LABIRIN

LABIRIN
105


__ADS_3

Berjalan membungkuk dan mengendap-endap itu lah yang tengah di lakukan oleh lima siswa SMA NUSA PELITA di depan kelas 11 IPA C.


Terlihat dengan jelas, pintu ruang kelas itu tidak tertutup dengan rapat. Bahkam kelima siswa itu dapat mendengar suara guru laki-laki yang tengah menerangkan di dalam kelas.


Tiba di depan pintu. Zaki, siswa yang berada di barisan paling depan mencoba mengintip ke dalam kelas dari balik pintu. Mereka semua ingin tahu, apakah saat ini kelas dalam keadaan aman.


Zaki tidak terkejut ketika ia melihat Pak Agus berdiri di depan kelas, kemudian ia menoleh ke belakang, " Pak Agus udah ada " katanya.


" YANG DI LUAR, CEPAT MASUK KE DALAM DAN BERDIRI DI DEPAN .. "


Seketika, kelima siswa itu berdiri tegak. Mereka terkejut karena ternyata Pak Agus mengetahui kehadiran mereka.


Yoga menatap Lani dengan mata memincing tajam, " ini semua gara-gara elu "


Lani terkejut " gue " katanya menunjuk dirinya sendiri.


" iya, kalau lu kaga ngedrama bawa Robi ke taman belakang kita gak bakal telat kaya gini " kali ini Tedia memberi alasan kenapa Lani patut di salahkan.


" ya salah kalian, kenapa ngikutin gue " Lani tidak mau di salah, ia terus membela diri.


Robi yang juga ikut terseret namanya hanya bisa menggarukan kepalanya melihat Lani, Tedia dan Yoga berdebat.


Zaki menggelengkan kepala, " hukuman tambah berat ini mah, malah pada debat. Dasar bocah "


" CEPAT MASUK, ATAU MAU SAYA SERET KE DALAM KELAS "


kelima siswa itu kembali terkejut, bergegas Robi membuka lebar pintu kelas, lalu ia berjalan cepat untuk masuk ke dalam kelas. Yang lain pun mulai mengikuti Robi.


Mereka mulai melangkah di depan kelas, bahkan kini mereka melangkah menuju kursi masing-masing.


Ketika hendak melangkah menuju barisan, Pak Agus menghentikan langkah kelima siswa itu.


" MAU KEMANA, SAYA BILANG BERDIRI DI DEPAN. "


Semua berbalik menghadap Pak Agus, lalu mereka menunjukan cengiran bodohnya.


Dengan wajah memelas, akhirnya kelima siswa itu berdiri di depan kelas.


Melihat para siswa yang sering membuat onar sudah berdiri di depan kelas dengan tertib, Pak Agus pun menghela nafasnya.


" kalian itu ya, gak ada kapoknya nyari masalah. Heran saya jadinya. " Pak Agus sembari menggelengkan kembali kepalanya.


" si Lani tuh, Pak. Dia lupa naro masalahnya dimana, jadi kita bantuin nyari " sahut Tedia, ia malah bergurau.

__ADS_1


Sontak, seisi kelas tertawa karena gurauan Tedia.


" udah diam semuanya, ini lagi malah ngelawak. Heran saya, bisa-bisanya biang masalah kaya kalian ini peringkat atas di sekolah ini. "


kelas kembali hening.


" kan Bapak saya yang punya sekolah, Pak. " Tedia kembali menyahuti.


" Bapak saya donatur sekolah, Pak " Yoga ikut bersuara.


emosi Pak Agus semakin memuncak, terlihat jelas di matanya. " kalau kamu, Bapak kamu ngapain, Zaki.? " kata Pak Agus merespon kalimat Tedia dan Yoga.


" Bapak saya, oh itu. Bapak saya nguap dewan guru di sini "


Seisi kelas kembali riuh karena ocehan Zaki.


Pak Agus pun menghela nafas, bahkan ia meminjat pangkal hidungnya.


" Ya Allah, Dosa apa orangtuanya sampe punya anak modelan kaya mereka. Kamu Lani, kenapa bisa jadi siswa berprestasi ? " Pak Agus yang sudah sangat kesal pada akhirnya malah mengatakan kata-kata yang nyeleneh.


" saya " Lani menunjuk dirinya, " saya mah emang pinter, Pak. " katanya, menyambung ucapannya.


Yoga, Tedia, Robi dan Zaki mendengus.


Robi, Tedia dan Yoga sampai merapatkan bibirnya guna menahan tawa agar tidak pecah.


Jengah, Lani pun menginjak kaki Zaki dan hal itu membuat Zaki mengaduh kesakitan. " si anjing, kaki gue remuk ini " ringis Zaki mengangkat kakinya yang menjadi korban amukan Lani.


Pak Agus kembali menggeleng, ia sadar mereka tidak akan merasa takut.


" Robi, kamu duduk sana "


Robi sumringah, ia pun menatap teman-temannya satu persatu. Tatapan Robi adalah tatapan meledek.


Setelah mendapat dengusan dari Tedia, Robi pun melangkah menuju kursinya.


" dadah .. " kata Robi kembali meledek dan melangkah dengan pasti lalu ia duduk dengan tenang di kursinya.


Ke empat siswa itu menganga dengan sempuran, mereka tak percaya Robi di bebaskan begitu saja." pak kok cuma Robi ? " kata Tedia, protes. " harusnya saya juga donk, kan yang ngajak Lani " sambungnya lagi dan kali ini kembali menyebut nama Lani sebagai kambing hitam.


" si anjing gue lagi, mana ada gue yang salah. Kenapa kalian juga malah ngikutin gue " Lani bersuara karena tidak terima di kambing hitamkan, padahal memang jelas dialah yang mengawali semuanya. Tapi, ucapan Lani juga benar adanya, kenapa mereka semua mengikuti ketika Lani menyeret Robi.


Lani menatap tajam Tedia, dan Tedia memberi Lani dengusan.

__ADS_1


Melihat mereka malah berdebat, Pak Agus kembali memijat pangkal hidungnya. " makin pusing yang ada, udah sana duduk kalian "


Semua bernafas lega ketika drama ini akhirnya berakhir.


" dari tadi ke, Pak. " celetuk Zaki, kemudian melangkah dengan cepat menuju kursinya.


Yang lain mengikuti, semua sudah kembali ketempat masing-masing. Pak Agus menghela nafasnya.


Di tempat favorit mereka, keempat siswa itu ternyata tidak mengakhiri dramanya. Mereka kini malah terlihat bercanda, bahkan Lani dan Tedia terlibat saling pukul dengan senjata buku tulis yang keduanya gulung.


Pak Agus tentu saja melihat, rasa penatnya kembali melanda. " ASTAGFIRALLAH, TEDIA AL MALIK, ARLAN KHAZIRA, ZAKI RESAN ADIPTA, YOGA HENDRA PRIYADI. KALIAN SEMUA BISA DIAM TIDAK "


Seketika kelas hening, dan selurus mata tertuju kearah empat siswa yang namanya baru saja di sebut. Bukannya menunjukan rasa takutnya, Tedia malah tersenyum bodoh kearah Pak Agus lalu mengangkat dua jarinya membentuk hurup V.


Pak Agus mendesah kasar, ia menggelengkan kepala. " Kalian tuh harus di pisahin. "


Empat siswa itu menatap penuh tanya kearah Pak Agus.


" Yoga kamu pindah tempat terus duduk di bangku Jennie, Rosa kamu duduk sama Zaki " Pak Agus memberi perintah yang membuat dua wanita yang baru saja disebut namanya itu terkejut bukan kepalang.


" Pak, gak mau ah. Zaki mah suka nyontek " Protes Rosa.


Sontak Zaki menganga dengan sempurna. " heh, sembarangan kalau ngomong. Nyontek gundul mu. Gue itu peringkat satu abadi ya. " Zaki, tentu saja ia tak terima dengan pernyataan Rosa.


Apa yang baru saja terjadi tentu saja mengundang tawa dari seluruh siswa, bahkan Robi sampai terpingkal-pingkal.


Lagi, entah untuk keberapa kalinya Pak Agus menghela nafas. " udah diem, gak boleh ada yang protes. Irene kamu pindah ke tempat Tedia, dan Lani pindah ke tempat Irene duduk sama Jiasa. "


Ke empat siswa dan siswi yang namanya disebut Pak Agus membulatkan matanya karena terkejut. Jiasa dan Irene sampai menoleh kearah dua siswa yang sebentar lagi akan menjadi rekan satu mejanya.


" Lani duduk sama Jiasa, hahaha .. Gak bakal nolak dia " celetuk Zaki menggoda Lani dan Jiasa.


Lani memukul lengan Zaki. bukan meringis, Zaki malah kembali menggoda Lani dengan wajah tengilnya.


Jiasa sendiri kini menundukan wajah, perasaannya campur aduk. Sulit untuk ia utarakan.


" cepetan pindah ketempat yang saya tentukan " Pak Agus memerintah. dan dari nada suaranya, ia seperti tidak ingin dibantah.


Akhirnya, para siswa yang namanya disebut dan harus pindah bangkit dari singgahsananya.


Tedia memasang wajah merajuk, lalu ia menatap Lani yang meminta dirinya untuk memberi jalan. " Arlan, gue bakal kangen banget sama elu, nanti kalau mau jajan bareng ya " Tedia mulai lagi berdrama.


" elu telephone gue aja kalau mau jajan, nanti gue samper "sahut Lani, ikut dalam drama yang Tedia ciptakan.

__ADS_1


" si asu, Lani pindah ke tempat Jiasa, Bukan amerika " kata Zaki, dan selurus siswa tertawa dibuatnya


__ADS_2