasa tertusuk, bagaimana tidak, Jiasa saat ini sangat membenci Lani dan ingin mengutuk Lani. Tapi, sang Ayah malah bertanya perihal kabar Lani.


" aku gak tau pa " sahut Jiasa cuek, kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Fadil mengerutkan dahi, reaksi Jiasa begitu berbeda dengan yang ia lihat waktu itu. Jiasa kala itu malu-malu, namun kini terkesan tak ingin tahu.


" kenapa, kamu ada masalah sama dia ? " tanya fadil penuh selidik.


Jiasa menghela nafas, kemudian ia menggeleng " gak ada, hanya saja aku emang gak tau kabar dia, lagi pula gak terlalu penting juga buat aku untuk tau kabar dia. "


Fadil dan Farah saling pandang, kemudian keduanya kembali beralih pada Jiasa yang duduk di seberang mereka.


" kayanya kamu lagi cape deh, kalau emang gak laper kamu ke kamar aja istirahat sana " titah Farah pada akhirnya.


Jiasa tak menjawab, tapi ia bangkit dari duduknya dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan kedua orangtuanya.


Farah dan Fadil menatap Jiasa dengan tatapan yang sulit diartikan, " ada yang aneh sama dia " kata Farah curiga dengan sikap putrinya sejak kemarin.


Di dalam kamarnya Jiasa menangis sembari memeluk boneka beruang yang dulu pernah Tedia berikan padanya.


Jiasa kembali meratapi nasibnya yang buruk, bahkan lebih buruk dari luka yang membusuk.


Ting...


Ponselnya bersuara, Jiasa bergerak meraih ponselnya.


Mata sembab Jiasa kembali sendu ketika melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


Dia, Tedia.


[ " malem, Ji. Lagi apa ? " ]


Sederhana dan mungkin terlihat lebay, untuk dulu mungkin Jiasa akan langsung membalas. Tapi, untuk sekarang rasa berat.


Di saat hidupnya sudah hancur oleh Lani, Jiasa merasa tak pantas merespon pria Lain, apalagi pria itu Tedia.

__ADS_1


__ADS_2