
Selesai mengganti seragam dengan setelan rumah biasa, Tedia kembali melangkah turun ke lantai satu.
Dari anak tangga Tedia melihat teman-temannya yang tengah bersenda gurau. Kemudian fokus Tedia tiba-tiba tertuju ke arah Jiasa.
Tedia berdiri di tangga, ia menatap Jiasa dengan tatapan yang sulit diartikan, ketika Jiasa tertawa, ia pun ikut tersenyum " manis .. " gumannya dan hanya dia sendiri yang bisa mendengar.
Tedia masih tersenyum menatap Jiasa, tapi tak lama senyum itu luntur tatkala matanya tak sengaja menangkap sosok Lani yang mendekati Jiasa dan duduk di samping Jiasa.
Tedia menggelengkan kepalanya pelan " jangan gila Tedia, lu bandel, tapi jangan nikung temen juga .. " Tedia kembali berujar pelan.
Tedia menghela nafas pelan, kemudian ia buru-buru merubah ekspresi wajahnya. Setelah merasa lebih baik, Tedia kembali melangkahkan kaki turun ke lantai satu untuk menghampiri teman-temannya.
Di lantai satu Tedia tak sengaja berpapasan dengan Ria yang ternyata tengah kerepotan dengan nampan berisi gelas.
" sini ma biar aku aja .. " kata Tedia mengambil alih nampan berisi gelas itu dari tangan sang ibu. Ria tentu saja dengan senang hati menyerahkan. Kemudian setelah mengambil alih Tedia melangkah menghampiri teman-temannya.
Melihat putranya pergi, Ria mematung dengan tatapan penuh arti ke arah Tedia.
Sebenarnya Ria melihat sikap aneh Tedia ketika remeja itu menatap ke arah Jiasa dan Lani, bahkan Ria melihat jelas perubahan raut wajah putranya.
Ria mendesah pelan, detik berikutnya ia mengayunkan kaki menghampiri para remaja yang kini mulai mengerjakan tugasnya.
" ah mama segala repot repot, kan Arlan jadi enak .. " celetuk Lani melihat ibu sahabatnya itu datang membawa camilan. Ria terkekeh menanggapi, Lani selalu saja bertingkah konyol jika berhadapan dengan dirinya.
" pea .. Bukan jadi enak, jadi gak enak .. Oon banget sih lu .. " Zaki yang gemas mendengar celotehan Lani segera melayangkan tangannya memukul pelan kepala belakang Lani.
" aduh .. Sakit setan .. " Lani mengaduh secara berlebihan, tak lupa ia menyisipkan kata umpatan untuk Zaki.
Zaki mencibir, tak perduli dengan umpatan Lani.
" ini ukurannya berapa, Ki .. ? " tanya Jennie yang kini tengah mencoba memotong karton berwarna kuning yang mereka beli dalam perjalanan ke rumah Tedia.
Zaki siswa paling pintar menoleh dan mengabaikan Lani yang masih tidak terima dengan pukulan yang diberikan Zaki.
" pajang lebar 30 .. " sahut Zaki, Jennie mengangguk kemudian ia mulai mencari penggaris, ketika penggaris ditemukan, Jennie mulai mengukur pajang dan lebar karton sesuai petunjuk Zaki.
" heh heh .. Itu lu naro penggarisnya miring .. " Yoga yang memperhatikan gerakan Jennie mulai bersuara dan memberitahu Jennie perihal penggaris yang terlihat miring tak lurus di atas karton kuning itu.
" ah lurus, mata lu minus kali .. " Jennie tak terima, ia pun memeriksa kembali penggaris yang ia letakan di atas karton.
" otak lu yang minus, gue aja liat kalau itu miring .. " Lani ikut bersuara, ia membela Yoga. Karena yang Yoga katakan bener adanya, jika melihat lebih teliti maka penggaris itu memang miring.
Jennie kembali melihat dengan teliti, dan tak lama cengiran bodoh Jennie muncul " hehehe .. Gue baru engeuh .. Maaf-maaf .. " Kata Jennie masih mengeluarkan cengiran bodohnya.
Yoga menggelengkan kepala, sedangkan Lani memberi dengusan.
Para gadis sibuk dengan tugas, sedangkan dari pihak pria sibuk dengan ponselnya.
" anjiiing gue mau mati, Lan tolongin gue Lan .. " teriak Tedia tatapan matanya fokus ke arah ponsel. Sontak para gadis mengalihkan perhatiannya ke arah Tedia.
Jennie, Irene, Rosa menggeram kesal, sedangkan Jiasa menghela nafas lelah dan menggeleng-gelengkan kepalanya
" tau gini mending tadi gue pulang kaga ikut kerkom, udah lah nanti kita tulis nama kita ber 4 aja, mereka mah kita tulis gak hadir .. " gerutu Rosa, dan mendapat anggukkan kepala dari Jennie dan irene.
Mendengar gerutuan Rosa, mata ke 4 pria itu menatap Rosa dengan tatapan yang sulit di artikan. Sontak ke 4 gadis yang duduk di lantai bergidik ngeri.
" Oca sayang, diem dulu ok .. Ini lagi nanggung .. " suara Yoga membuat raut wajah Rosa berubah. Ia menatap tajam Yoga kemudian Rosa menggeram seperti macan betina yang siap menerkam mangsa
__ADS_1
" Buruan bantuin .. Gak usah banyak alesan .. "
Terkejut, semua terkejut ketika mendengar suara seseorang yang sejak tiba di rumah Tedia hanya diam. Bahkan saking terkejutnya Zaki nyaris menjatuhkan ponselnya.
Semua mata tertuju ke arah Jiasa yang kini terlihat jelas jika ia tengah marah. Tedia dan Lani bergegas mematikan gamenya dan kemudian bangkit dari sofa lalu menghampiri Jiasa, Jennie, Irene, dan Rosa. Tedia dan Lani mulai mengerjakan tugas kelompoknya dengan rasa was-was.
Pandangan Jiasa kini tertuju ke arah Yoga dan Zaki yang masih duduk di tempat. Jiasa menatap tajam. Zaki dan Yoga saling tatap, Merasa dalam bahaya kemudian kedua bangkit dan bergabung bersama Lani dan Tedia.
Jennie, Rosa, Irene menatap tak percaya. 4 pria yang keras kepala itu takluk hanya dengan suara Jiasa.
" baru kali ini gue ngeliat mereka ketakutan .. " celetuk Jennie masih menatap tak percaya, Rosa dan Irene menganggukkan kepala.
Jiasa menghela nafas pelan, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Jia serem juga Lan, kalau lu berdua jodoh siap siap nerima KDRT lu .. " bisik Tedia, Lani bergidik ngeri membayangkan hal itu terjadi.
" heh .. Gak usah bisik bisik .. " sentak Jiasa, seketika Tedia dan Lani diam. Yoga dan Zaki berusaha menahan tawanya.
Karton berwarna kuning itu di gulung oleh Zaki, kemudian Zaki menyerahkan karton kuning itu kepada Tedia dengan cara melempar " nih lu yang pegang, kalau gue yang bawa nanti lecek kaya muka lu .. " kata Zaki dan mendapat delikan tajam dari Tedia.
" yuk balik udah malem nih .. Ga anter gue sampe rumah ya .. " Rosa berucap kemudian menatap Yoga dengan wajah penuh harap.
" iya, gak lu minta juga pasti gue anter sampe rumah, ampe kamar lu juga ayo gue mah .. " sahut Yoga, bukan senang justru Rosa memberi Yoga sebuah toyoran di kepalanya.
" ampe kamar lu mau di sunat bapak gue .. " kata Rosa memperingatkan, Yoga memberi cengiran bodoh. Rosa mendengus sebagai balasan.
" untung rumah gue deket rumah Rosa, jadi bisa bareng .. " Irene lega, karena ia tidak harus sendiri ketika pulang kerumahnya.
" gue sama siapa .. ? " Jennie bertanya
" sama gue .. " sahut Zaki, Jennie tersenyum dengan mata berbinar, sebenarnya Jennie hanya iseng bertanya seperti itu. Ia sudah yakin jika Zaki akan mengantarnya.
Diamnya Jiasa menjadi perhatian Lani dan Tedia, Keduanya diam-diam memperhatikan Jiasa.
Tedia berniat membuka suara, tapi niatnya terhenti oleh suara Lani.
" Ji .. Kamu pulang sama aku aja .. "
Jiasa yang fokus dengan ponselnya mendongkak, sedangkan Tedia hanya tersenyum tipis, ada perasaan tidak suka ketika Lani menawarkan diri untuk mengantar Jiasa.
" kalian berbeda arah .. "
Semua menoleh ke arah Tedia yang baru saja berbicara.
" kok lu tau .. " Jennie menyipitkan matanya penuh selidik.
" gue pernah nganter dia pulang .. " sahut Tedia dengan percaya diri
Kecuali Lani dan Jiasa, semua terkejut mendengar pengakuan Tedia.
" anjiirrr .. Selangkah lebih maju Lan .. " celetuk Zaki sembari menepuk bahu Lani, Zaki dan Yoga sudah tahu perihal Lani yang tengah berusaha mendekati Jiasa.
Lani mendelik tajam, Zaki memberinya cengiran bodoh.
" jadi pulang kaga nih .. " Rosa sudah gemas dengan tingkah teman-temannya, bayangkan di saat dia sudah tidak betah dan ingin segara pulang, dengan tidak tahu dirinya mereka malah membahas satu hal yang tidak terlalu berfaedah menurut Rosa.
" jadi Oca, sabar napa .. Hayu pulang .. " Yoga bangkit dan kemudian menyampirkan tas nya di bahu, apa yang Yoga lakukan membuat Rosa berbinar, ia pun bangkit mengikuti Yoga, dan kemudian yang lain mengikuti.
__ADS_1
" ayo balik, ayo Ji, aku anter sampe rumah .. " Lani berucap kemudian mengajak Jiasa untuk pulang.
Jiasa tersenyum tipis " maaf Lan, tadi aku udah ngchat papa, dia otw ke sini .. " Jiasa merasa tak enak hati. Ya, Jiasa sudah memberi pesan kepada sang ayah untuk menjemputnya. Setelah mengirimkan alamat sang ayah pun bergegas pergi untuk menjemput Jiasa.
Lani menghela nafas, sedikit kecewa " ya udah kalau gitu .. Di kita balik ya .. " pamit Lani, Tedia mengangguk.
Lani celingak-celinguk, Tedia tahu siapa yang Lani cari " Ma .. Pa .. Arlan pulang dulu ya .. " Teriak Lani, semua menggelengkan kepala.
" iya Lan .. Hati-hati ya .. " Ria yang datang dari arah dapur kemudian menghampiri mereka.
" lu mau nunggu di mana Ji ..? " tanya Tedia karena jemputan Jiasa belum pulang.
" di depan aja, biar keliatan kalau papa udah datang .. " sahut Jiasa, Tedia mengangguk-anggukkan kepala.
" ya udah gue temenin sampe bokap lu datang .. "
Kini Jiasa yang menganggukkan kepala, keduanya keluar.
Dan kini keduanya sudah duduk di depan teras.
Posisi pagar rumah Tedia yang tidak jauh membuat Jiasa bisa melihat jika sang ayah datang menjemputnya.
" kok lu bisa pindah ke jakarta Ji .. ? " tanya Tedia membuka percakapan, ia tengah merutuki dirinya sendiri akan pertanyaan yang sebenarnya ia sadari tidak ada faedahnya.
" biasa kerjaan papa yang mengharuskan aku pindah ke Jakarta .. " jawaban yang sudah Tedia duga.
" oh iya lu tau gak ..? "
Jiasa menggelengkan kepala sebagai jawaban akan pertanyaan Lani.
" lu masih inget donk moment kenalan lu sama Lani ..? "
Jiasa menganggukkan kepala, tentu saja ia masih inget dengan jelas.
" setelah kenalan terus nulis nomor lu di uang 5000, uang 5000 nya gak sengaja dia kasih pengamen, abis itu Lani jadi uring-uringan, bahkan dia nekad mau ke serang nyariin elu, eh ternyata lu dari Bandung .. " kata Tedia, Jiasa tersenyum tipis, entah mengapa ia merasa tidak tersanjung mendengar Lani yang nekad mencarinya.
Melihat respon Jiasa ekspresi wajah Tedia berubah, ia membuang padangannya, kemudian Tedia menggaruk kepalanya yang tidak gatal guna menghilangkan rasa aneh yang kini ia rasakan.
" garing banget pembahasannya .. " gumam Tedia yang hanya bisa ia suarakan di dalam hatinya.
Tedia kembali mengalihkan perhatiannya, ia kembali menatap Jiasa, dan ternyata Jiasa tengah fokus dengan ponselnya.
Dari samping Jiasa, Tedia memperhatikan Jiasa dengan tatapan dalam, tiba-tiba Tedia melihat Jiasa tersenyum.
" cantik .. " kata Tedia tanpa sadar sembari menatap Jiasa dengan tatapan yang sulit di artikan.
Ternyata suara Tedia di dengar oleh Jiasa, Jiasa menoleh. Ia pun kini melihat Tedia yang tengah terdiam menatapnya.
" Tedia .. " panggil Jiasa, namun Tedia tetap diam dengan mata yang masih menatap Jiasa.
Jiasa mengerutkan dahinya, kemudian ia pun mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Tedia " Tedia .. " Jiasa kembali memanggil.
Berhasil, Tedia yang sabar kini gelagap.
Melihat reaksi Tedia, Jiasa pun tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
Tedia sendiri kini tengah menahan malu, ia merutuki kebodohannya, bisa-bisanya ia begitu terpana dengan wajah cantik Jiasa
__ADS_1
" inget Lani cuuuggg .. " gumam Tedia sangat pelan