
"Kalau sudah diperingatkan untuk tidak masuk ya jangan masuk." Ucap seseorang dengan nada sinis. Aku langsung membalikkan badanku menghadap orang tersebut.
"Memangnya kenapa aku tidak boleh masuk? Lagi pula kamu siapa mengaturku." Jawabku tidak kalah sinis. Orang tersebut adalah Wayan, ia langsung menarik tanganku kasar menjauh dari rumah tersebut.
"Aduh.. aduh.. sakit Yan." Ucapku sambil mencoba melepaskan tangan Wayan dari pergelangan tanganku. Wayan lalu berhenti dan melepaskan tanganku, setelah itu ia memegangnya kembali dengan lebut dan mengelus pergelangan tanganku yang terlihat memerah.
"Maaf." Ucapnya lirih. Setelah beberapa saat, aku langsung menarik tanganku kembali. Jantungku terasa berdegup sangat kencang, ditambah suasana ini membuatku terasa canggung.
"Kenapa aku tidak boleh masuk ke sana?" Tanyaku setelah terjadi keheningan beberapa saat.
"Terkadang semua alasan belum tentu bisa dijelaskan Kinan, jadi tolong turuti yang aku pinta. Lagipula rumah tersebut di kunci jadi kamu tidak akan bisa masuk." Ucap Wayan lalu kembali berjalan mendahuluiku.
"Kamu mau ke mana?" Tanyaku sedikit berteriak.
"Pulang." Jawabnya sambil tetap berjalan, akhirnya aku pun juga kembali ke rumah atau simbah akan marah besar jika tahu aku masih kelayapan tidak jelas.
Yogyakarta, 02 September 2003
Sudah beberapa hari berlalu dan aku selalu mencium bau tanah kuburan dari Wayan. Bahkan Sarah selalu menceritakan hal-hal aneh mengenai Wayan, seperti sekarang ini ia sedang menceritakan Wayan yang pernah berjalan pada saat hujan dengan tatapan kosong.
"Kamu suka mengikuti Wayan? Kok tahu seperti itu." Tanyaku heran.
Sarah menggelengkan kepalanya, "Cuma dengar-dengar saja."
"Wayan itu ganteng, banyak yang suka dari ketampanannya. Tapi ya itu sedikit sirna karena aneh." Lanjut Sarah sambil menatap Wayan yang berjalan berjalan di pinggir lapangan.
"Kamu suka sama Wayan?" Tanyaku sambil menatap intens Sarah.
Sarah menatapku sambil tersenyum geli, "Kalau iya kenapa? Kamu cemburu." Tanyanya sambil menaik-turunkan alisnya, aku langsung menggeleng cepat.
"Tenang saja, aku tidak menyukainya kok." Ucap Sarah.
"Oiya, kan kamu sukanya sama anak sebelah yang kemarin kan?" Ucapku sambil tertawa kecil. Sarah langsung menggeleng sambil tersipu malu.
"Tapi sepertinya Bimo suka sama kamu deh Kin, dari tatapannya saja aku bisa melihatnya." Ucap Sarah tersenyum sendu.
"Tapi sayangnya aku tidak menyukainya, dia suka tebar pesona." Jawabku.
"Wayan!" Panggilku sambil berteriak di tengah jalan. Wayan oun menghentikan langkahnya dan aku langsung berlari menghampirinya.
Bruk.. Belum sampai di tempatnya aku terjatuh karena menginjak tali sepatuku sendiri.
__ADS_1
"Aduh.. perih banget." Ucapku sambil memandangi lutut yang mengeluarkan darah. Uluran tangan tersebut berhenti di depan wajahku. Ku dongakkan kepalaku, "Perih Yan." Ucapku lirih.
Wayan membantuku berdiri, lalu membalut lututku dengan kain entah apa itu yang ia keluarkan dari tasnya. Kami pun kembali berjalan, "Mengerjakan tugasnya di rumah kamu saja ya, jangan di rumahku." Ya, kami tergabung dalam satu kelompok karena tidak ada yang mau dengan Wayan.
"Kenapa mau satu kelompok denganku?" Tanya Wayan.
"Tidak enak jika harus menolak permintaan bu guru, lagipula tidak ada yang salah jika aku satu kelompok denganmu." Jawabku.
"Di rumah kamu saja ya Yan?" Lanjutku.
"Memangnya kenapa?"
"Kalau di rumahku nanti capek mendengarkan simbah yang banyak bicara, lagipula aku sudah pamit jika akan pergi mengerjakan tugas kelompok." Jawabku sambil tertawa kecil. Akhirnya kami pun akan mengerjakan di rumahnya Wayan.
Sesampainya, terlihat rumah tua dengan dinding gedek yang didepannya terdapat sebuah bengkel kecil.
"Rumahku tidak besar Kinan, masih mau mengerjakan di sini?" Ucap Wayan sambil memandangiku.
"Kenapa tidak? Ayo!" Ucapku mengajak Wayan seperti pemilik rumah.
"Assalamualaikum." Ucapku sambil berhenti di depan bengkel.
"Mana kendaraan yang mau diperbaiki ya mbak?" Tanya mas-mas tersebut.
"Ini mas." Ucapku menunjuk Wayan sambil tertawa.
Mas-masnya pun memandangi Wayan, "Adik saya memang sudah seperti ini mbak, tidak bisa diperbaiki." Jawab mas-mas tersebut sambil ikut tertawa. Wayan langsung menggadengku memasuki rumah yang berada di dalam bengkel.
"Assalamualaikum." Ucapku dan Wayan berbarengan.
"Waalaikumsalam." Jawab perempuan paruh baya lalu menghentikan kegiatan menjahitnya. Perempuan tersebut memandangi tangan Wayan yang masih menggadengku. Aku langsung melepas gandengan tersebut lalu salim kepada wanita tersebut.
"Ini siapa Yan?" Tanya wanita paruh baya tersebut.
"Teman Wayan bu namanya Kinan, kami mau mengerjakan tugas." Ucap Wayan kepada ibunya dengan sopan, ibunya Wayan pun hanya menganggukkan kepala.
"Mengerjakannya di belakang rumah saja, aku mau ganti baju dahulu." Ucap Wayan lalu masuk ke dalam salah satu kamar.
"Ini di minum dahulu, ibu juga sudah menggoreng pisang. Ayo dimakan." Ucap ibunya Wayan sambil meletakkan nampan berisi teh dan pisang goreng. Sekarang kami berada di kebun belakang rumah sambil duduk di sebuah gubuk kecil.
"Terimakasih, ibu jadi repot-repot." Ucapku sedikit segan.
__ADS_1
"Tidak kok, mari silakan di makan jangan segan-segan. Ibu mau melanjutkan menjahit baju dahulu." Ibu pun pergi digantikan Wayan yang mengenakan celana training dan kaos hitam polos.
Akhirnya kami pun telah selesai mengerjakan tugas, ku luruskan kakiku karena merasa pegal. Aku kaget saat Wayan tiba-tiba membaringkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di atas pahaku.
"Maaf Kin, aku tidak bermaksud yang aneh-aneh. Sebentar saja." Wayan pun menutup matanya, hembusan angin menerpa rambutnya yang membuat sedikit berantakan. Tanganku terulur untuk merapikan dan mengelusnya pelan.
"Aku tidak pernah mengajak seseorang ke rumah, karena aku tidak punya teman." Ucap Wayan masih dengan menutup matanya, ku hentikan aktivitas mengelus kepalanya.
"Jangan berhenti Kinan." Aku sedikit ragu, tapi aku kembali mengelus pelan kepalanya.
"Kenapa tidak mau berteman? Kenapa tidak mau berbincang dengan yang lain? Tapi kenapa kamu mau berbincang denganku, bahkan kemarinĀ kamu juga membayar bakso ku?" Tanyaku heran.
"Entahlah, anggap saja sebagai balas budi karena kamu pernah menolongku." Jawab Wayan.
"Aku mau pulang, ini hampir maghrib. Kalau kemalaman nanti dimarahi simbah." Wayan pun membuka matanya.
"Seberapa galaknya simbahmu? Sampai seorang yang sulit dinasehati sepertimu takut." Tanya Wayan.
"Tidak terlalu galak, tapi kalau mencaci lebih menyakitkan dari luka lutut ku." Jawabku.
"Astagfirullah Kinan, luka kamu belum diobati. Tunggu sebentar ya." Wayan langsung menegakkan tubuhnya dan berlari ke dalam rumah serta kembali sambil membawa kotak P3K.
"Auu.. sakit Yan." Ucapku saat alkohol tersebut mendarat di lukaku.
"Maaf, tunggu sebentar." Akhirnya lukaku pun sudah terbalut kain kasa.
"Aku pulang dulu ya Yan." Ucapku sambil berjalan di samping rumah.
"Aku antar saja, kalau jalan kaki. Nanti kemaleman, yang ada tambah dimarahi, ayo aku pamit ibu dulu." Ucap Wayan.
"Jangan, tidak apa-apa kok. Aku bisa sendiri." Ucapku menolak.
"Ini sudah hampir malam, mendung juga. Biar diantar Wayan saja Nak Kinan." Ucap ibu mendekat kepada kami. Wayan pun pergi mengeluarkan motor dari dalam rumah sambil memakai jaket jeans.
"Ya sudah terimakasih ya bu." Ucapku lalu menyalimi ibu.
"Wayan pergi dulu ya bu, mas. Assalamualaikum" Ucapnya berpamitan.
"Waalaikumsalam,anterin sampai rumah Yan, ingat anak orang." Ucap masnya Wayan.
Kami pun mulai mengendarai motor, saat masih di jalan. Mendadak,
__ADS_1