LABIRIN

LABIRIN
17


__ADS_3

" kita buat kelompok ya, buat tugas minggu depan .. Supaya enggak kebanyakan, satu kelompok isinya 8 orang aja .. " Bu Riska menjelaskan, sahutan ia dapatkan dari semua siswa.


" Bu .. " suara Zaki terdengar, siswa yang mempunyai jabatan sebagai ketua kelas itu mengangkat tangannya untuk bertanya.


" iya kenapa, Ki..? "


" anggota kelompoknya milih sendiri apa di pilih sama Ibu ..? "


Bu Riska tersenyum tipis " nanti Ibu aja yang nentuin, kalau kalian yang nentuin pasti kalian milih-milih temen kelompok .. "


Suara decakan dari beberapa siswa mulai terdengar. Jujur mereka meresa tak puas dengan keputusan yang dibuat Bu Riska, mereka takut jika mereka mendapat teman satu kelompok yang tidak dekat dengan mereka.


" Ibu mulai sebutin ya, nama-nama anggota kelompok dari kelompok 1 sampai 4 .. "


Seisi kelas memberi sahutan tanda setuju dengan keputusan Bu Riska. Setelah itu Bu Riska mulai menyebutkan nama-nama siswa sesuai kelompok yang sudah ditentukan.


Anggota kelompok sudah ditentukan dan tidak bisa diganggu gugat, jam pelajaran habis Bu Riska pun pergi meninggalkan kelas.


Berbagai macam ekspresi mulai terlihat, ada yang senang dan ada pula yang merasa tidak puas. Contohnya saja si biang onar Tedia, saat ini Tedia tengah menggerutu kesal karena ia harus satu kelompok dengan ketiga temannya yaitu Lani, Yoga, dan tentunya Zaki.


" ya elah gue mah, bisa-bisa nilai gue ancur gara-gara satu kelompok sama elu pade .. "


Lani yang duduk di sebelah Tedia seketika memasang wajah geram, kemudian Lani menoyor kepala Tedia " heh Malik, enak aja kalau ngebacot, biar langganan BK gue ini peringkat 3 di kelas .. " Lani mengingatkan sahabatnya itu akan kemampuan otaknya yang memang tidak bisa dipandang sebelah mata.


Tedia memutar bola matanya malas " dan perlu lu inget juga, di atas lu itu gue yang selalu menjadi peringakat ke 2 abadi .. " dengan senyum tengilnya Tedia membanggakan diri.


" dan perlu kalian berdua ingat, gue langganan peringkat satu sejak kita SMP dulu " Zaki ikut menyombongkan diri.


Ya, yang dikatakan Zaki benar adanya


" iya deh iya, yang pada pinter mah beda, gue doank emang yang langganan peringkat 4 " yoga ikut bersuara dengan cara merendahkan dirinya sendiri. Alhasil yoga pun menjadi pusat perhatian Lani, Tedia, dan Zaki.


Tedia merubah ekspresi wajahnya menjadi memelas, kemudian tangannya terulur mengusap lembut kepala Yoga " uluh uluh kasian ayang aku, besok kita salip Zaki ya, gue yakin pasti guru di sini bosen nyebutin nama dia terus yang jadi peringkat pertama .. "


Mata Yoga berbinar " yuk lah kita salip .. Kita bikin Zaki ada di peringkat 3 .. " Yoga dengan semangat 45 nya


" terus kalau Zaki ada di peringkat ke 3, gue di peringkat berapa ..? " Lani menanyakan perihal peringkatnya yang Tedia dan Yoga katakan akan menjadi tempat Zaki nantinya.


" elu ke 4 " kata Yoga dan Tedia secara bersamaan, Lani menggeram kesal. Sontak Tedia dan Yoga tertawa terbahak bahkan keduanya melakukan tos karena merasa senang sudah membuat Lani kesal.


Tingkah konyol ke empat biang onar di sekolah itu menjadi pusat perhatian dari seisi kelas. Ada beberapa siswa yang menggeleng-gelengkan kepala akan tingkah mereka


" kaget ya,Ji. sama mereka ? " tanya Irene yang sedari tadi melihat Jiasa memperhatikan ke empat siswa tampan pembuat onar tapi juga berprestasi.

__ADS_1


Jiasa menoleh ke arah Irene, ia pun tersenyum tipis menanggapi ucapan Irene.


" guru-guru di sini juga heran, Ji. sama mereka, mereka tuh bandelnya gak ketulungan, tapi otak mereka itu bisa bikin orang jantungan, bayangin aja Ji, hampir tiap hari dapet hukuman tapi mereka itu ngisi daftar peringkat 5 besar di kelas ini .. " irene kembali berujar, Jiasa mendengarkan.


" mereka itu ngisi daftar 5 besar dari kelas 1 SMP, Ji. Mereka itu dulunya satu SMP, sama gue dan Jennie juga ..." Lagi Irene berbicara seolah mengenalkan ke empat siswa tampan itu lebih jauh lagi kepada Jiasa.


"  bikin geleng-geleng kan .. Tapilannya aja yang nyebelin, aslinya mereka mengagumkan .. "


Jiasa tersenyum kemudian ia menggerakan kepalanya menoleh ke arah belakang di mana ke empat siswa yang menjadi pembahasan itu duduk. Mata Jiasa terfokus kepada Tedia, Jiasa kembali tersenyum tipis ketika melihat Tedia yang kini tengah bersenda gurau dengan ketiga temannya.


" jadi kita mau kerja kelompok di rumah siapa nih ? " suara Jennie mengalihkan perhatian semua anggota kelompoknya termasuk Jiasa yang diam-diam memperhatikan Tedia.


" di rumah gue aja, Jen. sekalian gue mau ngenalin elu ke nyokap gue sebagai calon istri .. " Suara Zaki membuat Jennie memutar bola matanya malas, sorakan dari beberapa teman sekelas Zaki dapatkan, bahkan Zaki mendapat pukulan pelan di lengannya oleh Yoga.


" Pak Lurah di kurangin dulu bualannya, gue serius soalnya .. " Jennie kembali berbicara ia kembali menggunakan embel-embel Pak Lurah. Nama panggilan itu Zaki dapatkan karena ia menjabat sebagai ketua kelas.


" gue juga serius, Jennie .. " sahut Zaki, dengan alis yang di naik turunkan menggoda Jennie, Jennie mendengus, meladeni Zaki tidak akan menemukan jalan keluar.


" jawab yang bener, mau kerja kelompok di rumah siapa .? " Jennie kembali bertanya, ia pun menatap tajam Zaki mewanti-wanti Zaki agar tak memberinya jawaban yang menyebalkan.


" di rumah gue aja, mumpung ada emak sama bapak gue. kalau di rumah kalian pasti kosong, karena emak sama bapak kalian pergi kerja, nanti yang ada kita di grebek warga karena di katain mau pesta lagi .. " Tedia berbicara dan memberi saran, awalnya semua mengangguk setuju, tapi kalimat terakhir yang Tedia ucapkan membuat semua anggota kelompoknya mengerutkan dahi.


" pesta apa, Di ..? " Rosa yang tak paham pun bertanya.


Lemparan Rosa berhasil mengenai tubuh Lani, bukannya mengaduh kesakitan justru Lani mengambil bulu Rosa dan mulai membuka lembar demi lembar buku tulis itu


" anjiirrr ada tulisan aku cinta Yoga .. " teriak Lani dengan suara lantang dan kembali menjadi pusat perhatian seisi kelas.


Rosa si pemilik buku membulatkan matanya, ia terkejut dengan ucapan Lani, Rosa bergegas bangkit dari kursinya dan menghampiri Lani " mana ada anjiir tulisan kaya gitu, ngarang lu .. " kata Rosa sembari mengulurkan tangannya berusaha menjambak rambut Lani, Tedia yang duduk di sebelah Lani memilih untuk bangkit dan memberi ruang kepada Rosa untuk menyiksa Lani lebih kejam lagi. Alhasil apa yang Tedia lakukan berhasil memberi ruang kepada Rosa, Rosa pun berhasil menjambak Lani bahkan sesekali memukul pelan tubuh Lani dengan tangannya.


" anak dajjal emang lu, gak bisa di kasihani.. " Rosa dengan semangat menyiksa Lani.


" ampun Ca, lu gak pernah ngaji ya, anak yatim itu harus disayangi gak boleh disiksa .. " Lani berusaha lepas dari amukan Rosa dengan membawa statusnya.


" kalau anak yatimnya macem elu mah di kecualikan .. " sahut Rosa tak mau kalah.


Semua bersorak menyemangati Rosa agar terus menyiksa Lani.


Tedia sendiri menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan teman-temannya yang di atas normal. Membiarkan Lani disiksa Rosa, Tedia melangkahkan kaki menghampiri Jiasa.


" geser, yang .. " kata Tedia meminta Jiasa untuk memberinya tempat duduk. Jiasa pun menggeser sedikit tubuhnya, meski hanya sedikit celah, Tedia duduk di kursi jiasa, satu kursi untuk berdua, alhasil Jiasa dan Tedia duduk dengan tubuh keduanya yang menempel.


Diam-diam Jiasa tersenyum senang, ia kembali dekat dengan Tedia. Beruntung senyumnya tak disadari oleh siapapun karena saat ini fokus seisi kelas tertuju ke arah Rosa yang tengah menyiksa Lani.

__ADS_1


" awas aja lu bikin gosip yang enggak-enggak, Yoga elu jangan percaya sama Kodok loncat macem Lani .. " Rosa masih memukul mukul pelan tubuh Lani, Lani terus menahan pukulan Rosa dengan tangannya. Letak mejanya yang berada di pojok kelas membuat Lani tak bisa kabur karena dibelakang tubuhnya ada dinding yang menghalang.


" ampun ca, ampun .. Iya gue gak bikin gosip lagi sekarang, besok aja bikin gosip laginya .. " kata Lani, Rosa mendengus dan kembali memukul Lani


Seisi kelas kembali tertawa, beruntung jam pelajaran kosong hingga tak ada guru yang datang menegur.


Di samping Jiasa, Tedia kembali terdengar menghela nafas, ia pun memperhatikan Tedia, dilihatnya Tedia yang kembali menggeleng-gelengkan kepala.


" mampus lu, belum lu kawinin udah KDRT, gimana kalau udah sah .. Ancur tuh badan .. " kata Tedia memanas-manasi kedua makhluk yang tengah bertingkah bak anak paud, Jiasa terkekeh, hal itu disadari Tedia.


" dih ketawa .. "


Jiasa terkejut, ia pun gelagapan, secepat mungkin berusaha menetralkan dirinya.


" lucu .. " kata Tedia yang memperhatikan tingkah Jiasa. Mendengar itu Jiasa pun terdiam, tubuhnya seakan memanas, ia tersipu dengan satu kata yang baru saja di ucapkan Tedia.


" pulang yuk .. " kata Tedia, Jiasa mendongkak menatap Tedia yang ternyata tengah menatapnya.


Jiasa mengerutkan dahi, apakah barusan Tedia mengajaknya, atau justru Tedia berbicara kepada orang lain.


Decakan lidah Tedia terdengar " ck, lama ah, ayok .. " kata Tedia kembali membuat Jiasa terkejut dengan tindakan Tedia yang tiba-tiba bangkit dan kemudian menarik Jiasa sehingga Jiasa bangun dari duduknya dan kemudian di bawa melangkah keluar kelas oleh Tedia, jangan lupakan tangan Tedia yang masih menggenggam erat tangah Jiasa.


" heh kampret .. Calon bini gue mau di bawa kemana .. " Teriak Lani yang melihat Tedia dan Jiasa hendak pergi keluar kelas.


Tedia dan Jiasa yang baru sampai diambang pintu seketika berhenti, sebenarnya yang berhenti itu Tedia, hanya saja tangan Jiasa masih setia dalam genggaman Tedia, maka secara otomatis Jiasa pun ikut berhenti.


" mau gue bawa ke KUA, soalnya bini pertama gue sama bini kedua gue malah mesra-mesraan di pojokan .. " sahut Tedia kemudian melangkah pergi membawa Jiasa.


" TEDIA ANJING LU, JANGAN BERANI NIKUNG GUE .. " teriakan Lani yang tentu saja di dengar oleh Tedia dan Jiasa yang saat ini sudah berada di luar kelas.


Tedia tertawa terbahak, sedangkan Jiasa menggelengkan kepalanya pelan. Membiarkan Tedia, Jiasa melihat kesekeliling ternyata jam pelajaran sudah habis, banyak siswa yang sudah keluar dari kelas. Kemudian pandangan Jiasa kembali tertuju kepada tangannya yang masih di genggam Tedia.


" Di .. Tas aku masih di dalem .. " kata Jiasa, Tedia menunduk menatap Jiasa yang tingginya hanya sebatas dadanya.


" nih tas lu .. " kata Tedia sembari menunjukan tas milik Jiasa yang memang ia bawa ketika ia menarik Jiasa keluar dari kelas.


Jiasa terkekeh pelan, bisa-bisanya ia tidak menyadari jika tasnya sudah dibawa oleh Tedia.


" heh Malik, gue potong burung beo lu ya .. " suara Lani terdengar, kedua menoleh ke sumber suara, di lihatnya Lani yang berdiri di ambang pintu kelas dengan tatapan membunuh ke arah Tedia.


" anjiir ada Lani, Ji .. Gue tunggu lu sama yang lain di parkiran ya .. Gue mau kabur dulu, Lani kalau ngamuk serem .. Dah .. " kata Tedia kemudian lari menghindari amukan Lani.


" ANAK SETAN SINI LU JANGAN LARI .. " teriak Lani mengejar Tedia dan melewati Jiasa yang kini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol Tedia dan Lani.

__ADS_1


...


__ADS_2